Synchronous Learning: Pengertian, Cara Kerja, Manfaat, dan Penerapannya dalam Pembelajaran Digital

hero untuk ilustrasi artikel synchronous learning

Bayangkan sebuah kelas di mana guru dan siswa tidak berada di ruangan yang sama, bahkan mungkin berada di kota yang berbeda, tetapi tetap bisa saling bertanya, berdiskusi, dan menanggapi satu sama lain pada detik yang sama. Situasi seperti ini sudah menjadi bagian keseharian jutaan pelajar Indonesia sejak beberapa tahun terakhir, terutama sejak pandemi COVID-19 memaksa hampir seluruh institusi pendidikan memindahkan aktivitas belajar mengajar ke ruang digital.

Sebelum era digital, pembelajaran nyaris selalu identik dengan ruang kelas fisik: guru berdiri di depan papan tulis, siswa duduk berhadapan, dan interaksi terjadi secara langsung tanpa perantara teknologi. Namun begitu internet berkembang pesat, interaksi belajar tidak lagi harus terjadi di tempat yang sama. Yang menjadi tantangan baru kemudian adalah bagaimana guru tetap bisa berdiskusi secara langsung dengan siswanya, bagaimana siswa tetap mendapatkan respons cepat atas pertanyaan mereka, dan bagaimana keterlibatan (engagement) tetap terjaga meskipun pertemuan berlangsung dari layar ke layar.

Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa infrastruktur untuk mendukung kebutuhan ini sudah semakin matang. Dalam Survei Profil Internet Indonesia 2026 yang dirilis pada Mei 2026, tingkat penetrasi internet nasional mencapai 81,7 persen atau setara 235.261.078 jiwa, naik dari 80,66 persen pada tahun sebelumnya. Yang menarik, survei ini juga menunjukkan korelasi yang jelas antara tingkat pendidikan dan penggunaan internet: kelompok dengan pendidikan perguruan tinggi mencatat penetrasi tertinggi (92,49 persen), diikuti SMA/SMK sederajat (90,44 persen), SMP sederajat (82,48 persen), dan kelompok tidak sekolah/SD sederajat (74,84 persen). Data tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, semakin tinggi pula kecenderungannya untuk terhubung ke internet. Namun, ketersediaan akses tetap perlu diikuti dengan kesiapan infrastruktur, kompetensi digital guru, dan desain pembelajaran yang tepat agar teknologi benar-benar memberikan dampak terhadap proses belajar — sebab akses internet saja belum tentu mencerminkan kesiapan sebuah sekolah atau siswa untuk menjalankan pembelajaran digital secara efektif.

Di sinilah synchronous learning berkembang sebagai salah satu pendekatan penting dalam pembelajaran digital: model belajar yang mempertahankan interaksi langsung antara guru dan siswa, meskipun dilakukan sepenuhnya melalui teknologi.

Penting untuk digarisbawahi sejak awal: synchronous learning bukan sekadar “belajar lewat Zoom”. Ia adalah sebuah pendekatan pembelajaran digital yang secara sengaja mempertemukan guru dan siswa pada waktu yang sama untuk menciptakan interaksi langsung, respons cepat, dan pengalaman belajar yang terasa hidup meskipun tidak bertatap muka secara fisik. Banyak orang masih menyamakan istilah online learning, video conference, platform e-learning, dan synchronous learning sebagai satu hal yang sama — padahal keempatnya memiliki cakupan dan fungsi yang berbeda.


Apa Itu Synchronous Learning?

Synchronous learning adalah model pembelajaran di mana guru dan siswa berinteraksi pada waktu yang sama secara real-time, meskipun mereka bisa saja berada di lokasi yang berbeda-beda. Kata kuncinya ada pada “synchronous” itu sendiri, yang berarti “bersamaan” — bukan pada media yang digunakan.

