Contoh RPP Kurikulum Merdeka: Lengkap untuk SD, SMP, dan SMA/SMK

Kalau Anda sedang menyusun RPP dan butuh referensi yang bisa langsung dilihat, dipelajari, dan disesuaikan β Anda ada di tempat yang tepat. Artikel ini menyajikan contoh nyata RPP Kurikulum Merdeka untuk tiga jenjang sekaligus: SD, SMP, dan SMA/SMK, lengkap dengan tips praktis menyesuaikannya dengan kondisi kelas Anda. Jika Anda belum familiar dengan apa itu RPP secara konseptual, ada baiknya baca sekilas dulu sebelum lanjut ke contoh-contoh di bawah.
- Komponen RPP Kurikulum Merdeka Secara Singkat
- Contoh RPP Kurikulum Merdeka SD
- Contoh RPP Kurikulum Merdeka SMP
- Contoh RPP Kurikulum Merdeka SMA/SMK
- Tips Menyesuaikan Contoh RPP Ini dengan Kelas Anda
- Beda RPP Kurikulum Merdeka dengan RPP Deep Learning (Pembelajaran Mendalam)
- Cara Menyusun RPP Lebih Cepat dengan Bantuan AI
- Kesimpulan
- FAQ β Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
- Referensi
Komponen RPP Kurikulum Merdeka Secara Singkat
Sebelum masuk ke contoh, penting untuk tahu komponen apa saja yang harus ada dalam RPP Kurikulum Merdeka β supaya contoh yang ditampilkan bisa Anda baca dengan konteks yang tepat.
Berdasarkan format yang mengacu pada kebijakan Permendikbudristek No. 12 Tahun 2024, komponen inti RPP/Modul Ajar Kurikulum Merdeka minimal memuat:
| Komponen | Keterangan Singkat |
|---|---|
| Identitas | Nama mapel, jenjang/fase, kelas, alokasi waktu, nama guru |
| Tujuan Pembelajaran | Dirumuskan berdasarkan Capaian Pembelajaran (CP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) per fase |
| Kegiatan Pembelajaran | Terdiri dari pembuka, inti, dan penutup β dirancang berpusat pada siswa |
| Asesmen | Mencakup asesmen awal (diagnostik), proses (formatif), dan akhir (sumatif) |
| Profil Pelajar Pancasila | Dimensi karakter yang dikembangkan dalam pembelajaran |
Untuk pembahasan lengkap format dan komponen resmi Modul Ajar, silakan kunjungi artikel Modul Ajar Kurikulum Merdeka. Dan jika Anda ingin memahami filosofi dan konteks kebijakan di balik kurikulum ini, artikel apa itu Kurikulum Merdeka bisa menjadi bacaan pendamping yang baik.
Satu hal penting: dalam Kurikulum Merdeka, format RPP bersifat fleksibel. Tidak ada format tunggal yang mutlak diwajibkan β yang penting komponen inti di atas terpenuhi dan pembelajaran tetap berpusat pada kebutuhan peserta didik.
Ini juga berarti RPP Kurikulum Merdeka bukan lagi sesuatu yang opsional. Per tahun ajaran 2024/2025, lebih dari 95 persen satuan pendidikan formal di Indonesia sudah menerapkan Kurikulum Merdeka β angka ini naik signifikan dari 73 persen pada awal 2024, seiring ditetapkannya Kurikulum Merdeka sebagai Kurikulum Nasional melalui Permendikbudristek No. 12 Tahun 2024. Artinya, hampir semua guru di Indonesia sekarang memang perlu menyusun RPP dalam kerangka ini.

Contoh RPP Kurikulum Merdeka SD
Jenjang: SD Kelas 4 | Fase: B | Mata Pelajaran: Matematika
Contoh di bawah ini mengacu pada Capaian Pembelajaran Matematika Fase B (Kelas 3β4 SD), khususnya pada topik bilangan pecahan sederhana.
RPP Matematika Kelas 4 SD β Mengenal Pecahan Sederhana
| Komponen | Isi |
|---|---|
| Mata Pelajaran | Matematika |
| Jenjang / Fase | SD / Fase B |
| Kelas | IV (Empat) |
| Alokasi Waktu | 2 Γ 35 menit (1 pertemuan) |
| Profil Pelajar Pancasila | Bernalar Kritis, Mandiri |
Tujuan Pembelajaran
Melalui kegiatan eksplorasi benda nyata dan diskusi kelompok, peserta didik mampu:
- Menjelaskan konsep pecahan sederhana (Β½, β , ΒΌ) sebagai bagian dari keseluruhan dengan kata-kata sendiri.
