Nilai Akreditasi Sekolah: Komponen Penilaian dan Cara Menghitungnya

Dua sekolah sama-sama mengantongi akreditasi B. Tapi kalau ditelusuri lebih dalam, kekuatan keduanya bisa sangat berbeda โ sekolah pertama unggul dalam kepemimpinan kepala sekolah dan pengelolaan kurikulum, sementara sekolah kedua justru menonjol pada iklim belajar yang inklusif dan hasil belajar murid. Kenapa bisa begitu? Karena nilai akreditasi bukan angka tunggal yang jatuh dari langit, melainkan hasil gabungan dari beberapa komponen kinerja yang dinilai satu per satu oleh asesor Badan Akreditasi Nasional PAUD, Dikdas, dan Dikmen (BAN-PDM).
Singkatnya, nilai akreditasi sekolah adalah hasil agregasi penilaian atas beberapa area kinerja sekolah/madrasah, yang kemudian dikonversi menjadi satu nilai akhir dalam skala 0โ100 dan diterjemahkan menjadi peringkat A, B, C, atau Tidak Terakreditasi (TT). Artikel ini akan membongkar apa saja komponen yang dinilai, dan bagaimana proses di baliknya sampai menghasilkan angka yang tertera di sertifikat akreditasi sekolah.
Apa Saja Komponen Penilaian dalam Akreditasi Sekolah?
Sejak tahun ajaran 2025, BAN-PDM resmi menerapkan Instrumen Akreditasi 2024 (IA2024), yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kepmendikbudristek) Nomor 246/O/2024 tentang Instrumen Akreditasi Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah. Instrumen ini menjadi dasar hukum sekaligus panduan teknis bagi asesor dalam menilai kelayakan sebuah sekolah atau madrasah.
Ada satu hal penting yang perlu diluruskan: IA2024 tidak menilai sekolah lewat sembilan komponen seperti anggapan sebagian orang. Baik instrumen yang berlaku sekarang (IA2024) maupun pendahulunya (IASP2020) sama-sama membagi penilaian ke dalam empat komponen atau area kinerja utama, yaitu:
- Kinerja pendidik dalam mengelola proses pembelajaran โ mengukur bagaimana guru membangun interaksi yang bermakna dengan murid, merancang pembelajaran yang kontekstual, hingga menerapkan asesmen yang otentik. Komponen ini terdiri dari 4 butir penilaian, mulai dari dukungan sosial-emosional bagi murid, pengelolaan kelas yang aman dan nyaman, efektivitas proses pembelajaran, sampai penguatan karakter dan kompetensi murid.
- Kepemimpinan kepala satuan pendidikan dalam pengelolaan sekolah/madrasah โ menilai kapasitas kepala sekolah dalam memimpin perbaikan berkelanjutan, mulai dari budaya refleksi dan evaluasi kinerja guru, pengelolaan anggaran yang transparan, pengelolaan sarana-prasarana, sampai pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Komponen ini mencakup 5 butir penilaian.
- Iklim lingkungan belajar โ melihat sejauh mana sekolah menghadirkan rasa aman secara psikis, sikap inklusif terhadap keberagaman, serta lingkungan yang mendukung partisipasi aktif seluruh warga sekolah, termasuk murid dengan kebutuhan khusus. Komponen ini terdiri dari 5 butir penilaian.
- Hasil belajar murid โ mengukur ketercapaian kompetensi akademik maupun karakter murid, termasuk capaian standar kompetensi lulusan yang menjadi acuan mutu lulusan setiap jenjang. Berbeda dari tiga komponen lainnya, komponen ini tidak dinilai lewat rubrik visitasi asesor, melainkan diambil dari hasil Evaluasi Sistem Pendidikan (ESP) โ yaitu data Asesmen Nasional (Asesmen Kompetensi Minimum, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar) yang tertuang dalam Rapor Pendidikan satuan pendidikan, sesuai Permendikbudristek Nomor 9 Tahun 2022.
Yang membedakan IA2024 dari model akreditasi lama bukan sekadar daftar komponennya, melainkan cara pandangnya. Kalau dulu akreditasi cenderung compliance-based โ asesor mengecek apakah dokumen dan program tertentu ada atau tidak โ IA2024 dirancang performance-based, yaitu menilai apakah kondisi nyata di lapangan benar-benar mencerminkan layanan belajar yang berkualitas. Asesor tidak lagi puas hanya melihat dokumen RPP tersimpan rapi di lemari; mereka akan mengamati langsung suasana kelas, mewawancarai murid dan orang tua, serta menelaah dokumen secara bersamaan โ sebuah pendekatan yang dikenal sebagai triangulasi data โ untuk memastikan bukti yang mereka temukan benar-benar menggambarkan kinerja sekolah, bukan sekadar formalitas administratif belaka.

Bagaimana Cara Menghitung Nilai Akreditasi Sekolah?
Setelah tahu apa saja yang dinilai, pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana penilaian-penilaian itu berubah menjadi satu angka akhir? Berikut alurnya secara konseptual:
Penting untuk dipahami lebih dulu: keempat komponen di atas ternyata tidak semuanya diukur dengan cara yang sama. Ada dua jalur mekanisme yang berjalan paralel, baru digabung di tahap akhir menjadi satu nilai.
Jalur pertama: tiga komponen kinerja dinilai lewat rubrik saat visitasi asesor. Komponen kinerja pendidik (4 butir), kepemimpinan kepala sekolah (5 butir), dan iklim lingkungan belajar (5 butir) โ total 14 butir โ dinilai langsung oleh asesor BAN-PDM yang datang berkunjung ke sekolah, melalui dua langkah berikut:
- Setiap butir dinilai menggunakan rubrik berjenjang. Asesor tidak memberi skor angka secara langsung, melainkan menilai setiap butir indikator dengan rubrik yang terdiri dari empat kategori kinerja: Kurang, Cukup Baik, Baik, dan Sangat Baik. Setiap kategori punya deskripsi perilaku yang sangat spesifik. Misalnya, untuk indikator interaksi guru dan murid, kategori “Kurang” berarti guru mengabaikan atau merendahkan murid saat bertanya, sementara “Sangat Baik” berarti guru mendengarkan dengan saksama, memberi tanggapan yang membangun, dan melibatkan banyak murid dalam diskusi.
- Penilaian didasarkan pada bukti dari lapangan, bukan asumsi. Untuk menentukan kategori mana yang paling sesuai, asesor mengumpulkan bukti lewat observasi langsung proses pembelajaran, wawancara dengan kepala sekolah, guru, murid, hingga orang tua, serta telaah dokumen pendukung. Semakin banyak sudut pandang yang tergali dan semakin konsisten polanya, semakin akurat penilaian yang diberikan.
Jalur kedua: komponen hasil belajar murid dinilai dari data Asesmen Nasional, bukan kunjungan asesor. Berbeda dari tiga komponen di atas, komponen keempat (kompetensi hasil pembelajaran murid) diukur lewat Evaluasi Sistem Pendidikan, yakni hasil Asesmen Nasional yang sudah terekam dalam Rapor Pendidikan sekolah โ mencakup Asesmen Kompetensi Minimum, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. Artinya, asesor tidak “menilai ulang” hasil belajar murid secara manual saat visitasi; mereka memanfaatkan data yang sudah tersedia di sistem sebagai bagian dari nilai komponen ini.
Tahap akhir: skor dari kedua jalur digabung menjadi nilai akhir skala 0โ100. Hasil penilaian rubrik dari 14 butir (tiga komponen kinerja) dan hasil analisis data Asesmen Nasional (komponen hasil belajar) sama-sama direkap ke level komponen masing-masing, dan skor dari keempat komponen itulah yang pada akhirnya digabung membentuk nilai akhir akreditasi sekolah dalam skala 0 sampai 100. Nilai inilah yang lalu diterjemahkan menjadi peringkat A, B, C, atau Tidak Terakreditasi (sudah dibahas rinci di artikel utama kami, Apa Itu Akreditasi Sekolah dan Cara Cek Akreditasi Sekolah Online).
Nah, di sinilah bagian yang perlu disampaikan secara jujur: BAN-PDM tidak mempublikasikan angka persentase bobot yang kaku untuk masing-masing dari empat komponen tersebut. Berbeda dari instrumen akreditasi generasi lama yang cenderung menggunakan pendekatan skoring kuantitatif berbasis persentase, IA2024 secara eksplisit dibangun di atas pendekatan kualitatif dan holistik. Panduan resmi BAN-PDM bahkan menegaskan prinsip “makna lebih penting daripada angka” โ bahwa realitas kualitas layanan sekolah tidak bisa sepenuhnya direduksi menjadi rumus persentase sederhana, dan penilaian antar-komponen dilakukan secara kontekstual dan saling terkait, bukan berdiri sendiri-sendiri dengan bobot tetap.
Jadi, kalau ada sumber lain yang mencantumkan angka bobot per komponen secara pasti (misalnya “kepemimpinan 30%, hasil belajar 25%”, dan seterusnya) untuk IA2024, penting untuk berhati-hati โ sejauh penelusuran ke dokumen resmi, angka semacam itu tidak ditemukan secara eksplisit dipublikasikan. Yang bisa dipastikan adalah mekanismenya: butir dinilai dengan rubrik level โ dikonversi menjadi skor โ diagregasi menjadi nilai komponen โ digabung menjadi nilai akhir skala 100.
