Contoh Asesmen Diagnostik Kognitif SD per Kelas

Contoh asesmen diagnostik kognitif SD kelas 1-6 sesuai Fase A, B, C Kurikulum Merdeka - e-ujian.id

Di banyak sekolah, asesmen diagnostik kognitif masih diperlakukan sebagai satu template yang dipakai berulang untuk semua kelas — sepuluh soal pilihan ganda yang sedikit diubah angkanya, lalu dibagikan dari kelas 1 sampai kelas 6. Praktik ini lahir dari keterbatasan waktu guru, bukan dari pertimbangan pedagogis. Padahal kebutuhan pemetaan siswa kelas 1 yang baru mengenal huruf dan angka jelas berbeda jauh dari siswa kelas 6 yang bersiap menghadapi jenjang SMP.

Artikel asesmen diagnostik sudah membahas konsep, jenis, dan cara kerjanya secara menyeluruh. Artikel ini melangkah lebih jauh ke ranah praktis: contoh instrumen kognitif untuk keenam kelas SD, lengkap dengan pertimbangan mengapa bentuknya harus berbeda di setiap fase.

Kenapa Instrumen Perlu Berbeda per Kelas?

Kurikulum Merdeka membagi jenjang SD ke dalam tiga fase capaian pembelajaran: Fase A untuk kelas 1–2, Fase B untuk kelas 3–4, dan Fase C untuk kelas 5–6. Pembagian ini bukan sekadar administratif. Kemampuan kognitif, kematangan membaca, dan kesiapan menghadapi instruksi tertulis pada tiap fase sangat berbeda, sehingga instrumen asesmen diagnostik yang disamaratakan justru berisiko menghasilkan data yang bias.

Kasus paling jelas ada di kelas 1. Sejumlah kajian tentang kemampuan membaca permulaan siswa kelas awal — salah satunya menggunakan pendekatan Early Grade Reading Assessment (EGRA) — menemukan variasi kemampuan mengenali huruf dan membaca kata bermakna yang cukup lebar dalam satu rombongan belajar. Jika instrumen diagnostik kelas 1 disusun dalam bentuk soal tertulis panjang, siswa yang belum lancar membaca akan kesulitan bukan karena tidak memahami materi, melainkan karena hambatan teknis membaca soalnya sendiri. Data yang dihasilkan pun jadi tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya.

Fase B (kelas 3–4) sering luput dari perhatian karena dianggap “sekadar jembatan”, padahal justru di fase ini guru harus paling cermat menakar format instrumen: sebagian siswa sudah cukup lancar membaca mandiri, sementara sebagian lain masih bergantung pada bantuan lisan. Instrumen yang salah takaran di fase ini — terlalu dini memaksakan format tertulis penuh, atau sebaliknya masih terlalu banyak dibacakan — bisa membuat guru kehilangan momentum pemetaan yang seharusnya jadi bekal transisi ke Fase C.

Di ujung spektrum yang lain, kelas 5 menjadi target utama pelaksanaan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) tingkat SD/MI karena pada usia ini siswa dianggap sudah memiliki kematangan kognitif dan psikomotorik yang memadai untuk asesmen berbasis literasi-numerasi yang lebih kompleks. Kelas 6 menambah satu dimensi lagi: tekanan psikologis menjelang kelulusan dan transisi ke jenjang berikutnya, yang membuat instrumen diagnostiknya perlu menyentuh kesiapan menghadapi soal bertipe HOTS.

Pertimbangan per fase inilah yang mendasari perbedaan bentuk instrumen di bawah, disusun berurutan dari kelas 1 sampai kelas 6. Sebagai gambaran cepat sebelum masuk ke contoh masing-masing kelas:

KelasFaseFormat UtamaFokus PemetaanSifat Hasil
1ALisan & visual sepenuhnyaKesiapan calistung dasarCatatan kualitatif per anak
2ALisan-visual + sedikit tertulisPenguatan calistung, pola sederhanaCatatan kualitatif per anak
3BKombinasi lisan & tertulisOperasi hitung, literasi awalKualitatif + skor sederhana
4BTertulis mandiri (dengan pemantauan)Pecahan dasar, inferensi ringanSkor kuantitatif sederhana
5CTertulis mandiri, mulai digitalLiterasi-numerasi ala AKMSkor & kategori kemampuan
6CTertulis mandiri, arah HOTSPenalaran, kesiapan transisi SMPSkor & kategori kemampuan

