Formative Assessment dan Summative Assessment: Pengertian, Perbedaan, Contoh, Manfaat, dan Perannya dalam Pembelajaran Modern

Hero ilustrasi formative summative assessment

Setiap kali guru memberi kuis singkat di tengah pelajaran, meminta siswa menulis refleksi, atau mengoreksi ujian akhir semester, sebenarnya guru sedang menjalankan dua fungsi penilaian yang sangat berbeda tapi sering tertukar: formative assessment dan summative assessment. Dua istilah ini terdengar sederhana, tetapi kesalahpahaman terhadap keduanya adalah salah satu penyebab utama mengapa penilaian di kelas sering terasa hanya menjadi formalitas administratif, bukan alat untuk membantu siswa belajar lebih baik.

Formative dan summative assessment merupakan bagian penting dari ekosistem digital assessment modern. Ketika sekolah dan kampus semakin mengandalkan sistem penilaian digital, memahami kapan harus menggunakan asesmen formatif dan kapan harus menggunakan asesmen sumatif menjadi keterampilan dasar yang wajib dikuasai setiap pendidik.

Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu formative assessment dan summative assessment, dari mana istilah ini berasal, bagaimana keduanya bekerja, bagaimana penerapannya dalam Kurikulum Merdeka di Indonesia, hingga bagaimana kaitannya dengan sistem penilaian digital masa depan.


1. Apa Itu Formative Assessment dan Summative Assessment?

Secara sederhana, formative assessment (asesmen formatif) adalah penilaian yang dilakukan selama proses belajar berlangsung, dengan tujuan memberi umpan balik agar guru dan siswa bisa memperbaiki proses belajar sebelum sampai ke hasil akhir. Sementara itu, summative assessment (asesmen sumatif) adalah penilaian yang dilakukan setelah satu periode belajar selesai, dengan tujuan mengukur sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai.

Perbedaan paling mendasar terletak pada fungsinya, bukan sekadar waktu pelaksanaannya:

  • Formative assessment berfungsi sebagai assessment for learning — penilaian untuk mendukung proses belajar.
  • Summative assessment berfungsi sebagai assessment of learning — penilaian untuk mengukur hasil belajar.

Ringkasan cepat:

AspekFormative AssessmentSummative Assessment
Kapan dilakukanSelama proses pembelajaranSetelah proses pembelajaran selesai
Tujuan utamaMemberi umpan balik untuk perbaikanMengukur ketercapaian tujuan belajar
Sifat nilaiTidak selalu masuk raporMasuk dalam nilai akhir/rapor
ContohKuis singkat, exit ticket, diskusi kelasPAS, PAT, TKA, ujian akhir
Risiko bagi siswaRendah, ruang untuk salahTinggi, menentukan kelulusan/nilai

Menariknya, satu bentuk penilaian yang sama — misalnya sebuah kuis — bisa berfungsi sebagai formatif atau sumatif, tergantung bagaimana hasilnya digunakan. Yang membedakan bukan alatnya, melainkan tujuan dan interpretasi datanya.


2. Mengapa Banyak Guru Masih Bingung Membedakannya?

Di lapangan, kekeliruan yang paling sering terjadi adalah menyamakan formatif dengan “ulangan harian” dan sumatif dengan “ujian besar”. Padahal, penilaian formatif dan sumatif tidak mengacu pada metode asesmennya, melainkan pada bagaimana hasil penilaian tersebut ditafsirkan dan digunakan untuk mendukung keputusan pembelajaran.

Kebingungan ini juga muncul dari sisi administratif. Di banyak sekolah, guru terbiasa memasukkan semua jenis nilai — termasuk nilai formatif — ke dalam rapor, padahal semestinya nilai formatif murni digunakan untuk evaluasi proses mengajar dan memperbaiki pemahaman siswa di tengah materi, bukan untuk penilaian akhir. Yang seharusnya masuk ke nilai akhir hanyalah hasil asesmen sumatif, baik dalam lingkup materi maupun akhir semester.

Miskonsepsi lain yang cukup umum: guru menganggap asesmen diagnostik dan formatif sebagai hal yang sama. Padahal keduanya berbeda tahap — diagnostik dilakukan di awal pembelajaran untuk memetakan kesiapan siswa, sedangkan formatif dilakukan selama pembelajaran berlangsung untuk memantau perkembangan. Sebelum formative assessment dilakukan, guru sering menggunakan diagnostic assessment untuk memetakan kemampuan awal siswa terlebih dahulu.

