Deep Learning dalam Pendidikan: Apa Itu, Prinsip, Contoh Penerapan, dan Perannya dalam Kurikulum Indonesia

Dari Menghafal Menuju Memahami: Mengapa Pendidikan Membutuhkan Deep Learning?
Selama bertahun-tahun, keberhasilan belajar di sekolah sering diukur dari satu hal saja: seberapa banyak siswa mampu mengingat. Nilai ujian menjadi patokan utama, sementara pertanyaan apakah siswa benar-benar memahami apa yang mereka pelajari sering luput dari perhatian. Banyak siswa bisa menjawab soal dengan benar, tetapi kesulitan ketika pengetahuan yang sama harus mereka gunakan untuk menyelesaikan masalah di luar kelas.
Perubahan zaman menuntut lebih dari itu. Dunia kerja dan kehidupan sehari-hari membutuhkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, dan menciptakan solusi atas persoalan nyata—bukan sekadar mengingat fakta. Kesadaran inilah yang mendorong pendidikan Indonesia terus berkembang melalui berbagai pendekatan, mulai dari pembelajaran yang berpusat pada guru, menuju pembelajaran berpusat pada siswa, pembelajaran aktif, hingga penguatan pendekatan pembelajaran mendalam atau yang lebih dikenal dengan .
Secara singkat, dalam konteks pendidikan, deep learning adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman mendalam, kemampuan menghubungkan konsep, berpikir kritis, refleksi, dan penerapan pengetahuan dalam situasi nyata—bukan sekadar mengingat fakta untuk menghadapi ujian. Penjelasan lebih lengkap mengenai konsep ini akan dibahas pada bagian berikutnya.

Perubahan ini bukan sekadar wacana. Sejak tahun ajaran 2025/2026, pemerintah Indonesia mulai mendorong penguatan pembelajaran mendalam sebagai pendekatan pembelajaran dalam satuan pendidikan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 13 Tahun 2025. Aturan ini merupakan penyempurnaan dari Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024, dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pendekatan ini tidak menggantikan Kurikulum Merdeka maupun Kurikulum 2013, melainkan menguatkan orientasi keduanya ke arah pembelajaran yang lebih bermakna.
Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu deep learning dalam pendidikan, bagaimana prinsip dan karakteristiknya, seperti apa penerapannya di kelas, hingga bagaimana kaitannya dengan kebijakan Kurikulum Merdeka dan model pembelajaran seperti Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL). Pembahasan ini melanjutkan perjalanan panjang perjalanan perubahan metode pembelajaran di Indonesia yang telah bergeser dari cara mengajar konvensional menuju pendekatan yang jauh lebih berpusat pada pemahaman siswa.
- Dari Menghafal Menuju Memahami: Mengapa Pendidikan Membutuhkan Deep Learning?
- Mengapa Pendidikan Mulai Bergerak Menuju Deep Learning?
- Apa Itu Deep Learning dalam Pendidikan?
- Hubungan Deep Learning dengan Pembelajaran Modern
- Perbedaan Surface Learning dan Deep Learning
- Prinsip Utama Deep Learning: Mindful, Meaningful, dan Joyful Learning
- Karakteristik Pembelajaran Deep Learning
- Contoh Penerapan Deep Learning di Sekolah
- Deep Learning dan Kurikulum Merdeka di Indonesia
- Hubungan Deep Learning dengan Model Pembelajaran PBL dan PjBL
- Deep Learning dan Assessment Pendidikan
- Apa Kata Penelitian tentang Deep Learning?
- Tantangan Implementasi Deep Learning di Indonesia
- Masa Depan Deep Learning dalam Pendidikan
- Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Apa yang dimaksud dengan deep learning dalam pendidikan?
- Apakah deep learning sama dengan pembelajaran mendalam?
- Apakah deep learning sama dengan kecerdasan buatan (AI)?
- Apakah deep learning merupakan kurikulum baru?
- Apa contoh penerapan deep learning di sekolah?
- Apa hubungan deep learning dengan PBL dan PjBL?
- Apakah deep learning cocok diterapkan di semua jenjang pendidikan?
- Apakah deep learning membutuhkan teknologi digital?
- Apakah deep learning membuat guru kehilangan peran?
- Penutup
- Referensi
Mengapa Pendidikan Mulai Bergerak Menuju Deep Learning?
Pergeseran menuju deep learning tidak muncul secara tiba-tiba. Ia merupakan kelanjutan dari perubahan paradigma pendidikan yang sudah berjalan cukup lama. Perubahan tersebut merupakan bagian dari perkembangan metode pembelajaran, mulai dari pendekatan tradisional hingga berbagai pendekatan modern yang menempatkan siswa sebagai pusat proses belajar.
Dahulu, pola pembelajaran di banyak sekolah Indonesia menempatkan guru sebagai satu-satunya sumber informasi. Siswa berperan sebagai penerima materi, duduk mendengarkan, mencatat, kemudian menghafalkan untuk menghadapi ujian. Keberhasilan diukur dari seberapa persis siswa bisa mengulang apa yang telah disampaikan guru.
Pola ini perlahan bergeser. Siswa mulai didorong untuk membangun pemahamannya sendiri, mengeksplorasi sumber belajar yang beragam, dan menghubungkan satu konsep dengan konsep lain. Perubahan ini sejalan dengan perubahan dari teacher-centered menuju student-centered learning yang menjadi fondasi banyak kebijakan pendidikan modern, termasuk Kurikulum Merdeka yang mulai diperkenalkan sejak 2022 dengan prinsip fleksibilitas dan fokus pada materi esensial.
Namun, pergeseran ke arah siswa yang lebih aktif ternyata belum cukup. Fenomena ini sering disebut sebagai learning crisis, yaitu kondisi ketika akses terhadap pendidikan tidak selalu menghasilkan peningkatan kemampuan belajar yang diharapkan—siswa bersekolah secara rutin, mengikuti proses pembelajaran, tetapi belum tentu memperoleh pemahaman dan kemampuan dasar yang diharapkan. Istilah ini dikaitkan dengan laporan World Development Report 2018: Learning to Realize Education’s Promise yang diterbitkan World Bank, yang menyoroti krisis pembelajaran global di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Keaktifan tanpa kedalaman berpikir pada akhirnya tidak banyak berbeda dengan menghafal. Dari sinilah kebutuhan akan deep learning muncul: bukan sekadar membuat siswa aktif, tetapi memastikan siswa benar-benar memahami, menghubungkan, dan mampu menerapkan pengetahuan yang mereka peroleh.
Apa Itu Deep Learning dalam Pendidikan?
Secara sederhana, deep learning dalam pendidikan adalah pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk memahami konsep secara mendalam, menghubungkan berbagai pengetahuan yang mereka miliki, berpikir kritis, melakukan refleksi atas proses belajarnya, serta menerapkan pengetahuan tersebut dalam konteks kehidupan nyata.
Penting untuk digarisbawahi bahwa deep learning bukan berarti:
- belajar dengan durasi yang lebih lama,
- materi yang harus dipelajari lebih banyak, atau
- kewajiban menghafal lebih banyak informasi.
Sebaliknya, deep learning berarti:
- memahami sesuatu secara lebih dalam dan utuh,
- berpikir dengan cara yang lebih kompleks dan reflektif,
- serta mampu menggunakan pengetahuan itu untuk menyelesaikan persoalan nyata.
Dalam literatur pendidikan, deep learning merujuk pada proses belajar yang membuat seseorang memahami konsep secara utuh, mampu menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman sebelumnya, dan menggunakan pemahamannya dalam situasi baru—berbeda jauh dari belajar sekadar untuk lulus ujian lalu terlupakan begitu saja.
