Literasi dan Numerasi Adalah: Pengertian, Perbedaan, Contoh, dan Pentingnya dalam Pendidikan

Keberhasilan belajar siswa hari ini tidak lagi diukur hanya dari kemampuan menghafal materi pelajaran. Kurikulum Merdeka dan Asesmen Nasional justru menempatkan penekanan pada kemampuan siswa memahami informasi, berpikir kritis, membaca data, dan menggunakan penalaran untuk menyelesaikan masalah sehari-hari. Dua kemampuan dasar yang menjadi fondasi dari semua itu adalah literasi dan numerasi.
Literasi dan numerasi adalah kemampuan dasar yang memungkinkan seseorang memahami informasi, menggunakan pengetahuan, membaca data, dan mengambil keputusan secara tepat dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya membantu seseorang memahami dunia di sekitarnya, baik melalui bahasa dan teks, maupun melalui angka dan data. Namun dalam praktiknya, banyak orang masih menganggap literasi sekadar “kemampuan membaca” dan numerasi sekadar “kemampuan berhitung”, padahal keduanya jauh lebih luas dan saling terkait erat dalam proses belajar.
Artikel ini membahas pengertian, hubungan, perbedaan, contoh, hingga penerapan literasi dan numerasi dalam kurikulum dan asesmen pendidikan di Indonesia, lengkap dengan data terbaru sebagai acuan.
- Apa Arti Literasi dan Numerasi?
- Hubungan Antara Literasi dan Numerasi
- Perbedaan Literasi dan Numerasi
- Mengapa Literasi dan Numerasi Penting dalam Pendidikan?
- Contoh Literasi dan Numerasi dalam Kehidupan Sehari-hari
- Literasi dan Numerasi dalam Kurikulum dan Asesmen Pendidikan Indonesia
- Cara Meningkatkan Kemampuan Literasi dan Numerasi Siswa
- Peran Guru dalam Mengembangkan Literasi dan Numerasi
- Hubungan Literasi Digital dengan Literasi dan Numerasi
- Pertanyaan yang Sering Diajukan
- Kesimpulan
Anda mencari informasi spesifik? Berikut panduan cepat sesuai kebutuhan:
| Kebutuhan Anda | Langsung ke bagian |
|---|---|
| Memahami definisi dasar | Apa Arti Literasi dan Numerasi? |
| Membedakan literasi vs numerasi | Perbedaan Literasi dan Numerasi |
| Guru menyiapkan strategi mengajar | Cara Meningkatkan Kemampuan Literasi dan Numerasi Siswa |
| Sekolah menyiapkan AKM/Asesmen Nasional | Literasi dan Numerasi dalam Kurikulum dan Asesmen Pendidikan Indonesia |
| Orang tua/siswa mencari contoh sehari-hari | Contoh Literasi dan Numerasi dalam Kehidupan Sehari-hari |
Ringkasan Singkat Literasi dan numerasi adalah dua kompetensi dasar yang saling melengkapi: literasi berfokus pada kemampuan memahami, menggunakan, dan mengevaluasi informasi berbasis bahasa dan teks, sementara numerasi berfokus pada kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, dan data matematis untuk menyelesaikan masalah sehari-hari. Keduanya menjadi dua dari tiga instrumen utama dalam Asesmen Nasional melalui Asesmen Kompetensi Minimum (AKM).
| Kategori | Keterangan |
|---|---|
| Definisi | Kemampuan memahami informasi (literasi) dan menggunakan angka/data (numerasi) untuk mengambil keputusan |
| Diukur melalui | Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dalam Asesmen Nasional |
| Berlaku sejak | 2021, menggantikan Ujian Nasional |
| Berlaku untuk jenjang | SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK |
| Kerangka kurikulum | Kurikulum Merdeka |
| Target kebijakan nasional | Skor numerasi 419 poin pada 2028 (RPJMN 2025โ2029) |
| Acuan internasional | PISA (Programme for International Student Assessment), OECD |
Apa Arti Literasi dan Numerasi?
Pengertian literasi dan numerasi secara konsep merujuk pada dua kompetensi dasar yang digunakan sebagai acuan dalam Asesmen Nasional di Indonesia sejak tahun 2021, menggantikan Ujian Nasional. Banyak orang bertanya apa itu literasi dan numerasi secara sederhana โ cara paling mudah untuk membedakan keduanya adalah dengan melihat pertanyaan yang dijawab masing-masing:
- Literasi menjawab pertanyaan: “Bagaimana seseorang memahami dan menggunakan informasi?”
- Numerasi menjawab pertanyaan: “Bagaimana seseorang menggunakan angka dan data untuk mengambil keputusan?”
Literasi merujuk pada kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan berbagai jenis teks untuk mengembangkan kapasitas diri sebagai individu maupun warga masyarakat. Secara lebih rinci, literasi adalah kemampuan seseorang dalam memahami, menggunakan, dan mengevaluasi informasi yang diperoleh melalui berbagai jenis teks, baik cetak maupun digital, untuk kemudian digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Numerasi merujuk pada kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah pada berbagai konteks kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, numerasi adalah kemampuan menggunakan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari membaca angka, memahami data, hingga mengambil keputusan berdasarkan perhitungan.
Perbedaan mendasarnya sederhana: literasi berhubungan dengan kemampuan memahami informasi berbasis teks dan bahasa, sedangkan numerasi berhubungan dengan kemampuan memahami informasi berbasis angka dan data.
Komponen Utama Literasi dan Numerasi
Secara ringkas, kedua kompetensi ini dibangun dari beberapa kemampuan inti berikut.
| Komponen Literasi | Komponen Numerasi |
|---|---|
| Memahami berbagai jenis teks | Memahami informasi berbentuk angka dan data |
| Menemukan informasi penting | Membaca tabel, grafik, dan diagram |
| Mengevaluasi kredibilitas informasi | Menganalisis dan menafsirkan data |
| Menggunakan informasi untuk mengambil keputusan | Menggunakan penalaran matematika dalam masalah nyata |
Pembahasan lebih rinci mengenai masing-masing komponen dapat dibaca pada artikel literasi adalah dan numerasi adalah.

Hubungan Antara Literasi dan Numerasi
Literasi dan numerasi sering dianggap sebagai dua kemampuan yang terpisah, padahal dalam praktiknya keduanya nyaris selalu berjalan beriringan. Seorang siswa yang membaca grafik pertumbuhan penduduk, misalnya, membutuhkan numerasi untuk memahami angka dan skala pada sumbu grafik, sekaligus membutuhkan literasi untuk memahami konteks dan narasi yang menyertainya.
Contoh lain yang lebih dekat dengan keseharian adalah membaca berita ekonomi. Siswa perlu literasi untuk memahami isi berita secara keseluruhan, namun juga perlu numerasi untuk menafsirkan data statistik seperti persentase inflasi atau perbandingan harga yang disebutkan di dalamnya. Contoh lain, ketika siswa membaca hasil survei yang disajikan dalam bentuk diagram batang, ia membutuhkan literasi untuk memahami pertanyaan dan konteks survei tersebut, sekaligus membutuhkan numerasi untuk membaca persentase dan membandingkan data antar kategori. Karena itulah, Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) mengukur literasi membaca dan literasi matematika (numerasi) sebagai satu kesatuan kompetensi dasar, bukan dua hal yang berdiri sendiri.
| Literasi | Numerasi |
|---|---|
| Memahami teks | Memahami angka |
| Mengolah informasi bahasa | Mengolah informasi data |
| Menilai informasi | Mengambil keputusan berdasarkan perhitungan |
Perbedaan Literasi dan Numerasi
Meski saling melengkapi, literasi dan numerasi tetap memiliki fokus, indikator, dan cara pengukuran yang berbeda. Tabel berikut merangkum perbedaan utamanya.
| Aspek | Literasi | Numerasi |
|---|---|---|
| Fokus | Bahasa dan informasi | Angka dan data |
| Kemampuan utama | Membaca, memahami, mengevaluasi | Menghitung, menganalisis, memecahkan masalah |
| Produk kemampuan | Memahami dan mengevaluasi makna | Menggunakan data untuk mengambil keputusan |
| Contoh penerapan | Memahami isi artikel | Membaca dan menafsirkan grafik |
| Digunakan untuk | Mengolah informasi verbal | Mengolah informasi kuantitatif |
| Instrumen pengukuran nasional | AKM Literasi Membaca | AKM Numerasi |
Mengapa Literasi dan Numerasi Penting dalam Pendidikan?
Pentingnya literasi dan numerasi bukan sekadar slogan kebijakan. Hasil PISA 2022 menunjukkan bahwa sebagian besar siswa Indonesia usia 15 tahun masih berada di bawah level kompetensi minimum matematika yang diperlukan untuk menerapkan konsep matematika dalam kehidupan nyata, menjadi salah satu alasan pemerintah menetapkan target peningkatan skor numerasi nasional hingga 419 poin pada 2028 melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025โ2029, sekaligus memperkuat program Gerakan Numerasi Nasional.
Beberapa alasan utama mengapa literasi dan numerasi menjadi prioritas dalam pendidikan:
1. Membantu Siswa Berpikir Kritis
Siswa yang literat dan numerat mampu mempertanyakan validitas informasi, membandingkan data, dan tidak mudah percaya pada klaim tanpa dasar โ kemampuan yang semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital.
2. Meningkatkan Kemampuan Menyelesaikan Masalah
Numerasi melatih siswa menyelesaikan masalah kontekstual, seperti menghitung anggaran, membaca hasil eksperimen, atau menafsirkan statistik, sementara literasi melatih siswa memahami instruksi dan konteks masalah tersebut secara utuh.
3. Membantu Memahami Dunia Nyata
Baik literasi maupun numerasi bukan kemampuan yang berhenti di ruang kelas. Keduanya digunakan setiap hari, mulai dari membaca label kemasan produk hingga menghitung diskon saat berbelanja.
4. Mendukung Pembelajaran Sepanjang Hayat
Siswa dengan fondasi literasi dan numerasi yang kuat lebih siap mengikuti pembelajaran mandiri di jenjang pendidikan lebih tinggi maupun dalam dunia kerja, karena keduanya menjadi prasyarat untuk kemampuan belajar lanjutan.
5. Menjadi Dasar Kompetensi Abad 21
Kerangka kompetensi abad 21 โ mulai dari berpikir kritis, kreativitas, hingga literasi digital โ semuanya dibangun di atas fondasi literasi dan numerasi dasar yang kuat.
Contoh Literasi dan Numerasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh penerapan literasi dan numerasi dalam aktivitas sehari-hari.
Contoh Literasi:
- Membaca buku dan memahami inti ceritanya
- Memahami isi berita atau artikel di media
- Membuat laporan atau rangkuman dari suatu bacaan
- Mengevaluasi kebenaran informasi yang beredar di internet
Contoh Numerasi:
- Menghitung uang belanja dan kembalian
- Membaca dan menafsirkan grafik atau tabel data
- Memahami perhitungan diskon saat berbelanja
- Mengambil keputusan berdasarkan data, misalnya membandingkan harga per satuan produk
Contoh Gabungan Literasi dan Numerasi
Dalam praktiknya, kedua kemampuan ini jarang berdiri sendiri. Misalnya, seorang siswa membaca berita tentang kenaikan harga bahan pokok. Ia membutuhkan literasi untuk memahami isi berita dan mengetahui penyebab kenaikan harga tersebut, sekaligus membutuhkan numerasi untuk membaca grafik harga, menghitung persentase kenaikan, dan membandingkan perubahan harga dari waktu ke waktu. Contoh ini menunjukkan bahwa literasi dan numerasi bekerja bersama setiap kali seseorang mengambil keputusan berdasarkan informasi.
Literasi dan Numerasi dalam Kurikulum dan Asesmen Pendidikan Indonesia
Peran literasi numerasi dalam pendidikan Indonesia semakin diperkuat melalui Kurikulum Merdeka dan sistem evaluasi pendidikan nasional. Dalam pelaksanaannya, pengukuran literasi dan numerasi dilakukan melalui Asesmen Nasional, terutama melalui instrumen Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Sejak 2021, Asesmen Nasional menggantikan Ujian Nasional dengan tiga instrumen: AKM yang mengukur literasi membaca dan numerasi, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.
Berdasarkan data Rapor Pendidikan 2024 yang dipaparkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), proporsi murid yang mencapai kompetensi minimum literasi terus meningkat dari tahun ke tahun: 71,76 persen untuk jenjang SD/MI, dan 70,34 persen untuk jenjang SMP/MTs. Untuk numerasi, proporsi murid yang mencapai kompetensi minimum tercatat 69,51 persen di jenjang SD/MI dan 68,1 persen di jenjang SMP/MTs. Dalam indikator capaian Rapor Pendidikan, proporsi murid yang mencapai kompetensi minimum ini menjadi salah satu gambaran tingkat capaian literasi dan numerasi suatu satuan pendidikan atau daerah.
Meski tren capaian nasional membaik, pemerataannya masih menjadi pekerjaan rumah. Kemendikdasmen mencatat bahwa capaian antar kabupaten/kota masih sangat beragam, terutama dipengaruhi oleh minimnya akses dan ketidakmerataan distribusi pendidik berkualitas di sejumlah wilayah, khususnya di kawasan timur Indonesia.
Karena posisinya yang sentral ini, hasil AKM secara langsung mencerminkan kekuatan fondasi literasi dan numerasi siswa di setiap satuan pendidikan, dan menjadi dasar penyusunan program intervensi pembelajaran di sekolah.
Cara Meningkatkan Kemampuan Literasi dan Numerasi Siswa
Penguatan literasi dan numerasi sekolah dapat dilakukan melalui strategi pembelajaran yang konsisten dan kontekstual, baik oleh guru maupun manajemen sekolah.
Strategi memperkuat literasi:
- Membiasakan kegiatan membaca rutin, baik terjadwal maupun mandiri
- Mengadakan diskusi mendalam mengenai isi teks yang dibaca
- Melatih siswa membuat rangkuman dari berbagai jenis bacaan
- Mengajarkan siswa mengevaluasi kredibilitas sumber informasi
Strategi memperkuat numerasi:
- Memberikan latihan soal yang kontekstual, bukan sekadar hitungan abstrak
- Melatih siswa membaca dan menafsirkan grafik atau tabel
- Menerapkan proyek pembelajaran berbasis data
- Menghubungkan materi matematika dengan masalah kehidupan nyata
Peran Guru dalam Mengembangkan Literasi dan Numerasi
Penguatan literasi numerasi siswa bukan tugas guru Bahasa Indonesia dan Matematika saja, melainkan tanggung jawab semua guru lintas mata pelajaran, karena kedua kompetensi ini melekat pada hampir semua aktivitas belajar.
Sebagai contoh, guru IPA berperan melatih numerasi saat siswa membaca dan menafsirkan tabel hasil eksperimen. Guru IPS berperan memperkuat numerasi sekaligus literasi ketika siswa diminta membaca grafik data ekonomi atau kependudukan. Sementara itu, guru Bahasa memperkuat literasi melalui kegiatan analisis dan evaluasi informasi dari berbagai jenis teks.
Pendekatan lintas mata pelajaran ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka, yang menempatkan literasi dan numerasi sebagai kompetensi dasar yang dibangun secara terintegrasi, bukan hanya pada jam pelajaran tertentu.
Hubungan Literasi Digital dengan Literasi dan Numerasi
Di era teknologi, cakupan literasi tidak lagi terbatas pada teks cetak. Siswa dituntut mampu memahami informasi digital, mengevaluasi kredibilitas sumber daring, hingga menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Kemampuan ini dikenal sebagai literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi digital secara efektif dan bertanggung jawab, yang pada dasarnya merupakan perluasan dari literasi dan numerasi dasar ke dalam konteks digital.
Siswa yang memiliki fondasi literasi dan numerasi yang kuat pada dasarnya akan lebih mudah beradaptasi dengan tuntutan literasi digital, karena kemampuan memahami teks, mengevaluasi informasi, dan menafsirkan data tetap menjadi inti dari ketiganya โ hanya saja diterapkan pada konteks dan media yang berbeda.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa yang dimaksud literasi dan numerasi? Literasi dan numerasi adalah kemampuan dasar untuk memahami, menggunakan, dan mengevaluasi informasi berbasis bahasa, angka, maupun data dalam kehidupan sehari-hari.
Apa perbedaan literasi dan numerasi? Literasi berfokus pada kemampuan memahami informasi berbasis teks, sedangkan numerasi berfokus pada kemampuan memahami dan menggunakan angka serta data.
Mengapa literasi dan numerasi penting bagi siswa? Karena keduanya membantu siswa berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tepat, sekaligus menjadi dua dari tiga instrumen utama pengukuran mutu pendidikan dalam Asesmen Nasional.
Apakah literasi hanya kemampuan membaca? Tidak. Literasi mencakup kemampuan memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi dari berbagai jenis sumber, bukan sekadar kemampuan membaca teks.
Apakah numerasi sama dengan matematika? Tidak. Matematika adalah ilmu tentang bilangan dan pola, sedangkan numerasi adalah kemampuan menggunakan konsep matematika tersebut untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata.
Apakah literasi dan numerasi hanya diperlukan siswa? Tidak. Literasi dan numerasi diperlukan oleh semua orang, karena keduanya membantu seseorang memahami informasi, menggunakan data, dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari, tidak terbatas pada usia sekolah.
Apa hubungan literasi dan numerasi dengan Asesmen Nasional? Literasi dan numerasi menjadi dua kompetensi utama yang diukur melalui Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dalam Asesmen Nasional, untuk melihat kemampuan dasar siswa dalam memahami informasi dan memecahkan masalah.
Apakah literasi dan numerasi termasuk kompetensi dasar dalam Kurikulum Merdeka? Ya. Literasi dan numerasi menjadi kompetensi dasar yang dikembangkan secara lintas mata pelajaran dalam Kurikulum Merdeka, bukan hanya menjadi tanggung jawab guru Bahasa Indonesia atau Matematika.
Kesimpulan
Kompetensi literasi dan numerasi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam proses belajar siswa. Literasi membekali siswa untuk memahami dan mengevaluasi informasi berbasis bahasa, sementara numerasi membekali siswa untuk memahami dan menggunakan informasi berbasis angka dan data. Data Asesmen Nasional dan PISA menunjukkan bahwa capaian literasi dan numerasi siswa Indonesia terus membaik namun masih menyisakan kesenjangan antarwilayah dan berada di bawah rata-rata internasional, sehingga penguatan kedua kompetensi ini perlu menjadi prioritas bersama guru, sekolah, dan pemangku kebijakan pendidikan.
Bagi sekolah, memahami posisi literasi dan numerasi dalam kurikulum dan asesmen nasional menjadi langkah awal untuk menyusun strategi pembelajaran dan persiapan Asesmen Nasional yang lebih terarah dan berbasis data.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang mampu dihafal siswa, tetapi juga seberapa baik mereka memahami informasi, membaca data, dan menggunakannya untuk mengambil keputusan.
Referensi
- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) โ Taklimat Media Rapor Pendidikan 2025, data capaian literasi dan numerasi 2022โ2024.
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi โ Siaran Pers Hasil PISA 2022, kemdikbud.go.id.
- Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen โ Portal Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), anbk.kemdikbud.go.id.
- OECD โ PISA 2022 Results, Country Note Indonesia.
- Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025โ2029 โ target Gerakan Numerasi Nasional.