Cara Membuat RPP dengan AI: Panduan Lengkap dan Cepat untuk Guru

Setiap awal semester, hampir semua guru di Indonesia menghadapi rutinitas yang sama: menyusun tumpukan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk berbagai kelas, mata pelajaran, dan kompetensi dasar, di tengah jadwal mengajar yang sudah padat. Banyak yang akhirnya menyalin RPP tahun sebelumnya dan mengubah seperlunya, bukan karena malas, tapi karena waktu memang tidak cukup untuk menyusun perencanaan yang benar-benar segar setiap kali.
Kabar baiknya, kini ada cara yang jauh lebih cepat tanpa harus mengorbankan kualitas: memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) sebagai asisten penyusun draf. Artikel ini akan memandu Anda, langkah demi langkah, cara membuat RPP dengan AI โ mulai dari menyiapkan bahan, menulis prompt yang tepat, sampai memastikan hasilnya benar-benar layak dipakai mengajar.
Anda tidak perlu menjadi ahli teknologi untuk mengikuti panduan ini. Semua istilah yang muncul akan dijelaskan dengan bahasa sesederhana mungkin, karena tujuan artikel ini memang sederhana: membantu Anda menghemat waktu penyusunan RPP tanpa mengorbankan kualitas pembelajaran di kelas.
- Kenapa Guru Perlu Cara Cepat Membuat RPP di Tengah Banyaknya Tugas Administratif
- Apa Itu RPP dan Kenapa AI Cocok Membantu Menyusunnya
- RPP atau Modul Ajar? Kenali Dulu Mana yang Anda Butuhkan
- Prinsip RPP yang Baik di Era Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
- Langkah-Langkah Cara Membuat RPP dengan AI
- Contoh Prompt Siap Pakai untuk Membuat RPP dengan AI
- Contoh Hasil: Tabel RPP yang Disusun dengan Bantuan AI
- Tips Agar RPP Hasil AI Tetap Berkualitas dan Sesuai Kaidah Kurikulum
- Kesalahan Umum Saat Membuat RPP dengan AI (dan Cara Menghindarinya)
- Ingin Lihat Contoh RPP Lengkap Lebih Dulu?
- Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Penutup: AI Sebagai Asisten, Guru Tetap Pengambil Keputusan Akhir
- Referensi
Kenapa Guru Perlu Cara Cepat Membuat RPP di Tengah Banyaknya Tugas Administratif
Mengajar bukan satu-satunya pekerjaan guru. Di luar jam tatap muka, ada RPP yang harus disusun, nilai yang harus direkap, laporan yang harus diserahkan, sampai rapat dan pelatihan yang menyita waktu. Tidak jarang, penyusunan RPP jadi pekerjaan yang dikerjakan terburu-buru di malam hari atau di sela istirahat, karena prioritas utama tetap ada di ruang kelas.
Situasi ini yang membuat banyak guru mulai melirik AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, atau Claude sebagai alat bantu. Bukan untuk menggantikan peran guru sebagai perancang pembelajaran, melainkan untuk mempercepat bagian yang paling menyita waktu: menulis draf awal. Anggap saja AI sebagai asisten dapur yang menyiapkan bahan-bahan dengan cepat, sementara Anda tetap juru masaknya โ yang menentukan bumbu, takaran, dan sentuhan akhir sebelum “hidangan” itu benar-benar siap disajikan ke siswa di kelas Anda.
Pendekatan ini juga sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nasional. Penyusunan RPP sendiri sebenarnya sudah lama didorong untuk lebih ringkas dan efisien, sementara pemanfaatan teknologi digital oleh guru menjadi salah satu perhatian dalam agenda transformasi pendidikan Indonesia. AI hanyalah alat terbaru yang mempercepat semangat efisiensi itu.
Manfaatnya pun bukan sekadar klaim di atas kertas. Sebuah kajian pelatihan Gen-AI bagi guru madrasah di Jambi yang dipublikasikan di Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa pada November 2025 mencatat rata-rata peningkatan skor kompetensi guru sebesar 35% setelah pelatihan โ mencakup pemahaman dasar AI sampai kemampuan praktik langsung membuat perangkat ajar dan media pembelajaran. Angka ini menunjukkan bahwa begitu guru diberi kesempatan mencoba dan berlatih, AI relatif cepat dikuasai, meski penerapannya di lapangan tetap perlu disesuaikan dengan akses perangkat dan koneksi internet yang tersedia di masing-masing sekolah.
Kabar baiknya, untuk sekadar menyusun draf RPP, kebutuhan teknisnya relatif ringan: Anda hanya memerlukan koneksi internet dan perangkat (laptop atau ponsel) untuk mengakses aplikasi AI berbasis chat, tanpa perlu instalasi rumit atau perangkat berspesifikasi tinggi.
Apa Itu RPP dan Kenapa AI Cocok Membantu Menyusunnya
Secara sederhana, RPP adalah dokumen perencanaan yang disusun guru sebagai pedoman melaksanakan pembelajaran di kelas, biasanya mencakup tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan penilaian. Jika Anda ingin memahami definisi, fungsi, dan komponennya secara lebih mendalam, silakan baca dulu artikel lengkap tentang apa itu RPP tersebut.
Proses penyusunan RPP pada dasarnya bersifat berulang dan terstruktur: identitas mata pelajaran, kompetensi dasar atau tujuan pembelajaran, langkah kegiatan, lalu penilaian. Pola yang berulang seperti inilah yang membuat AI sangat cocok membantu โ AI unggul dalam menyusun draf terstruktur berdasarkan pola dan instruksi yang jelas, sehingga Anda tidak perlu menulis dari nol setiap kali berganti kelas atau topik.
RPP atau Modul Ajar? Kenali Dulu Mana yang Anda Butuhkan
Sebelum masuk ke praktik, ada satu pertanyaan penting yang perlu dijawab dulu: sekolah Anda menggunakan RPP atau Modul Ajar? Dua istilah ini sering tertukar, padahal punya konteks kurikulum yang berbeda.
RPP identik dengan Kurikulum 2013 dan telah disederhanakan melalui Surat Edaran Mendikbud Nomor 14 Tahun 2019. Sesuai edaran tersebut, dari 13 komponen RPP yang sebelumnya diatur dalam Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016, kini cukup tiga komponen inti yang wajib ada: tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan penilaian (asesmen). Komponen lain sifatnya pelengkap dan boleh dipilih sesuai kebutuhan. Semangatnya jelas โ RPP dibuat seefisien mungkin agar guru punya lebih banyak waktu untuk hal yang lebih penting: mempersiapkan dan mengevaluasi pembelajaran itu sendiri, bukan sekadar mengisi dokumen administratif.
Sementara itu, Modul Ajar Kurikulum Merdeka adalah perangkat yang lebih komprehensif. Selain tiga komponen inti seperti RPP, Modul Ajar juga memuat informasi umum, capaian pembelajaran, profil Pelajar Pancasila, materi ajar, hingga lembar kerja siswa. Bisa dibilang, jika RPP adalah kerangka dasar rencana mengajar, Modul Ajar adalah paket yang lebih lengkap dan siap dieksekusi langsung di kelas, sesuai semangat Kurikulum Merdeka.
Jadi mana yang perlu Anda buat? Sederhananya, ikuti kebijakan satuan pendidikan tempat Anda mengajar. Sekolah yang masih menjalankan Kurikulum 2013 umumnya memakai RPP, sementara sekolah yang sudah menerapkan Kurikulum Merdeka memakai Modul Ajar. Ada juga sebagian sekolah yang menyamakan istilah keduanya atau memakai format campuran โ bila ini yang terjadi di sekolah Anda, tanyakan langsung ke koordinator kurikulum atau kepala sekolah agar tidak salah menyusun dokumen.