Deep Learning Pendidikan Berbeda dengan Deep Learning Artificial Intelligence
Satu hal yang sering membingungkan banyak orang saat mencari informasi soal istilah ini adalah kerancuan dengan istilah “deep learning” di dunia teknologi, yaitu cabang kecerdasan buatan (AI) yang menggunakan jaringan saraf tiruan berlapis untuk mengenali pola dari data. Keduanya sama sekali berbeda konteks meski memakai nama yang sama.
| Deep Learning Pendidikan | Deep Learning AI |
|---|---|
| Pendekatan pembelajaran | Teknologi komputer |
| Bidang pendidikan | Bidang kecerdasan buatan |
| Fokus pada pemahaman siswa | Fokus pada algoritma dan data |
Hubungan Deep Learning dengan Pembelajaran Modern
Penting dipahami bahwa deep learning bukan satu metode mengajar yang berdiri sendiri. Ia adalah sebuah pendekatan atau filosofi belajar yang dapat diwujudkan melalui berbagai strategi dan model pembelajaran yang sudah lebih dulu berkembang di dunia pendidikan.
Deep learning membutuhkan siswa sebagai pelaku utama dalam proses belajarnya sendiri, sejalan dengan prinsip pembelajaran berpusat pada siswa yang menekankan bahwa siswa bukan lagi objek yang pasif menerima materi, melainkan subjek yang aktif membangun pemahamannya.
Selaras dengan itu, deep learning juga menuntut siswa untuk tidak sekadar menerima informasi, tetapi aktif mencari, berdiskusi, mengeksplorasi, dan membangun pemahaman bersama teman-temannya—prinsip yang sejalan dengan pembelajaran aktif yang selama ini sudah lebih dulu diterapkan di banyak sekolah.
Dengan kata lain, active learning dan student-centered learning adalah fondasi, sementara deep learning adalah kualitas pemahaman yang ingin dicapai melalui fondasi tersebut.
Perbedaan Surface Learning dan Deep Learning
Untuk memahami deep learning secara lebih jelas, akan lebih mudah jika dibandingkan dengan lawannya, yaitu surface learning atau pembelajaran permukaan—pola belajar yang selama ini paling umum ditemukan di ruang kelas konvensional.
| Surface Learning | Deep Learning |
|---|---|
| Menghafal fakta | Memahami konsep |
| Belajar untuk menghadapi ujian | Belajar untuk penerapan nyata |
| Jawaban benar menjadi tujuan akhir | Proses berpikir menjadi tujuan utama |
| Pengetahuan berdiri terpisah-pisah | Pengetahuan saling terhubung |
Perbedaan ini menjelaskan mengapa dua siswa yang sama-sama mendapat nilai bagus di kelas bisa memiliki kemampuan yang sangat berbeda ketika dihadapkan pada masalah baru di luar soal ujian yang biasa mereka temui.
Prinsip Utama Deep Learning: Mindful, Meaningful, dan Joyful Learning
Berbeda dari kerangka umum yang banyak beredar, Kemendikdasmen merumuskan tiga elemen utama yang menjadi fondasi pendekatan deep learning di Indonesia, yaitu meaningful learning, mindful learning, dan joyful learning. Ketiganya kemudian populer disebut sebagai konsep “deep learning ful-ful” dalam berbagai penjelasan terkait kebijakan pembelajaran mendalam.
1. Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna)
Prinsip ini berakar dari teori belajar bermakna yang dikembangkan oleh David Ausubel, yang menjelaskan bagaimana guru membantu siswa mengaitkan konsep baru dengan pengetahuan yang sudah mereka miliki sebelumnya. Tujuannya agar materi tidak berdiri sendiri sebagai informasi asing, melainkan tertanam karena punya keterkaitan dengan pengalaman siswa.
Contoh sederhana: dalam pelajaran matematika, alih-alih hanya mengajarkan rumus menghitung luas bangun datar, guru mengaitkannya dengan kebutuhan nyata, misalnya menghitung kebutuhan material untuk renovasi ruang kelas.
2. Mindful Learning (Pembelajaran Berkesadaran)
Mindful learning menekankan kesadaran penuh siswa dalam proses belajarnya. Siswa didorong menjadi agen aktif yang secara sadar berniat mengembangkan pemahaman dan kompetensinya, bukan sekadar mengikuti instruksi guru tanpa refleksi. Dalam praktiknya, siswa dilatih untuk berpikir reflektif tentang apa yang sedang mereka pelajari dan mengapa hal itu penting.
Kemampuan berpikir reflektif dan analitis semacam ini erat kaitannya dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi melalui HOTS Assessment, yang menuntut siswa tidak hanya mengingat tetapi juga menganalisis, mengevaluasi, dan memberi alasan atas jawabannya.
3. Joyful Learning (Pembelajaran yang Menyenangkan)
Joyful learning menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang positif agar siswa menikmati proses belajarnya, bukan menjalaninya sebagai beban. Pendekatan melalui permainan, aktivitas interaktif, atau eksplorasi kreatif membuat siswa lebih antusias dan pada akhirnya membangun motivasi intrinsik untuk terus belajar sepanjang hayat.
Ketiga elemen ini tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi. Pembelajaran yang bermakna tanpa kesadaran penuh siswa akan sulit tertanam, sementara pembelajaran yang menyenangkan tanpa makna hanya akan menjadi hiburan sesaat tanpa dampak pada pemahaman.
Catatan: penerapan prinsip ini juga sangat relevan dengan model pembelajaran berbasis masalah seperti Problem Based Learning, yang akan dibahas lebih detail begitu artikel terkait tersedia.
Karakteristik Pembelajaran Deep Learning
Dari ketiga prinsip di atas, dapat ditarik sejumlah karakteristik yang membedakan pembelajaran deep learning dari pembelajaran konvensional di kelas:
| Karakteristik | Penjelasan |
|---|---|
| Berpusat pada siswa | Siswa aktif membangun pemahamannya sendiri, bukan sekadar menerima |
| Kontekstual | Materi dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa |
| Kolaboratif | Melibatkan diskusi dan kerja sama antarsiswa |
| Reflektif | Siswa mengevaluasi dan menyadari proses belajarnya sendiri |
| Berpikir tingkat tinggi | Tidak berhenti pada mengingat, tetapi menganalisis dan menciptakan |
Karakteristik ini menunjukkan bahwa deep learning sejatinya adalah kelanjutan alami dari pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, hanya saja dengan penekanan lebih kuat pada kualitas dan kedalaman pemahaman yang dihasilkan, bukan sekadar keterlibatan aktif semata.
Contoh Penerapan Deep Learning di Sekolah
Agar lebih mudah dipahami, berikut beberapa contoh konkret bagaimana pendekatan konvensional dan pendekatan deep learning berbeda dalam praktik sehari-hari di kelas.
Matematika
Pendekatan konvensional biasanya berhenti pada menghafal rumus luas bangun datar. Dalam pendekatan deep learning, siswa diajak menghitung kebutuhan keramik untuk merenovasi lantai kelas mereka sendiri—sebuah persoalan nyata yang memaksa mereka menerapkan rumus, bukan sekadar mengingatnya.
IPA
Alih-alih hanya menghafal teori tentang lingkungan dan ekosistem, siswa diajak menganalisis penyebab sampah yang menumpuk di lingkungan sekolah mereka, lalu merancang solusi yang bisa diterapkan secara nyata.
IPS
Daripada menghafal definisi konsep ekonomi seperti permintaan dan penawaran, siswa diajak menganalisis persoalan ekonomi yang benar-benar terjadi di lingkungan sekitar mereka, misalnya fluktuasi harga bahan pokok di pasar terdekat.
Bahasa Indonesia
Ketimbang sekadar menghafalkan struktur teks argumentasi, siswa diajak menganalisis isu lingkungan di sekitar mereka, menyusun argumen berdasarkan bukti yang mereka kumpulkan sendiri, lalu mempresentasikan solusi di depan kelas.
Keempat contoh ini menunjukkan pola yang sama: pengetahuan tidak berhenti sebagai informasi di buku teks, tetapi digunakan untuk memahami dan merespons persoalan yang benar-benar dialami siswa.
Deep Learning dan Kurikulum Merdeka di Indonesia
Penting dipahami bahwa deep learning bukan kurikulum baru yang menggantikan Kurikulum Merdeka. Mendikdasmen Abdul Mu’ti secara tegas menyatakan bahwa Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 bukanlah kurikulum baru, melainkan bagian dari rangkaian regulasi yang menguatkan pendekatan pembelajaran mendalam di satuan pendidikan, dan pendekatan ini tetap bisa diterapkan baik pada Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka.
Meskipun deep learning merupakan penguatan kebijakan yang diperkenalkan kemudian, sejumlah prinsip dalam Kurikulum Merdeka memiliki arah yang sejalan, terutama dalam memberikan ruang eksplorasi, pembelajaran berbasis kompetensi, dan pengembangan karakter peserta didik—misalnya melalui fleksibilitas waktu dan konten yang memungkinkan eksplorasi topik secara lebih mendalam, serta melalui Profil Pelajar Pancasila yang menjadi kompas pengembangan karakter dan kompetensi siswa.
Sebagai penguatan lebih lanjut, Kemendikdasmen juga telah menerbitkan Capaian Pembelajaran (CP) terbaru tahun 2025 melalui Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Nomor 046/H/Kr/2025, yang secara eksplisit mengintegrasikan pembelajaran mendalam, integrasi teknologi, dan penguatan profil lulusan sebagai satu kerangka besar yang saling terkait.
Salah satu penguatan arah kebijakan terbaru adalah penggunaan kerangka 8 Dimensi Profil Lulusan yang menjadi acuan pengembangan kompetensi peserta didik, yang memiliki kesinambungan dengan arah penguatan karakter dan kompetensi peserta didik yang sebelumnya juga menjadi perhatian dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Kedelapan dimensi tersebut yaitu:
- Keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
- Kewargaan
- Penalaran kritis
- Kreativitas
- Kolaborasi
- Kemandirian
- Kesehatan
- Komunikasi
Kedelapan dimensi ini menjadi standar kompetensi yang diharapkan tercapai melalui penerapan pembelajaran mendalam secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi akademis tetapi juga karakter dan kesejahteraan siswa.
Hubungan Deep Learning dengan Model Pembelajaran PBL dan PjBL
Jika deep learning adalah pendekatan atau filosofi belajar, maka Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL) adalah dua model konkret yang paling sering digunakan untuk mewujudkannya di ruang kelas.
Deep Learning
|
------------------------
| |
PBL PjBL
(Pemecahan Masalah) (Pembuatan Produk/Proyek)
PBL menempatkan siswa pada suatu persoalan nyata yang harus mereka pecahkan melalui proses berpikir sistematis, sementara PjBL mengajak siswa menghasilkan produk atau proyek nyata sebagai wujud pemahaman mereka atas suatu konsep. Keduanya sama-sama menuntut siswa berpikir mendalam, bukan sekadar mengikuti instruksi.
Catatan: tautan menuju artikel khusus Problem Based Learning dan Project Based Learning akan ditambahkan setelah kedua artikel tersebut dipublikasikan.
Deep Learning dan Assessment Pendidikan
Jika cara belajar berubah secara mendasar, cara menilai hasil belajar pun tidak bisa tetap sama. Penilaian yang hanya mengandalkan hafalan atau soal pilihan ganda sederhana tidak akan mampu menangkap kedalaman pemahaman yang menjadi inti dari deep learning. Karena itu, transformasi pembelajaran menuju deep learning juga membutuhkan transformasi assessment: sekolah tidak cukup hanya mengukur apakah siswa mendapatkan jawaban benar, tetapi perlu memahami bagaimana siswa berpikir dan menerapkan pengetahuannya.
Dalam konteks digitalisasi pendidikan, teknologi assessment berbasis komputer (Computer Based Assessment) dapat membantu guru memperoleh data hasil belajar secara lebih cepat, akurat, dan terukur, sehingga proses evaluasi tidak hanya berorientasi pada nilai akhir, tetapi juga mendukung pengambilan keputusan pembelajaran yang lebih tepat sasaran.
Assessment yang sejalan dengan deep learning membutuhkan setidaknya tiga hal:
- Assessment autentik, yang menilai kemampuan siswa dalam konteks nyata, bukan sekadar mengingat teori,
- Evaluasi proses, bukan hanya hasil akhir—termasuk melalui diagnostic assessment yang membantu guru memahami kesulitan belajar siswa sejak awal, bukan hanya menilai di akhir pembelajaran—karena deep learning menekankan pentingnya bagaimana siswa berpikir, bukan semata jawaban apa yang mereka hasilkan.
Transformasi menuju deep learning juga membutuhkan sekolah memiliki data pembelajaran yang lebih baik. Guru perlu mengetahui bukan hanya siapa yang mendapatkan nilai tinggi, tetapi juga kompetensi apa yang sudah dikuasai dan bagian mana yang masih membutuhkan penguatan. Karena itu, sistem Computer Based Assessment (CBA) dapat berperan sebagai alat bantu pengumpulan data pembelajaran yang membantu guru mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih akurat.
Apa Kata Penelitian tentang Deep Learning?
Karena istilah “deep learning” dalam pendidikan masih tergolong baru sebagai kebijakan nasional di Indonesia, penelitian yang secara spesifik mengukur dampaknya masih terus berkembang. Namun, karakteristik inti dari deep learning—pembelajaran aktif, berpusat pada siswa, dan berbasis masalah—sudah lama diteliti secara luas oleh akademisi pendidikan Indonesia, dan hasilnya menunjukkan bahwa pendekatan tersebut memiliki potensi kuat dalam meningkatkan keterlibatan belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.
Sejumlah penelitian tindakan kelas di berbagai jenjang pendidikan, dari sekolah dasar hingga menengah atas, menunjukkan bahwa penerapan Problem Based Learning secara konsisten meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Salah satu penelitian di tingkat SMP pada materi gerak lurus berubah beraturan mencatat bahwa mayoritas siswa mencapai kategori kemampuan berpikir kritis setelah penerapan PBL, dengan keterlibatan aktif siswa dalam praktikum yang juga meningkat signifikan. Studi tindakan kelas lain pada siswa sekolah dasar turut mencatat peningkatan bertahap kemampuan berpikir kritis siswa dari siklus ke siklus pembelajaran PBL yang diterapkan secara berkelanjutan.
Pola serupa juga ditemukan pada jenjang pendidikan tinggi. Penelitian pada mahasiswa program studi pendidikan menunjukkan bahwa penerapan PBL membantu mahasiswa melatih kemampuan mengidentifikasi masalah, menganalisis, dan mengambil keputusan secara lebih logis dibandingkan metode pembelajaran konvensional.
Kebutuhan terhadap pembelajaran mendalam juga tidak lepas dari tantangan capaian literasi dan numerasi Indonesia di kancah internasional. Hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan OECD menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam menerapkan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah kontekstual masih menjadi tantangan besar. Kondisi ini memperkuat kebutuhan terhadap pendekatan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada hafalan, tetapi membangun kemampuan berpikir kritis dan penerapan konsep secara nyata—persis semangat yang dibawa oleh deep learning.
Secara umum, dapat dikatakan bahwa berbagai penelitian menunjukkan pendekatan pembelajaran yang memiliki karakteristik deep learning, seperti pembelajaran aktif dan berbasis masalah, cenderung meningkatkan keterlibatan siswa, kemampuan berpikir kritis, dan pemahaman konsep secara lebih mendalam dibandingkan metode hafalan konvensional.
Tantangan Implementasi Deep Learning di Indonesia
Sebagai pendekatan yang baru saja resmi diterapkan secara nasional mulai tahun ajaran 2025/2026, deep learning tentu tidak lepas dari sejumlah tantangan di lapangan.
1. Perubahan mindset guru. Peran guru harus bergeser dari sekadar menyampaikan materi menjadi merancang pengalaman belajar yang bermakna, berkesadaran, dan menyenangkan bagi siswa. Perubahan cara berpikir semacam ini membutuhkan waktu dan tidak bisa terjadi secara instan.
2. Waktu pembelajaran yang lebih panjang. Berbeda dengan metode hafalan yang bisa dikejar dengan cepat, deep learning membutuhkan proses eksplorasi, diskusi, dan refleksi yang memakan waktu lebih banyak dalam setiap sesi pembelajaran.
3. Sistem evaluasi yang harus ikut berubah. Jika cara mengajar berubah tetapi cara menilai tetap mengandalkan soal hafalan, maka semangat deep learning tidak akan tercermin dalam hasil belajar siswa.
4. Kesenjangan fasilitas antarsekolah. Tidak semua sekolah di Indonesia memiliki sumber daya, pelatihan guru, dan fasilitas pendukung yang setara untuk menerapkan pendekatan ini secara maksimal. Menyadari hal ini, pemerintah melalui Kemendikdasmen telah merancang program pendampingan implementasi kurikulum di ratusan kabupaten/kota dan puluhan provinsi, sebagai bagian dari upaya memastikan kesiapan sekolah dalam mengadopsi pendekatan baru ini.
5. Konsistensi implementasi. Tantangan terbesar bukan hanya memahami konsep deep learning, tetapi memastikan pendekatan ini benar-benar menjadi budaya belajar sehari-hari di sekolah, bukan sekadar perubahan istilah dalam dokumen perencanaan pembelajaran.
Masa Depan Deep Learning dalam Pendidikan
Ke depan, arah pembelajaran mendalam di Indonesia kemungkinan besar akan semakin terhubung dengan tiga hal: personalisasi belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa, pemanfaatan teknologi digital sebagai alat bantu eksplorasi dan kolaborasi, serta peran teknologi kecerdasan buatan sebagai pendukung guru dalam merancang pengalaman belajar yang lebih adaptif.
Kemendikdasmen sendiri telah memperkenalkan mata pelajaran pilihan seperti coding dan kecerdasan buatan sebagai bagian dari penguatan kurikulum, sejalan dengan kebutuhan menyiapkan generasi yang mampu beradaptasi dengan tantangan era digital. Ke depannya, sistem penilaian berbasis kompetensi—termasuk pemanfaatan digital assessment dan Computer Based Assessment (CBA) sebagai fondasi pengumpulan data pembelajaran—diperkirakan akan semakin banyak digunakan. Dari fondasi data tersebut, perkembangan teknologi kecerdasan buatan berpotensi memperkuat analisis hasil belajar dan membantu guru memetakan pemahaman siswa secara lebih presisi, sehingga menjadi pelengkap penting dalam ekosistem deep learning di Indonesia.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa yang dimaksud dengan deep learning dalam pendidikan?
Deep learning dalam pendidikan adalah pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa memahami konsep secara mendalam, menghubungkan berbagai pengetahuan, berpikir kritis, melakukan refleksi, serta menerapkan pengetahuan tersebut dalam konteks kehidupan nyata—bukan sekadar menghafal materi.
Apakah deep learning sama dengan pembelajaran mendalam?
Ya. Dalam konteks kebijakan pendidikan Indonesia, istilah deep learning sering diterjemahkan sebagai pembelajaran mendalam. Keduanya merujuk pada pendekatan yang sama: menekankan pemahaman konsep secara utuh, refleksi, dan penerapan pengetahuan.
Apakah deep learning sama dengan kecerdasan buatan (AI)?
Tidak. Deep learning dalam pendidikan adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman siswa, sedangkan deep learning dalam konteks kecerdasan buatan adalah teknologi komputer berbasis jaringan saraf tiruan. Keduanya memakai istilah yang sama tetapi berasal dari bidang yang sama sekali berbeda.
