Project Based Learning (PjBL): Pengertian, Prinsip, Langkah, Contoh, dan Manfaat dalam Pembelajaran Modern

Ilustrasi hero Project Based Learning (PjBL)

Dari Belajar Menghafal Menuju Menghasilkan Karya

Selama puluhan tahun, pembelajaran di Indonesia banyak menggunakan pendekatan yang menempatkan guru sebagai sumber utama pengetahuan: guru menjelaskan, siswa mencatat, lalu materi diuji lewat hafalan. Model ini berhasil membangun fondasi literasi dan transfer ilmu, tetapi perubahan zaman menghadirkan tantangan baru โ€” siswa tidak hanya dituntut mengetahui informasi, tetapi juga mampu mengolah informasi, memecahkan masalah, bekerja sama dalam tim, dan menciptakan solusi yang benar-benar bisa dipakai.

Pergeseran ini tidak terjadi tiba-tiba. Ia adalah kelanjutan dari perjalanan panjang perubahan metode pembelajaran di Indonesia, yang bergerak dari kelas yang berpusat pada guru menuju kelas yang berpusat pada siswa, dari pembelajaran pasif menuju pembelajaran aktif, hingga akhirnya sampai pada gagasan deep learning sebagai cara belajar yang lebih bermakna. Perlu ditegaskan, dalam konteks pendidikan, deep learning di sini tidak merujuk pada teknologi kecerdasan buatan, melainkan pada pendekatan belajar yang mendorong siswa memahami konsep secara mendalam, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, dan melakukan refleksi terhadap proses belajarnya sendiri. Project Based Learning (PjBL) adalah salah satu wujud paling konkret dari perjalanan tersebut โ€” bentuk nyata di mana filosofi belajar mendalam benar-benar dipraktikkan di dalam kelas sehari-hari.

Artikel ini membahas tuntas apa itu PjBL, mengapa model ini semakin banyak dipakai, apa bedanya dengan sekadar “tugas proyek”, bagaimana langkah penerapannya, contoh nyatanya di berbagai mata pelajaran, hubungannya dengan Kurikulum Merdeka, serta apa kata penelitian tentang efektivitasnya di Indonesia.

Infografis Project Based Learning (PjBL) yang menjelaskan pengertian, langkah penerapan, prinsip, dan manfaat pembelajaran berbasis proyek bagi siswa

Mengapa Project Based Learning Semakin Banyak Digunakan?

Banyak guru mengenali gejala yang sama: siswa bisa menjawab soal ujian dengan baik, tetapi kesulitan saat pengetahuan itu harus dipakai untuk menyelesaikan persoalan yang sesungguhnya. Materi terasa terpisah dari kehidupan nyata, dan keterampilan abad ke-21 โ€” berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi โ€” tidak berkembang maksimal hanya lewat ceramah dan latihan soal.

Di sinilah PjBL hadir sebagai jawaban. Alih-alih menempatkan siswa sebagai penerima informasi, PjBL menempatkan mereka sebagai pihak yang aktif merancang, menyelidiki, dan menghasilkan sesuatu. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pembelajaran aktif dan pembelajaran berpusat pada siswa yang telah lama didorong dalam reformasi kurikulum di Indonesia โ€” bedanya, PjBL memberi kerangka kerja yang jelas dan terstruktur agar prinsip-prinsip itu benar-benar bisa dijalankan di kelas, bukan sekadar jadi slogan.


Apa Itu Project Based Learning (PjBL)?

Project Based Learning adalah salah satu model pembelajaran yang menjadikan proyek sebagai inti proses belajar. Siswa mempelajari konsep bukan dengan menghafalkannya lebih dulu, melainkan dengan merancang, melakukan, menghasilkan, dan mengevaluasi sebuah karya atau solusi atas masalah tertentu. Konsep yang dipelajari “menempel” pada proses pengerjaan proyek itu sendiri.