Riset pada jenjang PAUD di Indonesia bahkan menemukan bahwa sebagian guru belum sepenuhnya memahami esensi penilaian formatif, dengan kendala utama berupa keterbatasan waktu dan kesulitan mendokumentasikan perkembangan anak secara langsung saat kejadian berlangsung.


3. Sejarah Perkembangan Konsep Formative dan Summative Assessment

Istilah “formative” dan “summative” pertama kali diperkenalkan bukan dalam konteks penilaian siswa, melainkan dalam konteks evaluasi kurikulum. Filsuf pendidikan Michael Scriven memperkenalkan kedua istilah ini dalam esainya yang terbit tahun 1967, The Methodology of Evaluation. Scriven membedakan dua peran evaluasi: peran pertama membantu perbaikan kurikulum yang sedang berjalan (formatif), dan peran kedua membantu administrator memutuskan apakah sebuah kurikulum yang sudah selesai dikembangkan layak diadopsi secara luas (sumatif).

Setahun kemudian, Benjamin Bloom memperluas penggunaan istilah ini dari sekadar evaluasi kurikulum menjadi evaluasi atau asesmen terhadap pembelajaran siswa, melalui karyanya tentang mastery learning. Sejak saat itu, istilah formative dan summative mulai lekat dengan dunia penilaian kelas seperti yang kita kenal sekarang.

Titik balik penting terjadi pada tahun 1998, ketika Paul Black dan Dylan Wiliam menerbitkan artikel berjudul “Inside the Black Box: Raising Standards Through Classroom Assessment” di jurnal Phi Delta Kappan. Artikel ini merangkum tinjauan atas lebih dari 250 studi dan menyimpulkan bahwa penguatan praktik asesmen formatif di kelas dapat menghasilkan peningkatan capaian belajar siswa dengan besaran efek (effect size) berkisar 0,4 hingga 0,7 — sebuah angka yang tergolong besar dalam riset pendidikan. Studi ini menjadi salah satu rujukan paling berpengaruh yang mendorong gerakan Assessment for Learning di seluruh dunia, termasuk memengaruhi arah kebijakan asesmen di Indonesia melalui semangat Kurikulum Merdeka.


4. Apa Perbedaan Formative Assessment dan Summative Assessment?

Berikut pemetaan perbedaan yang lebih rinci antara keduanya:

AspekFormative AssessmentSummative Assessment
TujuanMemperbaiki proses belajar-mengajarMengukur hasil akhir belajar
Waktu pelaksanaanSelama proses pembelajaran berlangsungDi akhir periode/materi/semester
FokusUmpan balik (feedback)Nilai/skor akhir
Sifat hasilKualitatif, deskriptifKuantitatif, berupa angka
Risiko bagi siswaRendah — ruang aman untuk mencoba dan salahTinggi — memengaruhi nilai rapor/kelulusan
FrekuensiSering, berkelanjutanJarang, di titik-titik tertentu
Contoh instrumenKuis singkat, exit ticket, tanya jawab, observasiPAS, PAT, ujian sekolah, TKA
Pemilik prosesGuru dan siswa bersama-samaUmumnya guru/institusi

Perbedaan yang paling sering luput dari perhatian adalah soal risiko. Asesmen formatif dirancang agar siswa boleh salah tanpa konsekuensi besar, karena tujuannya adalah membangun pemahaman secara bertahap. Sebaliknya, asesmen sumatif memiliki bobot lebih tinggi karena hasilnya berdampak langsung pada nilai akhir maupun keputusan akademik siswa.

Kapan Menggunakan Setiap Jenis Assessment?

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul di ruang guru adalah kapan sebaiknya diagnostik, formatif, atau sumatif digunakan. Berikut panduan singkatnya:

SituasiJenis AssessmentTujuan
Sebelum masuk materi baruDiagnosticMemetakan kesiapan dan kemampuan awal siswa
Selama proses belajar berlangsungFormativeMemberi umpan balik untuk memperbaiki proses belajar
Setelah satu lingkup materi atau periode belajar selesaiSummativeMengukur ketercapaian tujuan pembelajaran

Sebagai patokan cepat: gunakan diagnostik untuk bertanya di mana siswa berada, formatif untuk membantu siswa bergerak maju, dan sumatif untuk memastikan siswa sudah sampai.