Apakah deep learning merupakan kurikulum baru?
Tidak. Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 bukan kurikulum baru, melainkan penguatan pendekatan pembelajaran yang tetap bisa diterapkan baik pada Kurikulum Merdeka maupun Kurikulum 2013.
Apa contoh penerapan deep learning di sekolah?
Contohnya antara lain siswa menghitung kebutuhan keramik untuk merenovasi kelas dalam pelajaran matematika, menganalisis dan mencari solusi atas masalah sampah sekolah dalam pelajaran IPA, atau menganalisis persoalan ekonomi di lingkungan sekitar dalam pelajaran IPS.
Apa hubungan deep learning dengan PBL dan PjBL?
Deep learning adalah pendekatan atau filosofi belajar, sedangkan Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL) adalah model pembelajaran konkret yang menjadi salah satu cara mewujudkan deep learning di ruang kelas.
Apakah deep learning cocok diterapkan di semua jenjang pendidikan?
Ya. Prinsip deep learning dapat diterapkan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, dengan penyesuaian sesuai tahap perkembangan dan kompleksitas berpikir peserta didik pada masing-masing jenjang.
Apakah deep learning membutuhkan teknologi digital?
Tidak selalu. Deep learning dapat diterapkan melalui diskusi, eksperimen, proyek, dan refleksi tanpa harus menggunakan teknologi. Namun, teknologi digital—termasuk assessment berbasis komputer—dapat memperkuat proses pembelajaran dan mempercepat evaluasi hasil belajar.
Apakah deep learning membuat guru kehilangan peran?
Tidak. Dalam pendekatan deep learning, guru tetap memiliki peran penting sebagai perancang pengalaman belajar, fasilitator, pembimbing, dan pemberi umpan balik. Perbedaannya, guru tidak lagi hanya menjadi sumber informasi utama, tetapi membantu siswa membangun pemahaman secara aktif.
Penutup
Deep learning bukan sekadar istilah baru dalam dunia pendidikan Indonesia, melainkan sebuah pengingat bahwa tujuan akhir belajar bukanlah nilai ujian, melainkan pemahaman yang benar-benar tertanam dan bisa digunakan dalam kehidupan nyata. Dengan payung kebijakan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 dan penguatan melalui 8 Dimensi Profil Lulusan, arah pendidikan Indonesia kini semakin jelas: membentuk siswa yang tidak hanya tahu, tetapi juga paham, mampu berpikir kritis, dan siap menerapkan pengetahuannya untuk menyelesaikan persoalan nyata di sekitarnya.
Referensi
- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI. Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025 tentang Pembelajaran Mendalam.
- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI. Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Nomor 046/H/Kr/2025 tentang Capaian Pembelajaran.
- detikEdu. “Mendikdasmen: Deep Learning Bisa Diterapkan di Lintas Mata Pelajaran.” 22 Juli 2025.
- detikEdu Jateng. “8 Dimensi Profil Lulusan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dan Contohnya.” 12 November 2025.
- detik.com. “Mengenal Deep Learning Ful-ful yang Disebut Mendikdasmen, Ini Artinya.” 11 November 2024.
- InfoPublik. “Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 Kuatkan Arah Kebijakan lewat Pembelajaran Mendalam.” 24 Juli 2025.
- Tempo.co. “Bedah Deep Learning yang Diterapkan Mulai Tahun Ajaran 2025-2026.”
- Setyorini, dkk. “Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMP.” Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, Universitas Negeri Semarang.
- Fakhriyah, F. “Penerapan Problem Based Learning dalam Upaya Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa.” Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, Universitas Negeri Semarang.
- Ningsih, dkk. “Penerapan Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa Kelas III.” Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan, Universitas Negeri Malang.
- gurupaudpnf.kemendikdasmen.go.id. “Mewujudkan 8 Dimensi Profil Lulusan melalui Pembelajaran Mendalam.” 19 September 2025.