Jika Anda justru sedang mencari cara menyusun Modul Ajar dengan bantuan AI, panduan lengkapnya sudah kami bahas terpisah di artikel cara membuat Modul Ajar dengan AI, lengkap dengan prompt dan contoh khusus format Modul Ajar. Artikel yang sedang Anda baca ini akan fokus sepenuhnya pada RPP, sehingga prompt, contoh, dan tips yang dibahas berikut memang dirancang khusus mengikuti struktur tiga komponen inti RPP โ bukan struktur Modul Ajar yang lebih panjang.
Prinsip RPP yang Baik di Era Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
Sejak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning mulai diberlakukan secara bertahap di satuan pendidikan mulai tahun ajaran 2025/2026. Kabar baiknya, kebijakan ini bukan kurikulum baru yang menggantikan semua yang sudah ada โ deep learning bisa diterapkan beririsan dengan Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka, termasuk pada RPP yang selama ini Anda susun.
Intinya, pembelajaran mendalam mendorong siswa untuk memahami materi secara utuh dan menghubungkan antar-konsep, bukan sekadar menghafal. Artinya, RPP yang baik di era sekarang idealnya tidak berhenti pada kegiatan administratif belaka, tetapi juga mengarahkan kegiatan pembelajaran yang mengajak siswa berpikir kritis, mengaitkan materi dengan konteks kehidupan nyata, dan โ bila memungkinkan โ dikaitkan dengan tema lintas mata pelajaran.
Kabar baiknya lagi, saat menyusun RPP dengan bantuan AI, Anda bisa dengan mudah menambahkan instruksi agar draf yang dihasilkan mengikuti semangat ini. Jika Anda ingin memahami lebih jauh konsep dan penerapan pendekatan ini, silakan simak pembahasan lengkapnya di RPP Deep Learning dan Deep Learning dalam pendidikan.
Langkah-Langkah Cara Membuat RPP dengan AI
Setelah memahami dasar dan konteksnya, saatnya masuk ke praktik. Berikut lima langkah yang bisa Anda ikuti untuk membuat RPP dengan bantuan AI, mulai dari persiapan sampai RPP siap dipakai mengajar.

Siapkan Komponen Dasar Sebelum Bertanya ke AI
Sebelum membuka aplikasi AI, luangkan lima menit untuk menyiapkan data dasar RPP Anda. Semakin lengkap dan spesifik informasi yang Anda berikan, semakin relevan pula draf yang dihasilkan AI. Setidaknya siapkan: identitas mata pelajaran dan jenjang kelas, kompetensi dasar atau tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, alokasi waktu pertemuan, serta gambaran singkat karakteristik siswa โ misalnya apakah kelas cenderung aktif, butuh banyak visual, atau memiliki keterbatasan fasilitas tertentu.
Bayangkan tahap ini seperti menyiapkan bahan sebelum memasak. AI bisa menyusun “masakan” dengan cepat, tapi hasilnya sangat bergantung pada bahan yang Anda berikan di awal.
Susun Prompt yang Spesifik dan Kontekstual
Prompt adalah instruksi atau permintaan yang Anda ketik ke AI. Semakin spesifik prompt Anda, semakin sedikit revisi yang perlu dilakukan nanti. Hindari prompt singkat dan umum seperti “buatkan RPP matematika”, karena hasilnya cenderung generik dan kurang sesuai kebutuhan kelas Anda.
Sebagai gantinya, sertakan konteks lengkap: mata pelajaran, kelas, materi spesifik, kompetensi dasar, alokasi waktu, model pembelajaran yang biasa Anda pakai (misalnya diskusi kelompok atau problem-based learning), serta gaya bahasa hasil yang Anda inginkan. Contoh prompt lengkap dan siap pakai akan dibahas di bagian berikutnya.
Generate Draf RPP dan Baca dengan Kritis
Setelah prompt dikirim, AI akan menghasilkan draf RPP dalam hitungan detik. Namun, jangan langsung menyalinnya begitu saja. Baca ulang draf tersebut dengan kritis โ periksa apakah tujuan pembelajaran sudah terukur dan sesuai kompetensi dasar, apakah langkah kegiatan realistis dilaksanakan dalam alokasi waktu yang tersedia, dan apakah instrumen penilaian benar-benar mengukur apa yang ingin dicapai.