5. Mengapa Keduanya Sama Penting?

Ada kecenderungan di banyak sekolah untuk menganggap asesmen sumatif lebih penting karena hasilnya “terlihat” dalam bentuk angka di rapor. Padahal, riset justru menunjukkan hal sebaliknya. Kajian Black dan Wiliam menegaskan bahwa penguatan formative assessment adalah salah satu intervensi paling efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa, bahkan dibandingkan banyak intervensi pendidikan lain yang jauh lebih mahal dan rumit untuk diterapkan.

Filosofi ini pula yang mendasari arah kebijakan asesmen dalam Kurikulum Merdeka. Pemerintah secara eksplisit mendorong guru untuk memberi porsi lebih besar pada asesmen formatif dibandingkan sumatif, dan memanfaatkan hasil asesmen formatif untuk perbaikan proses pembelajaran secara berkelanjutan — bukan sekadar mengejar angka di akhir semester.

Dengan kata lain, summative assessment menjawab pertanyaan “Apakah siswa sudah mencapai tujuan belajar?”, sementara formative assessment menjawab pertanyaan yang jauh lebih penting bagi proses belajar itu sendiri: “Apa yang perlu diperbaiki sebelum siswa sampai ke titik penilaian akhir?” Keduanya saling melengkapi, bukan saling menggantikan.


6. Bagaimana Kondisi Assessment di Indonesia Saat Ini?

Perdebatan tentang formative dan summative assessment bukan sekadar teori dari luar negeri — angka-angka di Indonesia sendiri menunjukkan mengapa pergeseran ke arah asesmen formatif ini genting dilakukan.

Hasil PISA 2022 mencatat skor siswa Indonesia berusia 15 tahun berada di angka 366 untuk matematika, 359 untuk membaca, dan 383 untuk sains — ketiganya turun dibandingkan PISA 2018 dan jauh di bawah rata-rata negara OECD. Yang lebih mengkhawatirkan, proporsi siswa Indonesia dengan capaian di bawah level kompetensi minimum tergolong salah satu yang tertinggi di antara negara peserta, sementara proporsi siswa berkinerja tinggi termasuk yang terendah. Data ini menjadi salah satu alasan mengapa kebijakan asesmen nasional bergeser dari sekadar mengukur hasil akhir menuju penguatan proses belajar melalui asesmen formatif.

Di sisi lain, data dalam negeri menunjukkan tren yang lebih menjanjikan. Rapor Pendidikan mencatat proporsi siswa yang mencapai kompetensi minimum literasi meningkat dari sekitar 59% pada 2022 menjadi sekitar 70% pada 2024, sementara kompetensi minimum numerasi naik dari sekitar 45% menjadi sekitar 68% pada periode yang sama. Kemendikbud turut mencatat bahwa satuan pendidikan yang sudah lebih lama menerapkan Kurikulum Merdeka — dengan penekanan pada asesmen formatif dan pembelajaran berdiferensiasi — menunjukkan peningkatan literasi dan numerasi yang lebih tinggi dibandingkan yang masih menerapkan kurikulum sebelumnya.

Meski demikian, kesenjangan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Sebagian anak Indonesia — terutama di banyak wilayah Indonesia timur — masih kesulitan memahami teks sederhana atau menyelesaikan soal matematika kontekstual dasar sesuai jenjangnya, dan capaian antarwilayah masih jauh dari merata. Kombinasi data PISA dan Asesmen Nasional ini menegaskan satu benang merah: peningkatan hasil belajar di Indonesia tidak akan banyak terbantu hanya dengan memperbanyak ujian akhir, melainkan dengan memperkuat umpan balik selama proses belajar berlangsung — persis fungsi yang diemban oleh formative assessment.