Yang penting untuk dipahami: PjBL bukan sekadar memberi siswa tugas berbentuk proyek. Banyak sekolah sudah memberi “tugas proyek” bertahun-tahun, tetapi belum tentu itu benar-benar PjBL. Perbedaannya terletak pada di mana fokus pembelajaran diletakkan โ€” dan penting dicatat, dalam PjBL guru tetap berperan memberikan driving question atau pertanyaan pemandu; bukan berarti siswa dilepas merumuskan masalah sepenuhnya sendiri.

Tugas Proyek BiasaProject Based Learning (PjBL)
Guru menentukan seluruh aktivitasGuru membimbing siswa mengeksplorasi pertanyaan atau masalah utama
Fokus pada produk akhirFokus pada proses penyelidikan dan pembelajaran
Penilaian berfokus pada hasil akhirPenilaian mencakup proses berpikir dan kolaborasi
Tidak selalu terkait erat dengan kompetensi tertentuDirancang berbasis kompetensi dan tujuan pembelajaran yang jelas

Hubungan Project Based Learning dengan Deep Learning

Bila deep learning dalam pendidikan adalah pendekatan atau filosofi belajar yang menekankan pemahaman mendalam, keterlibatan aktif, dan makna di balik setiap materi yang dipelajari, maka PjBL adalah salah satu cara paling konkret untuk mewujudkan filosofi tersebut di ruang kelas. Hubungannya bisa digambarkan secara sederhana sebagai berikut:

Deep Learning (pendekatan/filosofi belajar)
        โ”‚
        โ–ผ
  Model Pembelajaran
   โ”Œโ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”ดโ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”€โ”
   โ–ผ                   โ–ผ
Problem Based       Project Based
Learning (PBL)      Learning (PjBL)
berbasis masalah    berbasis produk/karya

Melalui pengerjaan proyek, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga menghubungkan konsep dengan pengalaman nyata (meaningful learning), menyadari dan mengelola proses berpikirnya sendiri (mindful learning), serta belajar melalui pengalaman yang lebih menarik dan bermakna (joyful learning) โ€” tiga unsur inti yang selama ini ditekankan dalam pendekatan pembelajaran mendalam di Indonesia.

Selain PjBL, pendekatan lain yang juga memiliki hubungan erat dengan pembelajaran mendalam adalah Problem Based Learning (PBL), yaitu model pembelajaran yang berfokus pada proses menemukan solusi terhadap suatu masalah nyata. Bedanya dengan PjBL cukup mendasar: PBL berhenti pada solusi atau pemecahan masalah, sedangkan PjBL melangkah lebih jauh hingga menghasilkan produk atau karya yang nyata.


Perbedaan Project Based Learning dan Problem Based Learning

Karena kedua istilah ini sama-sama disingkat mirip dan sering tertukar, berikut perbandingan singkatnya:

Problem Based Learning (PBL)Project Based Learning (PjBL)
FokusMasalahProduk atau karya
TujuanMenemukan solusiMenghasilkan karya
OutputJawaban atau solusi atas masalahProduk, prototipe, atau karya nyata

Singkatnya, PBL cenderung berhenti begitu solusi ditemukan, sedangkan PjBL menuntut siswa melangkah lebih jauh: solusi itu harus diwujudkan menjadi sesuatu yang bisa dilihat, digunakan, atau dipresentasikan. Dalam praktiknya, kedua model ini sering saling melengkapi dan bisa dikombinasikan dalam satu rangkaian pembelajaran.


Prinsip Utama Project Based Learning

1. Pertanyaan Utama (Driving Question)

Setiap proyek dimulai dari sebuah pertanyaan yang membutuhkan penyelesaian nyata, misalnya “Bagaimana cara mengurangi sampah plastik di sekolah kita?” Pertanyaan semacam ini memberi arah sekaligus alasan mengapa proyek itu layak dikerjakan.

2. Investigasi dan Penyelidikan

PjBL bukan sekadar “mengerjakan proyek” โ€” sebelum sampai pada solusi, siswa perlu melalui proses penyelidikan: mencari informasi, menguji ide, berdiskusi, dan menyaring berbagai kemungkinan jawaban. Tahap inilah yang membedakan PjBL dari sekadar praktik atau kerja tangan biasa.