Beberapa contoh penerapan synchronous learning yang paling umum ditemui di Indonesia antara lain:

  • Kelas virtual melalui Zoom
  • Sesi belajar menggunakan Google Meet
  • Rapat kelas atau diskusi via Microsoft Teams
  • Webinar pembelajaran langsung
  • Sesi tanya jawab (live discussion) terjadwal

Yang perlu dipahami, synchronous learning tidak berarti siswa harus selalu berada dalam kondisi online sepanjang waktu, dan juga tidak berarti metodenya hanya terbatas pada video conference. Sesi synchronous bisa berlangsung singkat, misalnya 30 menit untuk membahas satu konsep sulit, lalu dilanjutkan dengan aktivitas mandiri di luar sesi tersebut.


Perbedaan Synchronous Learning dengan Pembelajaran Konvensional

Banyak orang mengira synchronous learning adalah “kelas konvensional yang dipindahkan ke internet”. Sebenarnya perbedaannya bukan terletak pada waktu pelaksanaannya — karena keduanya sama-sama berlangsung pada waktu yang sama — melainkan pada media dan cara interaksi itu difasilitasi.

AspekKonvensionalSynchronous Digital
TempatRuang kelas fisikBisa dari lokasi yang berbeda-beda
WaktuSamaSama
InteraksiLangsung, tatap mukaLangsung, difasilitasi teknologi
MediaBuku, papan tulisVideo conference, chat, digital tools
DokumentasiTerbatas (catatan manual)Bisa direkam dan disimpan untuk diakses ulang

Perbedaan pada aspek dokumentasi ini sebenarnya menjadi salah satu nilai tambah synchronous learning: sesi yang direkam bisa diputar ulang oleh siswa yang berhalangan hadir, atau dijadikan bahan belajar tambahan bagi siswa yang butuh pengulangan.


Bagaimana Cara Kerja Synchronous Learning?

Agar sesi synchronous berjalan efektif, prosesnya biasanya melibatkan tiga tahap: sebelum, saat, dan setelah kelas berlangsung.

Sebelum kelas Guru menyiapkan materi digital yang akan dibahas, menentukan jenis aktivitas yang sesuai untuk sesi real-time (diskusi, tanya jawab, atau demonstrasi), lalu membagikan agenda belajar kepada siswa agar mereka datang dengan persiapan yang jelas.

Saat kelas berlangsung Guru berperan menjelaskan konsep inti, memandu diskusi, dan melontarkan pertanyaan pemantik. Di sisi lain, siswa diberi ruang untuk bertanya secara langsung, berdiskusi dengan teman sekelas, dan melakukan kolaborasi kecil, misalnya lewat breakout room.

Setelah kelas Sesi yang telah direkam disimpan agar bisa diakses kembali, siswa diberikan tugas lanjutan untuk memperdalam pemahaman, dan guru melakukan evaluasi singkat terhadap jalannya sesi maupun capaian belajar siswa.

Pola tiga tahap ini membuat synchronous learning tidak berhenti hanya pada “pertemuan langsung”, tetapi menjadi bagian dari alur belajar yang lebih utuh.


Hubungan Synchronous Learning dengan Ekosistem Pembelajaran Digital

Synchronous learning jarang berdiri sendiri. Dalam praktiknya, ia biasanya menjadi salah satu aktivitas yang berjalan di dalam platform e-learning yang lebih luas, di mana berbagai elemen pembelajaran digital saling melengkapi satu sama lain.

Untuk mengelola materi, peserta, tugas, dan aktivitas pembelajaran secara keseluruhan, sekolah maupun institusi pendidikan biasanya menggunakan Learning Management System (LMS). Di sinilah pembagian peran menjadi lebih jelas: LMS berfungsi menyimpan materi, mengelola tugas, dan mencatat aktivitas belajar siswa dari waktu ke waktu, sementara sesi synchronous digunakan secara spesifik untuk interaksi langsung, diskusi mendalam, dan penguatan konsep yang sulit dipahami hanya lewat teks atau video rekaman.

