Jelajah Mandiri dan Survei Rumah Pendidikan: Panduan Lengkap Tugas Onboarding Guru di Rumah Pendidikan

Jelajah Mandiri dan Survei Rumah Pendidikan: panduan lengkap guru dan tendik 2026 di platform Rumah Pendidikan

Notifikasi “Jelajah Mandiri” tiba-tiba muncul di akun belajar.id, atau operator sekolah tiba-tiba dikejar kepala sekolah untuk memastikan “semua guru sudah menyelesaikan tugas di Rumah Pendidikan” โ€” situasi ini akrab bagi banyak sekolah sejak Rumah Pendidikan menggantikan Platform Merdeka Mengajar (PMM). Masalahnya, tidak semua guru dan operator langsung paham apa yang sebenarnya diminta, apakah ini wajib, dan apakah ini berpengaruh ke kinerja.

Ada dua “tugas administratif” yang paling sering membuat bingung: Jelajah Mandiri dan Survei Rumah Pendidikan. Sebagian guru mengira keduanya adalah hal yang sama. Sebagian lagi, setelah mengisi Sulingjar, merasa tugasnya sudah selesai โ€” padahal Survei Rumah Pendidikan adalah hal yang sama sekali terpisah, dengan pengelola dan tujuan yang berbeda pula.

Artikel ini membahas keduanya secara tuntas dan terpisah: apa itu Jelajah Mandiri, kenapa program ini didorong sebagai bagian dari pengembangan kompetensi, bagaimana langkah menyelesaikannya sampai sertifikat terbit โ€” lalu apa itu Survei Rumah Pendidikan, kenapa survei ini bukan Sulingjar, dan bagaimana cara mengisinya lewat Info GTK.

Apa Itu Jelajah Mandiri Rumah Pendidikan?

Jelajah Mandiri Rumah Pendidikan adalah program pelatihan atau bimbingan teknis (bimtek) berbasis learning management system (LMS) yang dirancang sebagai ruang belajar mandiri untuk mengembangkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan (tendik) dalam memanfaatkan Rumah Pendidikan. Program ini dilaksanakan bertahap dalam beberapa batch atau angkatan sepanjang tahun ajaran, dan setiap batch diakhiri dengan penerbitan sertifikat bagi peserta yang menuntaskan seluruh rangkaian belajarnya.

Sebagai gambaran linimasa, pada tahun 2026 program ini dibuka dalam beberapa angkatan yang berjalan dari pertengahan tahun hingga akhir tahun. Batch 1 tahun 2026, misalnya, membuka pendaftaran pada 1โ€“10 Juli 2026, sementara Batch 2 menyusul dengan pendaftaran pada 1โ€“10 Agustus 2026. Perlu digarisbawahi: jadwal detail per batch bisa berubah setiap tahun atau periode, sehingga langkah paling aman adalah selalu mengecek pengumuman resmi terbaru melalui akun belajar.id, Info GTK, atau kanal resmi Rumah Pendidikan (situs maupun akun Instagram resmi Kemendikdasmen), bukan berpatokan pada tanggal yang tertulis di artikel mana pun โ€” termasuk artikel ini.

Satu hal yang penting dibedakan sejak awal: Jelajah Mandiri bukan “Pelatihan Mandiri” yang dulu dikenal di era PMM. Pelatihan Mandiri lama berisi kumpulan modul kompetensi yang bisa diakses kapan saja tanpa pendaftaran dan tanpa batas waktu, sifatnya benar-benar bebas. Jelajah Mandiri di Rumah Pendidikan lebih spesifik: ada pendaftaran per batch, ada periode belajar yang ditentukan, ada tes awal sebagai baseline, dan diakhiri dengan sertifikat resmi โ€” jadi lebih tepat disebut sebagai program onboarding atau bimtek terjadwal, bukan modul belajar bebas seperti dulu.

Kenapa Jelajah Mandiri Penting untuk Diselesaikan?

Secara formal, tidak ada dasar hukum yang menjadikan Jelajah Mandiri sebagai kewajiban mutlak dengan sanksi administratif bagi yang tidak mengikutinya. Namun di lapangan, program ini banyak dianjurkan atau bahkan diinstruksikan oleh dinas pendidikan maupun kepala sekolah sebagai bagian dari pemenuhan kompetensi digital guru โ€” terutama karena Rumah Pendidikan kini menjadi pintu utama berbagai layanan GTK, termasuk yang berkaitan dengan pengelolaan kinerja guru dan pelaporan RHK. Guru yang belum terbiasa menavigasi Rumah Pendidikan berisiko kesulitan saat harus memanfaatkan fitur-fitur tersebut untuk keperluan administrasi kinerja tahunan.

Skala persoalan yang coba diselesaikan Rumah Pendidikan juga bukan hal kecil. Kepala Pusdatin Kemendikdasmen, Wibowo Mukti, pernah menjelaskan bahwa sebelum ada Rumah Pendidikan, layanan pendidikan digital tersebar di hampir 300 aplikasi berbeda yang dipakai lebih dari 4 juta guru dan 40 juta siswa di lebih dari 17 ribu pulau โ€” kondisi yang membuat proses onboarding seperti Jelajah Mandiri jadi krusial, karena guru perlu satu kali “belajar navigasi” untuk delapan ruang layanan sekaligus, bukan mempelajari puluhan aplikasi terpisah satu per satu.

Manfaat konkret yang bisa didapat peserta:

  • Sertifikat ber-JP (jam pelajaran) yang bisa menjadi bukti pengembangan kompetensi profesional dan mendukung portofolio karier.
  • Pemahaman navigasi Rumah Pendidikan secara menyeluruh โ€” mulai dari Ruang GTK, Ruang Murid, hingga Ruang Sekolah โ€” yang mengurangi risiko “gagap digital” saat harus mengakses layanan lain di platform yang sama.
  • Nilai tambah administratif di tingkat sekolah, karena banyak kepala sekolah menjadikan bukti penyelesaian Jelajah Mandiri sebagai salah satu indikator kesiapan digital tenaga pendidiknya.

Gunakan bahasa yang proporsional saat menyampaikan ini ke rekan guru: program ini “dianjurkan kuat” atau “diinstruksikan oleh dinas/kepala sekolah di banyak daerah”, bukan “wajib secara hukum” โ€” karena memang belum ada regulasi setingkat itu yang mengaturnya.

Syarat Sebelum Mengikuti Jelajah Mandiri

Sebelum mendaftar, pastikan tiga hal berikut sudah terpenuhi:

  1. Memiliki akun belajar.id yang sudah aktivasi. Jika belum pernah login atau lupa cara mengaksesnya, langkah lengkapnya ada di panduan cara login Rumah Pendidikan.
  2. Terdaftar sebagai GTK aktif di Dapodik pada satuan pendidikan tempat bertugas.
  3. Perangkat (laptop, HP, atau tablet) dengan koneksi internet yang stabil, karena seluruh proses โ€” dari tes awal hingga unduh sertifikat โ€” dilakukan daring lewat LMS.

Langkah-Langkah Menyelesaikan Jelajah Mandiri

  1. Cek pengumuman batch aktif. Informasi pendaftaran biasanya disebarkan lewat akun resmi Rumah Pendidikan/Kemendikdasmen, notifikasi di Info GTK, atau surat edaran dinas pendidikan setempat.
    (Placeholder Screenshot 1: contoh notifikasi/pengumuman batch aktif)
  2. Daftar melalui tautan resmi, umumnya berupa formulir pendaftaran (Google Form), menggunakan akun belajar.id yang sudah aktif.
    (Placeholder Screenshot 2: tampilan halaman formulir pendaftaran)
  3. Tunggu konfirmasi akses ke LMS pembelajaran mandiri sesuai jadwal batch yang diikuti โ€” biasanya dikirim melalui email belajar.id atau muncul sebagai notifikasi baru.
  4. Login ke LMS Jelajah Mandiri (diakses melalui portal resmi LMS guru Kemendikdasmen). Proses biasanya diawali dengan tes awal sebagai baseline pemahaman peserta sebelum masuk ke materi.
    (Placeholder Screenshot 3: tampilan LMS dan menu tes awal)
  5. Pelajari materi sesuai urutan modul. Sistemnya fleksibel โ€” bisa dicicil sesuai waktu luang tanpa harus mengganggu jam mengajar di kelas.
  6. Selesaikan seluruh modul dan aktivitas yang disyaratkan hingga status pada dasbor LMS menunjukkan “selesai” atau “tuntas”.
  7. Unduh sertifikat setelah periode pembelajaran batch tersebut resmi ditutup โ€” biasanya tersedia beberapa hari setelah tanggal penutupan batch.
    (Placeholder Screenshot 4: halaman unduh sertifikat Jelajah Mandiri)

Estimasi Waktu Pengerjaan

Total periode belajar untuk satu batch umumnya berkisar 1โ€“2 minggu sejak dibuka hingga ditutup. Namun materi di dalamnya dirancang ringkas dan bisa diakses secara fleksibel, sehingga secara realistis waktu pengerjaan aktif hanya membutuhkan beberapa jam total โ€” bisa dicicil di sela waktu luang, misalnya saat jam istirahat atau malam hari setelah jam mengajar selesai.

Bukti Penyelesaian: Sertifikat Jelajah Mandiri

Sertifikat Jelajah Mandiri diterbitkan dalam bentuk elektronik dan bisa diunduh langsung dari LMS setelah batch ditutup. Fungsinya cukup penting: sebagai bukti administratif pengembangan kompetensi yang bisa dilampirkan dalam portofolio kinerja, bahan pendukung akreditasi sekolah, atau sekadar arsip pribadi untuk keperluan kepangkatan di kemudian hari.

Agar tidak kerepotan saat dibutuhkan mendadak, simpan file sertifikat dengan rapi โ€” buat folder khusus per tahun ajaran, beri nama file yang jelas (misalnya “Sertifikat_JelajahMandiri_Batch1_2026”), dan pertimbangkan menyimpan salinan cadangan di penyimpanan cloud.

Apa Itu Survei Rumah Pendidikan? (dan Kenapa Ini Bukan Sulingjar)

Ini poin paling penting untuk dipahami sejak kalimat pertama: Survei Rumah Pendidikan dan Sulingjar adalah dua instrumen yang sama sekali berbeda โ€” berbeda pengelola, berbeda tujuan, dan berbeda jadwal. Kesamaan kata “survei” di keduanya sering membuat guru dan operator sekolah mengira ini satu hal yang sama, padahal tidak.

Survei Rumah Pendidikan adalah survei kepuasan dan pengalaman pengguna terhadap platform Rumah Pendidikan itu sendiri, dikelola oleh Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikdasmen. Tujuannya mengumpulkan masukan langsung dari pengguna terkait:

  • Tingkat pengenalan pengguna terhadap Rumah Pendidikan dan fitur-fiturnya.
  • Pengalaman nyata selama menggunakan platform, termasuk kemudahan navigasi dan kestabilan akses.
  • Harapan pengguna terhadap pengembangan fitur ke depan.
  • Hambatan yang membuat guru atau tendik belum memanfaatkan layanan tertentu di Rumah Pendidikan secara optimal.

Hasil survei ini dipakai Pusdatin sebagai bahan evaluasi produk โ€” semacam masukan pengguna yang lazim dikumpulkan platform digital mana pun untuk terus menyempurnakan layanannya.

Bandingkan dengan Sulingjar (Survei Lingkungan Belajar): instrumen ini justru merupakan bagian dari Asesmen Nasional yang dikelola oleh Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen โ€” bukan Pusdatin. Tujuannya mengukur kualitas iklim dan lingkungan belajar di satuan pendidikan (praktik pembelajaran, budaya sekolah, kepemimpinan, keamanan, kebhinekaan, dan sejenisnya), dan hasilnya diolah secara agregat sebagai salah satu dasar penyusunan Rapor Pendidikan dan Perencanaan Berbasis Data (PBD) โ€” bukan untuk menilai kepuasan terhadap aplikasi Rumah Pendidikan, dan bukan pula dasar penilaian kinerja individu guru atau kepala sekolah. Jika yang sedang Anda cari justru Sulingjar, pembahasan lengkapnya โ€” mulai dari pengertian umum hingga panduan Sulingjar tahun berjalan โ€” sudah dibahas tuntas di artikel Survei Lingkungan Belajar: Pengertian dan 7 Hal Wajib Diketahui, supaya tidak tertukar dengan pembahasan Survei Rumah Pendidikan di artikel ini.

Sasaran responden Survei Rumah Pendidikan juga cukup luas โ€” tidak terbatas pada guru saja. Kepala sekolah, guru kelas, guru mata pelajaran, tenaga kependidikan, bahkan perwakilan pemerintah daerah, orang tua, dan murid bisa mengisi survei ini sesuai peran masing-masing yang dipilih saat pengisian.

Apakah Survei Rumah Pendidikan Wajib Diisi?

Sama seperti Jelajah Mandiri, Survei Rumah Pendidikan bersifat anjuran, bukan kewajiban formal dengan sanksi administratif. Tidak ada pemotongan tunjangan atau sanksi disiplin langsung bagi guru yang tidak mengisi. Meski begitu, partisipasi tetap dianjurkan karena hasilnya menjadi bahan langsung bagi Pusdatin dalam mengevaluasi dan mengembangkan fitur โ€” sehingga suara guru di lapangan benar-benar berpengaruh pada arah pengembangan platform yang mereka pakai sehari-hari.

Satu hal yang perlu ditegaskan ke rekan-rekan operator sekolah: pengisian survei adalah tanggung jawab individu masing-masing guru atau kepala sekolah, bukan tugas operator sekolah. Peran operator di sini sebatas menyampaikan informasi dan mengingatkan, bukan mengisikan survei atas nama guru lain.

Kapan Survei Rumah Pendidikan Muncul dan Di Mana Mengaksesnya?

Notifikasi atau tautan Survei Rumah Pendidikan biasanya muncul secara berkala pada periode tertentu setiap tahun ajaran โ€” bukan tersedia sepanjang waktu โ€” dan dapat diakses lewat Info GTK (halaman utama setelah login) dalam bentuk notifikasi atau banner yang mengarahkan ke formulir survei. Karena tautan ini tidak selalu tampil permanen, ada baiknya guru dan kepala sekolah membiasakan diri mengecek Info GTK secara berkala, terutama saat mendekati akhir semester atau tahun ajaran โ€” periode yang paling sering dipakai untuk membuka jendela pengisian survei.

Satu hal yang mungkin terasa janggal: Info GTK sebenarnya adalah sistem yang secara struktur terpisah dari Rumah Pendidikan โ€” dikelola Ditjen GTKPG khusus untuk verifikasi data dan status tunjangan profesi (SKTP/TPG), sementara Rumah Pendidikan dan Ruang GTK di bawah koordinasi lain. Kalau Anda belum familiar bedanya secara detail, pengertian lengkap Info GTK dan bedanya dengan Ruang GTK ada di sini. Survei Rumah Pendidikan “menumpang” notifikasi di Info GTK kemungkinan besar karena alasan praktis: basis data Info GTK sama-sama bersumber dari Dapodik dan sudah mencakup hampir seluruh guru serta tendik yang terdaftar secara nasional โ€” jadi kanal ini jadi cara paling efektif menjangkau responden survei tanpa harus membangun sistem notifikasi terpisah.

Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan (Step-by-Step)

  1. Login ke akun Info GTK menggunakan akun PTK/SSO Dapodik โ€” email dan password yang sama persis dengan yang dipakai untuk login di aplikasi Dapodik sekolah โ€” lalu isi kode captcha yang tampil di layar. Panduan detail login dan solusi kalau halaman gagal dibuka ada di cara login dan cek Info GTK terbaru.
    (Placeholder Screenshot 5: halaman login Info GTK)
  2. Cari notifikasi atau banner “Survei Rumah Pendidikan” di halaman utama Info GTK setelah berhasil login.
    (Placeholder Screenshot 6: tampilan notifikasi survei di Info GTK)
  3. Klik tautan yang mengarahkan ke formulir survei โ€” umumnya berupa Google Form eksternal.
  4. Pilih peran sebagai pengisi kuesioner: kepala sekolah, guru kelas, guru mata pelajaran, tenaga kependidikan, perwakilan pemerintah/dinas, orang tua, atau murid.
    (Placeholder Screenshot 7: tampilan pilihan peran pada formulir survei)
  5. Jawab seluruh pertanyaan sesuai pengalaman dan persepsi pribadi. Guru yang belum pernah menggunakan fitur tertentu di Rumah Pendidikan pun tetap bisa mengisi berdasarkan pengetahuan atau pengalaman sebatas yang dimiliki โ€” tidak perlu mengarang jawaban.
  6. Kirim formulir, lalu pastikan muncul notifikasi atau pesan konfirmasi bahwa respons telah diterima sebagai tanda pengisian sudah tuntas.

Catatan keamanan yang wajib diperhatikan: jangan pernah membagikan email dan password akun PTK/Dapodik kepada siapa pun โ€” termasuk kepada rekan sesama guru atau operator sekolah โ€” dengan alasan membantu proses pengisian survei. Info GTK dan Rumah Pendidikan tidak pernah meminta nomor rekening atau kode OTP lewat pesan pribadi; kalau ada tautan yang mengatasnamakan “Survei Rumah Pendidikan” tapi justru meminta data semacam itu, besar kemungkinan itu modus phishing. Jika mengalami kendala teknis saat login atau mengisi formulir, arahkan ke kanal bantuan resmi Kemendikdasmen, bukan meminta orang lain login menggunakan akun pribadi.

Infografis perbedaan Jelajah Mandiri dan Survei Rumah Pendidikan: perbandingan pengelola, sifat, sertifikat, langkah pengerjaan, serta penjelasan bahwa Survei Rumah Pendidikan bukan Sulingjar

FAQ Jelajah Mandiri dan Survei Rumah Pendidikan

Apa beda Jelajah Mandiri dan Survei Rumah Pendidikan?

Jelajah Mandiri adalah program pelatihan atau bimtek berjenjang berbasis LMS dengan pendaftaran per batch dan diakhiri sertifikat ber-JP. Survei Rumah Pendidikan adalah kuesioner kepuasan pengguna terhadap platform Rumah Pendidikan, tanpa sertifikat, dan bisa diisi kapan saja jendela pengisiannya dibuka.

Apakah Survei Rumah Pendidikan sama dengan Sulingjar?

Tidak, dan ini penting ditegaskan ulang. Survei Rumah Pendidikan dikelola Pusdatin untuk mengevaluasi kepuasan terhadap platform Rumah Pendidikan. Sulingjar dikelola BKPDM sebagai bagian dari Asesmen Nasional untuk memotret kualitas lingkungan belajar di satuan pendidikan, dengan hasil yang mengalir ke Rapor Pendidikan. Keduanya punya jadwal, pengelola, dan tujuan yang sepenuhnya berbeda.

Dari mana pertama kali mengetahui Rumah Pendidikan? (contoh pertanyaan dalam survei)

Salah satu jenis pertanyaan yang lazim muncul dalam survei kepuasan pengguna seperti Survei Rumah Pendidikan adalah pertanyaan seputar sumber informasi awal responden mengenal platform ini โ€” misalnya lewat sosialisasi atau bimtek dari dinas pendidikan, rekan sejawat dan komunitas guru, media sosial resmi Kemendikdasmen, atau notifikasi langsung di Info GTK maupun PMM lama. Perlu dicatat, ini adalah gambaran umum jenis pertanyaan yang biasa muncul di survei kepuasan pengguna, bukan klaim redaksi pertanyaan resmi kata-per-kata โ€” karena redaksi pertanyaan bisa berbeda di setiap periode survei.

Apa sanksi jika tidak mengisi Jelajah Mandiri atau Survei Rumah Pendidikan?

Tidak ada sanksi hukum atau pemotongan tunjangan langsung untuk keduanya. Namun ada konsekuensi tidak langsung: guru yang tidak menyelesaikan Jelajah Mandiri kehilangan kesempatan mendapat sertifikat ber-JP untuk portofolio pengembangan kompetensi, sementara guru yang tidak mengisi Survei Rumah Pendidikan kehilangan kesempatan “didengar” dalam proses pengembangan fitur platform ke depannya.

Apakah operator sekolah bisa mengisikan survei atas nama guru?

Tidak. Pengisian Survei Rumah Pendidikan adalah tanggung jawab individu masing-masing guru atau kepala sekolah, bukan tugas operator sekolah. Operator hanya berperan menyampaikan informasi dan mengingatkan rekan-rekan guru.

Bagaimana jika lupa jadwal batch Jelajah Mandiri berikutnya?

Pantau kanal resmi Rumah Pendidikan/Kemendikdasmen (situs resmi dan akun Instagram resminya) serta notifikasi di Info GTK secara berkala. Karena jadwal batch bisa berubah setiap periode, cara paling aman adalah tidak berpatokan pada tanggal dari satu sumber saja, melainkan mengecek langsung pengumuman terbaru menjelang batch baru dibuka.

Penutup

Secara individual, Jelajah Mandiri dan Survei Rumah Pendidikan memang terlihat sebagai dua “tugas kecil”. Tapi kalau dikalikan jumlah guru dan tendik di satu sekolah, dua hal ini bisa cepat menumpuk jadi beban administratif tersendiri โ€” operator harus merekap siapa saja yang sudah menyelesaikan Jelajah Mandiri, siapa yang sudah mengisi survei, dan siapa yang masih tertinggal, sambil tetap mengejar tenggat dari dinas.

Di titik inilah sekolah biasanya baru sadar pentingnya punya sistem pencatatan administrasi digital sendiri yang lebih ringkas di luar platform pemerintah. Rekap kehadiran guru dalam kegiatan pelatihan internal, misalnya, akan jauh lebih rapi kalau dicatat lewat sistem e-Absensi ketimbang mengandalkan spreadsheet manual yang gampang tercecer. Begitu pula dokumentasi sertifikat dan capaian pengembangan kompetensi guru, yang bisa dipublikasikan rapi lewat Web Sekolah sebagai bagian dari transparansi dan portofolio digital sekolah.


Referensi

Catatan: jadwal batch Jelajah Mandiri dan periode pembukaan Survei Rumah Pendidikan bersifat dinamis dan dapat berubah setiap tahun ajaran. Selalu cek pengumuman resmi terbaru di Info GTK atau kanal resmi Rumah Pendidikan sebelum menjadikan tanggal di atas sebagai acuan pasti.