Literasi Adalah: Pengertian, Jenis, dan Perannya dalam Pendidikan

Literasi Adalah: Pengertian, Jenis, dan Perannya dalam Pendidikan

Literasi adalah kemampuan seseorang dalam memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan mengolah informasi untuk mengambil keputusan serta berpartisipasi dalam kehidupan. Dalam dunia pendidikan, literasi tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi mencakup kecakapan berpikir kritis, mengolah data, dan beradaptasi dengan perubahan zaman yang menjadi bekal penting bagi peserta didik.

Banyak orang masih menyamakan literasi dengan sekadar “bisa membaca buku”. Padahal, dalam kebijakan pendidikan nasional maupun kajian akademik, literasi memiliki cakupan yang jauh lebih luas: mulai dari kemampuan menafsirkan grafik dan data, menilai kredibilitas sebuah berita, hingga menggunakan teknologi digital secara bertanggung jawab. Artikel ini membahas literasi secara menyeluruh sebagai peta besar sebelum masuk ke pembahasan yang lebih spesifik pada setiap jenisnya.

Ringkasan Singkat

Literasi adalah kemampuan memahami dan menggunakan informasi secara efektif. Maknanya terus berkembang: dari sekadar bisa membaca dan menulis, menjadi kemampuan berpikir kritis, mengevaluasi informasi, hingga memanfaatkan teknologi digital. Dalam pendidikan Indonesia, literasi menjadi salah satu kompetensi dasar yang diukur bersama numerasi melalui Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), dan dikembangkan di sekolah melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Infografis literasi adalah pengertian, jenis, manfaat, dan contoh penerapannya dalam pendidikan

Literasi Adalah Apa?

Secara etimologis, istilah “literasi” berasal dari bahasa Latin literatus, yang berarti orang yang belajar. Pada mulanya, seseorang disebut literat apabila mampu membaca dan menulis. Namun pemahaman ini terus bergeser seiring waktu.

Definisi ini sejalan dengan pandangan UNESCO Institute for Statistics, yang mengartikan literasi bukan sekadar kemampuan membaca-menulis, melainkan kecakapan mengenali, memahami, menafsirkan, menciptakan, dan mengomunikasikan informasi dalam berbagai konteks, sebagai bagian dari proses belajar berkelanjutan yang membantu seseorang mencapai tujuan hidup dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat.

Dulu, literasi sering dipahami sebagai kemampuan mengenali huruf, membaca kalimat, dan menuliskan kata. Batasan ini cukup memadai ketika sumber informasi masih terbatas pada buku cetak dan media tulis konvensional.

Sekarang, literasi mencakup jauh lebih banyak hal: kemampuan memahami isi bacaan secara mendalam, menilai kebenaran suatu informasi, menghubungkan pengetahuan dari berbagai sumber, hingga memanfaatkan teknologi untuk mencari dan mengolah data. Perubahan ini terjadi karena arus informasi yang dihadapi masyarakat modern jauh lebih deras dan kompleks dibandingkan beberapa dekade lalu.

Dalam konteks pendidikan, literasi menjadi fondasi yang memungkinkan peserta didik tidak hanya “bisa membaca”, tetapi juga mampu memahami instruksi soal, menafsirkan grafik, menilai kredibilitas sebuah artikel berita, atau menyimpulkan gagasan utama dari sebuah teks panjang. Kemampuan-kemampuan inilah yang kemudian diukur pemerintah melalui berbagai instrumen Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan asesmen nasional lainnya.

Kesalahpahaman yang paling sering muncul adalah menyamakan literasi dengan kemampuan membaca lancar semata. Padahal, seseorang bisa saja membaca sebuah teks dengan lancar tanpa benar-benar memahami maksudnya, apalagi mengevaluasi kebenaran isinya. Literasi menuntut lebih dari sekadar kelancaran teknis membaca—ia menuntut pemahaman, penalaran, dan kemampuan menggunakan informasi tersebut untuk tujuan tertentu, misalnya mengambil keputusan atau menyelesaikan masalah.

Ringkasan Literasi

InformasiKeterangan
IstilahLiterasi
Makna dasarKemampuan memahami dan menggunakan informasi
Fokus utamaMembaca, memahami, berpikir kritis
PenerapanPendidikan, kehidupan sehari-hari, dunia kerja

Perjalanan Konsep Literasi

Pemahaman tentang literasi tidak statis. Ada tiga tahap besar yang bisa menggambarkan bagaimana konsep ini berkembang.