Contoh Asesmen Diagnostik Kognitif Kelas 1 SD

Siswa kelas 1 baru saja bertransisi dari PAUD atau TK, dan sebagian besar belum lancar membaca secara mandiri. Instrumen diagnostik untuk jenjang ini sebaiknya dibacakan guru secara lisan, satu per satu, atau memakai visual sebagai bantuan — bukan dikerjakan mandiri dalam bentuk lembar soal tertulis penuh teks.

Infografis contoh instrumen asesmen diagnostik kognitif per kelas SD: format, fokus pemetaan, dan sifat hasil untuk Fase A (kelas 1-2), Fase B (kelas 3-4), dan Fase C (kelas 5-6) Kurikulum Merdeka

Beberapa contoh yang bisa diadaptasi:

  1. Mengenal huruf. Guru menunjukkan kartu huruf secara acak, siswa diminta menyebutkan namanya. Variasikan antara huruf besar dan kecil untuk melihat konsistensi pengenalan.
  2. Mengenal angka 1–20. Tunjukkan angka secara acak (tidak berurutan), minta siswa menyebutkan nilainya. Pola urut sering membuat siswa “menghafal urutan” tanpa benar-benar mengenali simbol angkanya.
  3. Membedakan bentuk dan warna. Sediakan beberapa bentuk geometris sederhana dengan warna berbeda, minta siswa mengelompokkan berdasarkan instruksi lisan (“tunjuk yang berbentuk segitiga berwarna merah”).
  4. Cerita bergambar sederhana. Tunjukkan satu gambar berseri (3–4 panel), minta siswa menceritakan apa yang terjadi. Ini memetakan kemampuan berpikir sekuensial sekaligus kosakata lisan.
  5. Berhitung sederhana dengan benda konkret. Gunakan benda fisik (kelereng, kancing) untuk soal penjumlahan/pengurangan sampai 10, bukan simbol angka abstrak.

Karena sifatnya lisan dan observasional, hasil asesmen kelas 1 lebih cocok direkap dalam bentuk catatan kualitatif per anak (misalnya kategori “lancar”, “perlu bimbingan”, “belum mampu”) daripada skor numerik yang kaku.

Contoh Asesmen Diagnostik Kognitif Kelas 2 SD

Kelas 2 masih berada di Fase A yang sama dengan kelas 1, tapi bukan berarti instrumennya sekadar diulang dengan angka lebih besar. Di titik ini guru mulai bisa menyisipkan sedikit unsur tertulis sederhana sebagai jembatan, selama tetap didampingi instruksi lisan agar siswa yang belum lancar membaca tidak tertinggal karena hambatan teknis, bukan karena tidak paham materi.

Untuk kelas 2, instrumen berikut bisa jadi acuan:

  1. Membaca kata dan kalimat pendek. Tunjukkan kartu berisi 1–2 kalimat sederhana (“Budi pergi ke sekolah”), minta siswa membacanya lalu menjawab satu pertanyaan lisan tentang isinya.
  2. Penjumlahan dan pengurangan sampai 100. Gunakan soal tertulis sederhana dengan angka dua digit, didampingi opsi menghitung dengan bantuan gambar bagi siswa yang masih membutuhkan.
  3. Mengurutkan benda berdasarkan ukuran. Sediakan gambar beberapa benda dengan ukuran berbeda, minta siswa mengurutkan dari terkecil ke terbesar — memetakan pemahaman konsep perbandingan sebelum masuk materi pengukuran.
  4. Menyalin dan menulis kata sederhana. Dikte satu-dua kata pendek, amati apakah siswa sudah bisa menuliskan bunyi yang didengar menjadi huruf yang tepat.
  5. Mengenal pola sederhana. Tunjukkan rangkaian gambar berpola (merah-biru-merah-biru-…), minta siswa melanjutkan atau menyebutkan pola berikutnya.

Format kombinasi lisan-visual dengan sedikit tertulis ini membantu guru mulai membiasakan siswa pada instruksi tertulis tanpa melompat terlalu jauh dari kesiapan mereka di akhir Fase A.

