Kesepakatan Kelas Adalah: Pengertian, Tujuan, dan Cara Membuatnya

Bayangkan sebuah kelas di mana siswa mengikuti aturan bukan karena takut ditegur, melainkan karena mereka sendiri yang ikut merumuskannya. Itulah inti dari kesepakatan kelas: komitmen perilaku yang dirumuskan bersama oleh guru dan siswa melalui musyawarah, bukan ditetapkan sepihak dari atas. Hasilnya adalah ruang belajar yang lebih tertib, nyaman, dan produktif—karena setiap orang di dalamnya merasa memiliki, bukan sekadar mematuhi. Istilah ini sering tertukar dengan “keyakinan kelas” dan “tata tertib sekolah”, padahal ketiganya berbeda fungsi. Artikel ini akan menjernihkan perbedaan tersebut sekaligus memberi panduan lengkap menyusun kesepakatan kelas yang efektif.
- Apa Itu Kesepakatan Kelas?
- Tujuan dan Manfaat Kesepakatan Kelas
- Prinsip-Prinsip dalam Menyusun Kesepakatan Kelas
- Langkah-Langkah Membuat Kesepakatan Kelas Bersama Siswa
- Kesepakatan Kelas vs Tata Tertib Sekolah: Apa Bedanya?
- Kesepakatan Kelas vs Keyakinan Kelas: Sering Disamakan, Padahal Berbeda
- Pertanyaan Seputar Kesepakatan Kelas
- Kesepakatan Kelas dalam Konteks Pengamatan Kinerja Guru
- Penutup
- Referensi Riset

Apa Itu Kesepakatan Kelas?
Berbeda dengan peraturan yang ditetapkan dari atas, kesepakatan kelas bersifat demokratis dan partisipatif—bukan daftar larangan dan hukuman, melainkan hasil dialog terbuka untuk mengidentifikasi perilaku apa yang paling mendukung pembelajaran efektif.
Ketika siswa dilibatkan sejak proses pembuatan, mereka membangun rasa tanggung jawab dan kepemilikan (ownership), bukan sekadar menerima aturan yang dipaksakan. Di sinilah kesepakatan kelas menjadi fondasi budaya kelas yang positif—setiap anggota memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Konsep ini pun menjadi salah satu elemen kunci dalam implementasi Kurikulum Merdeka di Indonesia.
Untuk pemahaman lebih lanjut tentang perangkat kelas lainnya yang mendukung lingkungan belajar, Anda dapat membaca artikel kami tentang struktur organisasi kelas.
Tujuan dan Manfaat Kesepakatan Kelas
Kesepakatan kelas memiliki beberapa tujuan strategis yang saling terkait:
Menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Siswa perlu merasa aman secara fisik dan emosional agar bisa fokus belajar—lingkungan yang positif mengurangi kecemasan dan meningkatkan kepercayaan diri mereka.
Membangun rasa memiliki dan tanggung jawab. Ketika siswa dilibatkan dalam penyusunan, suara mereka terasa didengar. Ini menciptakan motivasi intrinsik untuk mematuhi kesepakatan—bukan karena takut hukuman, tapi karena sudah berkomitmen bersama.
Mendorong kolaborasi dan rasa hormat antar siswa. Kesepakatan yang mengutamakan saling menghormati perbedaan dan mendengarkan tanpa memotong membantu siswa mengembangkan kompetensi sosial-emosional.
Memudahkan guru mengelola dinamika kelas tanpa harus selalu menegur secara otoriter. Ketika semua sudah sepakat, guru bisa mengingatkan dengan cara kolaboratif, misalnya “Ingat ya, kita sudah sepakat untuk…” daripada memerintah secara kaku.
Membentuk budaya kelas yang positif dan produktif dalam jangka panjang. Kelas yang konsisten menjalankan kesepakatan terasa seperti komunitas yang saling peduli, bukan sekadar kumpulan siswa yang diawasi.
Prinsip-Prinsip dalam Menyusun Kesepakatan Kelas
Agar kesepakatan kelas benar-benar berdampak, perhatikan prinsip berikut:
Gunakan kalimat positif dan konstruktif. “Kami berbicara bergantian dan mendengarkan dengan baik” lebih memotivasi daripada “jangan memotong pembicaraan teman.”