7. Bagaimana Cara Kerja Formative Assessment?

Formative assessment bekerja sebagai siklus berulang yang terintegrasi langsung dengan proses belajar-mengajar:

Belajar
   ↓
Assessment (kuis singkat, tanya jawab, observasi)
   ↓
Feedback (umpan balik dari guru/teman sebaya)
   ↓
Perbaikan (revisi pemahaman/strategi belajar)
   ↓
Belajar Lagi

Siklus ini bisa terjadi berkali-kali dalam satu kali pertemuan. Misalnya, guru bisa memulai kelas dengan pertanyaan pemantik untuk mengetahui pemahaman awal siswa, kemudian di tengah pelajaran memberikan kuis dua tingkat (jawaban plus alasan) untuk mendeteksi miskonsepsi, lalu menutup kelas dengan exit ticket untuk memastikan target pembelajaran hari itu tercapai. Pendekatan semacam ini memungkinkan guru mendeteksi kesalahpahaman siswa sejak dini, alih-alih menunggu hasil ulangan akhir untuk mengetahuinya — saat perbaikan sudah terlambat dilakukan.

Dalam praktik modern, formative assessment dapat dilakukan melalui CBT maupun ujian online, yang memungkinkan guru mendapatkan umpan balik secara instan tanpa harus mengoreksi manual satu per satu.


8. Bagaimana Cara Kerja Summative Assessment?

Berbeda dengan formative assessment yang bersifat siklikal, summative assessment bersifat linear dan berada di titik akhir sebuah periode belajar:

Belajar
   ↓
Ujian/Penilaian Akhir
   ↓
Nilai
   ↓
Keputusan Akademik (kenaikan kelas, kelulusan, seleksi lanjutan)

Karena sifatnya yang menjadi dasar keputusan akademik, pelaksanaan summative assessment umumnya lebih terstandardisasi, memiliki bobot yang jelas, dan dirancang agar hasilnya bisa dipertanggungjawabkan secara objektif. Pendidik perlu membagi asesmen sumatif ke dalam beberapa kegiatan penilaian agar siswa dapat mengerjakannya dalam kondisi yang optimal, tidak terburu-buru, dan tidak menumpuk dalam waktu yang berdekatan.


9. Contoh Formative Assessment di Sekolah Indonesia

Beberapa bentuk asesmen formatif yang umum diterapkan di kelas-kelas Indonesia:

  • Kuis singkat di awal atau tengah pelajaran untuk mengecek pemahaman
  • Exit ticket — pertanyaan singkat di akhir kelas sebelum siswa pulang
  • Diskusi kelas dan tanya jawab interaktif
  • Refleksi belajar — siswa menuliskan apa yang sudah dan belum dipahami
  • Polling digital atau kuis interaktif berbasis aplikasi
  • Observasi guru terhadap partisipasi dan proses kerja siswa
  • Peta konsep atau pertanyaan prediksi sebelum praktikum

Ciri khas semua bentuk ini adalah hasilnya tidak dimaksudkan untuk masuk ke dalam nilai rapor, melainkan sebagai bahan guru merancang ulang strategi mengajar dan bahan siswa memperbaiki cara belajarnya.


10. Contoh Summative Assessment

Sementara itu, bentuk-bentuk asesmen sumatif yang lazim ditemui di sekolah Indonesia meliputi:

  • PAS (Penilaian Akhir Semester)
  • PAT (Penilaian Akhir Tahun)
  • Ujian Sekolah
  • TKA (Tes Kemampuan Akademik) — asesmen standar nasional yang mulai diberlakukan bertahap sejak November 2025 untuk jenjang SMA/SMK, dan menyusul jenjang SD serta SMP pada tahun 2026, sebagai pengganti Ujian Nasional yang sebelumnya telah dihapus dan digantikan Asesmen Nasional

TKA sendiri dirancang bukan untuk menentukan kelulusan siswa secara langsung, melainkan sebagai alat pemetaan capaian akademik yang terstandar dan objektif antarsatuan pendidikan, sekaligus salah satu komponen pertimbangan dalam seleksi ke jenjang pendidikan berikutnya. Kehadiran TKA menegaskan bahwa arah kebijakan asesmen nasional tetap membutuhkan bentuk sumatif yang terstandar, sekalipun filosofi pembelajaran sehari-hari makin condong ke asesmen formatif.


11. Apakah Formative Assessment Benar-Benar Efektif? Melihat Bukti Risetnya

Klaim bahwa formative assessment efektif bukan sekadar opini pedagogis, melainkan didukung oleh salah satu riset paling berpengaruh dalam dunia pendidikan. Dalam Inside the Black Box (1998), Paul Black dan Dylan Wiliam meninjau ratusan studi empiris dan menyimpulkan bahwa penguatan praktik formatif di kelas — seperti pemberian umpan balik yang berkualitas, keterlibatan siswa dalam penilaian diri, dan penyesuaian strategi mengajar berdasarkan bukti belajar — secara konsisten menghasilkan peningkatan capaian belajar yang signifikan, dengan manfaat yang paling besar dirasakan oleh siswa dengan capaian rendah.