Ingat, AI menyusun teks berdasarkan pola bahasa, bukan berdasarkan pengalaman mengajar sesungguhnya. Karena itu, tetap posisikan diri Anda sebagai pemeriksa akhir yang paling memahami kondisi kelas. Bila ada bagian yang terasa kurang pas โ misalnya kegiatan yang terlalu rumit atau bahasa yang terlalu kaku โ Anda bisa langsung meminta AI merevisi bagian tersebut tanpa harus mengulang seluruh proses dari awal.
Sesuaikan dengan Karakteristik Kelas dan Sekolah Anda
Draf dari AI biasanya masih bersifat umum. Tugas Anda selanjutnya adalah menyesuaikannya dengan kondisi nyata: apakah kegiatan yang disarankan cocok dengan fasilitas yang tersedia di sekolah, apakah bahasa yang digunakan sesuai usia dan karakter siswa, dan apakah ada muatan lokal atau nilai budaya setempat yang perlu ditambahkan. Tahap ini penting supaya RPP tidak terasa “generik ala internet”, melainkan benar-benar mencerminkan kelas yang Anda ajar.
Finalisasi, Format, dan Simpan Sesuai Standar Sekolah
Langkah terakhir adalah merapikan format RPP sesuai standar yang berlaku di sekolah atau dinas pendidikan setempat โ baik itu format satu lembar sesuai semangat penyederhanaan RPP, maupun template khusus yang sudah ditetapkan sekolah Anda. Setelah itu, simpan dalam format yang mudah diarsipkan dan dibagikan, misalnya dokumen Word atau PDF, agar bisa digunakan kembali sebagai referensi di semester berikutnya.
Contoh Prompt Siap Pakai untuk Membuat RPP dengan AI
Berikut contoh prompt yang bisa langsung Anda salin dan sesuaikan mata pelajaran, kelas, serta materinya. Semakin detail prompt seperti contoh ini, semakin dekat pula hasil AI dengan RPP yang benar-benar siap dipakai.
Susun RPP dengan tiga komponen inti sesuai format RPP satu lembar: (1) Tujuan Pembelajaran yang terukur dan menggunakan kata kerja operasional, (2) Kegiatan Pembelajaran yang dibagi menjadi pendahuluan, inti, dan penutup, dengan metode permainan kelompok dan cerita bergambar, serta (3) Penilaian yang mencakup penilaian sikap, pengetahuan (tanya jawab lisan), dan keterampilan (bermain peran sederhana).
Siswa saya masih kelas 3 SD, jadi gunakan bahasa yang sangat sederhana dan banyak melibatkan permainan atau cerita, bukan ceramah panjang. RPP ini akan langsung saya pakai mengajar minggu depan.
Contoh Hasil: Tabel RPP yang Disusun dengan Bantuan AI
Dari prompt di atas, berikut gambaran ringkas hasil RPP yang bisa disusun AI. Contoh ini sekadar ilustrasi proses, bukan RPP lengkap siap pakai โ setiap komponen tetap perlu Anda kembangkan dan sesuaikan lebih lanjut.
| Komponen RPP | Isi |
|---|---|
| Identitas | Mata Pelajaran: PPKn ยท Kelas/Semester: III/Ganjil ยท Materi: Menghargai Keberagaman Teman di Sekolah ยท Alokasi Waktu: 2 x 35 menit |
| Tujuan Pembelajaran | Melalui permainan kelompok dan cerita bergambar, siswa mampu menyebutkan minimal tiga contoh perbedaan karakteristik teman di sekolah (fisik, hobi, kebiasaan) dan menunjukkan sikap menghargai perbedaan tersebut dalam kegiatan sehari-hari di kelas. |
| Kegiatan Pembelajaran | Pendahuluan (10 menit): guru mengajak siswa bernyanyi lagu tentang persahabatan sambil memperkenalkan tema hari itu. Inti (45 menit): siswa mendengarkan cerita bergambar tentang teman-teman dengan latar belakang berbeda, lalu bermain “kartu keberagaman” secara berkelompok untuk mencocokkan gambar dengan sikap menghargai yang tepat. Penutup (15 menit): siswa bermain peran sederhana menunjukkan sikap menghargai teman, ditutup dengan refleksi bersama. |
| Penilaian | Sikap: observasi keaktifan dan sikap menghargai saat bermain kelompok. Pengetahuan: tanya jawab lisan tentang contoh keberagaman yang ditemukan siswa. Keterampilan: penilaian saat bermain peran sederhana. |
Ingin melihat contoh RPP yang lebih lengkap dan bervariasi untuk mata pelajaran lain? Kami akan mengarahkan Anda ke kumpulan contoh yang lebih komprehensif di bagian selanjutnya.
Tips Agar RPP Hasil AI Tetap Berkualitas dan Sesuai Kaidah Kurikulum
Supaya RPP hasil AI tidak sekadar cepat jadi tapi juga berkualitas, perhatikan beberapa hal berikut:
- Verifikasi kesesuaian dengan kompetensi dasar atau tujuan pembelajaran resmi. Jangan sampai draf AI melenceng dari kompetensi yang seharusnya diajarkan pada kelas dan semester tersebut. Cocokkan selalu dengan silabus atau capaian pembelajaran resmi yang berlaku di sekolah Anda.
- Sesuaikan bahasa dengan karakter dan usia siswa. AI kadang menghasilkan bahasa yang terlalu formal atau justru terlalu umum; sesuaikan agar pas dengan gaya mengajar Anda sehari-hari.
- Jangan copy-paste mentah tanpa dibaca ulang. Selalu posisikan draf AI sebagai bahan mentah, bukan produk jadi. Anda tetap bertanggung jawab penuh atas isi RPP yang digunakan di kelas, termasuk memastikan tidak ada kesalahan konsep atau informasi yang keliru.
- Tambahkan konteks lokal. Contoh, ilustrasi, atau studi kasus yang relevan dengan lingkungan siswa akan membuat pembelajaran terasa lebih dekat dan bermakna dibanding contoh generik dari AI.
- Cek kembali alokasi waktu. AI kadang menyusun kegiatan yang secara teori bagus, tapi tidak realistis dilaksanakan dalam waktu yang tersedia โ sesuaikan dengan ritme kelas Anda yang sebenarnya.
- Perhatikan keragaman kemampuan siswa. Jika di kelas Anda ada siswa dengan kebutuhan belajar berbeda-beda, minta AI menambahkan alternatif kegiatan atau instruksikan secara eksplisit agar draf mempertimbangkan keberagaman tersebut, lalu sesuaikan lagi secara manual sesuai pengamatan Anda di kelas.
- Simpan dan bangun “bank prompt” pribadi. Setelah menemukan format prompt yang cocok untuk gaya mengajar Anda, simpan sebagai template. Semester berikutnya, Anda tinggal mengganti materi dan kompetensi dasarnya saja, sehingga proses penyusunan RPP akan semakin cepat dari waktu ke waktu.
Kesalahan Umum Saat Membuat RPP dengan AI (dan Cara Menghindarinya)
Sama seperti alat bantu lainnya, AI akan sangat berguna jika dipakai dengan cara yang tepat, tapi bisa menjebak jika dipakai secara asal. Meski praktis, ada beberapa kesalahan yang sering terjadi ketika guru mulai menggunakan AI untuk menyusun RPP. Mengenali kesalahan ini sejak awal akan membantu Anda menghindarinya dan langsung mendapatkan hasil yang lebih maksimal sejak percobaan pertama.
1. Prompt terlalu singkat dan generik. Menulis “buatkan RPP Bahasa Inggris kelas 6” tanpa detail lain akan menghasilkan draf yang dangkal dan sulit langsung dipakai. Solusinya, selalu sertakan materi spesifik, kompetensi dasar, alokasi waktu, dan karakter kelas seperti dicontohkan sebelumnya.
2. Langsung menyalin tanpa verifikasi. Ini kesalahan paling berisiko. AI bisa saja menyusun tujuan pembelajaran yang kurang tepat sasaran atau kegiatan yang tidak realistis. Selalu baca ulang dan sesuaikan sebelum digunakan.
3. Mengabaikan konteks sekolah dan siswa. RPP hasil AI cenderung bersifat umum karena disusun tanpa mengenal siswa Anda secara langsung. Jangan lupa menambahkan sentuhan personal โ nama daerah, kebiasaan lokal, atau kondisi fasilitas sekolah.
4. Mencampur format RPP dan Modul Ajar. Karena banyak sumber online yang membahas keduanya secara bergantian, guru kadang tanpa sadar meminta AI menyusun RPP tapi hasilnya justru berformat Modul Ajar lengkap dengan komponen yang tidak diperlukan. Pastikan prompt Anda menyebutkan format yang diinginkan secara eksplisit.
5. Terlalu bergantung pada satu kali percobaan. Jika hasil pertama kurang memuaskan, jangan ragu memberi instruksi tambahan atau meminta AI merevisi bagian tertentu, alih-alih memulai dari awal atau memaksakan hasil yang kurang pas.
6. Tidak menyebutkan alokasi waktu atau jumlah pertemuan. Tanpa informasi ini, AI sering menyusun kegiatan yang terlalu padat atau justru terlalu sedikit untuk durasi yang sebenarnya tersedia. Selalu cantumkan alokasi waktu secara eksplisit di prompt Anda, termasuk apakah materi dibahas dalam satu pertemuan atau beberapa pertemuan sekaligus.
7. Mengabaikan pembaruan regulasi. Kebijakan pendidikan, termasuk soal format RPP dan pendekatan pembelajaran mendalam, terus berkembang. Sebelum menjadikan draf AI sebagai acuan resmi, cek kembali apakah informasi yang digunakan AI masih relevan dengan aturan terbaru yang berlaku di sekolah maupun dinas pendidikan Anda, karena AI tidak selalu mengetahui kebijakan yang baru saja terbit.
Ingin Lihat Contoh RPP Lengkap Lebih Dulu?
Jika Anda lebih nyaman melihat referensi visual sebelum mulai mempraktikkan prompt sendiri, Anda bisa menjelajahi kumpulan contoh RPP Kurikulum Merdeka dan contoh RPP Deep Learning yang sudah kami susun secara lebih lengkap untuk berbagai mata pelajaran dan jenjang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apakah RPP hasil AI bisa langsung dipakai mengajar? Sebaiknya tidak langsung. Draf dari AI adalah titik awal yang bagus, tapi tetap perlu dibaca ulang, disesuaikan dengan karakter siswa, dan diverifikasi kesesuaiannya dengan kompetensi dasar sebelum benar-benar dipakai di kelas.
AI apa yang paling cocok untuk membuat RPP? Beberapa AI populer yang biasa dipakai guru di Indonesia antara lain ChatGPT, Gemini, dan Claude. Ketiganya sama-sama bisa menyusun draf RPP dengan baik selama diberi prompt yang spesifik; pilihan biasanya jatuh pada mana yang paling nyaman digunakan atau paling mudah diakses oleh guru yang bersangkutan.
Apakah RPP dari AI diperbolehkan secara resmi oleh sekolah/dinas? Pada dasarnya, penggunaan AI hanyalah alat bantu dalam proses penyusunan, sama seperti guru dulu menggunakan template atau contoh RPP dari internet. Yang menjadi penilaian resmi tetaplah isi dan kesesuaian RPP dengan kurikulum, bukan alat yang dipakai untuk menyusunnya. Meski begitu, selalu ikuti kebijakan spesifik dari sekolah atau dinas pendidikan setempat mengenai penggunaan AI.
Berapa lama waktu yang bisa dihemat dengan AI? Bergantung pada kompleksitas materi dan seberapa detail prompt yang digunakan, tapi secara umum proses penyusunan draf awal RPP bisa dipangkas dari yang tadinya memakan waktu satu hingga dua jam menjadi hanya belasan menit, karena bagian yang paling menyita waktu โ menulis draf dari nol โ sudah dibantu AI. Waktu yang tersisa itulah yang bisa Anda alihkan untuk hal yang lebih berdampak langsung ke siswa, seperti menyiapkan media pembelajaran atau memberi perhatian lebih pada siswa yang tertinggal.
Apakah AI bisa membuat kesalahan saat menyusun RPP? Bisa. AI kadang keliru saat diminta merujuk regulasi terbaru, angka atau data spesifik, atau istilah kurikulum yang baru saja berubah. Karena itu, jangan menjadikan draf AI sebagai sumber rujukan regulasi โ gunakan AI untuk menyusun struktur dan bahasa RPP, sementara kebenaran isi dan kesesuaian dengan kebijakan tetap perlu Anda periksa dari sumber resmi.
Apa bedanya membuat RPP dengan AI vs Modul Ajar dengan AI? Perbedaan utamanya ada pada kompleksitas dan cakupan komponen. Prompt untuk RPP cukup fokus pada tiga komponen inti (tujuan, kegiatan, penilaian), sementara prompt untuk Modul Ajar perlu mencakup komponen yang lebih lengkap seperti capaian pembelajaran, profil Pelajar Pancasila, materi ajar, dan lembar kerja siswa. Jika sekolah Anda memakai Modul Ajar, panduan lengkapnya bisa Anda baca di artikel cara membuat Modul Ajar dengan AI.
Penutup: AI Sebagai Asisten, Guru Tetap Pengambil Keputusan Akhir
Membuat RPP dengan AI bukan soal mencari jalan pintas, melainkan soal mengalokasikan waktu Anda dengan lebih bijak. Bagian yang berulang dan memakan waktu โ menulis draf awal โ bisa diserahkan ke AI, sementara energi dan perhatian Anda sebagai guru bisa lebih difokuskan pada hal yang benar-benar membutuhkan sentuhan manusia: memahami siswa, menyesuaikan pendekatan mengajar, dan memastikan setiap RPP benar-benar bisa dijalankan di kelas nyata.
Selama Anda tetap menjadi pengambil keputusan akhir โ memeriksa, menyesuaikan, dan memvalidasi setiap draf yang dihasilkan โ AI bisa menjadi rekan kerja yang sangat membantu meringankan beban administratif guru. Mulailah dari hal kecil: coba praktikkan contoh prompt di artikel ini untuk satu materi yang akan Anda ajarkan minggu depan, lalu rasakan sendiri perbedaan waktu dan tenaga yang bisa Anda hemat.
Jika Anda mencari platform pendukung lain untuk melengkapi ekosistem pembelajaran dan asesmen digital di sekolah Anda, e-Ujian hadir sebagai salah satu opsi yang bisa Anda jajaki lebih lanjut.
Referensi
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Surat Edaran Mendikbud Nomor 14 Tahun 2019 tentang Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.
- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI (Kemendikdasmen). Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025 tentang penerapan pembelajaran mendalam (deep learning).
- Siaran pers dan webinar sosialisasi Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, Kemendikdasmen RI, Juli 2025.
- Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa (JPMK), STKIP Persada Khatulistiwa Sintang, Vol. 8 No. 2, November 2025. Rosmiati, I. Putra, N.S. Dwijayanti, N. Sari, & R. Kurniadi, “Pelatihan Generative Artificial Intelligence (Gen-AI) untuk Meningkatkan Inovasi Pembelajaran” โ studi pelatihan Gen-AI bagi guru, mencatat rata-rata peningkatan skor kompetensi guru sebesar 35% setelah pelatihan. Tersedia di: jurnal.stkippersada.ac.id/jurnal/index.php/JPMK
Catatan: sebagian data dan regulasi di atas bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai kebijakan terbaru dari Kemendikdasmen. Selalu periksa kebijakan resmi terkini dan pedoman dari sekolah atau dinas pendidikan setempat sebelum menerapkannya secara administratif.