Contoh Asesmen Diagnostik Kognitif Kelas 3 SD

Kelas 3 adalah gerbang masuk Fase B, dan di sinilah rentang kemampuan antarsiswa biasanya terlihat paling lebar dalam satu rombongan belajar: sebagian sudah cukup nyaman mengerjakan soal tertulis mandiri, sebagian lain masih membutuhkan bantuan lisan seperti di kelas 1–2. Instrumen diagnostik kelas 3 idealnya mengombinasikan kedua format ini, bukan memaksakan salah satunya untuk seluruh kelas.

Beberapa pola soal yang cocok untuk kelas 3:

  1. Operasi hitung dua langkah. Soal seperti “5 x 4, lalu hasilnya dikurangi 8” untuk mengecek apakah siswa sudah mampu mengerjakan operasi berurutan, bukan hanya operasi tunggal.
  2. Membaca paragraf pendek (2–3 kalimat). Berikan teks sederhana tentang kegiatan sehari-hari, ikuti dengan satu pertanyaan pemahaman literal (“Apa yang dilakukan tokoh dalam cerita?”).
  3. Pengukuran panjang dan berat sederhana. Tunjukkan gambar penggaris atau timbangan dengan skala sederhana, minta siswa membaca angka yang ditunjukkan.
  4. Mengenal pecahan sederhana secara konkret. Gunakan gambar (misalnya kue yang dipotong) untuk memperkenalkan konsep “setengah” dan “seperempat” sebelum masuk ke notasi pecahan formal.
  5. Menceritakan kembali secara lisan. Untuk siswa yang masih kesulitan menulis, minta menceritakan kembali isi teks pendek secara lisan sebagai alternatif mengukur pemahaman tanpa terhambat kemampuan menulis.

Karena kelas 3 adalah masa transisi, hasil asesmen sebaiknya dicatat dengan menandai format mana yang dipakai tiap siswa (lisan/tertulis) — informasi ini penting sebagai pembanding saat asesmen kelas 4 dilakukan.

Contoh Asesmen Diagnostik Kognitif Kelas 4 SD

Kelas 4 menutup Fase B, dan pada titik ini mayoritas siswa idealnya sudah cukup siap mengerjakan instrumen tertulis secara mandiri, meski guru tetap perlu memantau siswa yang masih tertinggal secara individual. Materi mulai bercabang lebih jelas per mata pelajaran sebagai persiapan menuju kompleksitas Fase C di kelas 5.

Kelas 4 bisa memakai pola instrumen berikut:

  1. Operasi hitung campuran sederhana. Soal yang menggabungkan penjumlahan dan perkalian dalam satu kalimat matematika, mengecek pemahaman urutan operasi dasar sebelum masuk ke operasi campuran yang lebih kompleks di kelas 5–6.
  2. Pecahan senilai. Soal seperti “1/2 senilai dengan berapa per empat?” untuk memetakan kesiapan siswa sebelum masuk materi pecahan lanjutan.
  3. Membaca teks naratif pendek. Berikan cerita satu paragraf penuh, ikuti dengan pertanyaan yang mulai menuntut sedikit inferensi (“Menurutmu, apa yang dirasakan tokoh saat itu?”), bukan sekadar jawaban tersurat.
  4. Interpretasi tabel sederhana. Tunjukkan tabel kecil berisi data harian (misalnya jumlah hujan dalam seminggu), minta siswa membaca satu informasi spesifik darinya.
  5. Sains dasar berbasis pengamatan. Pertanyaan sederhana tentang perubahan wujud benda atau bagian tumbuhan yang menuntut siswa menghubungkan pengamatan sehari-hari dengan konsep yang dipelajari.

Instrumen kelas 4 sudah bisa mulai diberi skor kuantitatif sederhana, meski kategorisasi kemampuannya tetap perlu dibaca berdampingan dengan catatan kualitatif dari kelas 3 — terutama untuk siswa yang di kelas 3 masih banyak dibantu secara lisan.

Contoh Asesmen Diagnostik Kognitif Kelas 5 SD

Memasuki Fase C, materi mulai bercabang jelas per mata pelajaran dan siswa sudah mampu mengerjakan instrumen tertulis secara mandiri. Ini juga fase di mana pendekatan berbasis literasi-numerasi ala AKM mulai relevan untuk diterapkan dalam skala kelas, bukan hanya di ajang asesmen nasional.