Kombinasi keduanya inilah yang membuat pembelajaran digital terasa lebih hidup: LMS menjaga keberlangsungan dan dokumentasi belajar, sedangkan synchronous learning menjaga sisi manusiawi dari proses belajar mengajar — sesuatu yang sulit digantikan sepenuhnya oleh materi statis.

Pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip pembelajaran berpusat pada siswa, karena sesi real-time memberi ruang bagi siswa untuk aktif bertanya, menyampaikan pendapat, dan mengarahkan sendiri fokus diskusi sesuai kebutuhan belajar mereka, bukan sekadar menjadi penerima informasi secara pasif.

Dalam praktiknya, synchronous learning juga sering digabungkan dengan pembelajaran tatap muka maupun aktivitas belajar mandiri melalui pendekatan blended learning. Ini berbeda dengan hybrid learning, yang lebih menekankan pada kombinasi peserta yang hadir secara fisik di kelas dan peserta yang bergabung secara virtual pada waktu yang bersamaan. Sementara blended learning menggabungkan berbagai mode belajar (tatap muka, mandiri, dan real-time) dalam satu rangkaian pembelajaran, hybrid learning lebih berfokus pada bagaimana dua jenis kehadiran — fisik dan virtual — bisa berjalan bersamaan dalam satu sesi yang sama. Banyak pembaca yang tertukar antara kedua istilah ini, padahal titik bedanya justru terletak pada aspek kehadiran tersebut.

Pada model seperti flipped classroom, sesi synchronous juga memiliki peran yang berbeda dari kelas konvensional. Alih-alih digunakan untuk menyampaikan seluruh materi dari awal, sesi real-time di sini justru difokuskan untuk diskusi dan pendalaman konsep, karena siswa sudah mempelajari materi dasar secara mandiri sebelum sesi berlangsung.


Synchronous Learning vs Asynchronous Learning

Ini adalah perbandingan yang paling sering ditanyakan, karena keduanya sama-sama merupakan bagian dari pembelajaran digital namun bekerja dengan logika yang berbeda.

Dalam praktik pembelajaran digital, keduanya bukan pilihan yang harus dipertentangkan. Banyak institusi pendidikan justru menggabungkan synchronous dan asynchronous learning untuk mendapatkan keseimbangan antara interaksi langsung dan fleksibilitas belajar, sehingga siswa tetap mendapatkan momen diskusi real-time tanpa kehilangan ruang untuk belajar sesuai ritme mereka masing-masing.

Untuk memahami lebih dalam konsep pembelajaran yang memberikan fleksibilitas waktu dan memungkinkan siswa belajar secara mandiri, Anda dapat membaca lebih lanjut tentang asynchronous learning.

AspekSynchronousAsynchronous
WaktuBersamaan (real-time)Fleksibel, tidak harus bersamaan
InteraksiLangsungTidak langsung (tertunda)
Peran teknologiVideo conference, live chatLMS, modul digital, forum diskusi
KelebihanRespons cepat, interaksi hidupFleksibilitas waktu dan tempat
TantanganJadwal harus disepakati bersamaMembutuhkan disiplin belajar mandiri

Sejumlah penelitian di Indonesia mencoba membandingkan efektivitas kedua metode ini pada konteks nyata. Studi eksperimen Farell dkk. (2021) terhadap siswa SMK Negeri 2 Padang yang membandingkan metode asynchronous dan synchronous pada mata pelajaran produktif menemukan bahwa kedua metode sama-sama memberikan peningkatan hasil belajar (N-Gain), dengan metode synchronous berbasis video conference menunjukkan tingkat efektivitas yang lebih tinggi dibanding metode asynchronous pada konteks tersebut. Sementara itu, penelitian Marleni dan Ridayanti (2024) terhadap mahasiswa program studi keperawatan menemukan bahwa kelompok yang mengikuti pembelajaran synchronous menunjukkan hasil belajar yang secara statistik lebih tinggi dibandingkan kelompok asynchronous, yang mengindikasikan bahwa interaksi real-time dapat memberi keunggulan tersendiri terutama untuk materi yang membutuhkan klarifikasi cepat atau praktik yang diawasi langsung.

Penelitian Ismiyarti, Hudaya, dan Rodianto (2021) yang melibatkan responden mahasiswa dan dosen di sebuah perguruan tinggi swasta menemukan pola yang cukup seimbang: metode pembelajaran daring campuran (yang memadukan sesi synchronous dan asynchronous) dinilai paling efektif menurut responden mahasiswa, sementara responden dosen menilai ketiga metode — sinkron, asinkron, dan campuran — relatif sama efektifnya. Temuan ini memperkuat argumen bahwa synchronous learning bukan pengganti asynchronous learning, melainkan pelengkap yang saling menutupi kekurangan satu sama lain — sesuatu yang juga akan dibahas lebih lanjut pada artikel tentang asynchronous learning.

Perlu dicatat, penelitian-penelitian di atas dilakukan pada skala satu sekolah atau satu institusi, sehingga hasilnya tidak bisa langsung digeneralisasikan untuk seluruh konteks pendidikan di Indonesia. Efektivitas synchronous learning tetap bergantung pada konteks penerapan, karakteristik siswa, kesiapan guru, dan dukungan teknologi di masing-masing satuan pendidikan. Untuk gambaran yang lebih luas, temuan ini perlu dilengkapi dengan bukti dari kajian berskala lebih besar, seperti meta-analisis internasional yang akan dibahas pada bagian berikutnya.

infografis synchronous vs asynchronous learning

Manfaat Synchronous Learning

1. Interaksi yang lebih kuat Guru dapat langsung melihat respons, ekspresi, dan tingkat pemahaman siswa selama sesi berlangsung, sesuatu yang sulit didapatkan dari materi yang hanya dibaca atau ditonton sendiri.

2. Feedback yang lebih cepat Ketika siswa salah memahami sebuah konsep, guru bisa langsung mengoreksi pada saat itu juga, sebelum kesalahpahaman tersebut terbawa ke materi selanjutnya.

3. Meningkatkan rasa keterhubungan Salah satu keluhan umum dalam pembelajaran daring adalah rasa terisolasi. Sesi synchronous membantu mengurangi rasa belajar sendirian karena siswa tetap merasa menjadi bagian dari sebuah kelas yang hidup.

4. Mendukung pembelajaran kolaboratif Diskusi kelompok, tanya jawab, dan kerja sama antar siswa menjadi jauh lebih mudah difasilitasi ketika semua pihak hadir pada waktu yang sama.

5. Membantu guru melakukan asesmen formatif Melalui interaksi langsung, guru dapat melakukan pengecekan pemahaman secara cepat melalui pertanyaan, polling, atau kuis singkat selama sesi berlangsung, sehingga pembelajaran dapat segera disesuaikan dengan kebutuhan siswa alih-alih menunggu hasil evaluasi di akhir topik.


Contoh Penerapan Synchronous Learning di Sekolah Indonesia

Agar lebih membumi, berikut beberapa gambaran penerapan synchronous learning yang umum ditemui di satuan pendidikan Indonesia, mulai dari jenjang sekolah hingga perguruan tinggi:

Kelas virtual terjadwal untuk mata pelajaran inti Sejumlah sekolah menengah menerapkan sesi Zoom atau Google Meet terjadwal untuk mata pelajaran seperti Matematika atau Bahasa Inggris, biasanya digunakan untuk menjelaskan konsep baru atau membahas soal-soal yang sulit dipahami siswa secara mandiri.

Sesi konsultasi dan bimbingan belajar (live Q&A) Menjelang ujian sekolah atau ujian nasional, guru kerap membuka sesi tanya jawab langsung melalui video conference, memberi ruang bagi siswa untuk mengonfirmasi pemahaman mereka sebelum hari ujian tiba.