- Menentukan nilai pecahan dari benda konkret (kertas lipat, buah, gambar) secara tepat.
- Membandingkan dua pecahan sederhana dan menentukan mana yang lebih besar menggunakan gambar atau benda nyata.
Kegiatan Pembelajaran
| Tahap | Durasi | Uraian Kegiatan |
|---|---|---|
| Pembuka | 10 menit | Guru menyiapkan 1 buah apel dan memotongnya menjadi 2 bagian sama besar di depan kelas. Peserta didik diajak berdiskusi: “Kalau apel ini dibagi rata untuk 2 orang, berapa bagian yang didapat masing-masing?” Guru memperkenalkan simbol Β½ dan menjelaskan cara membacanya. |
| Inti | 45 menit | Peserta didik dibagi dalam kelompok 4 orang. Setiap kelompok mendapat kertas lipat berwarna dan diminta melipat-lipat untuk membuat pecahan Β½, β , dan ΒΌ. Setelah eksplorasi, setiap kelompok menempel hasil lipatannya di papan dan menjelaskan mengapa bagian yang mereka arsir mewakili pecahan tersebut. Guru memfasilitasi diskusi kelas dan meluruskan kesalahpahaman yang muncul. |
| Penutup | 15 menit | Peserta didik mengerjakan 3 soal individu di lembar kerja: menentukan pecahan yang ditunjukkan gambar, membandingkan Β½ dan ΒΌ, dan membuat gambar sendiri untuk pecahan β . Guru melakukan refleksi singkat: “Apa yang paling mudah dan paling sulit hari ini?” |
Asesmen
| Jenis | Bentuk | Waktu |
|---|---|---|
| Diagnostik | Tanya jawab lisan: “Pernah dengar kata ‘setengah’? Dalam kehidupan sehari-hari, setengah itu seperti apa?” | Awal pembelajaran |
| Formatif | Observasi saat diskusi kelompok; apakah peserta didik bisa menjelaskan alasan lipatannya | Selama inti |
| Sumatif | Lembar kerja individu 3 soal (lihat bagian penutup) | Akhir pertemuan |
Contoh RPP Kurikulum Merdeka SMP
Jenjang: SMP Kelas 7 | Fase: D | Mata Pelajaran: Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
Contoh ini mengacu pada Capaian Pembelajaran IPA Fase D (Kelas 7β9 SMP), pada topik klasifikasi makhluk hidup.
RPP IPA Kelas 7 SMP β Klasifikasi Makhluk Hidup
| Komponen | Isi |
|---|---|
| Mata Pelajaran | Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) |
| Jenjang / Fase | SMP / Fase D |
| Kelas | VII (Tujuh) |
| Alokasi Waktu | 3 Γ 40 menit (1 pertemuan) |
| Profil Pelajar Pancasila | Bernalar Kritis, Bergotong Royong |
Tujuan Pembelajaran
Melalui pengamatan langsung dan diskusi berbasis data, peserta didik mampu:
- Mengidentifikasi ciri-ciri utama makhluk hidup (bergerak, bernapas, berkembang biak, memerlukan nutrisi) berdasarkan hasil pengamatan sendiri.
- Mengelompokkan makhluk hidup ke dalam kingdom yang sesuai (Animalia, Plantae, Fungi, Protista, Monera) dengan memberikan minimal 2 alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
- Membuat kunci determinasi sederhana untuk mengklasifikasikan 5 makhluk hidup yang berbeda.