Contoh instrumen untuk kelas 5:

  1. Pembulatan dan estimasi bilangan. Soal seperti “Bulatkan 4.678 ke ratusan terdekat, lalu perkirakan hasil penjumlahannya dengan 2.150” untuk memetakan pemahaman konsep sebelum masuk ke materi operasi bilangan besar atau desimal.
  2. Literasi membaca kontekstual. Berikan teks pendek (4–5 kalimat) tentang topik sehari-hari, ikuti dengan 2–3 pertanyaan pemahaman — bukan sekadar mengulang kalimat, tapi menyimpulkan maksud teks.
  3. Soal cerita matematika. “Ibu membeli 3 kg apel dengan harga Rp15.000 per kg dan membayar dengan uang Rp100.000. Berapa kembaliannya?” — memetakan kemampuan menerjemahkan konteks ke operasi matematis, ciri khas soal numerasi.
  4. Sains dasar kontekstual. Pertanyaan sederhana tentang siklus air atau rantai makanan yang menuntut penalaran sebab-akibat, bukan hanya hafalan istilah.
  5. Interpretasi data sederhana. Tunjukkan diagram batang atau tabel kecil, minta siswa membaca dan menyimpulkan satu informasi darinya.

Berbeda dari kelas 1–2, instrumen kelas 5 sudah bisa diberi skor kuantitatif dan dikelompokkan menjadi kategori kemampuan (mahir, cukup, perlu bimbingan) sebagaimana lazim dalam praktik asesmen diagnostik kognitif.

Contoh Asesmen Diagnostik Kognitif Kelas 6 SD

Kelas 6 punya konteks tambahan yang tidak dimiliki kelas lain: siswa sedang bersiap menghadapi evaluasi akhir jenjang sekaligus transisi ke SMP. Asesmen diagnostik di titik ini idealnya tidak hanya memetakan kemampuan dasar, tapi juga mengecek kesiapan menghadapi bentuk soal yang lebih menantang, termasuk soal berbasis penalaran (HOTS).

Contoh instrumen untuk kelas 6:

  1. Operasi hitung campuran. Soal yang menggabungkan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian dalam satu rangkaian — mengecek pemahaman urutan operasi, bukan sekadar kemampuan berhitung terpisah.
  2. Pemahaman bacaan tingkat lanjut. Teks yang lebih panjang (satu paragraf penuh) dengan pertanyaan yang menuntut inferensi, bukan jawaban yang tertulis eksplisit di teks.
  3. Soal logika sederhana. Misalnya pola bilangan atau silogisme dasar (“Semua burung bisa terbang. Ayam adalah burung. Apakah ayam bisa terbang? Jelaskan.”) untuk memetakan kemampuan bernalar kritis.
  4. Satu soal bertipe HOTS ringan. Soal terbuka yang meminta siswa menjelaskan alasan di balik jawabannya, bukan hanya memilih opsi — bentuk yang akan semakin sering mereka temui di jenjang SMP maupun dalam simulasi TKA SD kelas 6.
  5. Kesiapan psikologis menghadapi ujian. Selain aspek kognitif murni, sisipkan 1–2 pertanyaan reflektif ringan tentang tingkat percaya diri siswa menghadapi materi tertentu — bukan untuk dinilai, tapi sebagai sinyal tambahan bagi guru.

Pemetaan di kelas 6 punya nilai tambah karena hasilnya bisa langsung dipakai untuk merancang program penguatan sebelum siswa dihadapkan pada evaluasi yang sesungguhnya.

Menyesuaikan Instrumen dengan Kemampuan Baca Siswa

Satu benang merah dari enam contoh di atas: format instrumen harus mengikuti kematangan literasi siswa per fase, bukan sebaliknya.

  • Kelas 1–2 (Fase A): lisan dan visual, dengan sedikit unsur tertulis sederhana mulai disisipkan di kelas 2. Guru membacakan soal, siswa merespons secara verbal atau menunjuk.
  • Kelas 3–4 (Fase B): masa transisi paling menuntut kejelian guru. Kombinasikan instruksi lisan dengan sebagian soal tertulis sederhana di kelas 3, lalu geser bertahap ke tertulis mandiri di kelas 4, sambil terus memantau kelancaran membaca individual.
  • Kelas 5–6 (Fase C): tertulis mandiri sepenuhnya, dan pada titik ini instrumen sudah bisa mulai dipindahkan ke format digital tanpa kehilangan validitasnya.

Kesalahan yang paling sering terjadi adalah menyamaratakan format ini — memberi soal tertulis panjang ke kelas 1, atau sebaliknya, terlalu banyak bergantung pada instruksi lisan di kelas 6 sehingga kehilangan kesempatan mengukur kemampuan membaca mandiri yang justru krusial di jenjang tersebut.

Digitalisasi Asesmen per Kelas

Mengelola instrumen berbeda untuk enam jenjang kelas, di banyak rombongan belajar sekaligus, jelas bukan pekerjaan ringan jika masih mengandalkan kertas dan koreksi manual — apalagi di titik paling krusial seperti awal semester atau awal bab baru. Manfaat digitalisasi asesmen secara umum, mulai dari kecepatan analisis sampai konsistensi instrumen antarkelas, sudah dibahas lebih rinci pada artikel asesmen diagnostik.

Yang membedakan konteks “per kelas” di sini: dengan bank soal digital lewat sistem computer based test (CBT), instrumen untuk keenam kelas bisa disusun sekali sesuai karakteristik fasenya masing-masing, disimpan terpisah per jenjang, lalu dipakai ulang di semester atau tahun ajaran berikutnya dengan penyesuaian minimal — tanpa guru harus menyusun ulang enam set instrumen dari nol setiap kali.

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menyusun Instrumen per Kelas

Selain kesalahan umum dalam pelaksanaan asesmen diagnostik secara luas, ada beberapa kekeliruan yang spesifik muncul ketika guru mulai membedakan instrumen per jenjang kelas:

Mendaur ulang instrumen kelas atasnya secara mentah. Guru kelas 3 kadang meminjam soal kelas 5 lalu “menurunkan” tingkat kesulitannya sekadarnya. Hasilnya format soal tetap terasa berat untuk siswa kelas 3, karena yang berubah hanya angka, bukan struktur kalimat dan panjang instruksinya.

Memaksakan skor kuantitatif terlalu dini. Memberi angka baku (misalnya skor 0–100) untuk hasil asesmen kelas 1–2 justru menyesatkan, karena pada fase ini yang lebih penting adalah kategori kualitatif seperti “lancar” atau “perlu bimbingan”, bukan angka yang seolah presisi padahal diukur dari observasi lisan.

Menyamaratakan kecepatan transisi di Fase B. Tidak semua siswa kelas 3 siap dengan porsi tertulis yang sama, dan tidak semua siswa kelas 4 sudah sepenuhnya lepas dari kebutuhan bantuan lisan. Menetapkan satu titik potong kaku (“mulai kelas 4 semua harus tertulis”) mengabaikan variasi individual yang justru menjadi inti dari pemetaan diagnostik.

Menunda pengenalan HOTS sampai kelas 6. Beberapa sekolah baru memperkenalkan soal bernalar terbuka persis di kelas 6, sehingga siswa kaget dengan format yang jauh berbeda dari kebiasaan mereka. Menyisipkan porsi kecil soal bernalar sejak kelas 4–5 membuat transisi ke kelas 6 lebih mulus.

Menghindari keempat pola ini tidak memerlukan instrumen yang rumit — cukup kesadaran bahwa “berbeda per kelas” berarti benar-benar disesuaikan strukturnya, bukan sekadar mengganti angka pada template yang sama.

Penutup

Instrumen asesmen diagnostik yang generik memang lebih cepat dibuat, tapi risikonya besar: data yang dihasilkan tidak benar-benar mencerminkan kondisi siswa di jenjang tersebut, dan ujungnya sulit ditindaklanjuti menjadi strategi pembelajaran yang tepat. Menyesuaikan instrumen dengan karakteristik tiap kelas — dari segi materi, format, maupun tingkat kesulitan — adalah langkah kecil yang berdampak besar pada kualitas pemetaan awal semester.

Langkah berikutnya setelah data terkumpul tentu saja bagaimana menindaklanjuti hasilnya secara konsisten — tantangan tersendiri yang akan dibahas lebih dalam pada artikel selanjutnya. Namun agar instrumen di atas tidak berhenti sebagai lembar kertas yang tersimpan di lemari arsip guru, menyusunnya langsung sebagai bank soal di layanan Ujian Online & CBT e-ujian.id bisa jadi titik awal yang praktis: soal per kelas tersimpan rapi, bisa dipakai ulang tiap semester tanpa menyusun ulang dari nol, dan hasil pemetaan siswa langsung terekap begitu mereka selesai mengerjakan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Apa bedanya asesmen diagnostik kelas 1 dengan kelas 6? Perbedaan utamanya ada di format dan tingkat kompleksitas materi. Kelas 1 memakai instrumen lisan/visual yang fokus pada kesiapan calistung dasar, sedangkan kelas 6 memakai instrumen tertulis mandiri yang sudah menyentuh penalaran tingkat lanjut (HOTS) sebagai persiapan menghadapi jenjang SMP.

2. Apakah asesmen diagnostik SD harus tertulis? Tidak. Untuk kelas rendah (1–2), instrumen lisan atau berbasis observasi justru lebih valid karena sebagian siswa belum lancar membaca mandiri. Format tertulis baru ideal diterapkan penuh mulai kelas 5–6, dengan kelas 3–4 sebagai masa transisi kombinasi keduanya.

3. Berapa jumlah soal ideal untuk asesmen diagnostik SD? Tidak ada angka baku, tapi prinsip umumnya adalah secukupnya untuk memetakan, bukan untuk menguji secara menyeluruh — biasanya 5–10 soal atau pertanyaan per sesi sudah cukup memberi gambaran awal tanpa membuat siswa lelah, apalagi untuk siswa kelas rendah yang rentang konsentrasinya masih pendek.

4. Apakah instrumen ini bisa langsung dipakai tanpa modifikasi? Sebaiknya disesuaikan dulu dengan capaian pembelajaran dan konteks lokal masing-masing sekolah. Contoh di atas adalah kerangka dan pola soal, bukan instrumen final yang siap cetak begitu saja.

5. Apakah instrumen kelas 3 dan kelas 4 harus sama karena sama-sama Fase B? Tidak. Meski satu fase, kelas 3 dan kelas 4 tetap perlu instrumen berbeda porsi lisan-tertulisnya. Kelas 3 idealnya masih banyak dibantu lisan, sedangkan kelas 4 sudah diarahkan ke tertulis mandiri sebagai persiapan masuk Fase C.

6. Apakah asesmen diagnostik kognitif kelas 6 wajib memuat soal HOTS? Tidak wajib dalam arti formal, tapi sangat dianjurkan menyisipkan minimal satu soal bernalar terbuka, karena siswa kelas 6 akan lebih sering menemui format ini di jenjang SMP maupun dalam simulasi TKA.

7. Bagaimana cara merekap hasil asesmen diagnostik dari enam kelas sekaligus tanpa kewalahan? Cara paling praktis adalah memisahkan bank soal per kelas dalam satu sistem, misalnya lewat platform CBT, sehingga hasil tiap jenjang terekap otomatis dan guru tidak perlu menggabungkan rekap manual dari kertas yang terpisah-pisah.

Referensi

  1. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Nomor 033/H/KR/2022 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah pada Kurikulum Merdeka.
  2. Ulya, M., Hakim, A. R., Soleha, R. N., & Minallah, N. P. (2025). Profil Kemampuan Decoding Membaca Permulaan Berdasarkan Tes Early Grade Reading Assessment (EGRA) Peserta Didik Kelas I SDN 6 Selong. Jurnal Pendas, Universitas Pasundan.
  3. Muflikhah, I. K., Rahmawati, A. D., & Wahyuningsih, S. (2021). Analisis Karakteristik Siswa MI/SD dalam Menghadapi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Prosiding SEMAI, IAIN Pekalongan.
  4. Rohim, D. C. (2021). Konsep Asesmen Kompetensi Minimum untuk Meningkatkan Kemampuan Literasi Numerasi Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Varidika, 33(1), 54–62.