Literasi tradisional berfokus pada kemampuan dasar membaca dan menulis. Pada tahap ini, seseorang dianggap literat jika mampu mengenali huruf, merangkai kata, dan menuangkan gagasan sederhana secara tertulis.

Literasi informasi muncul seiring meningkatnya volume informasi yang beredar di masyarakat. Fokusnya bergeser ke kemampuan mencari sumber yang relevan, memahami isi informasi tersebut, dan mengevaluasi apakah informasi itu akurat atau menyesatkan.

Literasi modern menjadi tahap paling kompleks, mencakup kemampuan menghadapi informasi lintas bidang, mulai dari data, teknologi, hingga komunikasi digital. Pada tahap ini, literasi tidak lagi berdiri sendiri, tetapi bersinggungan dengan kemampuan lain seperti numerasi dan literasi digital.

Ketiga tahap ini tidak saling menggantikan, melainkan saling menumpuk. Seseorang yang literat secara modern tetap membutuhkan kemampuan membaca-menulis dasar sebagai fondasi awal.

Sebagai gambaran, seorang siswa pada beberapa dekade lalu dianggap literat jika mampu membaca buku pelajaran dan menulis jawaban ujian dengan rapi. Sementara siswa hari ini dituntut lebih jauh: mampu membandingkan beberapa artikel berita untuk menentukan mana yang lebih kredibel, memahami infografis data kependudukan, sekaligus menggunakan aplikasi belajar daring secara mandiri. Pergeseran inilah yang membuat konsep literasi terus diperbarui dalam kebijakan pendidikan, termasuk di Indonesia.

Mengapa Literasi Penting dalam Pendidikan?

Literasi bukan sekadar mata pelajaran tambahan, melainkan kemampuan dasar yang memengaruhi seluruh proses belajar siswa.

1. Membantu siswa memahami informasi

Hampir seluruh proses belajar bergantung pada kemampuan memahami teks, baik itu soal ujian, instruksi tugas, maupun materi bacaan. Siswa dengan literasi rendah cenderung kesulitan menangkap maksud soal meski sebenarnya memahami konsepnya. Akibatnya, nilai yang mereka peroleh sering kali tidak mencerminkan kemampuan berpikir mereka yang sesungguhnya, melainkan hambatan dalam memahami bahasa soal itu sendiri.

2. Melatih kemampuan berpikir kritis

Literasi mengajarkan siswa untuk tidak sekadar menerima informasi mentah-mentah, tetapi menilai apakah informasi tersebut masuk akal, didukung bukti, atau justru menyesatkan. Kemampuan ini penting di tengah derasnya arus informasi digital saat ini, di mana siswa setiap hari terpapar ribuan potongan informasi dari media sosial, artikel daring, hingga pesan berantai yang belum tentu benar.

3. Mendukung pembelajaran di semua mata pelajaran

Literasi tidak hanya relevan untuk pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam Matematika, siswa perlu memahami soal cerita sebelum bisa menyusun strategi penyelesaiannya. Dalam IPA, siswa perlu menafsirkan data hasil percobaan dan membaca grafik hasil pengukuran. Dalam IPS, siswa perlu membaca fenomena sosial dari berbagai sumber dan membandingkan sudut pandang yang berbeda. Karena sifatnya lintas mata pelajaran inilah, literasi disebut sebagai kompetensi dasar, bukan sekadar materi ajar pada satu bidang studi tertentu.

4. Mempersiapkan siswa menghadapi era digital

Semakin banyak informasi yang beredar, semakin penting kemampuan memilah mana yang kredibel dan mana yang tidak. Literasi menjadi bekal siswa untuk tidak mudah terpapar hoaks maupun informasi yang menyesatkan, sekaligus membekali mereka dengan kemampuan belajar mandiri sepanjang hayat—sebuah kecakapan yang jauh lebih penting daripada sekadar menghafal fakta di tengah dunia yang terus berubah.