Jangan terlalu banyak poin. Kesepakatan kelas yang ideal berkisar 3–7 poin utama—terlalu banyak akan sulit diingat dan akhirnya diabaikan.
Libatkan siswa secara aktif. Gunakan teknik brainstorming, diskusi kelompok, atau curah pendapat agar setiap siswa punya kesempatan mengusulkan.
Pastikan realistis dan dapat diterapkan, sesuai kondisi nyata kelas—karakteristik siswa, fasilitas, dan dinamika yang ada.
Bersedia meninjau dan menyesuaikan secara berkala. Kelas adalah komunitas yang dinamis; kesepakatan mungkin perlu disesuaikan seiring waktu.
Langkah-Langkah Membuat Kesepakatan Kelas Bersama Siswa
Langkah 1: Identifikasi kebutuhan dan masalah bersama
Ajak siswa mengidentifikasi situasi yang mengganggu proses belajar. Guru bisa bertanya, “Apa saja yang mengganggu kita saat belajar?” atau “Bagaimana kelas impian kita?” Jawaban siswa—keterlambatan, kegaduhan, tugas yang belum selesai—menjadi dasar penyusunan kesepakatan.
Langkah 2: Lakukan brainstorming atau curah pendapat
Beberapa metode yang bisa digunakan: diskusi langsung di kelas, sticky notes yang ditempel di papan, tools digital sederhana seperti Jamboard atau Google Forms, atau diskusi kelompok kecil yang mempresentasikan usulannya. Pastikan semua siswa nyaman mengusulkan ide tanpa takut ditertawakan.
Langkah 3: Rumuskan bersama menjadi poin-poin final
Pilah usulan yang paling relevan, kelompokkan yang sejenis, lalu rumuskan menjadi kalimat positif yang jelas dan ringkas.
Contoh:
- Dari “jangan terlambat”, “masuk tepat waktu” → dirangkum menjadi “kami datang dan siap belajar tepat waktu”
- Dari “jangan gaduh”, “dengarkan penjelasan guru” → dirangkum menjadi “kami mendengarkan dan berbicara bergantian”
Langkah 4: Sepakati dan sosialisasikan
Pastikan semua siswa memahami setiap poin. Proses ini bisa disertai penandatanganan dokumen kesepakatan oleh siswa dan guru sebagai bukti komitmen bersama.
Langkah 5: Pajang di tempat yang mudah dilihat
Bisa berupa poster dinding, buku panduan kecil per siswa, atau versi digital di platform pembelajaran online sekolah. Dengan kesepakatan yang selalu terlihat, setiap anggota kelas terus diingatkan akan komitmennya.
Langkah 6: Tinjau ulang dan evaluasi secara berkala
Evaluasi minimal sebulan sekali: Apakah kesepakatan ini berjalan baik? Ada poin yang tidak relevan lagi? Perlu perubahan? Proses ini melibatkan siswa dan guru bersama, sehingga kesepakatan tetap hidup dan relevan.
Kesepakatan Kelas vs Tata Tertib Sekolah: Apa Bedanya?
Meskipun sering digunakan bergantian, kesepakatan kelas dan tata tertib sekolah punya perbedaan fundamental:
| Aspek | Kesepakatan Kelas | Tata Tertib Sekolah |
|---|---|---|
| Dibuat oleh | Guru dan siswa bersama melalui musyawarah | Pihak sekolah/kepala sekolah, bersifat top-down |
| Cakupan | Spesifik untuk satu kelas dan situasi pembelajarannya | Berlaku untuk seluruh warga sekolah di semua tingkat |
| Sifat | Fleksibel dan dapat ditinjau ulang bersama siswa | Relatif tetap, mengikuti kebijakan sekolah |
| Proses penetapan | Kolaboratif, melibatkan dialog dan negosiasi | Formal, ditetapkan resmi oleh kepala sekolah/kurikulum |
| Tujuan utama | Membangun rasa memiliki dan budaya positif di kelas | Menjaga ketertiban institusional dan keamanan sekolah |
| Konsekuensi pelanggaran | Ditentukan bersama, sifatnya edukatif dan memperbaiki | Sanksi formal yang sudah ditetapkan |
| Contoh | “Kami saling menghormati perbedaan pendapat” | “Siswa wajib menggunakan seragam lengkap” |
Kesimpulannya, kesepakatan kelas lebih personal dan partisipatif, berfokus pada budaya positif di tingkat kelas—sementara tata tertib sekolah lebih formal dan mengatur ketertiban institusional di seluruh sekolah.
