Asesmen dalam Kurikulum Merdeka: Pengertian, Jenis, Prinsip, dan Cara Penerapannya

Dalam proses pembelajaran, guru sering menghadapi satu pertanyaan penting: apakah siswa benar-benar memahami materi yang diajarkan, atau hanya sekadar mengingat untuk sementara waktu?
Selama bertahun-tahun, keberhasilan belajar sering dilihat semata dari nilai ujian akhir. Namun, Kurikulum Merdeka membawa cara pandang baru: pembelajaran tidak hanya soal hasil akhir, tetapi juga bagaimana siswa berkembang selama proses belajar berlangsung. Perubahan cara pandang inilah yang melahirkan pendekatan baru dalam asesmen.
Dalam Kurikulum Merdeka, asesmen tidak lagi sekadar alat untuk memberi angka pada rapor. Asesmen menjadi cara bagi guru untuk memahami kebutuhan siswa, memantau perkembangan mereka, dan memperbaiki proses pembelajaran secara berkelanjutan.
Setelah memahami konsep Kurikulum Merdeka, menyusun Capaian Pembelajaran (CP), dan merancang Modul Ajar, tahap berikutnya yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa tujuan pembelajaran benar-benar tercapai. Di sinilah peran asesmen menjadi krusial โ ia adalah penutup sekaligus penyeimbang dari seluruh siklus belajar-mengajar.
Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu asesmen dalam Kurikulum Merdeka, mengapa konsepnya berubah, apa saja jenisnya, hingga bagaimana cara menerapkannya di kelas.
- Mengapa Asesmen Mengalami Perubahan dalam Kurikulum Merdeka?
- Apa Itu Asesmen dalam Kurikulum Merdeka?
- Prinsip Asesmen dalam Kurikulum Merdeka
- Jenis Asesmen dalam Kurikulum Merdeka
- Perbedaan Asesmen K13 dan Kurikulum Merdeka
- Hubungan Modul Ajar dan Asesmen
- Contoh Penerapan Asesmen Kurikulum Merdeka
- Tantangan Guru dalam Menerapkan Asesmen
- Peran Teknologi dalam Asesmen Kurikulum Merdeka
- Infografis: Siklus Asesmen Kurikulum Merdeka โ Dari Mengenal Siswa hingga Memperbaiki Pembelajaran
- Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Apa itu asesmen dalam Kurikulum Merdeka?
- Apa saja jenis asesmen Kurikulum Merdeka?
- Apa perbedaan asesmen formatif dan sumatif?
- Apakah asesmen Kurikulum Merdeka menggantikan ujian?
- Apakah guru wajib menggunakan asesmen diagnostik?
- Bagaimana contoh asesmen Kurikulum Merdeka?
- Apa tujuan utama asesmen dalam Kurikulum Merdeka?
- Apakah asesmen formatif masuk ke nilai rapor?
- Kesimpulan
- Referensi
Mengapa Asesmen Mengalami Perubahan dalam Kurikulum Merdeka?
Pada masa Kurikulum 2013 (K13), pola penilaian umumnya masih bersifat linear dan berorientasi pada hasil akhir:
Pembelajaran
โ
Tes
โ
Nilai
Siswa belajar, kemudian diuji, lalu diberi nilai. Proses ini cenderung menempatkan ujian sebagai titik akhir, bukan bagian dari proses belajar itu sendiri.
Kurikulum Merdeka mengubah alur tersebut menjadi lebih siklikal dan berkelanjutan:
Asesmen Diagnostik
โ
Pembelajaran
โ
Asesmen Formatif
โ
Perbaikan Proses Belajar
โ
Asesmen Sumatif
Pesan utamanya sederhana: asesmen tidak lagi hanya menjadi alat untuk mengukur hasil belajar, tetapi menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri.