Pentingnya literasi ini juga tecermin dari data resmi pemerintah. Berdasarkan Rapor Pendidikan Kemendikdasmen, proporsi murid yang mencapai kompetensi minimum literasi meningkat dari 59,49% pada 2022 menjadi 68,05% pada 2023, dan mencapai 70,03% pada 2024. Peningkatan ini menunjukkan bahwa intervensi pendidikan terhadap literasi mulai membuahkan hasil, meski pemerataannya masih menjadi tantangan di berbagai daerah.

Di sisi lain, hasil PISA 2022 yang dirilis OECD mencatat skor literasi membaca siswa Indonesia berada di angka 359 poin, turun 12 poin dibandingkan PISA 2018 yang mencapai 371 poin, dan masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD yang berkisar 472–480 poin. Kemdikbudristek saat itu menjelaskan bahwa penurunan skor global 2022 sebagian besar dipengaruhi oleh hilangnya pembelajaran (learning loss) akibat pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh negara peserta—bahkan secara global, rata-rata skor membaca dunia turun lebih tajam, yaitu sekitar 18 poin, dibandingkan penurunan Indonesia. Meskipun terdapat perubahan posisi relatif antarnegara akibat penurunan yang lebih besar di banyak negara lain, skor membaca Indonesia sendiri tetap menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan literasi peserta didik masih menjadi pekerjaan rumah penting.

Data ini menegaskan dua hal sekaligus: penguatan literasi bukan pekerjaan sekali jadi yang selesai dalam satu periode kebijakan, dan perbandingan skor antarnegara perlu dibaca secara kontekstual, bukan sekadar angka mentah. Bagi sekolah, kombinasi data PISA (skala internasional) dan Rapor Pendidikan (skala nasional) sama-sama penting sebagai bahan evaluasi arah kebijakan literasi ke depan.

Jenis-Jenis Literasi

Ketika membahas literasi secara umum, banyak orang berhenti pada satu jenis saja, yaitu literasi baca tulis. Padahal, kebijakan pendidikan nasional Indonesia mengenal cakupan yang jauh lebih luas. Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang digagas Kementerian Pendidikan mengelompokkan literasi dasar ke dalam enam jenis sebagai bagian dari kecakapan abad ke-21 yang perlu dimiliki setiap peserta didik. Berikut peta ringkasnya.

JenisPenjelasan
Literasi Baca TulisKemampuan memahami dan menggunakan bahasa tertulis untuk berkomunikasi dan memperoleh pengetahuan.
Literasi NumerasiKemampuan menggunakan konsep dan penalaran matematika untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Literasi SainsKemampuan memahami fenomena alam dan mengambil keputusan berdasarkan bukti serta metode ilmiah.
Literasi DigitalKemampuan menggunakan teknologi dan informasi digital secara kritis, aman, dan bertanggung jawab.
Literasi FinansialKemampuan memahami konsep keuangan dan mengelola sumber daya finansial secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.
Literasi Budaya dan KewargaanKemampuan memahami, menghargai, dan berperan aktif dalam keragaman budaya serta kehidupan berbangsa.

Keenam jenis literasi ini saling melengkapi, tidak berdiri sendiri-sendiri. Berikut gambaran singkat masing-masing.

Literasi baca tulis menjadi fondasi paling dasar. Tanpa kemampuan ini, seseorang akan kesulitan mengakses jenis literasi lainnya, karena hampir seluruh informasi—baik cetak maupun digital—masih disampaikan dalam bentuk teks.

Literasi sains melatih siswa memahami fenomena di sekitarnya berdasarkan bukti dan metode ilmiah, bukan sekadar opini atau mitos. Kemampuan ini penting agar siswa bisa mengambil keputusan rasional, misalnya dalam isu kesehatan atau lingkungan.

Literasi finansial adalah kemampuan memahami konsep keuangan dan mengelola sumber daya finansial secara bijak, mulai dari mengatur uang saku hingga memahami konsep menabung dan risiko utang. Meski tidak memiliki artikel khusus dalam cluster ini, literasi finansial tetap menjadi bagian penting dari enam literasi dasar yang digagas GLN.

Literasi budaya dan kewargaan membekali siswa untuk memahami keragaman budaya, menghargai perbedaan, dan berperan aktif sebagai warga negara yang bertanggung jawab.

Dua jenis literasi lainnya—numerasi dan literasi digital—memiliki pembahasan khusus karena cakupannya cukup luas dan sangat relevan dengan asesmen pendidikan di Indonesia.