Temuan ini penting karena membantah asumsi lama bahwa penilaian hanya berfungsi sebagai alat pengukuran di akhir proses. Justru sebaliknya: penilaian yang dilakukan di tengah proses belajar, ketika masih ada ruang untuk memperbaiki arah pengajaran, memberikan dampak yang jauh lebih besar terhadap hasil belajar siswa dibandingkan penilaian yang hanya dilakukan di ujung proses.


12. Bagaimana Kurikulum Merdeka Memandang Formative Assessment?

Kurikulum Merdeka membawa perubahan paradigma penilaian yang cukup signifikan dibandingkan Kurikulum 2013. Berdasarkan Panduan Pembelajaran dan Asesmen yang diterbitkan Kemendikbudristek, terdapat tiga jenis asesmen utama: diagnostik, formatif, dan sumatif.

  • Asesmen diagnostik dilakukan di awal pembelajaran atau awal sub-materi, bertujuan mengidentifikasi kompetensi, kekuatan, dan kelemahan siswa sebagai dasar merancang pembelajaran. Asesmen ini terbagi menjadi diagnostik kognitif dan non-kognitif.
  • Asesmen formatif dilakukan sebelum dan selama proses pembelajaran, berfungsi memberi umpan balik bagi guru maupun siswa untuk memperbaiki proses belajar. Dalam Kurikulum Merdeka, asesmen formatif secara eksplisit mendapat porsi yang lebih besar dibandingkan sumatif.
  • Asesmen sumatif dilakukan setelah satu atau lebih lingkup materi selesai diajarkan, bertujuan memastikan ketercapaian tujuan pembelajaran, dan hasilnya menjadi bagian dari perhitungan nilai di rapor.

Perbedaan penting lainnya: hasil asesmen diagnostik dan formatif pada Kurikulum Merdeka umumnya dilaporkan secara kualitatif (deskripsi), sementara hasil asesmen sumatif dilaporkan secara kuantitatif (angka). Perubahan paradigma ini merupakan pergeseran dari kebiasaan lama, di mana pelaksanaan penilaian cenderung berfokus pada asesmen sumatif sebagai satu-satunya acuan pengisian rapor, sementara hasil asesmen lain jarang dimanfaatkan sebagai umpan balik perbaikan pembelajaran.

Fleksibilitas lain yang diberikan Kurikulum Merdeka adalah bentuk asesmen sumatif tidak harus selalu berupa tes tertulis. Guru diberi keleluasaan menentukan bentuk sumatif yang paling sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, mulai dari produk (makalah, karya), praktik (presentasi, unjuk kerja), hingga portofolio.


13. Hubungan Formative Assessment dengan Diagnostic Assessment

Ketiga jenis asesmen dalam Kurikulum Merdeka — diagnostik, formatif, dan sumatif — sebenarnya membentuk satu alur yang saling berkaitan, bukan tiga hal yang berdiri sendiri. Alurnya dimulai dari asesmen diagnostik untuk memetakan kesiapan awal siswa, dilanjutkan dengan asesmen formatif untuk memantau proses belajar sekaligus menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, dan diakhiri dengan asesmen sumatif untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran.

Baik asesmen diagnostik maupun formatif sama-sama tergolong sebagai Assessment for Learning — penilaian yang mendukung keputusan yang diambil sebelum atau selama pembelajaran berlangsung. Kesamaan fungsi inilah yang membuat banyak guru sulit membedakan keduanya, padahal titik pelaksanaannya berbeda: diagnostik di awal, formatif berkelanjutan selama proses. Pembahasan lebih rinci mengenai asesmen ini dapat dibaca pada artikel Diagnostic Assessment.


14. Hubungan dengan Digital Assessment

Transformasi digital dalam dunia pendidikan mengubah cara formative dan summative assessment dijalankan. Yang dulunya membutuhkan waktu berhari-hari untuk mengoreksi manual, kini bisa mendapatkan umpan balik secara instan melalui sistem digital assessment. Guru dapat memantau perkembangan siswa secara real-time, sementara siswa mendapatkan umpan balik yang lebih cepat — sesuatu yang menjadi inti dari efektivitas asesmen formatif itu sendiri.

Digitalisasi ini juga mempermudah pengelolaan asesmen sumatif berskala besar, seperti PAS, PAT, hingga TKA, yang membutuhkan standar pelaksanaan yang konsisten di banyak satuan pendidikan sekaligus. Kualitas soal yang digunakan dalam kedua jenis asesmen ini pun sangat bergantung pada ketersediaan bank soal digital yang terkelola dengan baik, serta proses analisis butir soal untuk memastikan setiap soal benar-benar mengukur kompetensi yang dituju. Tuntutan kurikulum yang mendorong keterampilan berpikir tingkat tinggi juga membuat kedua jenis asesmen ini semakin sering diintegrasikan dengan pendekatan HOTS Assessment.


15. Masa Depan Formative dan Summative Assessment

Ke depan, batas antara formative dan summative assessment kemungkinan akan semakin cair berkat dukungan teknologi. Sistem learning analytics memungkinkan guru membaca pola belajar siswa dari waktu ke waktu, bukan hanya dari satu titik penilaian, sehingga asesmen formatif bisa dilakukan secara lebih presisi dan berkelanjutan berdasarkan data, bukan sekadar intuisi.

Perkembangan lebih jauh mengarah pada peran AI Assessment dalam pendidikan, di mana sistem kecerdasan buatan berpotensi membantu guru memberikan umpan balik personal secara instan kepada setiap siswa, sekaligus membantu menyusun asesmen sumatif yang lebih adaptif terhadap tingkat kemampuan masing-masing siswa. Arah ini sejalan dengan semangat TKA yang menekankan literasi, numerasi, dan penalaran sebagai fondasi utama penilaian, alih-alih sekadar hafalan.

Infografis assessment pembelajaran modern

16. Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Apa perbedaan paling mendasar antara formative dan summative assessment? Formative assessment dilakukan selama proses belajar untuk memberi umpan balik perbaikan, sementara summative assessment dilakukan di akhir proses belajar untuk mengukur hasil akhir.

2. Apakah nilai formative assessment harus masuk ke rapor? Tidak. Nilai formatif murni digunakan sebagai bahan evaluasi proses mengajar dan perbaikan pemahaman siswa. Yang dimasukkan ke nilai akhir rapor adalah hasil asesmen sumatif.

3. Apakah ulangan harian termasuk formative assessment? Belum tentu. Statusnya tergantung bagaimana hasilnya digunakan — jika hanya untuk memantau pemahaman dan memperbaiki proses belajar, itu formatif. Jika hasilnya dijadikan komponen nilai akhir, itu sudah bergeser fungsi menjadi sumatif.

4. Apakah formative assessment lebih penting daripada summative assessment? Keduanya sama pentingnya, tetapi riset menunjukkan formative assessment memberi dampak yang sangat besar terhadap peningkatan hasil belajar karena memungkinkan perbaikan dilakukan sebelum terlambat.

5. Apa bedanya asesmen diagnostik dan asesmen formatif? Asesmen diagnostik dilakukan di awal pembelajaran untuk memetakan kesiapan siswa, sedangkan asesmen formatif dilakukan secara berkelanjutan selama proses pembelajaran berlangsung.

6. Bagaimana Kurikulum Merdeka mengatur porsi asesmen formatif dan sumatif? Kurikulum Merdeka mendorong guru memberi porsi lebih besar pada asesmen formatif dibandingkan sumatif, agar proses belajar lebih diutamakan daripada sekadar mengejar angka akhir.

7. Apakah TKA termasuk summative assessment? Ya. TKA adalah bentuk asesmen sumatif berskala nasional yang mengukur capaian akademik siswa di akhir jenjang tertentu, meskipun sifatnya tidak menentukan kelulusan secara langsung.

8. Apakah asesmen sumatif harus selalu berbentuk tes tertulis? Tidak. Dalam Kurikulum Merdeka, asesmen sumatif bisa berbentuk produk, praktik, atau portofolio, tergantung karakteristik mata pelajaran.

9. Siapa yang pertama kali memperkenalkan istilah formative dan summative? Michael Scriven memperkenalkan istilah ini pada 1967 dalam konteks evaluasi kurikulum, sebelum kemudian diperluas oleh Benjamin Bloom ke ranah asesmen siswa.

