Capaian Pembelajaran (CP) Kurikulum Merdeka: Pengertian, Struktur, Contoh, dan Panduan Implementasi Guru

ilustrasi-hero-capaian-pembelajaran-cp-kurikulum-merdeka

“Kok sekarang tidak ada lagi Kompetensi Dasar (KD)? Terus, guru pegangannya apa?”

Pertanyaan semacam ini sering muncul dari guru-guru yang baru mulai menerapkan Kurikulum Merdeka. Wajar saja, karena selama bertahun-tahun KD sudah menjadi “pegangan wajib” dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Begitu istilah itu hilang, muncul kebingungan: lalu, apa yang menjadi acuan guru sekarang?

Perubahan ini menjadi salah satu perubahan paling mendasar dalam Kurikulum Merdeka, karena guru tidak lagi memulai pembelajaran dari daftar materi yang harus selesai, tetapi dari kompetensi yang perlu dibangun pada diri peserta didik.

Jawabannya adalah Capaian Pembelajaran, atau yang lebih dikenal dengan singkatan CP. Kalau pada Kurikulum Merdeka guru mengenal konsep dasarnya, dan pada Kurikulum 2013 guru terbiasa dengan struktur Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), dan Indikator Pencapaian Kompetensi, maka sekarang struktur itu berubah menjadi tiga istilah baru: Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP), dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).

Perubahan ini bukan sekadar ganti nama. Ada pergeseran cara berpikir yang cukup mendasar di baliknya, dan artikel ini akan membedah CP dari akarnya: apa sebenarnya CP itu, bagaimana strukturnya, apa bedanya dengan KD, sampai bagaimana guru menggunakannya sehari-hari di kelas.

Perubahan ini merupakan salah satu bagian penting dari transformasi pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka, di mana orientasi pendidikan mulai bergeser dari penyelesaian materi menuju pengembangan kompetensi peserta didik secara bertahap.

Mengapa Kurikulum Merdeka Menggunakan Capaian Pembelajaran?

Untuk memahami CP, ada baiknya kita mundur sedikit dan melihat masalah yang ingin diselesaikan pemerintah.

Dalam implementasi kurikulum sebelumnya, salah satu tantangan yang sering muncul adalah bagaimana memastikan pembelajaran tidak hanya berfokus pada penyelesaian materi per kelas dalam periode waktu tertentu—biasanya satu tahun ajaran—tetapi juga benar-benar membangun kompetensi peserta didik. Pendekatan ini punya kelebihan dari sisi kejelasan target, namun di sisi lain menuntut guru untuk terus menyeimbangkan antara ketuntasan materi dan pemahaman mendalam setiap siswa.

Kurikulum Merdeka mencoba membalik logika itu. Pertanyaan yang diajukan bukan lagi “materi apa yang harus diselesaikan minggu ini?”, melainkan “kemampuan apa yang harus dimiliki siswa setelah melalui proses belajar?”

Perbedaannya bisa digambarkan sederhana seperti ini:

Pola lama: Guru mengajarkan materi → Siswa menyelesaikan materi

Pola baru: Siswa perlu mencapai kompetensi tertentu → Guru memilih strategi pembelajaran yang paling pas

Pergeseran fokus ini sejalan dengan salah satu alasan besar di balik lahirnya Kurikulum Merdeka, yaitu kebutuhan pembelajaran yang lebih mendalam dan fleksibel. Laman resmi Kurikulum Nasional milik Kemendikbudristek menjelaskan bahwa Kurikulum Merdeka memberi keleluasaan bagi pendidik untuk fokus pada materi esensial, sehingga guru tidak lagi terbebani terlalu banyak materi dan bisa menyesuaikan kecepatan mengajar dengan kemampuan peserta didik—didukung oleh rumusan Capaian Pembelajaran yang disusun per fase (rentang dua hingga tiga tahun), bukan lagi per tahun ajaran seperti sebelumnya.

Kalau kamu ingin memahami lebih jauh konteks kebijakan di baliknya, artikel tentang alasan Indonesia beralih ke Kurikulum Merdeka membahasnya secara lebih mendalam, termasuk data-data yang melatarbelakangi keputusan ini.

Apa Itu Capaian Pembelajaran (CP) dalam Kurikulum Merdeka?

Secara sederhana, Capaian Pembelajaran adalah kompetensi yang harus dicapai peserta didik pada akhir setiap fase pembelajaran. CP mencakup sekumpulan kompetensi dan lingkup materi yang disusun secara komprehensif dalam bentuk narasi—bukan daftar poin-poin materi yang terpisah-pisah seperti KD dulu.

Inti Sederhana CP

Jika KD menjawab pertanyaan “apa yang harus diajarkan guru pada kelas tertentu?”, maka CP menjawab pertanyaan yang berbeda: “kemampuan apa yang harus dimiliki siswa setelah menyelesaikan satu fase pembelajaran?”

Ada beberapa hal penting yang perlu dipahami dari definisi ini:

  • CP bersifat menyeluruh. Ia mencakup pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kemampuan menerapkan konsep sekaligus—bukan hanya aspek kognitif.
  • CP tidak dirancang untuk satu kali pertemuan. CP adalah target jangka panjang yang harus dicapai di ujung sebuah fase, bukan target harian atau mingguan.
  • CP bersifat dinamis. Dokumen CP bisa diperbarui pemerintah seiring perkembangan kebijakan pendidikan. Sampai pertengahan 2025, misalnya, dokumen CP sudah mengalami beberapa kali pembaruan sejak pertama kali diterbitkan pada 2022.

Karena sifatnya yang jangka panjang, CP perlu diterjemahkan menjadi satuan-satuan yang lebih kecil dan operasional agar bisa benar-benar dipakai di kelas. Alurnya kurang lebih seperti ini:

Fase pembelajaran → Capaian Pembelajaran → Tujuan Pembelajaran → Kegiatan pembelajaran → Asesmen

Bagian “penerjemahan” inilah yang nanti akan kita bahas lebih detail di bagian hubungan CP, TP, dan ATP.

Dasar Hukum Capaian Pembelajaran

Supaya tidak dianggap sekadar istilah tanpa payung hukum yang jelas, ada baiknya guru juga mengenal regulasi yang menaungi CP secara garis besar. Secara regulasi, penerapan Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum nasional diperkuat melalui Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024, sementara dokumen teknis Capaian Pembelajaran ditetapkan melalui Keputusan Kepala BSKAP tentang Capaian Pembelajaran. Detail lengkap nomor dan tanggal setiap regulasi bisa dilihat di bagian referensi pada akhir artikel ini.

Karena dokumen CP terus diperbarui dari waktu ke waktu, satuan pendidikan dan guru perlu memastikan mereka mengacu pada versi CP terbaru, bukan sekadar mengikuti buku teks lama yang mungkin belum menyesuaikan dengan revisi paling akhir.

Struktur Capaian Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka

Setiap dokumen CP tidak ditulis sembarangan. Ada komponen-komponen tetap yang membentuknya, seperti berikut ini.

KomponenPenjelasanContoh
FaseRentang waktu pencapaian kompetensi, biasanya mencakup 2-3 tahun ajaranFase D (SMP)
ElemenBagian-bagian utama yang membentuk sebuah mata pelajaranBilangan (Matematika)
KompetensiKemampuan konkret yang harus dimiliki siswa di akhir faseSiswa mampu memahami konsep bilangan dan menerapkannya dalam masalah sehari-hari
Lingkup materiKonsep dan konten utama yang dipelajari untuk mencapai kompetensi tersebutOperasi bilangan, pola, dan hubungan antar konsep

Catatan: struktur detail CP dapat berbeda antar mata pelajaran, karena setiap bidang studi memiliki elemen dan karakteristik kompetensi masing-masing. Contoh di atas hanya menggambarkan pola umum, bukan format baku yang sama persis untuk semua mata pelajaran.

Pembagian Fase Capaian Pembelajaran

Salah satu perubahan paling terasa dari CP adalah cara pembagian jenjangnya. Kalau dulu target disusun per kelas, sekarang disusun per fase yang mencakup rentang beberapa tahun sekaligus.

FaseJenjang
FondasiPAUD
AKelas 1-2 SD
BKelas 3-4 SD
CKelas 5-6 SD
DSMP
EKelas 10 SMA
FKelas 11-12 SMA

Pembagian per fase ini punya alasan yang cukup masuk akal: setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda, dan rentang dua sampai tiga tahun memberi ruang bagi guru dan sekolah untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi nyata siswa—bukan hanya berpatokan pada pergantian kelas semata. Siswa yang butuh waktu lebih lama untuk memahami sebuah konsep tetap punya kesempatan mengejar ketertinggalannya selama masih berada di fase yang sama.

Perlu dicatat juga bahwa peserta didik berkebutuhan khusus dengan hambatan intelektual dapat menggunakan Capaian Pembelajaran Pendidikan Khusus yang dirancang berbeda, sementara peserta didik berkebutuhan khusus tanpa hambatan intelektual tetap menggunakan CP umum dengan prinsip modifikasi kurikulum sesuai kebutuhan mereka.

Perbedaan CP Kurikulum Merdeka dan KD Kurikulum 2013

Ini bagian yang paling sering ditanyakan guru: sebenarnya, apa bedanya CP dengan KD yang selama ini dipakai?

Kurikulum 2013Kurikulum Merdeka
Kompetensi Dasar (KD)Capaian Pembelajaran (CP)
Disusun berbasis kompetensi per kelas/tahunDisusun berbasis fase (2-3 tahun)
Target lebih rinci dan terperinci per poinDirumuskan dalam bentuk narasi yang lebih fleksibel
Materi tersusun ketat dan berurutanGuru memiliki ruang lebih besar untuk berimprovisasi
Fokus utama pada penyelesaian KDFokus utama pada pencapaian kompetensi nyata siswa

Dari tabel di atas, terlihat jelas bahwa perbedaan mendasarnya bukan cuma soal istilah, tapi soal filosofi. KD cenderung menuntut kepastian dan kesamaan capaian di setiap kelas dalam waktu yang ketat. CP memberi ruang lebih besar bagi guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran dengan kondisi siswa di lapangan, tanpa kehilangan arah kompetensi akhir yang ingin dicapai.

Dengan kata lain, perbedaan utama CP dan KD bukan terletak pada ada atau tidaknya target pembelajaran, melainkan pada cara target tersebut dirancang dan seberapa besar ruang fleksibilitas yang diberikan kepada guru dalam mencapainya.

Ini juga sejalan dengan salah satu perbedaan besar antara kedua kurikulum: jika Kurikulum 2013 berlandaskan tujuan Sistem Pendidikan Nasional dan standar nasional pendidikan, Kurikulum Merdeka menambahkan satu fokus baru, yakni pengembangan Profil Pelajar Pancasila sebagai bagian dari arah pembelajaran, bukan cuma capaian akademik semata.

Hubungan CP, TP, ATP, dan Modul Ajar

Bagian ini sering jadi titik paling membingungkan bagi guru yang baru mulai menerapkan Kurikulum Merdeka—sekaligus bagian yang paling banyak dicari. Padahal kalau dipahami urutannya, sebenarnya cukup logis.

Capaian Pembelajaran (CP) → Tujuan Pembelajaran (TP) → Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) → Modul Ajar → Kegiatan Belajar → Asesmen

Mari kita bedah satu per satu.

Capaian Pembelajaran (CP) adalah tujuan akhir yang harus dicapai siswa di ujung sebuah fase. Sifatnya luas dan mencakup kompetensi dalam jangka waktu yang panjang.

Tujuan Pembelajaran (TP) adalah turunan dari CP yang lebih spesifik dan terukur. TP menggambarkan apa yang diharapkan bisa dicapai siswa setelah melalui satu atau beberapa pertemuan pembelajaran tertentu—bukan lagi target satu fase penuh, melainkan target per topik atau unit belajar. Dalam merumuskan TP, guru biasanya memperhatikan dua komponen utama: kompetensi (kemampuan konkret yang harus ditunjukkan siswa) dan lingkup materi (konsep utama yang perlu dipahami).

Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) adalah rangkaian TP yang disusun secara berurutan, logis, dan sistematis dari awal hingga akhir sebuah fase. Fungsinya mirip dengan silabus pada Kurikulum 2013—menjadi peta jalan bagi guru dan siswa untuk mencapai CP secara bertahap. Yang menarik, guru punya kebebasan menyusun ATP sendiri, memodifikasi contoh yang sudah disediakan pemerintah, atau langsung memakai contoh yang ada. Karena itu, ATP antar-guru bisa berbeda meski mengajar mata pelajaran dan fase yang sama—selama semuanya tetap mengarah pada CP yang sama.

Modul Ajar adalah dokumen perencanaan pembelajaran yang lebih operasional, disusun berdasarkan ATP yang sudah dibuat. Kalau kamu ingin memahami cara menyusun modul ajar secara lebih rinci—mulai dari komponen wajibnya sampai contoh penyusunannya—silakan baca panduan lengkap Modul Ajar Kurikulum Merdeka.

Dengan alur ini, semua yang terjadi di kelas—dari kegiatan belajar harian sampai soal ujian—pada akhirnya bisa ditelusuri balik ke satu titik: apakah itu benar-benar mendukung pencapaian CP di akhir fase?

Bagaimana Guru Menggunakan CP dalam Merancang Pembelajaran?

Secara praktis, ada beberapa langkah yang biasanya dilalui guru saat menerjemahkan CP menjadi kegiatan pembelajaran sehari-hari.

  1. Memahami CP mata pelajaran yang diampu. Guru membaca dan mencermati narasi CP sesuai fase dan elemen mata pelajarannya masing-masing.
  2. Mengidentifikasi kompetensi yang harus dicapai siswa. Dari narasi CP yang cenderung umum, guru memilah kompetensi konkret apa saja yang perlu dikuasai siswa.
  3. Menyusun Tujuan Pembelajaran (TP). Kompetensi yang sudah diidentifikasi kemudian dirumuskan menjadi TP yang lebih spesifik dan bisa diukur.
  4. Membuat Alur Tujuan Pembelajaran (ATP). TP-TP tersebut disusun menjadi rangkaian yang logis, dari kemampuan sederhana menuju yang lebih kompleks, sehingga tuntas dalam satu fase.
  5. Menyusun modul ajar dan asesmen. Barulah di tahap akhir, guru merancang kegiatan pembelajaran konkret beserta cara mengukur ketercapaiannya.

Proses ini memang terdengar lebih panjang dibanding sekadar “mengikuti KD yang sudah jadi”. Tapi di sinilah letak fleksibilitasnya—guru tidak lagi hanya menjadi pelaksana instruksi, tapi juga perancang jalur belajar yang paling sesuai dengan kondisi siswanya.

Contoh Sederhana Penerapan CP dalam Pembelajaran

Supaya lima langkah di atas tidak berhenti sebagai teori, berikut contoh sederhana bagaimana satu CP diterjemahkan menjadi kegiatan belajar nyata di kelas Matematika Fase D (SMP).

CP Matematika Fase D (elemen Bilangan): Siswa mampu memahami hubungan antar konsep bilangan, termasuk pecahan, dan menerapkannya dalam menyelesaikan masalah.

Dari CP yang masih cukup luas ini, guru kemudian menurunkannya secara bertahap:

  • CP: Siswa memahami konsep pecahan dan hubungan antar bilangan.
  • TP: Siswa mampu membandingkan dan mengurutkan berbagai bentuk pecahan.
  • ATP: Mengenal bentuk-bentuk pecahan → membandingkan nilai pecahan → menerapkan pecahan dalam masalah sehari-hari.
  • Modul Ajar: Kegiatan pembelajaran dirancang menggunakan konteks nyata, misalnya membagi rata bahan makanan atau menghitung diskon belanja, agar siswa memahami pecahan bukan sekadar sebagai simbol matematis, tapi juga konsep yang mereka temui sehari-hari.

Dengan alur seperti ini, satu CP yang tadinya terasa abstrak berubah menjadi rangkaian kegiatan belajar yang konkret dan bisa langsung dieksekusi guru di kelas.

Pola penerjemahan yang sama juga berlaku di mata pelajaran lain. Misalnya pada Bahasa Indonesia Fase C (elemen Membaca dan Memirsa):

CP Bahasa Indonesia Fase C: Siswa mampu memahami ide pokok dan ide pendukung pada teks informasional serta menyampaikannya kembali dengan bahasa sendiri.

  • TP: Siswa mampu menemukan ide pokok pada tiap paragraf teks informasional.
  • ATP: Mengenal struktur paragraf → menemukan ide pokok → merangkum teks dengan bahasa sendiri.
  • Modul Ajar: Siswa berlatih meringkas artikel pendek atau berita sederhana yang dekat dengan keseharian mereka, lalu mempresentasikan ringkasannya secara lisan.

Dua contoh ini menunjukkan pola yang sama meski mata pelajarannya berbeda: CP yang luas selalu bisa dipecah menjadi TP yang terukur, lalu dirangkai jadi ATP, sebelum akhirnya dieksekusi lewat modul ajar.

Hubungan CP dengan Asesmen dalam Kurikulum Merdeka

Karena CP berfokus pada kompetensi, bukan sekadar hafalan materi, maka cara mengukurnya pun ikut berubah. Asesmen dalam Kurikulum Merdeka tidak lagi sekadar mengecek apakah siswa mengingat materi yang diajarkan, tetapi mengukur tiga hal yang lebih dalam:

  • Pemahaman konsep, bukan hafalan
  • Kemampuan menerapkan konsep tersebut dalam situasi nyata
  • Perkembangan kompetensi siswa dari waktu ke waktu, bukan cuma hasil akhir

Karena CP disusun per fase, asesmen pun idealnya dirancang untuk melihat progres siswa secara berkelanjutan, bukan hanya lewat satu kali ujian di akhir semester. Topik ini cukup luas untuk dibahas tersendiri—kamu bisa membaca pembahasan lengkapnya di Asesmen dalam Kurikulum Merdeka.

Tantangan Implementasi CP bagi Guru di Lapangan

Di atas kertas, konsep CP terdengar rapi dan logis. Tapi di lapangan, penerapannya tidak selalu semudah itu. Setidaknya ada tiga tantangan yang paling sering dihadapi guru.

1. Memahami dokumen CP yang berbasis narasi

Tidak semua guru langsung terbiasa membaca dokumen CP yang ditulis dalam bentuk narasi panjang, berbeda dari KD yang dulu tersaji dalam poin-poin singkat dan jelas. Butuh waktu dan latihan untuk bisa memilah kompetensi konkret dari sebuah paragraf CP.

2. Mengubah kebiasaan mengajar

Guru perlu bergeser dari kebiasaan “menyelesaikan materi sesuai jadwal” menjadi “memastikan siswa benar-benar membangun kompetensi”. Pergeseran pola pikir semacam ini sering kali lebih berat dibanding sekadar mempelajari istilah baru.

3. Menyusun pembelajaran berdiferensiasi

Karena CP memberi ruang fleksibilitas per fase, konsekuensinya guru dituntut mampu merancang pembelajaran berdiferensiasi—menyesuaikan cara mengajar dengan kemampuan siswa yang beragam dalam satu kelas. Ini bukan pekerjaan sederhana, apalagi di sekolah dengan jumlah siswa per kelas yang besar.

4. Kesiapan perangkat pembelajaran dan sumber belajar

Perubahan menuju pembelajaran berbasis kompetensi juga membutuhkan kesiapan perangkat pendukung, mulai dari dokumen pembelajaran, asesmen, hingga sumber belajar digital. Sekolah dengan akses sumber daya yang berbeda dapat mengalami tantangan yang tidak sama dalam menerapkan fleksibilitas Kurikulum Merdeka.

