Taksonomi Bloom Adalah: Pengertian, Sejarah, dan Revisi Terbarunya

Infografis hero Taksonomi Bloom adalah pengertian sejarah dan revisi 2001 dengan diagram 6 level kognitif C1-C6 dari Mengingat hingga Mencipta

Saat memeriksa RPP atau modul ajar menjelang supervisi, cukup sering ditemukan rumusan tujuan pembelajaran yang berbunyi “siswa memahami konsep fotosintesis” atau “siswa mengetahui jenis-jenis gaya”. Terdengar wajar, tapi coba diuji: bagaimana cara mengukur bahwa seorang siswa benar-benar “memahami”? Sampai level mana pemahamannya dianggap tuntas? Masalah ini bukan soal guru yang kurang kompeten menulis, melainkan soal acuan โ€” kata kerja tujuan pembelajaran ditulis tanpa berpijak pada kerangka yang jelas tentang tingkatan proses berpikir. Kerangka itulah yang disebut Taksonomi Bloom, istilah yang berseliweran di template RPP, modul ajar Kurikulum Merdeka, hingga dokumen Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP), tapi jarang dibahas dari mana asalnya dan versi mana yang sebenarnya sedang dipakai hari ini.

Apa Itu Taksonomi Bloom?

Taksonomi Bloom adalah kerangka klasifikasi hierarkis untuk mengelompokkan tujuan atau proses belajar berdasarkan tingkat kompleksitasnya, mulai dari kemampuan berpikir paling sederhana seperti mengingat fakta, sampai kemampuan paling kompleks seperti mencipta sesuatu yang baru. Kerangka ini pada mulanya disusun sebagai alat bantu berpikir sistematis bagi pendidik dalam merumuskan tujuan pembelajaran dan menyusun instrumen penilaian, bukan sekadar daftar istilah yang harus dihafal.

Nama “Bloom” merujuk pada Benjamin S. Bloom, psikolog pendidikan asal Amerika Serikat yang memimpin penyusunan kerangka ini bersama timnya pada pertengahan 1950-an โ€” detail lengkap soal siapa saja yang terlibat dan bagaimana kronologinya dibahas di bagian sejarah selanjutnya.

Bagi guru, kepala sekolah, atau dosen, taksonomi ini bukan sekadar teori pedagogik yang berhenti di bangku kuliah. Kerangka ini jadi basis penulisan tujuan pembelajaran di RPP dan modul ajar โ€” memastikan kata kerja yang dipakai benar-benar terukur dan bisa diobservasi. Kerangka yang sama juga jadi acuan dalam penyusunan KKTP, karena kriteria ketercapaian sulit dirumuskan tanpa kejelasan level kognitif apa yang sedang dinilai. Di luar itu, taksonomi ini juga jadi dasar penentuan proporsi soal LOTS (Lower Order Thinking Skills) dan HOTS (Higher Order Thinking Skills) dalam kisi-kisi ujian sekolah maupun asesmen semacam AKM.

Sejarah dan Asal-Usul Taksonomi Bloom

Taksonomi ini pertama kali diterbitkan tahun 1956 oleh Benjamin Bloom bersama sejumlah koleganya โ€” Max Engelhart, Edward Furst, Walter Hill, dan David Krathwohl โ€” dalam buku Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals, Handbook I: Cognitive Domain (Bloom, Engelhart, Furst, Hill, & Krathwohl, 1956). Buku ini lahir dari kebutuhan yang sangat praktis: saat itu, para pendidik di berbagai institusi dan mata pelajaran memakai istilah yang berbeda-beda untuk menggambarkan “kedalaman” tujuan pembelajaran, sehingga sulit dibandingkan atau dievaluasi lintas kurikulum. Tim Bloom berupaya menyusun semacam bahasa bersama โ€” sebuah sistem klasifikasi yang bisa dipakai lintas jenjang dan lintas disiplin ilmu untuk merumuskan tujuan belajar secara konsisten, sekaligus jadi acuan dalam menyusun soal ujian.

Yang sering jadi miskonsepsi: banyak yang mengira “tiga ranah” (kognitif, afektif, psikomotor) diterbitkan bersamaan di tahun 1956. Faktanya, buku tahun 1956 itu hanya membahas ranah kognitif. Ranah afektif โ€” yang berkaitan dengan sikap, nilai, dan minat โ€” baru diterbitkan delapan tahun kemudian lewat Handbook II: Affective Domain (Krathwohl, Bloom, & Masia, 1964). Adapun ranah psikomotor, yang berkaitan dengan keterampilan motorik, tidak pernah dirumuskan langsung oleh tim Bloom. Kerangka untuk ranah ini justru disusun belakangan oleh sejumlah pakar lain secara terpisah, di antaranya Elizabeth Simpson dan Anita Harrow, sepanjang pertengahan 1960-an hingga awal 1970-an. Itu sebabnya, sampai sekarang beredar beberapa versi taksonomi psikomotor yang sedikit berbeda satu sama lain, tergantung penulis acuannya.

Ada satu hal lagi yang jarang disinggung tapi cukup relevan untuk dipahami: tujuan awal penyusunan taksonomi ini sebenarnya lebih luas dari sekadar “alat bantu menulis RPP”. Bloom dan timnya waktu itu juga berkepentingan memudahkan penyusunan soal ujian yang bisa dibandingkan validitasnya lintas sekolah dan lintas pengajar โ€” masalah klasik yang membuat dua guru bisa menilai jawaban yang sama secara berbeda karena tidak berangkat dari definisi “paham” atau “bisa” yang sama. Dengan kata lain, taksonomi ini lahir dari persoalan yang sangat mirip dengan yang dihadapi sekolah hari ini saat menyusun kisi-kisi ujian bersama antar-guru mata pelajaran: bagaimana memastikan semua pihak punya acuan yang sama tentang seberapa “dalam” suatu kompetensi harus dikuasai sebelum dianggap tuntas.

Revisi Taksonomi Bloom: Apa yang Berubah?

Ini bagian yang paling relevan untuk dijawab, sekaligus paling sering keliru dipahami: taksonomi yang hari ini jadi acuan RPP, kisi-kisi soal, dan dokumen kurikulum di Indonesia bukan versi asli terbitan 1956, melainkan hasil revisi tahun 2001 yang disusun oleh Lorin W. Anderson bersama David R. Krathwohl โ€” nama yang sama, yang dulu ikut menyusun versi asli sebagai murid sekaligus kolega Bloom (Anderson, Krathwohl, et al., 2001).

Ada tiga perubahan utama yang membedakan versi 2001 dari pendahulunya.

Pertama, label tiap level diubah dari kata benda menjadi kata kerja aktif. Versi 1956 memakai istilah seperti Pengetahuan, Pemahaman, Aplikasi, Analisis, Sintesis, dan Evaluasi. Di versi revisi, istilah-istilah itu diganti menjadi Mengingat, Memahami, Menerapkan, Menganalisis, Mengevaluasi, dan Mencipta. Perubahan yang terlihat sederhana ini sebenarnya berdampak besar secara praktis: karena levelnya kini berbentuk kata kerja, guru jadi punya acuan langsung untuk menyusun “kata kerja operasional” (KKO) di setiap tujuan pembelajaran โ€” istilah yang sekarang lazim ditemui di hampir semua template RPP dan modul ajar.

Kedua, urutan dua level teratas ditukar. Di versi lama, Sintesis berada di posisi kelima dan Evaluasi di posisi keenam sebagai level paling kompleks. Tim revisi menilai proses mencipta sesuatu yang baru โ€” menyusun elemen-elemen menjadi sebuah karya atau solusi orisinal โ€” sebenarnya menuntut kompleksitas berpikir yang lebih tinggi dibanding sekadar mengevaluasi. Karena itu, “Mencipta” (Create) dinaikkan menjadi level tertinggi, menggeser posisi “Mengevaluasi” ke urutan kelima.

Ketiga, dan ini yang paling sering luput dibahas: revisi 2001 menambahkan satu dimensi baru. Versi 1956 hanya berupa tangga satu arah โ€” dari sederhana ke kompleks. Versi 2001 membentuk matriks dua dimensi, memadukan Dimensi Proses Kognitif (enam level yang sudah disebutkan di atas) dengan Dimensi Pengetahuan yang terdiri dari empat jenis: faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif. Artinya, satu tujuan pembelajaran tidak cuma dipetakan berdasarkan “seberapa kompleks” prosesnya, tapi juga “jenis pengetahuan apa” yang sedang diukur โ€” sesuatu yang jauh lebih relevan untuk menyusun kisi-kisi soal yang presisi.

Berikut ringkasan perbandingannya:

UrutanTaksonomi Bloom 1956Taksonomi Revisi 2001
1 (terendah)PengetahuanMengingat
2PemahamanMemahami
3AplikasiMenerapkan
4AnalisisMenganalisis
5SintesisMengevaluasi
6 (tertinggi)EvaluasiMencipta

Catatan: kolom kanan dan kiri menunjukkan urutan tingkatan, bukan pasangan konsep yang setara maknanya. Secara konsep, “Sintesis” tetap paling dekat dengan “Mencipta” โ€” hanya posisinya yang naik dari urutan ke-5 menjadi urutan ke-6, sebagaimana dijelaskan di atas. Struktur satu dimensi (tangga proses) pada versi 1956 juga berubah menjadi dua dimensi (proses kognitif ร— jenis pengetahuan) pada versi 2001.

Infografis lengkap perjalanan dan revisi Taksonomi Bloom: garis waktu 1956 ranah kognitif, 1964 ranah afektif, 1966-1970an ranah psikomotor, revisi 2001 Anderson Krathwohl, tabel perbandingan Taksonomi Bloom 1956 vs revisi 2001, tiga perubahan utama, dan tiga ranah pembelajaran Kognitif Afektif Psikomotor

Versi revisi 2001 inilah yang jadi acuan standar C1 sampai C6 yang dipakai sehari-hari di RPP, kisi-kisi soal HOTS, dan dokumen kurikulum di Indonesia โ€” termasuk yang tersirat dalam kerangka Capaian Pembelajaran (CP) yang ditetapkan lewat Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025, tempat rumusan kompetensi disusun berjenjang dari kemampuan dasar ke kemampuan yang lebih kompleks.

Tiga Ranah dalam Taksonomi Bloom (Overview)

Selain tingkatan proses berpikir, Taksonomi Bloom sebenarnya mencakup tiga ranah pembelajaran yang saling melengkapi, bukan cuma satu.

Ranah Kognitif adalah yang paling akrab bagi kebanyakan praktisi pendidikan, karena berkaitan langsung dengan proses berpikir โ€” dari mengingat sampai mencipta. Ranah inilah yang paling sering dipakai sebagai basis penyusunan tujuan pembelajaran akademik dan soal ujian.

Ranah Afektif berkaitan dengan sikap, nilai, minat, dan cara peserta didik merespons secara emosional terhadap suatu pengalaman belajar โ€” misalnya kesediaan berpartisipasi, kesadaran menghargai pendapat teman, atau internalisasi nilai tertentu.

Ranah Psikomotor berkaitan dengan keterampilan fisik atau motorik, mulai dari peniruan gerakan dasar sampai kemampuan melakukan suatu keterampilan secara otomatis dan alami.

Ketiga ranah ini idealnya hadir berdampingan dalam satu rencana pembelajaran, meski porsinya bisa berbeda tergantung mata pelajaran. Pembahasan lengkap tingkatan tiap ranah beserta contoh penerapannya bisa dilihat di Tingkatan Taksonomi Bloom C1-C6 dan 3 Ranah Lengkap dengan Contoh.

FAQ Seputar Taksonomi Bloom

Apa itu taksonomi Bloom secara sederhana? Taksonomi Bloom adalah kerangka yang mengurutkan proses belajar dari yang paling dasar (mengingat) sampai yang paling kompleks (mencipta), dipakai sebagai acuan menyusun tujuan pembelajaran dan soal ujian dengan tingkat kesulitan yang terukur.

Siapa yang menciptakan taksonomi Bloom? Kerangka ini disusun oleh Benjamin Bloom bersama timnya โ€” Engelhart, Furst, Hill, dan Krathwohl โ€” dan diterbitkan pertama kali tahun 1956 untuk ranah kognitif. Ranah afektif dan psikomotor menyusul belakangan, disusun oleh kelompok penulis yang berbeda.

Apa bedanya taksonomi Bloom versi lama dan versi revisi? Versi lama (1956) memakai label kata benda dan hanya satu dimensi. Versi revisi (2001) memakai label kata kerja, menukar posisi “mencipta” jadi level tertinggi, dan menambahkan dimensi jenis pengetahuan โ€” sehingga bentuknya menjadi matriks dua dimensi, bukan sekadar tangga satu arah.

Apakah taksonomi Bloom masih relevan dipakai di Kurikulum Merdeka? Ya. Penyusunan tujuan pembelajaran dan KKTP di Kurikulum Merdeka tetap berpijak pada level kognitif dari taksonomi ini, termasuk dalam menerjemahkan capaian pembelajaran Kurikulum Merdeka menjadi tujuan pembelajaran yang lebih spesifik dan terukur di tiap fase.

Di mana bisa melihat daftar kata kerja operasional (KKO) tiap levelnya? Daftar lengkap KKO untuk tiap level kognitif, beserta contoh penerapannya di rumusan tujuan pembelajaran, bisa dilihat di daftar kata kerja operasional (KKO) Taksonomi Bloom.

Penutup

Setelah tujuan pembelajaran dan level kognitifnya jelas berdasarkan taksonomi ini, tantangan berikutnya biasanya bergeser ke eksekusi: bagaimana menyusun dan menjalankan soal dengan sebaran level yang benar-benar proporsional saat ujian sesungguhnya berlangsung, lalu membaca hasilnya secara cepat dan akurat. Di sinilah sistem ujian online berbasis CBT seperti e-ujian.id bisa membantu โ€” mulai dari pengelolaan bank soal per level kognitif sampai analisis hasil ujian per siswa, tanpa perlu rekap manual satu per satu.


Daftar Pustaka

  • Bloom, B.S., Engelhart, M.D., Furst, E.J., Hill, W.H., & Krathwohl, D.R. (1956). Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals. Handbook I: Cognitive Domain. New York: David McKay.
  • Krathwohl, D.R., Bloom, B.S., & Masia, B.B. (1964). Taxonomy of Educational Objectives, Handbook II: Affective Domain. New York: David McKay.
  • Anderson, L.W., Krathwohl, D.R., et al. (Eds.). (2001). A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. New York: Longman.
  • Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah (berlaku sejak 16 Juli 2025, menggantikan Kepka BSKAP Nomor 032/H/KR/2024).