10. Bagaimana teknologi digital mengubah pelaksanaan formative dan summative assessment? Teknologi digital mempercepat proses pemberian umpan balik pada asesmen formatif dan mempermudah standardisasi pelaksanaan asesmen sumatif berskala besar melalui sistem seperti CBT dan ujian online.

11. Apakah asesmen formatif harus diberi nilai? Tidak harus. Asesmen formatif pada dasarnya berfungsi sebagai umpan balik proses, bukan komponen utama nilai rapor, sehingga hasilnya lebih sering dilaporkan secara kualitatif (deskripsi capaian, kekuatan, dan hal yang perlu diperbaiki) daripada berupa angka. Jika guru tetap memberi skor pada asesmen formatif, skor tersebut idealnya digunakan sebagai bahan refleksi dan penyesuaian pembelajaran, bukan digabung langsung ke dalam nilai akhir semester.

12. Berapa kali asesmen formatif dilakukan dalam Kurikulum Merdeka? Tidak ada jumlah baku yang ditetapkan secara nasional. Kurikulum Merdeka memberi keleluasaan kepada guru dan satuan pendidikan untuk menentukan frekuensinya sendiri, dengan prinsip dilakukan secara berkala dan berkelanjutan selama proses pembelajaran berlangsung — bisa beberapa kali dalam satu pertemuan, maupun tersebar di sepanjang satu lingkup materi — menyesuaikan kebutuhan siswa dan karakteristik mata pelajaran.


17. Kesimpulan

Formative assessment membantu siswa belajar lebih baik dengan memberi ruang untuk memperbaiki pemahaman selama proses belajar berlangsung, sedangkan summative assessment membantu sekolah dan sistem pendidikan mengukur sejauh mana tujuan belajar telah tercapai. Pendidikan modern — apalagi dalam semangat Kurikulum Merdeka dan era digital assessment — membutuhkan keduanya secara seimbang, bukan memilih salah satu.

Pemahaman yang keliru terhadap kedua istilah ini bukan sekadar persoalan teknis administratif, melainkan berpotensi menghilangkan fungsi paling penting dari penilaian itu sendiri: membantu siswa belajar, bukan sekadar menghakimi hasil akhirnya.

Dalam praktik pendidikan modern, assessment bukan lagi sekadar alat mengukur hasil belajar. Diagnostic assessment membantu guru mengetahui titik awal siswa, formative assessment membantu memperbaiki proses belajar di sepanjang jalan, sedangkan summative assessment memastikan tujuan pembelajaran benar-benar tercapai di ujungnya. Ketiganya membentuk satu siklus assessment yang saling melengkapi — dan siklus inilah yang menjadi fondasi pembelajaran berbasis data di era digital.


Referensi

  1. Scriven, M. (1967). The Methodology of Evaluation. In R. W. Tyler, R. M. Gagné, & M. Scriven (Eds.), Perspectives of Curriculum Evaluation (pp. 39–83). Chicago: Rand McNally.
  2. Black, P., & Wiliam, D. (1998). Inside the Black Box: Raising Standards Through Classroom Assessment. Phi Delta Kappan, 80(2), 139–148.
  3. Black, P., & Wiliam, D. (1998). Assessment and Classroom Learning. Assessment in Education, 5(1), 7–74.
  4. Kemendikbudristek RI. (2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen (Jenjang PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah). Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan.
  5. Mujiburrahman, dkk. (2023). Asesmen Pembelajaran Sekolah Dasar dalam Kurikulum Merdeka. ResearchGate.
  6. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI. (2025). Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2025 tentang Tes Kemampuan Akademik (TKA).
  7. Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP). (2025). Perka BSKAP Nomor 47 Tahun 2025 tentang Kerangka Asesmen TKA Jenjang SD/MI dan SMP/MTs.
  8. Laman resmi Tes Kemampuan Akademik Kemendikdasmen — tka.kemendikdasmen.go.id.
  9. OECD. (2023). PISA 2022 Results: Country Note — Indonesia. Diakses melalui rilis resmi Kemendikbudristek, Desember 2023.
  10. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI. (2024–2025). Rapor Pendidikan 2022–2024 — hasil Asesmen Nasional (Asesmen Kompetensi Minimum, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar). Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan.