Cara Membuat Kisi-Kisi Soal dengan AI: Panduan Lengkap Guru Membuat Blueprint Asesmen Lebih Cepat

Ilustrasi Cara membuat kisi kisi soal dengan ai

Modul ajar sudah selesai disusun. Materi pembelajaran sudah rapi. Tujuan pembelajaran sudah jelas di kepala. Tetapi begitu seorang guru duduk untuk mulai membuat soal ulangan harian atau penilaian sumatif, pertanyaan-pertanyaan kecil mulai muncul satu per satu.

Indikator apa saja yang sebenarnya harus diukur dari materi ini? Berapa jumlah soal yang proporsional untuk setiap sub-materi? Mana yang harus HOTS (Higher Order Thinking Skills), mana yang cukup LOTS (Lower Order Thinking Skills)? Apakah sebaran soal ini sudah benar-benar mencerminkan Capaian Pembelajaran (CP), atau hanya soal yang “terpikirkan saat itu”?

Tanpa disadari, banyak guru justru menghabiskan waktu lebih lama untuk merancang kerangka soal dibanding menulis soal itu sendiri. Soal ditulis dulu, baru kemudian dicocok-cocokkan dengan indikator โ€” padahal urutannya seharusnya terbalik.

Di sinilah AI untuk Guru memainkan peran yang sering terlewat. Sebelum bicara soal AI membuatkan soal, ada satu tahap yang jauh lebih fundamental: AI membantu guru menyusun kisi-kisi soal, yaitu blueprint atau rancangan asesmen yang menjadi peta jalan sebelum satu pertanyaan pun ditulis.

Artikel ini akan membahas tuntas bagaimana memanfaatkan AI untuk menyusun kisi-kisi soal yang sistematis, sesuai Kurikulum Merdeka, dan benar-benar bisa dipakai sebagai dasar pembuatan soal โ€” lengkap dengan contoh prompt, langkah kerja, dan kesalahan umum yang perlu dihindari.


1. Mengapa Guru Perlu Membuat Kisi-Kisi dengan AI?

Kisi-kisi soal bukan formalitas administratif. Ia adalah instrumen yang memastikan sebuah tes benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur โ€” bukan sekadar kumpulan pertanyaan yang “terasa pas” menurut guru yang membuatnya.

Secara regulasi, penyusunan asesmen di Indonesia diatur melalui Permendikbudristek Nomor 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Peraturan ini menegaskan bahwa penilaian hasil belajar peserta didik harus dilakukan secara berkeadilan, objektif, dan edukatif โ€” artinya penilaian harus didasarkan pada informasi faktual atas pencapaian peserta didik, bukan penilaian yang bias atau asal dibuat. Kisi-kisi adalah alat utama untuk memenuhi prinsip objektif tersebut, karena ia memaksa guru merancang soal berdasarkan indikator yang jelas, bukan berdasarkan “perasaan” saat menulis soal.

Masalahnya, menyusun kisi-kisi secara manual memakan waktu. Guru harus memetakan CP ke dalam indikator, menentukan level kognitif tiap indikator, menghitung proporsi jumlah soal per sub-materi, lalu memastikan semuanya seimbang antara soal mudah, sedang, dan sulit. Proses ini idealnya dilakukan sebelum menulis satu soal pun โ€” tetapi pada praktiknya, banyak guru melewatkannya karena keterbatasan waktu.

Sebuah studi yang dipublikasikan di Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan (Hanis & Wahyudin, 2024) terhadap pemanfaatan AI dalam penyusunan asesmen pembelajaran oleh guru sekolah dasar menemukan bahwa dari sepuluh indikator pemanfaatan AI yang diukur, mayoritas guru masih berada pada kategori “kadang-kadang” menggunakan AI dalam merencanakan asesmen formatif maupun sumatif โ€” dengan persentase pemanfaatan berkisar 45โ€“60%, dan hanya satu indikator yang mencapai kategori “sering”. Artinya, potensi AI untuk membantu tahap perencanaan asesmen โ€” termasuk penyusunan kisi-kisi โ€” masih jauh dari dimanfaatkan secara maksimal oleh guru di lapangan.

Di sinilah AI bisa menjadi jembatan. Bukan untuk menggantikan proses berpikir guru, tetapi untuk mempercepat pekerjaan administratif dan terstruktur: memetakan indikator dari CP, mengelompokkan level kognitif, hingga menghitung proporsi soal. Dengan begitu, waktu guru bisa lebih banyak dialokasikan untuk hal yang benar-benar membutuhkan penilaian profesional manusia โ€” memvalidasi apakah blueprint tersebut sudah relevan dengan kondisi kelas yang sesungguhnya.

Manfaat konkret dari menyusun kisi-kisi dengan bantuan AI antara lain:

  • Menghemat waktu. Proses pemetaan CP ke indikator dan level kognitif yang biasanya memakan waktu berjam-jam bisa dipangkas menjadi hitungan menit untuk draf awal.
  • Menjaga kesesuaian dengan CP. AI dapat membantu memastikan setiap indikator benar-benar merujuk pada Capaian Pembelajaran, bukan sekadar “terasa relevan”.
  • Menjaga proporsi soal. AI dapat menghitung dan menyarankan distribusi jumlah soal antar materi maupun antar level kognitif secara lebih seimbang.
  • Membantu proses validasi. Dengan kisi-kisi yang terstruktur rapi, guru lebih mudah memeriksa ulang apakah soal yang nanti dibuat benar-benar selaras dengan rancangan awal.

Titik awal proses ini sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum kisi-kisi disusun โ€” yaitu sejak guru menyiapkan modul ajar dan menyusun materi pembelajaran. Kisi-kisi pada dasarnya adalah jembatan yang menghubungkan apa yang sudah direncanakan di modul ajar dengan apa yang nanti akan diukur lewat soal.


2. Apa Itu Kisi-Kisi Soal? Memahami Konsepnya Terlebih Dahulu

Sebelum masuk ke teknis penggunaan AI, penting untuk menyamakan pemahaman: kisi-kisi soal bukan soal, dan bukan pula bank soal.

Banyak guru menganggap kisi-kisi hanyalah tabel administrasi yang diminta sekolah untuk dilampirkan bersama soal. Padahal fungsi utamanya jauh lebih penting dari itu: kisi-kisi memastikan setiap soal yang nanti ditulis benar-benar mengukur kompetensi yang ingin dicapai โ€” bukan sekadar pertanyaan yang terasa relevan saat itu.

Kisi-kisi soal adalah blueprint atau rancangan yang memuat gambaran menyeluruh tentang bagaimana sebuah asesmen akan disusun, sebelum pertanyaan-pertanyaan konkret dituliskan. Ia berfungsi seperti cetak biru arsitek sebelum sebuah rumah dibangun โ€” belum berupa bangunan, tetapi memuat semua informasi yang dibutuhkan agar bangunan tersebut berdiri dengan benar.

Secara umum, komponen yang termuat dalam sebuah kisi-kisi soal meliputi:

KomponenIsi
Kompetensi / Capaian PembelajaranCP atau kompetensi dasar yang menjadi acuan materi
MateriPokok bahasan yang akan diujikan
Indikator SoalRumusan perilaku terukur yang menunjukkan pencapaian kompetensi
Level Kognitif (Bloom)Tingkat berpikir yang diukur โ€” mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, atau mencipta
Jumlah SoalBerapa banyak soal dialokasikan untuk indikator/materi tersebut
Bentuk SoalPilihan ganda, uraian, isian singkat, atau bentuk lainnya

Dengan struktur seperti ini, kisi-kisi memaksa guru untuk berpikir sistematis sejak awal: apa yang mau diukur, seberapa dalam pengukurannya, dan berapa proporsinya โ€” sebelum satu kalimat soal pun ditulis.


3. Perbedaan Kisi-Kisi dan Soal: Mengapa Ini Penting Dipahami

Banyak guru โ€” dan sayangnya juga banyak konten di internet โ€” mencampuradukkan antara “membuat kisi-kisi” dengan “membuat soal”. Padahal keduanya adalah dua tahap yang berbeda, dengan tujuan yang berbeda pula.

AspekKisi-KisiSoal
SifatBlueprint / rancanganOutput akhir
IsiBelum berisi pertanyaan konkretSudah berupa pertanyaan yang siap diujikan
FungsiDipakai untuk merancang asesmenDipakai untuk mengukur siswa secara langsung
FokusIndikator, level kognitif, proporsiKalimat pertanyaan, opsi jawaban, kunci jawaban
Waktu penyusunanSebelum soal dibuatSetelah kisi-kisi disepakati

Memahami perbedaan ini penting bukan hanya secara pedagogis, tetapi juga secara praktis: kisi-kisi yang matang akan sangat mempercepat proses membuat soal dengan AI di tahap berikutnya, karena AI (dan guru) tidak perlu lagi menebak-nebak indikator apa yang harus diukur โ€” semuanya sudah terpetakan sejak awal.


4. Apa yang Bisa โ€” dan Tidak Bisa โ€” Dilakukan AI dalam Menyusun Kisi-Kisi?

AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, atau Claude bisa menjadi asisten yang sangat membantu dalam menyusun kisi-kisi, tetapi penting untuk memahami batasannya sejak awal agar penggunaannya tepat sasaran.

Yang bisa dibantu AI:

  • โœ” Membuat draf rumusan indikator soal berdasarkan CP dan materi yang diberikan
  • โœ” Mengelompokkan CP ke dalam sub-materi yang lebih spesifik
  • โœ” Menyarankan level kognitif (Bloom) yang sesuai untuk tiap indikator
  • โœ” Menyarankan bentuk soal yang cocok (pilihan ganda, uraian, dsb.) untuk setiap indikator
  • โœ” Menghitung dan menyarankan distribusi jumlah soal antar materi dan antar level kognitif
  • โœ” Menyusun draf tabel kisi-kisi dalam format yang rapi dan siap diedit

Yang tetap menjadi keputusan guru:

  • โœ˜ Menentukan bobot final tiap materi berdasarkan konteks kelas yang sesungguhnya (misalnya materi yang sulit dipahami siswa tahun ini)
  • โœ˜ Memutuskan apakah proporsi HOTS-LOTS sudah relevan dengan kemampuan aktual peserta didik
  • โœ˜ Memvalidasi keakuratan pemetaan CP โ€” karena AI bisa saja salah menafsirkan cakupan sebuah CP jika instruksinya kurang spesifik
  • โœ˜ Keputusan akademik akhir tentang standar kelulusan atau ketuntasan

Singkatnya: AI bekerja sangat baik sebagai “asisten yang menyusun draf”, tetapi keputusan akademik tetap sepenuhnya berada di tangan guru sebagai pihak yang memahami konteks kelasnya secara langsung.


5. Cara Membuat Kisi-Kisi Soal dengan AI: Langkah demi Langkah

Berikut alur kerja praktis yang bisa diikuti guru, dari titik awal hingga kisi-kisi siap dipakai.

Langkah 1 โ€” Tentukan Capaian Pembelajaran (CP)

Mulailah dengan CP yang relevan untuk fase dan mata pelajaran yang diajarkan. CP inilah yang menjadi “sumber kebenaran” โ€” semua indikator yang nanti dirumuskan harus bisa ditelusuri kembali ke CP ini.

Langkah 2 โ€” Identifikasi Materi yang Akan Diujikan

Pecah CP menjadi materi-materi atau sub-topik yang lebih konkret. Tahap ini biasanya sudah sebagian tersedia jika modul ajar dan materi pembelajaran sudah disusun sebelumnya.

Langkah 3 โ€” Rumuskan Indikator Soal

Dari setiap materi, tentukan indikator: perilaku terukur apa yang menunjukkan bahwa siswa sudah menguasai materi tersebut. Di tahap inilah AI mulai berperan besar โ€” merumuskan indikator secara konsisten untuk puluhan sub-materi sekaligus adalah pekerjaan yang melelahkan jika dilakukan manual satu per satu.

Langkah 4 โ€” Gunakan Prompt AI untuk Menyusun Draf Kisi-Kisi

Masukkan CP, materi, dan indikator awal ke dalam prompt AI (contoh prompt tersedia di bagian selanjutnya), lalu minta AI menyusun draf tabel kisi-kisi lengkap dengan level kognitif dan sebaran jumlah soal.

Langkah 5 โ€” Validasi Hasil AI

Periksa kembali setiap baris kisi-kisi. Apakah indikatornya benar-benar mencerminkan CP? Apakah level kognitifnya masuk akal untuk jenjang siswa yang diajar? Apakah proporsi soal sudah adil antar materi? Tahap ini tidak boleh dilewati.

Langkah 6 โ€” Simpan sebagai Dokumen Acuan

Setelah divalidasi, simpan kisi-kisi sebagai dokumen acuan resmi โ€” baik dalam format tabel di Word/Excel maupun disimpan dalam sistem digital sekolah.

Langkah 7 โ€” Gunakan Kisi-Kisi untuk Membuat Soal

Kisi-kisi yang sudah final inilah yang kemudian menjadi acuan utama saat guru โ€” atau AI atas arahan guru โ€” mulai menulis soal sesungguhnya, satu per satu mengikuti indikator yang sudah dirancang.


6. Contoh Prompt AI untuk Membuat Kisi-Kisi Soal

Kualitas hasil AI sangat bergantung pada kualitas prompt yang diberikan. Semakin spesifik dan terstruktur instruksi yang diberikan, semakin siap pakai hasil kisi-kisinya. Berikut beberapa contoh prompt yang bisa langsung dimodifikasi sesuai kebutuhan. Prinsip menyusun instruksi yang baik ini sejalan dengan panduan lengkap prompt ChatGPT untuk guru yang membahas struktur prompt secara lebih mendalam.

Prompt 1 โ€” Kisi-kisi untuk jenjang SD

“Buatkan kisi-kisi soal untuk mata pelajaran [nama mapel] kelas [kelas] SD, dengan Capaian Pembelajaran: [tempel CP]. Susun dalam bentuk tabel berisi kolom: kompetensi, materi, indikator soal, level kognitif (Bloom), bentuk soal, dan jumlah soal. Total soal yang dibutuhkan adalah [jumlah] butir, dengan komposisi 60% LOTS dan 40% HOTS.”

Prompt 2 โ€” Kisi-kisi untuk jenjang SMP

“Susun kisi-kisi penilaian sumatif untuk mapel [nama mapel] kelas [kelas] SMP berdasarkan CP berikut: [tempel CP]. Bagi materi menjadi beberapa sub-topik, rumuskan indikator soal yang terukur untuk masing-masing sub-topik, dan tentukan level kognitif sesuai Taksonomi Bloom revisi (Anderson & Krathwohl).”

Prompt 3 โ€” Fokus pada distribusi soal HOTS

“Dari kisi-kisi berikut [tempel draf kisi-kisi], analisis proporsi soal HOTS dan LOTS-nya. Sarankan penyesuaian agar minimal 30% soal berada pada level menganalisis, mengevaluasi, atau mencipta, tanpa mengubah cakupan materi yang sudah ada.”

Prompt 4 โ€” Menyelaraskan dengan Capaian Pembelajaran

“Periksa apakah setiap indikator dalam kisi-kisi berikut [tempel draf kisi-kisi] benar-benar mencerminkan Capaian Pembelajaran ini: [tempel CP]. Tandai indikator yang kurang relevan atau terlalu sempit/luas, dan berikan saran perbaikannya.”

Prompt 5 โ€” Validasi akhir sebelum digunakan

“Bertindaklah sebagai reviewer kisi-kisi soal. Periksa kisi-kisi berikut [tempel kisi-kisi final] dari sisi: (1) kesesuaian indikator dengan CP, (2) keseimbangan level kognitif, (3) proporsi jumlah soal antar materi. Berikan catatan perbaikan dalam bentuk poin-poin singkat.”

Prompt 6 โ€” Versi paling realistis, siap salin-tempel

Ini adalah bentuk prompt yang paling sering benar-benar dipakai guru di lapangan, karena langsung mencerminkan situasi nyata di kelas:

“Saya guru IPA kelas 8. Berikut Capaian Pembelajaran saya: [tempel CP]. Berikut materi yang sudah saya ajarkan: [tempel ringkasan materi]. Tolong buatkan kisi-kisi soal lengkap dalam bentuk tabel, berisi kolom kompetensi, materi, indikator soal, level kognitif (Bloom), bentuk soal, dan jumlah soal. Saya butuh total 20 soal untuk penilaian sumatif, dengan komposisi 70% pilihan ganda dan 30% uraian.”

Tinggal ganti mata pelajaran, jenjang kelas, CP, dan materi sesuai kondisi masing-masing guru, dan prompt ini sudah siap dipakai.

Contoh Hasil Kisi-Kisi setelah Diproses AI

Agar lebih mudah dibayangkan, berikut contoh potongan kisi-kisi sederhana yang bisa dihasilkan dari prompt semacam ini โ€” untuk mapel IPA kelas 8, materi Sistem Pencernaan:

MateriIndikator SoalLevel BloomBentuk SoalJumlah Soal
Organ pencernaan manusiaSiswa dapat mengurutkan organ-organ pencernaan sesuai jalur makananMengingatPilihan Ganda2
Fungsi enzim pencernaanSiswa dapat menjelaskan fungsi enzim pada proses pencernaan kimiawiMemahamiPilihan Ganda3
Gangguan sistem pencernaanSiswa dapat menganalisis penyebab suatu gangguan pencernaan berdasarkan gejala yang diberikanMenganalisisUraian2
Pola makan sehatSiswa dapat mengevaluasi pola makan tertentu dan memberikan rekomendasi perbaikanMengevaluasiUraian1

Perhatikan bahwa tabel ini belum berisi satu pun kalimat soal โ€” hanya kerangka yang menunjukkan apa yang akan diukur, seberapa dalam levelnya, dan dalam bentuk apa. Barulah dari kerangka inilah soal-soal konkret nantinya ditulis satu per satu.


7. Alur Kerja Kisi-Kisi dalam Proses Asesmen

Agar lebih mudah dibayangkan, berikut alur kerja penyusunan kisi-kisi dengan AI secara ringkas:

Capaian Pembelajaran โ†’ AI menyusun draf kisi-kisi โ†’ Review dan validasi guru โ†’ Kisi-kisi final โ†’ Pembuatan soal โ†’ Bank soal โ†’ Pelaksanaan ujian (CBT)

Setiap tahap dalam alur ini saling bergantung. Kisi-kisi yang lemah akan menghasilkan soal yang tidak terarah, dan soal yang tidak terarah akan membuat data hasil belajar sulit dianalisis secara bermakna di tahap akhir.

Infografis cara membuat kisi-kisi soal dengan AI yang menjelaskan alur penyusunan blueprint asesmen mulai dari Capaian Pembelajaran, materi, indikator, level Bloom, hingga menjadi dasar pembuatan soal.

8. Apakah Guru Harus Bisa Coding untuk Menggunakan AI?

Tidak. Menyusun kisi-kisi dengan AI tidak membutuhkan kemampuan pemrograman sama sekali. Semua contoh prompt di atas ditulis dalam bahasa Indonesia sehari-hari dan bisa langsung dimasukkan ke chatbot AI seperti ChatGPT, Gemini, atau Claude melalui antarmuka percakapan biasa.

Kemampuan yang sebenarnya lebih dibutuhkan bukan kemampuan teknis, melainkan kemampuan menyusun instruksi yang jelas dan kemampuan memvalidasi hasil AI secara kritis โ€” dua keterampilan yang jauh lebih dekat dengan kompetensi pedagogik guru dibanding kompetensi teknis pemrograman.


9. Kesalahan Umum Guru saat Membuat Kisi-Kisi dengan AI

Beberapa kesalahan berikut sering terjadi dan sebaiknya dihindari:

  • Langsung membuat soal tanpa kisi-kisi. Ini adalah kesalahan paling mendasar โ€” melewati tahap perencanaan dan langsung menulis soal membuat asesmen kehilangan arah.
  • Tidak merumuskan indikator secara eksplisit. Tanpa indikator yang jelas, sulit menilai apakah soal benar-benar mengukur kompetensi yang dimaksud.
  • Tidak menentukan level kognitif sejak awal. Akibatnya, soal cenderung didominasi level mengingat dan memahami (LOTS) tanpa disadari.
  • Terlalu banyak indikator untuk satu materi kecil. Ini membuat kisi-kisi menjadi tidak proporsional dan sulit diterjemahkan menjadi jumlah soal yang wajar.
  • Indikator tidak sesuai CP. Sering terjadi ketika AI diberi instruksi terlalu umum tanpa CP yang jelas sebagai acuan.
  • Menggunakan hasil AI tanpa validasi. Ini adalah risiko terbesar โ€” kisi-kisi hasil AI harus selalu diperiksa ulang oleh guru sebelum dijadikan acuan resmi.

10. AI Membantu Guru Menyusun Blueprint, Bukan Menggantikan Guru

Penting untuk terus menegaskan satu prinsip di sepanjang proses ini: AI berperan sebagai alat bantu penyusunan blueprint, bukan pengambil keputusan akademik.

Prinsip ini sejalan dengan AI Competency Framework for Teachers yang diterbitkan UNESCO pada tahun 2024. Kerangka kerja ini menekankan pendekatan yang berpusat pada manusia (human-centered), yang menjaga agensi manusia, akuntabilitas, dan kemampuan menentukan keputusan tetap berada di tangan guru โ€” bukan diserahkan sepenuhnya kepada sistem AI. UNESCO merumuskan kerangka ini ke dalam lima belas blok kompetensi yang mencakup pemahaman dasar tentang AI, penerapan AI dalam praktik mengajar, hingga pertimbangan etis penggunaannya di ruang kelas.

Dalam konteks penyusunan kisi-kisi, prinsip human-centered ini berarti: AI boleh menyarankan pemetaan indikator, menghitung proporsi soal, atau menyusun draf tabel โ€” tetapi keputusan akhir tentang apa yang layak diujikan kepada siswa tetap sepenuhnya berada di tangan guru yang memahami konteks kelasnya secara langsung.

Begitu pula dari sisi taksonomi kognitif yang digunakan untuk menentukan level soal. Level kognitif yang umum dipakai dalam kisi-kisi โ€” mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta โ€” merujuk pada revisi Taksonomi Bloom oleh Anderson & Krathwohl (2001). AI dapat menyarankan kategori level kognitif untuk tiap indikator, tetapi penentuan final tetap membutuhkan pertimbangan guru terhadap kemampuan aktual siswa di kelasnya.

Prinsip yang sama juga berlaku pada asesmen secara lebih luas, baik dalam konteks asesmen Kurikulum Merdeka maupun pemetaan capaian pembelajaran Kurikulum Merdeka secara umum โ€” AI adalah alat percepatan, bukan pengganti penilaian profesional guru.


11. Kisi-Kisi dalam Ekosistem AI Guru: Jembatan Menuju Bank Soal dan CBT

Kisi-kisi soal sesungguhnya adalah simpul penghubung dalam sebuah rangkaian panjang proses pembelajaran berbasis AI. Ia bukan langkah yang berdiri sendiri, melainkan jembatan antara perencanaan pembelajaran dan pelaksanaan asesmen.

Alurnya kurang lebih sebagai berikut: guru merancang CP, menyusunnya menjadi modul ajar dan materi pembelajaran, lalu merumuskan kisi-kisi sebagai blueprint asesmen. Dari kisi-kisi inilah soal-soal konkret ditulis, dikumpulkan menjadi bank soal dengan AI yang terorganisir, lalu digunakan dalam pelaksanaan ujian online berbasis CBT. Hasil ujian tersebut kemudian bisa diolah lebih lanjut melalui AI untuk analisis hasil belajar siswa, sehingga guru mendapatkan gambaran utuh tentang efektivitas pembelajaran โ€” yang pada gilirannya menjadi masukan untuk merancang kisi-kisi berikutnya dengan lebih baik.

Sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran digital, e-Ujian menyediakan fitur yang membantu guru mengelola kisi-kisi, soal, bank soal, hingga pelaksanaan ujian dalam satu alur kerja yang terintegrasi โ€” sehingga blueprint yang sudah susah payah disusun tidak berhenti sebagai dokumen statis, tetapi benar-benar menjadi dasar setiap soal yang diujikan ke siswa. Setelah blueprint selesai disusun, guru tidak perlu lagi menyalin ulang indikator satu per satu saat menulis soal, karena kisi-kisi tersebut dapat langsung menjadi acuan penyusunan soal di dalam sistem e-Ujian.

Kisi-kisi yang matang juga akan mempermudah analisis butir soal di kemudian hari, karena setiap soal sudah memiliki indikator dan level kognitif yang jelas sejak awal, sehingga evaluasi kualitas soal bisa dilakukan secara lebih terarah.


FAQ Seputar Kisi-Kisi Soal dengan AI

1. Apa itu kisi-kisi soal? Kisi-kisi soal adalah blueprint atau rancangan asesmen yang memuat pemetaan kompetensi, materi, indikator, level kognitif, bentuk soal, dan jumlah soal โ€” disusun sebelum soal-soal konkret ditulis.

2. Apakah AI bisa membuat kisi-kisi soal? Bisa, dalam arti AI dapat menyusun draf kisi-kisi berdasarkan CP dan materi yang diberikan guru. Namun hasil tersebut tetap perlu divalidasi oleh guru sebelum dijadikan acuan resmi.

3. Apakah kisi-kisi hasil AI sesuai dengan Kurikulum Merdeka? Kesesuaiannya sangat tergantung pada input yang diberikan. Jika guru memasukkan CP dan konteks Kurikulum Merdeka secara spesifik dalam prompt, hasil AI akan jauh lebih selaras dibanding jika instruksinya terlalu umum.

4. Apa bedanya kisi-kisi dan soal? Kisi-kisi adalah rancangan yang belum berisi pertanyaan konkret dan digunakan untuk merancang asesmen, sedangkan soal adalah output akhir berupa pertanyaan yang siap digunakan untuk mengukur siswa secara langsung.

5. Bagaimana cara membuat kisi-kisi berdasarkan Capaian Pembelajaran? Mulai dengan menetapkan CP, pecah menjadi materi dan sub-topik, rumuskan indikator terukur untuk tiap sub-topik, lalu tentukan level kognitif dan proporsi jumlah soalnya โ€” proses ini bisa dipercepat menggunakan bantuan AI.

6. Apakah ChatGPT bisa membuat kisi-kisi soal? Bisa. ChatGPT, Gemini, Claude, dan chatbot AI generatif lainnya dapat digunakan untuk menyusun draf kisi-kisi selama diberi instruksi (prompt) yang jelas dan spesifik.

7. Apakah guru masih harus melakukan validasi setelah AI membuat kisi-kisi? Ya, wajib. Validasi manusia tetap menjadi tahap krusial untuk memastikan kesesuaian dengan CP, keseimbangan level kognitif, dan relevansi dengan kondisi kelas yang sesungguhnya.

8. Bagaimana menggunakan kisi-kisi untuk membuat soal? Setelah kisi-kisi divalidasi dan difinalisasi, setiap baris indikator dalam kisi-kisi dijadikan acuan langsung untuk menulis satu atau beberapa butir soal, sesuai level kognitif dan bentuk soal yang sudah ditentukan.

9. Apa manfaat kisi-kisi dalam proses asesmen secara keseluruhan? Kisi-kisi memastikan soal yang dibuat benar-benar mengukur kompetensi yang dimaksud, menjaga proporsi soal yang seimbang, mempermudah validasi kualitas soal, serta menjadi dasar yang konsisten untuk analisis hasil belajar di kemudian hari.

10. Apakah kisi-kisi soal wajib dibuat sebelum membuat soal? Idealnya ya. Kisi-kisi memastikan setiap soal yang ditulis memiliki dasar yang jelas โ€” indikator, level kognitif, dan proporsi yang sudah dirancang sejak awal. Melewati tahap ini bukan berarti soal tidak bisa dibuat, tetapi risikonya soal menjadi tidak terarah, tidak proporsional, dan sulit dipertanggungjawabkan kesesuaiannya dengan Capaian Pembelajaran.


Kesimpulan

Menyusun kisi-kisi soal sering dianggap sebagai tahap administratif yang membosankan, padahal ia adalah fondasi yang menentukan apakah sebuah asesmen benar-benar valid atau hanya kumpulan pertanyaan tanpa arah. AI hadir bukan untuk menggantikan tahap berpikir ini, melainkan untuk mempercepatnya โ€” memetakan CP ke indikator, menyarankan level kognitif, dan menghitung proporsi soal, sehingga guru punya lebih banyak waktu untuk melakukan hal yang paling penting: memvalidasi apakah blueprint tersebut benar-benar relevan dengan siswa yang akan diajar.

Dengan kisi-kisi yang matang, setiap tahap berikutnya โ€” mulai dari penulisan soal, pengelolaan bank soal, pelaksanaan ujian, hingga analisis hasil belajar โ€” akan berjalan jauh lebih terarah. Kisi-kisi bukan langkah tambahan yang memperlambat proses, melainkan investasi waktu di awal yang akan menghemat jauh lebih banyak waktu dan menjaga kualitas asesmen di sepanjang jalan.


Referensi

  1. Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah.
  2. Dokumen resmi Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
  3. Hanis, M., & Wahyudin, D. (2024). Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Penyusunan Asesmen Pembelajaran bagi Guru Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 9(2), 1199โ€“1207.
  4. UNESCO. (2024). AI Competency Framework for Teachers. Miao, F., & Cukurova, M. Paris: UNESCO.
  5. Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (2001). A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. New York: Longman.