Diskusi kelompok dan presentasi proyek secara daring Pada mata pelajaran berbasis proyek atau tugas kelompok, siswa memanfaatkan breakout room untuk berdiskusi secara real-time, lalu mempresentasikan hasil kerja mereka langsung di depan guru dan teman sekelas.

Perkuliahan sinkron di pendidikan tinggi Di tingkat perguruan tinggi, banyak program studi — termasuk program vokasi dan kesehatan seperti yang ditemukan dalam penelitian Farell dkk. maupun Marleni dan Ridayanti — menerapkan kuliah sinkron sebagai pengganti sebagian tatap muka, terutama untuk mata kuliah yang membutuhkan penjelasan bertahap atau praktik yang perlu diawasi langsung oleh dosen.

Webinar dan pelatihan guru Synchronous learning juga digunakan di luar konteks siswa, misalnya pada pelatihan atau webinar pengembangan kompetensi guru yang difasilitasi melalui Platform Merdeka Mengajar maupun penyelenggara pelatihan daring lainnya.


Tantangan Synchronous Learning

Agar artikel ini tidak terkesan hanya mempromosikan satu metode, penting untuk membahas secara jujur berbagai tantangan yang dihadapi dalam penerapan synchronous learning, khususnya dalam konteks Indonesia.

1. Ketimpangan koneksi internet Meskipun penetrasi internet nasional sudah mencapai lebih dari 81 persen, data APJII menunjukkan bahwa sebaran akses ini belum merata. Pulau Jawa tercatat memiliki tingkat penetrasi internet tertinggi (85,95 persen), sementara wilayah seperti Sulawesi (72,58 persen) serta Maluku dan Papua (69,74 persen) masih berada pada tingkat penetrasi yang lebih rendah. Artinya, kualitas dan stabilitas koneksi untuk mendukung sesi synchronous masih menjadi tantangan nyata di banyak daerah, terutama di luar Jawa.

2. Ketergantungan pada kesamaan waktu Tidak semua siswa memiliki kondisi yang sama untuk hadir pada jam yang telah ditentukan. Ada yang harus berbagi perangkat dengan anggota keluarga lain, ada pula yang memiliki kendala jadwal karena membantu pekerjaan rumah tangga atau bekerja paruh waktu.

3. Beban kognitif dan kelelahan digital Terlalu lama berada di depan layar dalam sesi video conference dapat menurunkan fokus dan menimbulkan kelelahan, yang pada akhirnya justru mengurangi efektivitas belajar itu sendiri.

4. Kesiapan dan keterampilan guru Mengajar secara synchronous membutuhkan strategi yang berbeda dibandingkan mengajar tatap muka biasa. Guru perlu menguasai cara memancing partisipasi siswa, mengelola diskusi virtual, dan memanfaatkan fitur-fitur platform secara efektif — sebuah keterampilan yang tidak selalu didapatkan secara otomatis, terutama bagi guru yang baru beradaptasi dengan teknologi digital.


Apa Kata Penelitian? Landasan Teori dan Data Pendukung

Community of Inquiry Framework (Garrison & Vaughan) Salah satu kerangka teori yang paling sering digunakan untuk memahami efektivitas pembelajaran daring, termasuk synchronous learning, adalah Community of Inquiry Framework. Kerangka ini menekankan tiga elemen kehadiran yang perlu dibangun secara bersamaan dalam sebuah kelas digital: teaching presence (bagaimana guru merancang dan memfasilitasi pembelajaran), social presence (sejauh mana peserta merasa terhubung secara sosial dengan sesama), dan cognitive presence (sejauh mana peserta mampu membangun dan mengonstruksi makna melalui refleksi dan diskusi). Synchronous learning, dengan sifatnya yang real-time, secara alami memperkuat elemen social presence dan teaching presence dibandingkan metode asynchronous.

Transactional Distance Theory (Moore) Teori ini menjelaskan bahwa jarak dalam pembelajaran jarak jauh tidak hanya berbicara soal jarak fisik, tetapi juga jarak komunikasi dan psikologis antara guru dan siswa. Semakin tinggi tingkat dialog dan struktur yang jelas dalam sebuah sesi belajar, semakin kecil “jarak transaksional” yang dirasakan siswa. Sesi synchronous, karena memungkinkan dialog dua arah secara langsung, cenderung mampu memperkecil jarak ini dibandingkan pembelajaran yang sepenuhnya asynchronous.

Bukti dari Meta-Analisis Internasional Untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas daripada studi tunggal, Martin, Sun, Turk, dan Ritzhaupt (2021) melakukan meta-analisis terhadap 19 publikasi dengan 27 ukuran efek yang diterbitkan antara tahun 2000 hingga 2019. Hasilnya menunjukkan adanya efek positif yang signifikan secara statistik — meskipun tergolong kecil — dari synchronous online learning dibandingkan asynchronous online learning untuk capaian kognitif, dengan besar efek tersebut dipengaruhi oleh durasi kursus, metode instruksional, kesetaraan kondisi siswa, jenjang pendidikan, dan bidang studi. Temuan ini memperkuat, dengan basis bukti yang jauh lebih luas, apa yang juga ditunjukkan oleh studi-studi skala kecil di Indonesia: synchronous learning cenderung memberi keunggulan pada aspek pemahaman konsep, meskipun besarnya keunggulan itu sangat bergantung pada bagaimana sesi dirancang dan diterapkan.

Konteks Indonesia Berbagai kajian literatur pasca-pandemi di Indonesia secara konsisten menunjukkan bahwa efektivitas pembelajaran daring — baik synchronous maupun asynchronous — sangat dipengaruhi oleh faktor di luar metode itu sendiri, seperti kesiapan infrastruktur teknologi, tingkat motivasi belajar siswa, serta ketersediaan pengawasan dan pendampingan yang memadai. Dengan kata lain, keberhasilan synchronous learning tidak semata-mata ditentukan oleh platform yang digunakan, melainkan oleh bagaimana sesi tersebut dirancang, difasilitasi, dan didukung oleh ekosistem belajar di sekitarnya.

Arah kebijakan pendidikan nasional juga bergerak ke arah yang sama. Melalui Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar (PMM), Kemendikbudristek mendorong guru untuk memanfaatkan berbagai sumber daya dan perangkat ajar digital, termasuk fitur asesmen dan pelatihan mandiri, sebagai bagian dari transformasi pembelajaran di satuan pendidikan. Dukungan kebijakan semacam ini menegaskan bahwa penerapan synchronous learning di Indonesia bukan sekadar tren teknologi, melainkan bagian dari arah transformasi digital pendidikan yang didorong secara resmi oleh pemerintah.


Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apa contoh synchronous learning? Beberapa contohnya adalah kelas virtual melalui Zoom atau Google Meet, sesi diskusi terjadwal via Microsoft Teams, webinar pembelajaran langsung, serta sesi tanya jawab real-time antara guru dan siswa.

Apakah Zoom termasuk synchronous learning? Zoom adalah salah satu alat (tools) yang digunakan untuk memfasilitasi synchronous learning, bukan synchronous learning itu sendiri. Synchronous learning adalah pendekatan pembelajarannya, sedangkan Zoom, Google Meet, atau Microsoft Teams adalah medianya.

Apa perbedaan synchronous dan asynchronous learning? Perbedaan utamanya terletak pada waktu interaksi. Synchronous learning terjadi secara bersamaan (real-time), sementara asynchronous learning memberikan fleksibilitas waktu karena interaksi dan materi bisa diakses kapan saja sesuai kesiapan masing-masing siswa.

Apakah synchronous learning sama dengan e-learning? Tidak sama. E-learning adalah ekosistem pembelajaran digital yang lebih luas, sedangkan synchronous learning adalah salah satu pendekatan atau aktivitas yang bisa berlangsung di dalam ekosistem e-learning tersebut.

Apakah synchronous learning efektif untuk sekolah? Berbagai penelitian menunjukkan bahwa efektivitasnya cukup baik, terutama ketika dikombinasikan dengan pembelajaran asynchronous dan didukung oleh kesiapan infrastruktur maupun keterampilan guru dalam memfasilitasi sesi secara interaktif.

Apakah synchronous learning membutuhkan LMS? Tidak selalu wajib, tetapi sangat disarankan. LMS membantu mendokumentasikan materi, tugas, dan rekaman sesi synchronous, sehingga proses belajar tetap terstruktur dan bisa diakses kembali oleh siswa kapan saja.


Kesimpulan

Synchronous learning bukan hadir untuk menggantikan kelas konvensional, melainkan untuk memperluas kemungkinan interaksi belajar di era digital. Teknologi memungkinkan guru dan siswa tetap terhubung secara real-time meskipun berada di lokasi yang berbeda, tetapi keberhasilan pendekatan ini pada akhirnya tetap bergantung pada tiga hal: desain pembelajaran yang matang, kesiapan infrastruktur teknologi, dan strategi guru dalam menjaga interaksi tetap hidup selama sesi berlangsung.

Ke depan, synchronous learning akan semakin relevan sebagai pasangan konsep dari asynchronous learning — dua pendekatan yang bukan saling menggantikan, melainkan saling melengkapi dalam membentuk ekosistem pembelajaran digital yang lebih utuh.


Referensi

  1. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). (2026, Mei). Survei Profil Internet Indonesia 2026. Jakarta: APJII. Diakses dari https://survei.apjii.or.id/
  2. Databoks — Katadata. (2024). Indonesia’s Internet Penetration and Contribution 2024: Java Highest. Diakses dari https://databoks.katadata.co.id
  3. Garrison, D. R., & Vaughan, N. D. (2008). Blended Learning in Higher Education: Framework, Principles, and Guidelines. San Francisco: Jossey-Bass. (Community of Inquiry Framework)
  4. Moore, M. G. (1993). Theory of Transactional Distance. Dalam D. Keegan (Ed.), Theoretical Principles of Distance Education. London: Routledge.
  5. Martin, F., Sun, T., Turk, M., & Ritzhaupt, A. (2021). A Meta-Analysis on the Effects of Synchronous Online Learning on Cognitive and Affective Educational Outcomes. The International Review of Research in Open and Distributed Learning, 22(3), 205–242. https://doi.org/10.19173/irrodl.v22i3.5263
  6. Farell, G., Ambiyar, A., Simatupang, W., Giatman, M., & Syahril, S. (2021). Analisis Efektivitas Pembelajaran Daring pada SMK dengan Metode Asynchronous dan Synchronous. EDUKATIF: Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(4), 1185–1190. https://doi.org/10.31004/edukatif.v3i4.521
  7. Marleni, K. D., & Ridayanti, P. W. (2024). Pengaruh Model Pembelajaran Asinkron dan Sinkron Terhadap Hasil Belajar Mahasiswa Keperawatan Tahun Ajaran 2024/2025. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, 5(6), 1072–1078. https://doi.org/10.59698/afeksi.v5i6.398
  8. Ismiyarti, W., Hudaya, C., & Rodianto. (2021). Efektivitas Metode Pembelajaran Online pada Masa Pandemi COVID-19. Jurnal TAMBORA, 5(3), 1–7. https://doi.org/10.36761/jt.v5i3.1295
  9. Nurlaila, N., Ismawati, I., Fitriati, F., & Marnita, M. (2026). Tinjauan Literatur Efektivitas Pembelajaran Daring Sinkron dan Asinkron serta Peran Supervisi Daring dalam Pendidikan. DIAJAR: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 5(2), 762–770. https://doi.org/10.54259/diajar.v5i2.7494
  10. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). (2024). Pemanfaatan Platform Teknologi Kemendikbudristek untuk Mengakselerasi Pendidikan di Era Digital. Diakses dari https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2024/05/pemanfaatan-platform-teknologi-kemendikbudristek-untuk-mengakselerasi-pendidikan-di-era-digital