3. Perencanaan Proyek

Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber jawaban. Perannya bergeser menjadi fasilitator, pembimbing, dan pemberi umpan balik โ€” sejalan dengan perubahan peran guru menjadi fasilitator yang sudah lama didorong dalam reformasi kurikulum โ€” sementara siswa menyusun rencana kerja, pembagian tugas, dan metode penyelesaian proyek. PjBL juga memiliki keterkaitan erat dengan collaborative learning, karena sebagian besar proyek dikerjakan melalui kerja kelompok, bukan secara individu.

4. Produk Nyata

Setiap proyek harus berujung pada sesuatu yang bisa dilihat dan dinilai: laporan penelitian, video, aplikasi sederhana, karya seni, atau prototipe.

5. Refleksi dan Evaluasi

Di akhir proyek, siswa diajak merefleksikan apa yang mereka pelajari, kesulitan apa yang dihadapi, dan bagaimana mereka mengatasinya. Tahap ini yang sering terlewat pada “tugas proyek biasa”, padahal justru di sinilah pembelajaran paling dalam terjadi. Hampir seluruh tahapan PjBL โ€” dari diskusi kelompok, presentasi hasil, hingga menerima umpan balik โ€” juga terus melatih kemampuan berkomunikasi siswa.


Langkah-Langkah Menerapkan Project Based Learning

Bagi guru yang ingin mulai mencoba, berikut tahapan penerapan PjBL yang bisa diikuti secara berurutan. Tahapan ini banyak mengacu pada kerangka Project Based Learning yang dikembangkan oleh The Buck Institute for Education (PBLWorks), lembaga riset dan pelatihan yang menjadi salah satu rujukan utama dalam pengembangan model PjBL secara internasional.

1. Menentukan Pertanyaan Dasar

Guru dan siswa bersama-sama menentukan pertanyaan mendasar yang menjadi fokus penyelidikan proyek, misalnya “Bagaimana membuat lingkungan sekolah lebih sehat?”

2. Mendesain Perencanaan Proyek

Siswa bersama guru menentukan tujuan proyek, pembagian tugas dalam kelompok, sumber informasi yang dibutuhkan, dan metode kerja yang akan dipakai.

3. Menyusun Jadwal

Timeline pengerjaan, target di setiap tahap, dan batas waktu penyelesaian disepakati sejak awal agar proyek tidak molor tanpa arah.

4. Memantau Proses (Monitoring)

Guru melakukan pendampingan berkala, mengevaluasi perkembangan, dan memberi masukan sebelum proyek selesai โ€” bukan hanya menilai di akhir.

5. Menguji Hasil

Produk yang dihasilkan dipresentasikan, baik di depan kelas, sekolah, atau bahkan pihak eksternal, agar siswa mendapat umpan balik yang nyata.

6. Evaluasi dan Refleksi

Siswa diajak memahami apa yang sudah mereka pelajari dari keseluruhan proses, bukan hanya dari hasil akhirnya.


Contoh Project Based Learning di Berbagai Mata Pelajaran

Mata PelajaranContoh ProyekKompetensi yang Dikembangkan
MatematikaMenghitung kebutuhan dan efisiensi energi listrik sekolahAnalisis data, pemecahan masalah, penalaran kuantitatif
IPAMerancang sistem pengolahan sampah organik sekolahBerpikir ilmiah, kerja sama, kepedulian lingkungan
IPSMenganalisis perubahan harga kebutuhan pokok di pasar sekitarLiterasi ekonomi, analisis sosial, komunikasi
Bahasa IndonesiaMembuat kampanye literasi digital untuk warga sekolahMenulis persuasif, kreativitas, komunikasi publik
InformatikaMembuat aplikasi atau situs sederhana untuk kebutuhan sekolahBerpikir komputasional, pemecahan masalah teknis

Project Based Learning dalam Kurikulum Merdeka

PjBL sangat selaras dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berbasis kompetensi dan penguatan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila. PjBL memiliki keterkaitan kuat dengan pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), karena keduanya sama-sama menekankan pengalaman belajar melalui eksplorasi masalah, kolaborasi, penciptaan karya, dan refleksi โ€” meski penting dicatat bahwa P5 sendiri tidak identik dengan PjBL, melainkan salah satu ruang di mana pendekatan berbasis proyek banyak diterapkan.

Sejumlah kajian di sekolah dasar dan menengah menunjukkan bahwa penerapan PjBL dalam kegiatan P5 sejalan dengan pencapaian dimensi-dimensi Profil Pelajar Pancasila, seperti kemandirian, gotong royong, serta kreativitas dan bernalar kritis โ€” karena tahapan PjBL (merancang, melaksanakan, mengevaluasi proyek) secara alami menumbuhkan sikap-sikap tersebut. Meski demikian, beberapa kajian juga mencatat kendala di lapangan, misalnya sebagian siswa belum terbiasa dengan tanggung jawab mandiri yang dituntut dalam pembelajaran berbasis proyek, sehingga pendampingan guru pada tahap awal implementasi tetap penting.


Apa Kata Penelitian tentang Project Based Learning?

Efektivitas PjBL bukan sekadar klaim populer โ€” sejumlah penelitian di berbagai jenjang pendidikan di Indonesia telah mengujinya secara langsung di kelas.

Secara umum, berbagai kajian dan tinjauan literatur internasional menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek memberikan dampak positif terhadap pemahaman konsep, kreativitas, dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Pola serupa juga konsisten terlihat di Indonesia: berbagai penelitian tindakan kelas maupun penelitian eksperimen pada jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi menunjukkan hasil yang sejalan, sebagaimana dirangkum berikut ini.

Jenjang Pendidikan Dasar

Penelitian Setiawan, Wardani, dan Permana (2021) menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas pada siswa sekolah dasar dan menemukan peningkatan kreativitas setelah penerapan PjBL dalam pembelajaran tematik. Temuan serupa juga muncul dari penelitian tindakan kelas di SD Negeri Trangsan 01 pada siswa kelas IV, yang menggunakan dua siklus pengamatan dengan data dari wawancara, observasi, dan kuesioner: tingkat kreativitas siswa tercatat naik dari 48% pada tahap pra-siklus, menjadi 64% pada siklus pertama, dan 81% pada siklus kedua setelah penerapan PjBL.

Jenjang Pendidikan Menengah

Di tingkat SMA, penelitian Sularmi menggunakan metode eksperimen semu dengan desain nonequivalent pretest-posttest control group pada siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Pulau Laut Timur, mata pelajaran geografi. Hasil uji statistik menunjukkan pengaruh yang signifikan (nilai signifikansi 0,007) dari penerapan PjBL terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Sementara itu, penelitian pengabdian di jenjang SMK โ€” tepatnya di SMK Negeri 15 Pandeglang โ€” menemukan bahwa pembelajaran berbasis proyek mampu mendorong kreativitas dan kemampuan inovasi siswa, meski keberhasilannya tetap bergantung pada dukungan fasilitas sekolah dan pelatihan guru yang memadai.

Jenjang Pendidikan Tinggi

Penelitian Nurrfidah, Sumiadi, dan Fandir (2025) menggunakan desain eksperimen semu (pretest-posttest control group design) pada 60 mahasiswa semester 4 program studi Manajemen Pendidikan, membandingkan kelompok yang belajar dengan PjBL dan kelompok yang belajar dengan metode ceramah. Hasilnya menunjukkan perbedaan signifikan (p < 0,05) dalam peningkatan keterampilan berpikir kritis pada kelompok PjBL, dengan mahasiswa melaporkan keterlibatan yang lebih aktif dan kemampuan kerja tim yang lebih baik. Tinjauan literatur Hasibuan, Sari, dan Sinaga (2025) terhadap sejumlah kajian di perguruan tinggi turut memperkuat simpulan ini, meski menekankan bahwa efektivitas PjBL sangat bergantung pada suasana belajar yang kolaboratif dan desain proyek yang terorganisir dengan baik.

Secara umum, pola dari berbagai jenjang ini konsisten: PjBL paling efektif ketika dirancang dengan pertanyaan yang jelas, didampingi secara aktif oleh guru atau dosen, dan diberi ruang refleksi di akhir proses โ€” bukan sekadar “diberi proyek lalu dibiarkan”.