Apa yang Mendorong Perubahan Ini? Melihat Data Pendidikan Indonesia
Perubahan pendekatan asesmen ini tidak muncul tanpa alasan. Ada sejumlah data yang mendasari mengapa cara mengukur keberhasilan belajar di Indonesia perlu diperbarui.
1. Hasil PISA 2022
Programme for International Student Assessment (PISA) adalah studi internasional yang mengukur kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains siswa usia 15 tahun di puluhan negara. Pada hasil PISA yang dirilis akhir 2023, skor Indonesia untuk literasi matematika berada di angka 366, literasi membaca 359, dan literasi sains 383. Ketiga skor ini menurun dibandingkan capaian pada PISA 2018, dengan penurunan berkisar 12โ13 poin per bidang. Penurunan tersebut banyak dikaitkan dengan dampak pandemi COVID-19 yang menyebabkan berkurangnya kesempatan belajar (learning loss), meskipun faktor penyebabnya sendiri bersifat kompleks dan tidak bisa disederhanakan pada satu sebab tunggal.
Yang menarik, meski skor menurun, peringkat Indonesia justru naik 5โ6 posisi dibanding 2018. Hal ini terjadi karena secara umum skor rata-rata banyak negara peserta PISA juga mengalami penurunan pasca pandemi, sehingga posisi relatif Indonesia membaik meski capaian absolutnya belum meningkat.
Data ini menunjukkan satu hal penting: peningkatan kualitas pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan perubahan kurikulum semata. Guru juga membutuhkan cara yang lebih cepat dan akurat untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa sejak dini โ dan di sinilah asesmen diagnostik berperan.
2. Pergeseran Menuju Asesmen Nasional
Sejak 2021, Ujian Nasional (UN) yang selama ini identik dengan tes hafalan di akhir jenjang digantikan oleh Asesmen Nasional. Berbeda dengan UN, Asesmen Nasional tidak menguji penguasaan materi mata pelajaran tertentu, melainkan memetakan kualitas pendidikan melalui tiga instrumen: Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang mengukur literasi membaca dan numerasi, Survei Karakter yang mengukur sikap dan nilai yang mencerminkan Profil Pelajar Pancasila, serta Survei Lingkungan Belajar yang menilai kualitas proses belajar-mengajar di satuan pendidikan.
Pergeseran ini menegaskan arah kebijakan yang sama dengan semangat Kurikulum Merdeka: penilaian bukan lagi soal mengejar angka ujian akhir, melainkan soal memahami kondisi belajar secara menyeluruh โ literasi, numerasi, karakter, hingga lingkungan belajar โ agar mutu pendidikan bisa diperbaiki secara tepat sasaran.
Bahkan, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menetapkan target peningkatan skor numerasi nasional melalui Gerakan Numerasi Nasional sebagai bagian dari agenda pembangunan pendidikan jangka menengah โ bukti bahwa perbaikan cara mengukur hasil belajar kini menjadi prioritas kebijakan, bukan sekadar wacana kurikulum.
Apa Itu Asesmen dalam Kurikulum Merdeka?
Merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan, asesmen atau penilaian didefinisikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengetahui kebutuhan belajar, capaian perkembangan, dan hasil belajar peserta didik.
Secara sederhana, bisa dikatakan:
Asesmen dalam Kurikulum Merdeka adalah proses mengumpulkan dan mengolah informasi tentang siswa, untuk mengetahui kebutuhan, perkembangan, dan pencapaian belajar mereka โ bukan sekadar memberi nilai di akhir pembelajaran.
Dengan definisi ini, asesmen sebenarnya menjawab tiga pertanyaan besar yang selalu relevan bagi guru:
1. Di mana posisi siswa saat ini?
โ
2. Apa yang perlu diperbaiki dari proses belajarnya?
โ
3. Apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai?
Ketiga pertanyaan ini pula yang menjadi dasar munculnya tiga jenis asesmen utama dalam Kurikulum Merdeka, yang akan dibahas lebih lanjut di bagian berikutnya.
Namun perlu digarisbawahi, inti dari asesmen dalam Kurikulum Merdeka sebenarnya bukan pada tesnya, melainkan pada apa yang terjadi setelahnya. Dalam paradigma baru asesmen, informasi yang diperoleh dari penilaian menjadi bermakna ketika menghasilkan umpan balik (feedback) โ baik bagi siswa untuk memahami perkembangan dirinya, maupun bagi guru untuk menyesuaikan strategi mengajar. Tanpa feedback, asesmen hanya berhenti sebagai pengukuran, bukan alat perbaikan pembelajaran.
Prinsip Asesmen dalam Kurikulum Merdeka
Agar asesmen benar-benar berfungsi sebagai alat bantu belajar dan bukan sekadar formalitas administratif, Permendikbudristek Nomor 21 Tahun 2022 menetapkan sejumlah prinsip yang harus dipegang guru saat merancang dan melaksanakan penilaian.
| Prinsip | Penjelasan |
|---|---|
| Berkeadilan | Tidak membandingkan siswa secara tidak tepat; instrumen penilaian tidak boleh merugikan kelompok siswa tertentu karena latar belakang, bahasa, atau kebutuhan khususnya |
| Objektif | Didasarkan pada bukti belajar yang nyata, bukan asumsi atau kesan subjektif guru terhadap siswa |
| Edukatif | Bertujuan membantu proses belajar siswa, bukan sekadar menghakimi atau menghukum kesalahan |
| Berkelanjutan | Dilakukan secara terus-menerus selama proses pembelajaran berlangsung, bukan hanya di titik-titik tertentu |
Satu hal yang perlu dipahami bersama: asesmen bukan hukuman atas kesalahan siswa, melainkan alat untuk membantu mereka berkembang. Ketika seorang siswa mendapat hasil asesmen yang belum optimal, itu bukan akhir dari proses belajarnya, melainkan titik awal untuk mencari pendekatan yang lebih tepat baginya.
Jenis Asesmen dalam Kurikulum Merdeka
Berdasarkan tiga pertanyaan besar yang dijawab asesmen โ posisi siswa, hal yang perlu diperbaiki, dan pencapaian tujuan โ Kurikulum Merdeka membagi asesmen menjadi tiga jenis utama.
1. Asesmen Diagnostik
Pertanyaan yang dijawab: “Sebelum belajar, apakah guru sudah mengetahui kondisi siswa?”
Asesmen diagnostik dilakukan sebelum proses pembelajaran dimulai. Tujuannya adalah mengetahui kemampuan awal siswa, kebutuhan belajar masing-masing, serta kesulitan yang mungkin mereka miliki terkait materi yang akan diajarkan.
Contoh penerapan: sebelum memulai pelajaran tentang pecahan, guru memberikan beberapa soal sederhana untuk mengetahui sejauh mana pemahaman dasar siswa tentang konsep bagian dan keseluruhan. Hasilnya digunakan guru untuk menentukan strategi mengajar yang paling sesuai โ apakah perlu mengulang konsep dasar terlebih dahulu, atau bisa langsung masuk ke materi yang lebih kompleks.
Sebelum pembelajaran dimulai
โ
Guru mengetahui kondisi awal siswa
โ
Guru menentukan strategi belajar yang tepat
Secara lebih rinci, asesmen diagnostik sebenarnya memiliki dua fungsi yang saling melengkapi:
1. Diagnostik kognitif โ mengukur kemampuan akademik awal siswa terkait materi yang akan diajarkan. Contoh pertanyaan: Apakah siswa sudah memahami operasi hitung dasar sebelum masuk ke materi pecahan?
2. Diagnostik non-kognitif โ mengidentifikasi kondisi psikologis, minat, gaya belajar, dan kesiapan siswa untuk belajar. Contoh pertanyaan: Bagaimana motivasi belajar siswa saat ini? Apakah ada hambatan emosional atau situasi tertentu yang memengaruhi kesiapannya belajar?