Kesepakatan Kelas vs Keyakinan Kelas: Sering Disamakan, Padahal Berbeda
Salah satu nuansa penting yang sering terlewatkan adalah perbedaannya dengan “keyakinan kelas.” Kedua istilah ini sering muncul berdampingan dalam materi Guru Penggerak dan Kurikulum Merdeka, dan banyak sekolah menggunakan keduanya tanpa memahami perbedaan mendasarnya.
Keyakinan Kelas: Pernyataan Nilai-Nilai Abstrak
Keyakinan kelas adalah pernyataan nilai-nilai universal atau prinsip kebajikan yang ingin ditanamkan di kelas—lebih abstrak dan filosofis, menjadi “jati diri” yang mendasari semua perilaku dan keputusan di dalamnya.
Contoh keyakinan kelas:
- “Kami saling menghargai perbedaan”
- “Kami bertanggung jawab atas pembelajaran kita sendiri”
- “Kami bersama-sama membangun budaya belajar yang positif”
- “Kami percaya setiap siswa bisa belajar dan berkembang”
Keyakinan kelas bersifat aspirasional—ia mengartikulasikan cita-cita yang ingin dicapai kelas sebagai komunitas pembelajaran.
Kesepakatan Kelas: Penerapan Konkret dan Operasional
Kesepakatan kelas adalah penerjemahan konkret dari keyakinan-keyakinan tersebut ke dalam perilaku spesifik yang bisa diamati dan diukur sehari-hari.
Contoh kesepakatan yang didasarkan pada keyakinan di atas:
- Dari “kami saling menghargai perbedaan” → “kami mendengarkan tanpa memotong saat teman berbicara”
- Dari “kami bertanggung jawab atas pembelajaran kita sendiri” → “kami mengumpulkan tugas tepat waktu” dan “kami membawa semua peralatan belajar”
- Dari “kami bersama-sama membangun budaya belajar yang positif” → “kami membantu teman yang kesulitan” dan “kami menjaga kebersihan kelas bersama”
Hubungan Keduanya
Keyakinan kelas dan kesepakatan kelas saling melengkapi, bukan saling menggantikan:
- Keyakinan kelas adalah fondasi nilai: menjawab “siapa kami sebagai kelas?” dan “apa nilai-nilai yang kami percayai?”
Dalam praktik Kurikulum Merdeka yang efektif, kelas biasanya dimulai dengan merumuskan keyakinan kelas terlebih dahulu (3–7 pernyataan nilai utama), lalu menurunkannya menjadi kesepakatan kelas yang spesifik dan dapat dijalankan. Pendekatan ini membuat budaya positif di kelas berakar kuat dan terasa otentik, bukan sekadar “aturan yang harus dituruti.”
Perbedaan ini penting karena berdampak pada cara guru membangun disiplin dan budaya kelas. Disiplin yang didasarkan pada keyakinan akan lebih bermakna dan mendorong motivasi intrinsik siswa dibanding sekadar menjalankan kesepakatan tanpa pemahaman nilai yang mendasarinya.
Pertanyaan Seputar Kesepakatan Kelas
Apa Saja Contoh Kesepakatan Kelas?
Kesepakatan kelas dapat dikategorikan menjadi beberapa bidang:
- Kehadiran dan ketepatan waktu: “Kami hadir dan siap belajar tepat waktu”
- Partisipasi aktif: “Kami mendengarkan dan berbicara bergantian dengan sopan”
- Sikap menghormati: “Kami saling menghormati perbedaan pendapat dan latar belakang”
- Tanggung jawab tugas: “Kami mengumpulkan tugas tepat waktu dan dengan usaha terbaik”
- Lingkungan belajar: “Kami menjaga kebersihan dan kenyamanan kelas bersama-sama”
Untuk kumpulan lengkap dan contoh spesifik per jenjang pendidikan (SD, SMP, SMA), silakan baca artikel kami tentang contoh-contoh kesepakatan kelas.
Siapa yang Terlibat dalam Membuat Kesepakatan Kelas?
Guru (atau guru kelas/guru piket) dan seluruh siswa di kelas tersebut. Idealnya prosesnya partisipatif—setiap siswa punya kesempatan sama untuk mengusulkan, berdiskusi, dan memberi persetujuan.