Tantangan Implementasi Project Based Learning

  1. Membutuhkan waktu lebih panjang dibanding metode ceramah konvensional, sehingga perencanaan jadwal pembelajaran perlu lebih matang.
  2. Guru perlu kemampuan mendesain proyek yang relevan dan cukup menantang, bukan sekadar tugas rutin.
  3. Penilaian menjadi lebih kompleks karena mencakup proses, kolaborasi, dan produk akhir sekaligus.
  4. Fasilitas sekolah yang berbeda-beda memengaruhi jenis proyek yang bisa dijalankan secara realistis.
  5. Tidak semua materi cocok disampaikan lewat pendekatan proyek โ€” sebagian konsep dasar tetap memerlukan penjelasan langsung.

Hubungan PjBL dengan Assessment

Karena PjBL menilai proses sekaligus produk, model asesmen tradisional berbasis pilihan ganda saja tidak lagi memadai. Sekolah yang menerapkan PjBL membutuhkan bentuk penilaian yang lebih beragam dan kontekstual โ€” pendekatan yang dikenal sebagai assessment autentik dalam pendidikan โ€” seperti penilaian proses selama pengerjaan proyek, rubrik penilaian produk, penilaian presentasi, hingga penilaian kolaborasi dalam kelompok.

Pendekatan penilaian semacam ini sejalan dengan prinsip HOTS Assessment, yang menekankan pengukuran kemampuan berpikir tingkat tinggi โ€” analisis, evaluasi, dan penciptaan โ€” alih-alih sekadar mengingat fakta. Sekolah yang sudah terbiasa merancang asesmen HOTS umumnya lebih siap ketika mulai menerapkan PjBL secara konsisten.


Masa Depan Project Based Learning di Indonesia

Ke depan, penerapan PjBL kemungkinan besar akan semakin terintegrasi dengan teknologi: mulai dari pemanfaatan AI sebagai alat bantu riset dan penyusunan proyek siswa, platform kolaborasi digital untuk kerja kelompok lintas kelas atau bahkan lintas sekolah, hingga sistem asesmen berbasis kompetensi yang mampu merekam perkembangan siswa dari waktu ke waktu โ€” bukan hanya nilai akhir semester.

Di sinilah data pembelajaran menjadi penting. Ketika proses asesmen โ€” termasuk asesmen proyek dan HOTS โ€” terekam secara digital dan sistematis, guru dan sekolah dapat lebih mudah memahami perkembangan kompetensi siswa secara berkelanjutan, bukan sekadar melihat hasil ujian di satu titik waktu.


Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apa itu Project Based Learning?

Project Based Learning (PjBL) adalah model pembelajaran yang menjadikan proyek sebagai inti proses belajar, di mana siswa memahami konsep melalui proses merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi sebuah karya atau solusi nyata.

Apa perbedaan PjBL dan tugas proyek biasa?

Tugas proyek biasa berfokus pada hasil akhir, sedangkan PjBL berfokus pada proses belajar, pemikiran kritis, dan refleksi di sepanjang pengerjaan proyek.

Apa langkah-langkah Project Based Learning?

Secara umum meliputi: menentukan pertanyaan dasar, mendesain perencanaan proyek, menyusun jadwal, memantau proses, menguji hasil, lalu evaluasi dan refleksi.

Apa contoh PjBL di sekolah?

Contohnya mencakup proyek perhitungan energi listrik di matematika, sistem pengolahan sampah di IPA, kampanye literasi digital di Bahasa Indonesia, hingga pembuatan aplikasi sederhana di Informatika.

Apakah PjBL cocok untuk semua mata pelajaran?

Tidak selalu. PjBL sangat efektif untuk materi yang aplikatif dan kontekstual, tetapi sebagian konsep dasar tetap membutuhkan penjelasan langsung sebelum diterapkan dalam proyek.

Apa hubungan PjBL dengan Kurikulum Merdeka?

PjBL memiliki keterkaitan kuat dengan pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), karena keduanya sama-sama menekankan eksplorasi masalah, kolaborasi, penciptaan karya, dan refleksi โ€” meski P5 sendiri tidak identik dengan PjBL.

Apa hubungan PjBL dengan Deep Learning?

Deep learning adalah filosofi atau pendekatan belajar yang menekankan pemahaman mendalam, sedangkan PjBL adalah salah satu model konkret untuk mewujudkan pendekatan tersebut di dalam kelas.

Apakah Project Based Learning cocok untuk sekolah dasar?

Cocok, dengan penyesuaian kompleksitas proyek sesuai usia siswa. Penelitian tindakan kelas di jenjang SD menunjukkan bahwa PjBL yang diterapkan pada pembelajaran tematik dengan pendampingan guru yang cukup terbukti mampu meningkatkan kreativitas siswa kelas rendah maupun kelas tinggi.

Apa kelebihan dan kekurangan Project Based Learning?

Kelebihannya meliputi peningkatan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan keterkaitan langsung dengan kehidupan nyata. Kekurangannya mencakup kebutuhan waktu yang lebih panjang, kompleksitas penilaian, serta ketergantungan pada kesiapan fasilitas sekolah dan kemampuan guru merancang proyek โ€” sebagaimana dibahas lebih rinci pada bagian tantangan implementasi di atas.


Kesimpulan: Apa yang Dapat Dipelajari?

Project Based Learning bukan sekadar tren dalam dunia pendidikan, melainkan jawaban atas kebutuhan nyata: siswa yang mampu berpikir kritis, bekerja sama, dan menghasilkan solusi โ€” bukan hanya mengingat fakta. Penelitian dari berbagai jenjang pendidikan di Indonesia, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, secara konsisten menunjukkan bahwa PjBL dapat meningkatkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis siswa, asalkan diterapkan dengan perencanaan yang matang, pendampingan guru yang aktif, dan ruang refleksi yang cukup.

Bagi sekolah yang ingin memulai, langkah paling realistis adalah mencoba PjBL pada satu topik atau satu semester terlebih dahulu, mengevaluasi prosesnya, lalu mengembangkannya secara bertahap โ€” sejalan dengan arah Kurikulum Merdeka dan kebutuhan asesmen berbasis kompetensi di masa depan.


Referensi

  1. Peningkatan Kreativitas Pada Siswa Kelas IV Menggunakan Model Project Based Learning SDN Trangsan 01. Jurnal Jendela Pendidikan.
  2. Setiawan, L., Wardani, N. S., & Permana, T. I. (2021). Peningkatan kreativitas siswa pada pembelajaran tematik menggunakan pendekatan Project Based Learning. Jurnal Basicedu, 5(4), 1879โ€“1887.
  3. Sularmi. Pengaruh Project-Based Learning terhadap Kemampuan Berpikir Kritis. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan, Universitas Negeri Malang.
  4. Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Proyek Dalam Meningkatkan Kreativitas Dan Inovasi Siswa SMK (SMK Negeri 15 Pandeglang). Abdi Laksana: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat.
  5. Nurrfidah, Sumiadi, R., & Fandir, A. (2025). Efektivitas Metode Project-Based Learning dalam Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Mahasiswa. Pendidikan Bahasa dan Sastra, 4(2). https://doi.org/10.58258/pendibas.v4i2.9469
  6. Hasibuan, H., Sari, S. A., & Sinaga, M. (2025). Implementasi Project Based Learning di Perguruan Tinggi untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis: Sebuah Tinjauan. Pubmedia Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Indonesia.
  7. Dewi, M. R. (2023). Kelebihan dan kekurangan Project-based Learning untuk penguatan Profil Pelajar Pancasila Kurikulum Merdeka. Inovasi Kurikulum, 19(2), 213โ€“226. https://doi.org/10.17509/jik.v19i2.44226
  8. Puslapdik Kemdikbudristek. Project Based Learning, Profil Pelajar Pancasila dan Gen Z. Diakses dari puslapdik.kemdikbud.go.id.
  9. Implementasi Model Project Based Learning (PjBL) dan Relevansinya dengan P5 Kurikulum Merdeka di Kelas IV Sekolah Dasar. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 14(1).