Sebagai gambaran, bayangkan sebuah sekolah yang sangat kuat dalam kepemimpinan kepala sekolah dan capaian hasil belajar muridnya, tetapi masih perlu perbaikan di sisi iklim lingkungan belajar โ misalnya belum sepenuhnya inklusif bagi murid berkebutuhan khusus. Nilai akhir sekolah tersebut akan mencerminkan gabungan capaian di keempat area itu, bukan hanya bertumpu pada satu aspek yang menonjol saja. Itulah sebabnya dua sekolah dengan peringkat sama, katakanlah B, bisa punya “rapor” kekuatan yang sangat berbeda satu sama lain.
Akreditasi PKBM: Beda Badan, Skala Peringkat Sama
Bagaimana dengan lembaga pendidikan nonformal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) atau program pendidikan kesetaraan? Sejak peleburan Badan Akreditasi Nasional PAUD dan Pendidikan Nonformal (BAN PAUD-PNF) ke dalam BAN-PDM, penilaian PKBM dan program kesetaraan kini dilakukan oleh badan yang sama dengan sekolah formal โ hanya saja instrumennya disesuaikan dengan konteks pendidikan nonformal. Skala peringkat akhirnya tetap sama: A, B, C, atau Tidak Terakreditasi, seperti pada sekolah formal umumnya. Penjelasan lebih lengkap soal akreditasi sekolah secara umum bisa dibaca di Apa Itu Akreditasi Sekolah dan Cara Cek Akreditasi Sekolah Online.
Kesimpulan
Nilai akreditasi sekolah bukan sekadar satu angka yang bisa ditebak dari luar, melainkan hasil dari penilaian mendalam terhadap empat komponen kinerja: kinerja pendidik dalam pembelajaran, kepemimpinan kepala sekolah, iklim lingkungan belajar, dan hasil belajar murid. Keempatnya saling melengkapi, sehingga dua sekolah dengan peringkat yang sama pun bisa memiliki profil kekuatan dan area perbaikan yang jauh berbeda. Memahami hal ini penting, terutama bagi kepala sekolah dan guru yang ingin tahu di titik mana perbaikan paling berdampak bagi kualitas layanan pendidikan mereka.
Ingin tahu status dan nilai akreditasi sekolah tertentu? Baca cara ceknya di Apa Itu Akreditasi Sekolah dan Cara Cek Akreditasi Sekolah Online, atau ikuti panduan detail di Cara Cek Akreditasi Sekolah Online.
Memantau hasil belajar dan kinerja pembelajaran secara berkelanjutan โ salah satu komponen yang dinilai dalam akreditasi โ bisa dibantu dengan sistem seperti ujian online berbasis CBT untuk evaluasi yang lebih terukur.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
1. Apa saja komponen penilaian akreditasi sekolah? Sejak instrumen IA2024, ada empat komponen: kinerja pendidik dalam pembelajaran, kepemimpinan kepala sekolah dalam pengelolaan, iklim lingkungan belajar, dan hasil belajar murid.
2. Bagaimana cara menghitung nilai akreditasi sekolah? Tiga komponen kinerja (kinerja pendidik, kepemimpinan, iklim lingkungan belajar โ total 14 butir) dinilai asesor dengan rubrik berjenjang (Kurang, Cukup Baik, Baik, Sangat Baik) berdasarkan bukti observasi, wawancara, dan telaah dokumen saat visitasi. Sementara komponen hasil belajar murid diambil dari data Asesmen Nasional/Rapor Pendidikan. Skor dari keempat komponen itu kemudian digabung menjadi nilai akhir dalam skala 0โ100 yang menentukan peringkat A, B, C, atau Tidak Terakreditasi.
3. Apakah semua komponen punya bobot yang sama? BAN-PDM tidak mempublikasikan persentase bobot yang kaku untuk setiap komponen pada IA2024. Penilaian bersifat holistik dan kontekstual berdasarkan rubrik level kinerja, bukan rumus persentase sederhana seperti pada beberapa mekanisme skoring lama.
4. Apa beda instrumen akreditasi sekarang (IA2024) dengan yang lama (IASP2020)? IA2024 melanjutkan konstruk kinerja dari IASP2020 namun memberi ruang lebih besar untuk konteks dan fleksibilitas bukti. Pendekatannya tetap performance-based (menilai kondisi nyata di lapangan), bukan sekadar compliance-based (mengecek kelengkapan dokumen), dengan penekanan lebih kuat pada triangulasi data lewat observasi, wawancara, dan telaah dokumen.
Referensi
- Kepmendikbudristek Nomor 246/O/2024 tentang Instrumen Akreditasi Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah โ JDIH Kemendikbudristek. Diakses 12 Agustus 2026.
- BAN-PDM. Panduan Penjelasan Instrumen Akreditasi 2024 (IA2024) untuk SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA โ Versi 2025. Diakses melalui apps.ban-pdm.id, 12 Agustus 2026.
- BBPMP Provinsi Jawa Tengah. “Pembaruan Instrumen Akreditasi Pendidikan: Kepmendikbudristek No. 246/O/2024.” Diakses 12 Agustus 2026.