Tantangan-tantangan ini juga berkaitan dengan kondisi mutu pendidikan Indonesia secara umum. Hasil PISA (Programme for International Student Assessment) 2022 dari OECD menunjukkan skor rata-rata siswa Indonesia usia 15 tahun masih jauh di bawah rata-rata negara OECD di ketiga bidang yang diuji—matematika, membaca, dan sains. Data semacam ini memperkuat alasan mengapa perubahan menuju pembelajaran berbasis kompetensi, seperti yang diusung CP, dianggap mendesak—bukan sekadar ganti kurikulum, tapi upaya menjawab kesenjangan kompetensi yang selama ini terlihat dari hasil asesmen internasional.

Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Capaian Pembelajaran

Apa itu Capaian Pembelajaran (CP)? CP adalah kompetensi yang harus dicapai peserta didik pada akhir setiap fase pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka, mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap sekaligus, dirumuskan dalam bentuk narasi.

Apa beda CP dan KD? KD disusun per kelas/tahun dengan target yang rinci dan berurutan, sementara CP disusun per fase (2-3 tahun) dalam bentuk narasi yang lebih fleksibel dan berfokus pada kompetensi nyata siswa, bukan sekadar penyelesaian materi.

Siapa yang menyusun dokumen CP? CP disusun dan diterbitkan oleh Kemendikbudristek melalui Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), lalu digunakan sebagai acuan nasional oleh seluruh satuan pendidikan.

Apakah guru boleh mengubah isi CP? Tidak. CP bersifat tetap dan menjadi acuan nasional. Yang bisa disesuaikan guru adalah turunannya, yaitu Tujuan Pembelajaran (TP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), sesuai kondisi siswa di sekolah masing-masing.

Bagaimana cara guru mulai menggunakan CP? Guru membaca narasi CP sesuai fase dan elemen mata pelajaran yang diampu, mengidentifikasi kompetensi konkret di dalamnya, lalu menurunkannya menjadi TP, ATP, dan modul ajar—seperti langkah yang dibahas pada bagian sebelumnya.

Apakah CP sama dengan silabus? Tidak. CP merupakan target kompetensi yang ingin dicapai peserta didik pada akhir fase, sedangkan silabus atau ATP lebih berfungsi sebagai rancangan urutan pembelajaran untuk mencapai target tersebut.

Kesimpulan

Kalau dirangkum dengan sederhana, begini gambaran utuh soal Capaian Pembelajaran:

Apa itu CP? CP adalah target kompetensi yang harus dicapai siswa di akhir setiap fase dalam Kurikulum Merdeka, menggantikan peran KI dan KD pada Kurikulum 2013.

Mengapa CP diperlukan? Karena pembelajaran membutuhkan arah yang lebih fleksibel, berorientasi pada kompetensi nyata siswa, bukan sekadar ketuntasan materi dalam waktu yang kaku.

Bagaimana CP diwujudkan di kelas? CP diterjemahkan menjadi Tujuan Pembelajaran (TP), disusun menjadi Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), lalu dituangkan ke dalam modul ajar dan asesmen yang konkret.

Apa dampaknya bagi guru dan siswa? Guru mendapat ruang lebih besar untuk merancang pembelajaran sesuai kebutuhan siswanya, sementara siswa punya kesempatan belajar sesuai kecepatan dan gaya belajar masing-masing—selama tetap terarah menuju kompetensi yang sama di akhir fase.

Infografis Capaian Pembelajaran

Infografis Capaian Pembelajaran CP Kurikulum Merdeka menjelaskan perubahan paradigma, struktur fase, elemen, kompetensi, hubungan CP TP ATP, modul ajar, dan asesmen

Referensi

  1. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Capaian Pembelajaran, Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan. Tersedia di: kurikulum.kemdikbud.go.id
  2. Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran (diperbarui melalui Kepmendikbudristek Nomor 262/M/2022).
  3. Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Nomor 008/H/KR/2022 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, sebagaimana diperbarui melalui Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025.
  4. Pusat Informasi Rumah Pendidikan, Kemendikdasmen. Perumusan Tujuan Pembelajaran (TP) dan Penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).
  5. OECD. PISA 2022 Results: Indonesia Country Note, Programme for International Student Assessment, Organisation for Economic Co-operation and Development, 2023.