Kedua fungsi ini penting untuk dijalankan bersamaan. Guru yang hanya mengandalkan diagnostik kognitif berisiko melewatkan faktor non-akademik โ seperti kelelahan, kecemasan, atau kurangnya motivasi โ yang justru sering menjadi akar masalah rendahnya capaian belajar siswa.
2. Asesmen Formatif
Pertanyaan yang dijawab: “Apakah siswa memahami pembelajaran yang sedang berlangsung?”
Berbeda dengan asesmen diagnostik, asesmen formatif dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Bentuknya bisa sangat beragam dan tidak harus formal, misalnya diskusi kelompok, kuis singkat, sesi refleksi, atau sekadar pertanyaan spontan di kelas.
Tujuan utamanya adalah memberikan umpan balik โ baik bagi siswa untuk mengetahui sejauh mana pemahamannya, maupun bagi guru untuk menyesuaikan cara mengajar jika ternyata banyak siswa yang belum memahami materi.
3. Asesmen Sumatif
Pertanyaan yang dijawab: “Apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai?”
Asesmen sumatif dilakukan di akhir suatu periode belajar โ bisa di akhir unit materi, akhir bab, atau akhir semester. Bentuknya bisa berupa ujian tertulis, proyek, maupun presentasi hasil kerja siswa.
Meski dilakukan di akhir, asesmen sumatif dalam Kurikulum Merdeka tetap dimaknai sebagai bagian dari siklus belajar โ hasilnya tidak hanya menjadi angka di rapor, tetapi juga bahan refleksi untuk merancang pembelajaran berikutnya.
Perbedaan Asesmen K13 dan Kurikulum Merdeka
Untuk memahami pergeseran cara pandang ini lebih jelas, berikut perbandingan pendekatan penilaian antara K13 dan Kurikulum Merdeka. Perlu digarisbawahi, perbedaan ini bukan berarti salah satu pendekatan “lebih buruk” โ keduanya lahir dari konteks kebijakan yang berbeda, dan Kurikulum Merdeka pada dasarnya melanjutkan serta menyempurnakan arah yang sudah mulai bergeser sejak Asesmen Nasional diperkenalkan pada 2021.
| K13 | Kurikulum Merdeka |
|---|---|
| Lebih berfokus pada hasil akhir | Berfokus pada proses sekaligus hasil |
| Penilaian dominan berupa angka ujian | Menggunakan berbagai bentuk bukti belajar |
| Evaluasi dilakukan setelah pembelajaran selesai | Asesmen berlangsung sepanjang proses pembelajaran |
| Guru memberi nilai sebagai hasil akhir | Guru menggunakan hasil asesmen untuk memperbaiki pembelajaran |
| Fokus mengetahui hasil belajar | Fokus memperbaiki proses belajar |
| Nilai sebagai hasil akhir | Data asesmen sebagai dasar keputusan guru |
Singkatnya, K13 dan Kurikulum Merdeka memiliki pendekatan yang berbeda dalam memandang fungsi penilaian โ dan Kurikulum Merdeka mencoba menjadikan penilaian sebagai proses yang lebih hidup dan terintegrasi dengan pembelajaran itu sendiri.
Hubungan Modul Ajar dan Asesmen
Asesmen tidak berdiri sendiri. Ia adalah mata rantai terakhir dari sebuah alur perencanaan pembelajaran yang runtut dalam Kurikulum Merdeka:
Capaian Pembelajaran (CP)
โ
Tujuan Pembelajaran (TP)
โ
Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)
โ
Modul Ajar
โ
Aktivitas Belajar di Kelas
โ
Asesmen
โ
Perbaikan Pembelajaran
Jika Modul Ajar menentukan bagaimana siswa akan belajar โ mulai dari aktivitas, metode, hingga media yang digunakan โ maka asesmen berperan menentukan apakah cara belajar tersebut benar-benar berhasil membawa siswa mencapai tujuan pembelajaran yang sudah dirancang.