Literasi numerasi, misalnya, menjadi salah satu dari dua komponen utama yang diukur dalam Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), berdampingan dengan literasi membaca. Pembahasan lengkap mengenai komponen, konten, hingga cara meningkatkan numerasi adalah kemampuan menggunakan konsep matematika dalam kehidupan yang bisa dipelajari lebih lanjut di artikel khusus.

Literasi digital juga semakin penting seiring meningkatnya penggunaan teknologi dalam pembelajaran, mulai dari mencari informasi secara kritis hingga menjaga keamanan data pribadi. Pembahasan mendalam mengenai literasi digital tersedia di artikel terpisah.

Contoh Literasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Memahami definisi literasi akan lebih mudah jika dilihat dari contoh konkret. Berikut gambaran penerapan tiap jenis literasi dalam aktivitas sehari-hari.

Jenis LiterasiContoh Penerapan
Literasi Baca TulisMemahami isi artikel berita sebelum ikut membagikannya kepada orang lain
Literasi NumerasiMembandingkan harga diskon di toko atau membaca grafik data pada laporan
Literasi SainsMemahami informasi kesehatan berdasarkan bukti, bukan sekadar informasi yang beredar di media sosial
Literasi DigitalMemeriksa kebenaran sebuah informasi sebelum memercayai atau menyebarkannya secara daring
Literasi FinansialMempertimbangkan kebutuhan dan prioritas sebelum memutuskan cara menggunakan uang saku atau gaji
Literasi Budaya dan KewargaanMemahami dan menghargai perbedaan tradisi maupun pandangan antarwarga di lingkungan sekitar

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa literasi bukan kemampuan yang hanya dipakai di ruang kelas. Siswa yang terbiasa menerapkan literasi dalam aktivitas sehari-hari—mulai dari membaca label produk, menilai berita, hingga mengatur uang saku—pada akhirnya juga akan lebih siap menghadapi soal-soal asesmen yang menuntut penalaran, bukan sekadar hafalan.

Literasi dalam Pendidikan Indonesia

Dalam sistem pendidikan Indonesia, literasi menempati posisi sentral, bukan sekadar bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sejak diperkenalkannya Kurikulum Merdeka, penguatan literasi menjadi salah satu prioritas pembelajaran di semua jenjang, mulai dari pembiasaan membaca di kelas hingga proyek penguatan profil pelajar Pancasila yang banyak mengandalkan kemampuan mencari dan mengolah informasi.

Budaya membaca menjadi indikator penting dalam mengukur sejauh mana literasi tertanam di sebuah sekolah. Sekolah dengan budaya membaca yang kuat—ditandai dengan ketersediaan bahan bacaan, kebiasaan membaca rutin, dan keterlibatan guru sebagai teladan—umumnya menunjukkan kemampuan siswa dalam memahami informasi yang lebih baik dibandingkan sekolah tanpa budaya serupa.

Selain itu, literasi juga menjadi kompetensi yang dipantau secara berkala melalui data pendidikan nasional. Kemampuan memahami informasi ini nantinya berkaitan erat dengan kompetensi lain yang diukur berdampingan dalam kebijakan pendidikan, yakni numerasi. Pembahasan lebih dalam mengenai hubungan literasi dan numerasi dalam pendidikan, termasuk bagaimana keduanya diukur bersama, tersedia di artikel khusus.

Apa Itu Gerakan Literasi Sekolah (GLS)?

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah upaya menyeluruh yang melibatkan seluruh warga sekolah, mulai dari peserta didik, guru, orang tua, hingga masyarakat, untuk menumbuhkan budaya literasi di lingkungan pendidikan. GLS pertama kali diperkenalkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai bagian dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

GLS sering diidentikkan dengan kegiatan membaca 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai. Namun sesungguhnya, GLS jauh lebih luas daripada sekadar kegiatan membaca buku nonpelajaran. Program ini dirancang sebagai gerakan berkelanjutan untuk membangun ekosistem sekolah yang literat, mencakup penyediaan bahan bacaan berkualitas, pelatihan guru sebagai fasilitator literasi, hingga pelibatan orang tua dan komunitas dalam mendukung budaya membaca di rumah.

Pemerintah juga menegaskan bahwa literasi dasar—baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan—merupakan bagian dari kecakapan abad ke-21 yang menjadi tujuan akhir GLS, bersama dengan penguatan kompetensi dan karakter siswa.

Dalam pelaksanaannya, GLS umumnya dijalankan bertahap, mulai dari tahap pembiasaan (menumbuhkan minat baca melalui kegiatan rutin), tahap pengembangan (mengaitkan kegiatan literasi dengan pembelajaran di kelas), hingga tahap pembelajaran (mengintegrasikan literasi ke dalam kurikulum secara menyeluruh). Keterlibatan kepala sekolah, guru, dan orang tua menjadi kunci keberhasilan setiap tahap ini, karena budaya literasi tidak bisa tumbuh hanya dari satu pihak saja.

Bagaimana Cara Meningkatkan Literasi Siswa?

Peningkatan literasi siswa membutuhkan kolaborasi antara guru, sekolah, dan lingkungan sekitar. Berikut beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan.

1. Membiasakan membaca dari berbagai sumber Ajak siswa membaca tidak hanya dari buku pelajaran, tetapi juga artikel, berita, maupun bacaan bertema minat mereka agar terbentuk kebiasaan membaca yang berkelanjutan. Variasi bacaan juga membantu siswa terbiasa dengan berbagai gaya bahasa dan sudut pandang.

2. Mengajarkan pemahaman, bukan sekadar hafalan Dorong siswa untuk menjelaskan ulang isi bacaan dengan bahasa sendiri, bukan hanya mengingat kalimat secara harfiah. Guru bisa meminta siswa membuat ringkasan singkat atau peta konsep dari sebuah teks untuk memastikan pemahaman, bukan sekadar hafalan permukaan.

3. Menggunakan diskusi dan pembelajaran aktif Diskusi kelompok tentang suatu bacaan atau isu terkini melatih siswa mengevaluasi informasi dan menyampaikan argumen berdasarkan bukti. Metode ini juga membiasakan siswa mendengarkan sudut pandang berbeda sebelum menyimpulkan sesuatu.

4. Memanfaatkan teknologi secara bijak Gunakan platform pembelajaran digital dan sumber belajar daring untuk memperluas akses bacaan, sekaligus melatih literasi digital siswa. Guru dapat memandu siswa membandingkan beberapa sumber daring untuk membiasakan sikap kritis terhadap informasi yang mereka temukan.

5. Memberikan tugas berbasis masalah nyata Tugas yang mengharuskan siswa mencari, membandingkan, dan menyimpulkan informasi dari berbagai sumber jauh lebih efektif melatih literasi dibanding tugas hafalan semata. Contohnya, meminta siswa menyusun laporan sederhana tentang isu di lingkungan sekitar mereka berdasarkan beberapa sumber data yang berbeda.

6. Menyediakan akses bahan bacaan yang memadai Ketersediaan buku dan bahan bacaan berkualitas di perpustakaan sekolah maupun kelas turut menentukan seberapa jauh budaya literasi dapat tumbuh. Sekolah yang memiliki pojok baca atau perpustakaan aktif umumnya menunjukkan minat baca siswa yang lebih tinggi dibanding sekolah tanpa akses bacaan yang memadai.

Hubungan Literasi dengan Digitalisasi Pendidikan

Semakin luasnya sumber informasi digital membuat kemampuan literasi menjadi semakin krusial. Ketika sekolah mengadopsi teknologi pembelajaran, sistem informasi sekolah, atau asesmen berbasis digital, siswa dituntut untuk tidak hanya mahir mengoperasikan perangkat, tetapi juga mampu memahami dan mengevaluasi informasi yang mereka akses secara digital.

Transformasi ini menjadikan literasi sebagai fondasi yang menopang keberhasilan transformasi digital sekolah, mulai dari penggunaan sistem informasi sekolah hingga pelaksanaan ujian dan asesmen berbasis komputer. Tanpa fondasi literasi yang memadai, pemanfaatan teknologi pendidikan berisiko hanya menjadi perpindahan media tanpa peningkatan kualitas belajar yang nyata—siswa mungkin sudah terbiasa mengoperasikan perangkat, tetapi belum tentu mampu memahami dan mengevaluasi informasi yang mereka baca di layar.

Karena itu, penguatan literasi dan digitalisasi pendidikan idealnya berjalan beriringan. Sekolah yang beralih ke sistem ujian dan asesmen digital tetap perlu memastikan siswanya memiliki kemampuan literasi dasar yang memadai, agar teknologi benar-benar menjadi alat bantu belajar, bukan sekadar pengganti kertas dan pensil.

Kesimpulan

Literasi adalah kemampuan memahami, menggunakan, dan mengevaluasi informasi dalam berbagai bentuk, bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Dalam pendidikan modern, literasi berkembang menjadi enam dimensi dasar—baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan—yang saling melengkapi. Literasi menjadi fondasi penting agar peserta didik mampu belajar secara bermakna, berpikir kritis, dan menghadapi perubahan zaman, termasuk transformasi digital dalam dunia pendidikan.

Bagi guru, kepala sekolah, maupun orang tua, memahami literasi secara utuh menjadi langkah awal sebelum mendalami jenis-jenis literasi secara lebih spesifik, seperti numerasi atau literasi digital. Dengan peta pemahaman yang jelas ini, penguatan literasi di sekolah dapat dirancang secara lebih terarah dan tidak berhenti sebatas slogan “budaya membaca”, melainkan benar-benar terintegrasi ke dalam proses belajar sehari-hari.

FAQ Seputar Literasi

Literasi adalah apa? Literasi adalah kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan mengolah informasi untuk mengambil keputusan serta berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan ini menjadi dasar bagi hampir seluruh proses belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Apakah literasi hanya kemampuan membaca? Tidak. Literasi modern mencakup lebih dari sekadar membaca dan menulis, termasuk kemampuan berpikir kritis, mengevaluasi informasi, dan memanfaatkan teknologi digital. Seseorang bisa lancar membaca tanpa benar-benar memahami atau mengevaluasi isi bacaan tersebut.

Apa saja jenis literasi? Menurut Gerakan Literasi Nasional, terdapat enam jenis literasi dasar: literasi baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan. Keenamnya saling melengkapi sebagai bagian dari kecakapan abad ke-21.

Apa hubungan literasi dan numerasi? Literasi dan numerasi merupakan dua kompetensi dasar yang diukur bersama dalam Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), bagian dari Asesmen Nasional. Selengkapnya dapat dibaca di artikel Literasi dan Numerasi Adalah.

Mengapa literasi penting bagi siswa? Literasi membantu siswa memahami materi pembelajaran di semua mata pelajaran, melatih berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mempersiapkan diri menghadapi derasnya arus informasi di era digital tanpa mudah terpapar hoaks.

Apa manfaat literasi bagi siswa? Secara konkret, literasi bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman terhadap soal dan instruksi belajar, melatih kemampuan menilai kredibilitas sumber informasi, mendukung nilai akademik di berbagai mata pelajaran, serta membekali siswa dengan kebiasaan belajar mandiri yang berguna sepanjang hidup.

Apa itu Gerakan Literasi Sekolah? Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah program yang melibatkan seluruh warga sekolah—peserta didik, guru, orang tua, dan masyarakat—untuk menumbuhkan budaya literasi, berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.


Tentang Penulis

Tim Edukasi e-ujian.id merupakan tim yang mengembangkan konten dan solusi teknologi pendidikan, dengan pengalaman mendampingi sekolah dan madrasah dalam implementasi asesmen digital, ujian berbasis komputer, serta pengelolaan pembelajaran berbasis data. Artikel ini disusun berdasarkan dokumentasi resmi pemerintah dan pengalaman praktis tersebut. Selengkapnya tentang kami.

Terakhir diperbarui: Agustus 2026

Referensi

  1. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Peringkat Indonesia pada PISA 2022 Naik 5-6 Posisi Dibanding 2018. kemendikdasmen.go.id
  2. Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik). Perilisan Hasil PISA 2022. pusmendik.kemdikbud.go.id
  3. Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan, Kemendikdasmen. Rapor Pendidikan 2022-2024. puslapdik.kemendikdasmen.go.id
  4. Gerakan Literasi Nasional. Panduan Bagi Gerakan Literasi di Sekolah. gln.kemdikbud.go.id
  5. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.
  6. UNESCO Institute for Statistics. Literacy (Glossary Definition). uis.unesco.org