Kegiatan Pembelajaran
| Tahap | Durasi | Uraian Kegiatan |
|---|---|---|
| Pembuka | 15 menit | Guru menampilkan 5 gambar organisme: cendawan, lumut, kucing, amoeba, dan bakteri. Peserta didik secara berpasangan mendiskusikan: “Mana yang menurutmu termasuk hewan? Mana yang bukan? Mengapa?” Jawaban berpasangan dibagikan ke kelas β hasilnya biasanya beragam dan memunculkan rasa ingin tahu yang menjadi jembatan masuk ke materi. |
| Inti | 85 menit | Peserta didik dibagi dalam 5 kelompok; masing-masing mendapat 1 toples berisi spesimen/gambar makhluk hidup (daun, semut, jamur roti, air kolam yang mengandung protozoa [dilihat lewat gambar/video], dan foto bakteri E. coli). Kelompok mengisi tabel ciri-ciri makhluk hidup, lalu menyimpulkan ke kingdom mana organisme mereka termasuk. Hasil pengamatan dipresentasikan; kelompok lain memberi pertanyaan atau sanggahan. Di bagian akhir inti, guru memandu seluruh kelas membuat kunci determinasi bersama di papan tulis. |
| Penutup | 20 menit | Peserta didik menuliskan di secarik kertas: satu hal yang baru mereka pelajari, satu hal yang masih membingungkan, dan satu pertanyaan yang ingin mereka jawab di pertemuan berikutnya. Kertas dikumpulkan sebagai asesmen formatif dan bahan perencanaan guru untuk pertemuan selanjutnya. |
Asesmen
| Jenis | Bentuk | Waktu |
|---|---|---|
| Diagnostik | Pertanyaan pembuka “menurutmu apa itu makhluk hidup?” β dijawab tanpa benar/salah | Awal |
| Formatif | Observasi diskusi kelompok + kertas refleksi akhir (“satu hal yang masih membingungkan”) | Selama & akhir inti |
| Sumatif | Tugas minggu depan: membuat kunci determinasi untuk 3 organisme yang ditemukan di rumah/sekolah | Lanjutan |
Contoh RPP Kurikulum Merdeka SMA/SMK
Jenjang: SMA Kelas 10 | Fase: E | Mata Pelajaran: Ekonomi
Contoh ini mengacu pada Capaian Pembelajaran Ekonomi Fase E (Kelas 10 SMA), pada topik konsep kelangkaan dan pilihan ekonomi.
RPP Ekonomi Kelas 10 SMA β Kelangkaan dan Pilihan Ekonomi
| Komponen | Isi |
|---|---|
| Mata Pelajaran | Ekonomi |
| Jenjang / Fase | SMA / Fase E |
| Kelas | X (Sepuluh) |
| Alokasi Waktu | 2 Γ 45 menit (1 pertemuan) |
| Profil Pelajar Pancasila | Bernalar Kritis, Kreatif |
Tujuan Pembelajaran
Melalui analisis kasus nyata dan simulasi pengambilan keputusan, peserta didik mampu:
- Menjelaskan konsep kelangkaan dan penyebabnya dalam konteks kehidupan sehari-hari dengan contoh yang relevan dari lingkungan sekitar mereka.
- Menganalisis trade-off dalam pengambilan keputusan ekonomi menggunakan konsep biaya peluang (opportunity cost).
- Merancang satu keputusan ekonomi sederhana (misalnya: alokasi uang jajan/anggaran kegiatan kelas) yang mempertimbangkan kelangkaan sumber daya dan biaya peluang secara tertulis.
Kegiatan Pembelajaran
| Tahap | Durasi | Uraian Kegiatan |
|---|---|---|
| Pembuka | 15 menit | Guru membuka dengan skenario: “Bayangkan Anda punya Rp200.000 dan harus memilih antara ikut study tour, membeli buku pelajaran, atau menabung untuk keperluan mendatang β padahal idealnya Anda ingin ketiganya.” Peserta didik diminta memilih dan menuliskan alasannya secara individu dalam 3 menit. Beberapa peserta didik diminta berbagi pilihan dan alasannya β ini langsung menggambarkan konsep kelangkaan tanpa guru perlu menjelaskan terlebih dahulu. |
| Inti | 60 menit | Bagian pertama (25 menit): Guru menjelaskan konsep kelangkaan dan biaya peluang dengan menghubungkan langsung ke skenario pembuka. Peserta didik mengisi tabel analisis: “Apa yang saya pilih β Apa yang saya korbankan β Mengapa ini adalah biaya peluang saya.” Bagian kedua (35 menit): Peserta didik dibagi dalam kelompok 5 orang dan mendapat 1 studi kasus nyata (contoh: kebijakan pemerintah membatasi impor beras; sebuah desa harus memilih antara membangun jalan atau sarana air bersih). Setiap kelompok menganalisis: sumber kelangkaan, pihak yang mengambil keputusan, dan biaya peluang dari keputusan tersebut. Hasil analisis dipresentasikan dalam 3 menit per kelompok. |
| Penutup | 15 menit | Peserta didik secara individu menjawab pertanyaan refleksi: “Sebutkan satu keputusan yang pernah Anda buat minggu ini yang mengandung biaya peluang. Apa yang Anda pilih dan apa yang Anda korbankan?” Jawaban dikumpulkan dan digunakan guru sebagai umpan balik kualitas pemahaman kelas. |
Asesmen
| Jenis | Bentuk | Waktu |
|---|---|---|
| Diagnostik | Pertanyaan pembuka skenario Rp200.000 β memperlihatkan pemahaman awal tentang pilihan terbatas | Awal |
| Formatif | Tabel analisis individu + presentasi kelompok studi kasus | Inti |
| Sumatif | Tugas individu: buat 1 keputusan ekonomi pribadi (min. 200 kata) yang memperlihatkan analisis kelangkaan dan biaya peluang β dikumpulkan pertemuan berikutnya | Lanjutan |
Catatan untuk guru SMK: Untuk jenjang SMK, prinsip RPP Fase E/F tetap sama, namun konteks dan studi kasus sebaiknya disesuaikan dengan program keahlian. Misalnya, untuk jurusan Tata Boga, topik kelangkaan bisa dikaitkan dengan fluktuasi harga bahan baku; untuk jurusan Teknik Otomotif, bisa dikaitkan dengan ketersediaan suku cadang dan keputusan pengadaan.
Tips Menyesuaikan Contoh RPP Ini dengan Kelas Anda
Contoh-contoh di atas adalah titik awal, bukan dokumen jadi yang tinggal dicopy-paste. Berikut cara terbaik menyesuaikannya:
- Kenali karakteristik peserta didik Anda terlebih dahulu. Sebelum mengadopsi kegiatan pembelajaran mana pun, lakukan asesmen diagnostik sederhana β bisa berupa pertanyaan lisan, kuis singkat, atau bahkan observasi sehari-hari. Kegiatan kelompok yang bekerja di satu kelas bisa tidak efektif di kelas lain yang siswanya lebih nyaman belajar mandiri.
- Sesuaikan alokasi waktu dengan kalender akademik sekolah Anda. Jam pelajaran dalam Kurikulum Merdeka dihitung per tahun, bukan per minggu seperti di K-13. Cek ATP (Alur Tujuan Pembelajaran) yang sudah disusun di sekolah Anda β pastikan topik yang Anda pilih sesuai dengan urutan dan estimasi waktu yang sudah direncanakan.
- Pastikan tujuan pembelajaran mengacu pada CP dan ATP yang berlaku di sekolah Anda. Capaian Pembelajaran (CP) bersifat nasional, tetapi ATP (Alur Tujuan Pembelajaran β urutan penjabaran CP menjadi tujuan pembelajaran yang lebih spesifik) bisa berbeda antar sekolah. Sesuaikan tujuan pembelajaran di RPP dengan ATP yang sudah disepakati sekolah Anda.
- Sesuaikan konteks dan contoh dengan lingkungan lokal. Contoh “apel” di RPP Matematika SD bisa diganti dengan buah yang lebih familiar di daerah Anda (pisang, jeruk, dll). Studi kasus Ekonomi SMA bisa menggunakan situasi nyata yang lebih dekat dengan kehidupan peserta didik. Konteks lokal membuat pembelajaran jauh lebih bermakna.
- Jangan mengubah struktur, tapi bebas mengubah metode. Komponen inti (identitas, tujuan, kegiatan, asesmen) tetap harus ada. Tapi metode di dalam kegiatan pembelajaran bisa diganti β diskusi kelompok bisa menjadi proyek individu, pengamatan langsung bisa digantikan video jika fasilitas terbatas, dan sebagainya.
- Gunakan hasil asesmen untuk memperbaiki RPP berikutnya. RPP yang baik bukan dokumen sekali buat. Catatan dari asesmen formatif dan kertas refleksi peserta didik adalah data berharga untuk memperbaiki rancangan pembelajaran di pertemuan selanjutnya.
Beda RPP Kurikulum Merdeka dengan RPP Deep Learning (Pembelajaran Mendalam)
Belakangan ini, banyak guru yang mulai mendengar istilah “RPP Deep Learning” atau “Pembelajaran Mendalam” dan bertanya-tanya: apakah ini berbeda dari RPP Kurikulum Merdeka yang biasa?
Jawabannya: berbeda, tapi bukan dua hal yang bertentangan.
| Aspek | RPP Kurikulum Merdeka (Umum) | RPP Deep Learning / Pembelajaran Mendalam |
|---|---|---|
| Dasar kebijakan | Permendikbudristek No. 12/2024 (Kurikulum Nasional) | Pendekatan tambahan dari Mendikdasmen, bukan kurikulum baru |
| Fokus utama | Fleksibilitas, pembelajaran berpusat siswa, Profil Pelajar Pancasila | Pemahaman konsep mendalam, pembelajaran berkesadaran (mindful), bermakna, dan menggembirakan |
| Komponen khas | Identitas, TP, Kegiatan, Asesmen | Menambahkan: Identifikasi kesiapan siswa, Desain Pembelajaran, Pengalaman Belajar (mindful/meaningful/joyful) |
| Wajib diterapkan? | Ya, untuk semua sekolah | Bersifat pendekatan β sekolah bisa mengintegrasikan jika siap |
Singkatnya: RPP Kurikulum Merdeka adalah kerangka wajib, sementara pendekatan Deep Learning adalah lapisan pengayaan yang bisa diintegrasikan di atasnya. Kalau sekolah Anda sudah mulai menerapkan pendekatan Pembelajaran Mendalam, formatnya memang sedikit berbeda β lihat panduan lengkapnya di artikel RPP Deep Learning.
Cara Menyusun RPP Lebih Cepat dengan Bantuan AI
Menyusun RPP dari nol membutuhkan waktu, terutama ketika Anda harus mengerjakan banyak mapel atau banyak kelas sekaligus. Kabar baiknya, saat ini sudah tersedia berbagai alat berbasis kecerdasan buatan yang bisa membantu Anda membuat kerangka awal RPP dalam hitungan menit β mulai dari merumuskan tujuan pembelajaran, merancang kegiatan, hingga menyusun rubrik asesmen.
Tentu saja, output dari AI tetap perlu Anda tinjau, sesuaikan dengan konteks kelas, dan pastikan selaras dengan CP dan ATP yang berlaku di sekolah Anda. AI adalah asisten, bukan pengganti pertimbangan profesional guru. Untuk panduan praktis menggunakan AI dalam penyusunan RPP, kunjungi artikel Cara Membuat RPP dengan AI.
Kesimpulan
RPP Kurikulum Merdeka pada dasarnya memberikan kebebasan yang lebih besar kepada guru untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik β tanpa terjebak pada format yang kaku. Komponen intinya tetap: identitas, tujuan pembelajaran berbasis CP/ATP, kegiatan yang berpusat pada siswa, dan asesmen yang mengukur proses sekaligus hasil.
Ketiga contoh di atas β Matematika SD, IPA SMP, dan Ekonomi SMA β dirancang untuk memberikan gambaran nyata bagaimana komponen-komponen itu diwujudkan dalam dokumen yang benar-benar bisa digunakan di kelas. Jangan copy-paste mentah; jadikan sebagai referensi dan sesuaikan dengan karakteristik peserta didik, konteks lokal, dan ATP yang sudah disusun di sekolah Anda.
Yang terpenting: RPP yang baik bukan dokumen yang sempurna di atas kertas, tapi dokumen yang benar-benar membantu Anda mengajar lebih terarah β dan terus diperbaiki seiring Anda mengenal lebih dalam kebutuhan peserta didik Anda.
FAQ β Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah RPP Kurikulum Merdeka punya format baku yang harus diikuti persis? Tidak ada format baku yang satu-satunya benar. Kemendikbudristek/Kemendikdasmen memberikan fleksibilitas kepada guru untuk menyusun RPP atau Modul Ajar sesuai kebutuhan, selama komponen inti (identitas, tujuan pembelajaran, kegiatan, dan asesmen) terpenuhi. Platform Merdeka Mengajar (PMM) menyediakan template yang bisa dijadikan acuan, tapi guru bebas memodifikasinya.
Apa saja komponen yang wajib ada dalam RPP Kurikulum Merdeka? Komponen yang wajib ada minimal empat: identitas (mapel, jenjang/fase, kelas, alokasi waktu), tujuan pembelajaran yang mengacu pada Capaian Pembelajaran (CP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), kegiatan pembelajaran (pembuka, inti, penutup), dan asesmen. Profil Pelajar Pancasila juga perlu dicantumkan sebagai dimensi karakter yang dikembangkan.
Apakah RPP dan Modul Ajar itu hal yang sama? Tidak persis sama. Modul Ajar adalah versi yang lebih lengkap dan komprehensif dari RPP β bisa disebut “RPP Plus”. Modul Ajar memuat lebih banyak komponen: pemahaman bermakna, pertanyaan pemantik, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), rubrik asesmen yang detail, hingga bahan bacaan untuk guru dan siswa. Dalam Kurikulum Merdeka, Modul Ajar adalah dokumen perangkat ajar utama, sementara RPP bisa menjadi versi ringkasannya.
Bolehkah contoh RPP dalam artikel ini langsung dipakai tanpa diubah? Boleh dijadikan referensi, tapi sebaiknya tidak copy-paste mentah. Setiap kelas memiliki karakteristik yang berbeda β gaya belajar siswa, ketersediaan fasilitas, konteks lokal, dan ATP yang disepakati sekolah bisa berbeda-beda. Contoh-contoh di atas dirancang sebagai titik awal yang perlu disesuaikan, bukan sebagai dokumen final.
Apa perbedaan RPP Kurikulum Merdeka dengan RPP Deep Learning (Pembelajaran Mendalam)? RPP Kurikulum Merdeka adalah kerangka perencanaan pembelajaran yang wajib diterapkan oleh seluruh sekolah berdasarkan Permendikbudristek No. 12/2024. Sementara “RPP Deep Learning” atau Pembelajaran Mendalam adalah pendekatan tambahan yang diperkenalkan oleh Mendikdasmen β bukan kurikulum baru, melainkan cara mengajar yang menekankan pemahaman mendalam, pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Sekolah bisa mengintegrasikan pendekatan ini ke dalam RPP Kurikulum Merdeka yang sudah ada.
Apa itu “fase” yang disebut dalam RPP Kurikulum Merdeka? Fase adalah pengelompokan tahap belajar dalam Kurikulum Merdeka berdasarkan tingkat kelas, bukan mata pelajaran. SD memiliki Fase A (Kelas 1β2), Fase B (Kelas 3β4), dan Fase C (Kelas 5β6). SMP masuk Fase D (Kelas 7β9). SMA/SMK memiliki Fase E (Kelas 10) dan Fase F (Kelas 11β12). Capaian Pembelajaran (CP) dirumuskan per fase β artinya, satu set CP berlaku untuk dua atau tiga tahun ajaran, bukan per kelas seperti kurikulum sebelumnya.
Referensi
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Jakarta: Kemendikbudristek, 2024. (Dasar hukum penetapan Kurikulum Merdeka sebagai Kurikulum Nasional.)
- Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP). Keputusan Kepala BSKAP tentang Capaian Pembelajaran PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah pada Kurikulum Merdeka. Jakarta: BSKAP Kemendikbudristek, 2024. (Acuan pembagian fase AβF dan rumusan Capaian Pembelajaran per jenjang.)
- Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Kemendikbudristek. Panduan Pengembangan Modul Ajar Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek, 2022. Tersedia di: kurikulum.kemendikdasmen.go.id (Acuan komponen inti RPP/Modul Ajar: identitas, tujuan pembelajaran, kegiatan, asesmen, Profil Pelajar Pancasila.)
- BBPMP Provinsi Jawa Timur. “Kemendikbud Ristek Dorong Implementasi Kurikulum Merdeka di Seluruh Indonesia.” Diakses dari: bbpmpjatim.kemendikdasmen.go.id, 2024. (Sumber data: lebih dari 95% satuan pendidikan formal telah menerapkan Kurikulum Merdeka pada tahun ajaran 2024/2025.)
- Kompas.com. “Kemendikbud: 73 Persen Sekolah Sudah Gunakan Kurikulum Merdeka.” 13 Maret 2024. Diakses dari: kompas.com/edu (Sumber data angka 73% sekolah yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka per awal 2024, sebelum penetapan sebagai kurikulum nasional penuh.)
- Ruangguru. “Mengenal Deep Learning, Pendekatan Belajar Baru dari Mendikdasmen.” Diakses dari: ruangguru.com/blog, 2025. (Acuan penjelasan perbedaan pendekatan Deep Learning/Pembelajaran Mendalam dengan Kurikulum Merdeka umum.)