Dengan kata lain, modul ajar dan asesmen adalah dua sisi mata uang yang sama: satu merancang perjalanan belajar, satu lagi memastikan perjalanan itu sampai ke tujuan.
Contoh Penerapan Asesmen Kurikulum Merdeka
Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh penerapan ketiga jenis asesmen dalam satu topik pembelajaran yang sama.
Mata Pelajaran: Matematika SMP Topik: Pecahan
| Jenis Asesmen | Waktu Pelaksanaan | Contoh Kegiatan |
|---|---|---|
| Diagnostik | Sebelum pembelajaran dimulai | Guru memberikan soal sederhana untuk mengetahui pemahaman awal siswa tentang konsep pecahan |
| Formatif | Selama proses pembelajaran | Siswa berdiskusi kelompok menyelesaikan masalah sehari-hari yang melibatkan pecahan |
| Sumatif | Akhir unit pembelajaran | Siswa membuat proyek menghitung kebutuhan bahan resep masakan menggunakan konsep pecahan |
Contoh ini menunjukkan bagaimana ketiga jenis asesmen saling melengkapi dalam satu rangkaian pembelajaran yang utuh โ bukan tiga kegiatan terpisah, melainkan satu siklus yang berkesinambungan.
Tantangan Guru dalam Menerapkan Asesmen
Sebaik apa pun konsepnya, penerapan asesmen Kurikulum Merdeka di lapangan tetap menghadapi sejumlah tantangan nyata.
1. Mengubah paradigma
Tantangan paling mendasar adalah mengubah cara pandang dari sekadar “memberi nilai” menjadi “memberi umpan balik”. Kebiasaan lama yang sudah tertanam bertahun-tahun tidak bisa berubah dalam semalam.
2. Keterbatasan waktu
Guru membutuhkan strategi yang tepat agar pelaksanaan asesmen โ terutama asesmen formatif yang berlangsung terus-menerus โ tidak berubah menjadi beban administrasi yang justru mengurangi waktu mengajar.
3. Kemampuan menyusun instrumen
Tidak semua guru terbiasa merancang instrumen asesmen yang benar-benar mengukur kompetensi, bukan sekadar hafalan. Ini membutuhkan pelatihan dan pembiasaan yang berkelanjutan.
Peran Teknologi dalam Asesmen Kurikulum Merdeka
Di tengah berbagai tantangan tersebut, teknologi dapat membantu guru mengelola asesmen secara lebih efisien. Beberapa peran teknologi yang relevan antara lain:
- Asesmen digital, yang memungkinkan guru membuat dan mendistribusikan soal diagnostik, formatif, maupun sumatif secara lebih praktis.
- Analisis hasil belajar, yang membantu guru melihat pola kesulitan siswa secara lebih cepat dibandingkan pemeriksaan manual.
- Laporan capaian siswa, yang tersusun otomatis sehingga guru tidak perlu merekap data secara manual.
- Umpan balik yang lebih cepat, karena hasil asesmen bisa langsung diketahui begitu siswa menyelesaikan soal.
Dalam konteks digitalisasi pendidikan, data hasil asesmen sebenarnya bisa dikembangkan lebih jauh menjadi learning analytics, yaitu proses membaca pola belajar siswa dari waktu ke waktu โ bukan hanya dari satu kali tes โ untuk membantu guru mengambil keputusan pembelajaran secara lebih tepat. Dengan learning analytics, guru tidak hanya tahu apa yang belum dikuasai siswa, tetapi juga pola kesulitan yang berulang, sehingga intervensi yang diberikan bisa lebih terarah dan tepat sasaran.
Dengan dukungan teknologi yang tepat, guru bisa lebih fokus pada esensi asesmen itu sendiri โ memahami siswa dan memperbaiki pembelajaran โ alih-alih tenggelam dalam urusan administratif semata.