Di tingkat SMP dan SMA, siswa dengan peran khusus seperti ketua kelas bisa memandu diskusi, namun keputusan akhir tetap melibatkan seluruh anggota kelas, bukan hanya perwakilan.
Apakah Kesepakatan Kelas Wajib Dievaluasi?
Idealnya ya—dievaluasi secara berkala, misalnya setiap bulan atau akhir semester, agar tetap relevan dengan kebutuhan kelas yang terus berkembang. Ada poin yang sudah berhasil diterapkan dan tidak perlu lagi ditekankan, atau masalah baru yang perlu ditambahkan. Proses ini juga melibatkan siswa agar tetap kolaboratif dan responsif.
Kesepakatan Kelas dalam Konteks Pengamatan Kinerja Guru
Menariknya, dalam ekosistem Platform Merdeka Mengajar (PMM)—platform digital resmi Kemendikbudristek untuk pengembangan kompetensi guru—kemampuan menjaga dan merefleksikan kesepakatan kelas turut menjadi salah satu aspek yang relevan dengan pengelolaan kinerja guru. Guru yang efektif tidak hanya membuat kesepakatan kelas, tetapi juga secara konsisten mengingatkan siswa, menegakkan komitmen bersama, dan siap merefleksikan serta menyesuaikannya sesuai dinamika kelas.
Untuk pemahaman lebih mendalam tentang bagaimana kesepakatan kelas diamati dan direfleksikan dalam konteks pengamatan kinerja guru, silakan baca artikel lengkap kami tentang refleksi dinamika kelas dan kesepakatan kelas dalam PMM.
Kelas yang tertib dan konsisten menjalankan kesepakatan juga lebih mudah dikelola secara administratif dan digital. Ketika siswa sudah disiplin mengikuti kesepakatan, guru bisa lebih efisien mengelola pembelajaran—mulai dari pencatatan kehadiran menggunakan sistem e-Absensi hingga pengelolaan pembelajaran digital yang terintegrasi.
Penutup
Kesepakatan kelas adalah ekspresi nyata dari komitmen bersama guru dan siswa untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, saling menghormati, dan produktif. Dengan memahami perbedaannya dari keyakinan kelas dan tata tertib sekolah, serta membangunnya melalui proses kolaboratif, kesepakatan kelas menjadi dokumen hidup yang terus relevan dengan kebutuhan komunitas pembelajaran—bukan sekadar aturan yang berlaku sesaat.
Referensi Riset
- Kemendikbud. (2022). “Modul Pembelajaran 1.4: Budaya Positif.” Program Guru Penggerak, Simpul Pendidikan. Diakses dari cdn-gbelajar.simpkb.id
- Kemdikbud. (2022). “Kesepakatan/Keyakinan Kelas yang Berpihak pada Murid sebagai Perwujudan Budaya Positif di Sekolah.” Ayo Guru Berbagi – Platform Kolaborasi Guru Penggerak. https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id
- Kemdikbud. (2022). “Membangun Kesepakatan Kelas sebagai Budaya Positif.” Ayo Guru Berbagi – Platform Kolaborasi Guru Penggerak. https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id
- Shihab, Najelaa. (2019). “Surat Kabar Guru Belajar Edisi Khusus Kolaborasi Literasi.” Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
- Lestari, Risti Dwi, dkk. (2023). “Kajian Filsafat dalam Praktik Pendidikan.” Hal. 68-69.
- Gossen, Diane C. (1992). “Restitution: Restructuring School Discipline.” New View Publications.
- SDN Banjaran 4 Kota Kediri. (2023). “Tata Tertib dan Kesepakatan Kelas.” Diakses dari https://sdnbanjaran4.sch.id
- Cabang Dinas Pendidikan Wilayah 1. (2023). “Keyakinan Kelas membuat Pembelajaran Semakin Nyaman.” https://cabdindikwil1.com
- Ferdiansyah, T., Marmoah, S., & Adi, F. P. (2023). “Implementasi Manajemen Kelas pada Kurikulum Merdeka di Kelas 1 Sekolah Dasar.” Jurnal Dinamika Desa dan Daerah, Universitas Sebelas Maret.
- Portal BPSDM Provinsi Jambi. (2026). “Apakah 5 Perbedaan Antara Kesepakatan dan Tata Tertib Itu?” https://portalbpsdm.jambiprov.go.id