Infografis: Siklus Asesmen Kurikulum Merdeka โ Dari Mengenal Siswa hingga Memperbaiki Pembelajaran

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa itu asesmen dalam Kurikulum Merdeka?
Asesmen dalam Kurikulum Merdeka adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengetahui kebutuhan, perkembangan, dan pencapaian belajar peserta didik, sesuai dengan Permendikbudristek Nomor 21 Tahun 2022.
Apa saja jenis asesmen Kurikulum Merdeka?
Ada tiga jenis utama: asesmen diagnostik (dilakukan sebelum pembelajaran), asesmen formatif (dilakukan selama pembelajaran berlangsung), dan asesmen sumatif (dilakukan di akhir suatu periode belajar).
Apa perbedaan asesmen formatif dan sumatif?
Asesmen formatif dilakukan selama proses pembelajaran untuk memantau dan memperbaiki cara belajar, sedangkan asesmen sumatif dilakukan di akhir periode belajar untuk mengevaluasi apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai.
Apakah asesmen Kurikulum Merdeka menggantikan ujian?
Tidak sepenuhnya. Ujian tetap ada dalam bentuk asesmen sumatif, tetapi cakupan asesmen kini diperluas mencakup proses belajar secara keseluruhan, bukan hanya hasil akhir semata.
Apakah guru wajib menggunakan asesmen diagnostik?
Asesmen diagnostik sangat dianjurkan karena membantu guru memahami kondisi awal siswa sebelum merancang strategi pembelajaran, meskipun bentuk dan intensitas pelaksanaannya bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.
Bagaimana contoh asesmen Kurikulum Merdeka?
Contohnya pada topik pecahan: guru memberi soal sederhana di awal (diagnostik), siswa berdiskusi menyelesaikan masalah (formatif), lalu membuat proyek menghitung kebutuhan bahan resep (sumatif).
Apa tujuan utama asesmen dalam Kurikulum Merdeka?
Tujuan utama asesmen dalam Kurikulum Merdeka adalah memberikan informasi kepada guru mengenai perkembangan belajar siswa, sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta didik โ bukan sekadar menghasilkan angka di rapor.
Apakah asesmen formatif masuk ke nilai rapor?
Pada dasarnya, asesmen formatif berfungsi sebagai umpan balik untuk memantau dan memperbaiki proses belajar, bukan sebagai komponen utama nilai akhir di rapor. Nilai rapor umumnya lebih banyak bersumber dari asesmen sumatif, sementara hasil asesmen formatif dijadikan guru sebagai bahan pertimbangan kualitatif โ misalnya dalam deskripsi capaian atau catatan perkembangan siswa.
Kesimpulan
Kurikulum yang baik membutuhkan cara mengukur yang tepat. Dalam Kurikulum Merdeka, asesmen tidak lagi hanya menjadi tahap akhir pembelajaran, tetapi menjadi bagian dari perjalanan belajar siswa itu sendiri โ mulai dari mengenali kondisi awal, mendampingi proses belajar, hingga mengukur dan merayakan pencapaian.
Bagi guru, memahami dan menerapkan ketiga jenis asesmen ini bukan sekadar memenuhi tuntutan administratif, melainkan langkah nyata untuk memastikan setiap siswa benar-benar berkembang sesuai kebutuhannya masing-masing.
Referensi
- Kompas.id โ PISA 2022: Literasi Membaca Indonesia Catatkan Skor Terendah Sejak 2000 (2023)
- Kemdikbudristek โ Peringkat Indonesia pada PISA 2022 Naik 5โ6 Posisi Dibanding 2018, Siaran Pers (2023)
- GoodStats โ Mengulik Hasil PISA 2022 Indonesia: Peringkat Naik, tapi Tren Penurunan Skor Berlanjut
- Pusmendik Kemdikbud โ Asesmen Nasional dan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM)
- Rapor Pendidikan Kemdikbudristek โ Tentang Asesmen Nasional
- Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah