Mengapa Ceramah Masih Dominan di Sekolah? Memahami Alasan Guru Masih Menggunakannya

Hero ilustrasi masih mengajar dengan ceramah

Hampir semua guru pernah mendengar bahwa pembelajaran sebaiknya berpusat pada siswa. Seminar, pelatihan, hingga dokumen kurikulum resmi berulang kali menyebutnya. Namun begitu masuk ke ruang kelas sehari-hari, kenyataannya sering berbeda: guru berdiri di depan, menjelaskan materi, siswa duduk mencatat. Ceramah, metode yang kerap dianggap “kuno”, tetap menjadi cara mengajar yang paling sering dipakai — bahkan di kelas-kelas yang gurunya sudah akrab dengan istilah pembelajaran aktif.

Pertanyaannya bukan lagi apakah ceramah masih dipakai, karena jawabannya sudah jelas. Yang lebih menarik untuk digali adalah: mengapa metode yang sering dikritik ini tetap bertahan begitu kuat, di tengah dorongan kuat menuju pembelajaran yang lebih aktif?

Mengapa metode ceramah masih dominan di sekolah?

Metode ceramah masih banyak digunakan karena beberapa faktor yang saling berkaitan, seperti ukuran kelas yang besar, target materi yang padat, sistem penilaian yang belum sepenuhnya mendukung pembelajaran aktif, kebiasaan mengajar yang terbentuk sejak lama, serta keterbatasan waktu dan fasilitas. Masalah utamanya bukan pada metode ceramah itu sendiri, melainkan ketika metode tersebut menjadi satu-satunya pendekatan yang digunakan dalam proses belajar.

Ceramah yang Tidak Kunjung Pergi

Kalau ditelusuri lewat data, ketahanan ceramah ini sebenarnya cukup mengejutkan. Riset observasi kelas skala nasional yang dilakukan Bank Dunia terhadap ratusan guru sekolah dasar di Indonesia pada 2024 menemukan bahwa guru menyampaikan aktivitas belajar kepada siswa selama 96 persen dari waktu kelas — angka yang sangat tinggi. Masalahnya, dari waktu tersebut, seluruh siswa benar-benar fokus mengikuti pelajaran hanya pada 48 persen momen yang diamati. Dengan kata lain, guru nyaris tidak pernah berhenti “mengajar”, tetapi separuh dari waktu itu sebenarnya tidak sepenuhnya sampai ke siswa.

Riset yang sama juga menyoroti sisi kualitas instruksi di kelas. Hanya 26 persen guru yang mendapat skor baik dalam aspek instruksi — yang mencakup kemampuan memfasilitasi pelajaran, memeriksa pemahaman siswa, memberi umpan balik, dan mendorong siswa berpikir kritis. Secara lebih spesifik, 78 persen guru tercatat jarang atau tidak pernah mengajukan pertanyaan terbuka yang mendorong siswa berpikir lebih dalam, dan 73 persen guru tidak mengaitkan materi yang diajarkan dengan pengetahuan lain atau kehidupan sehari-hari siswa. Pola ini konsisten dengan temuan di sejumlah negara berkembang lain di kawasan Asia Timur dan Pasifik, di mana kurang dari sepertiga guru mencapai skor instruksi yang efektif.

Kajian dari sisi lain juga memperkuat gambaran ini. Sejumlah tinjauan literatur tentang praktik mengajar di sekolah dasar Indonesia mendapati bahwa ceramah tetap muncul sebagai metode yang dipakai secara konsisten oleh guru dari berbagai jenjang kelas, terlepas dari masuknya elemen digital ke dalam pembelajaran. Fenomena ini juga bukan sesuatu yang baru muncul setelah Kurikulum Merdeka. Ketika pembelajaran daring menjadi keharusan selama masa pandemi, misalnya, ceramah justru menjadi metode yang paling banyak dipilih guru untuk menyampaikan materi, karena dianggap paling mudah dijalankan dalam keterbatasan situasi saat itu. Pola serupa juga terlihat pada mata pelajaran lain: penggunaan metode berbasis ceramah di kalangan guru agama, misalnya, tercatat cukup dominan dengan alasan yang tidak jauh berbeda.

Menariknya, riset Bank Dunia tersebut juga menemukan secercah harapan: guru yang mengajar di bawah Kurikulum Merdeka menunjukkan skor yang lebih tinggi dalam mendorong berpikir kritis dibanding guru yang masih memakai kurikulum sebelumnya, dengan selisih yang tergolong cukup besar secara statistik. Ini menunjukkan bahwa arah perubahan sebenarnya sudah mulai terlihat — hanya saja belum merata dan belum cukup kuat untuk menggeser kebiasaan lama secara menyeluruh.

Yang penting digarisbawahi di sini: ini bukan cerita tentang guru yang enggan berubah atau malas mencoba hal baru. Ini lebih tepat dilihat sebagai fenomena sistemik — sesuatu yang terjadi secara meluas karena ada rangkaian sebab yang saling terkait, bukan karena pilihan sembarangan di satu dua sekolah saja.

Apa yang Membuat Ceramah Begitu Sulit Ditinggalkan?

Kalau digali lebih dalam, setidaknya ada lima hal yang membuat ceramah tetap jadi pilihan paling praktis bagi banyak guru, meski mereka tahu ada pendekatan lain yang secara teori lebih ideal.

Kelas yang Terlalu Padat untuk Dikelola Secara Interaktif

Mengelola diskusi kelompok, sesi tanya jawab mendalam, atau proyek kolaboratif jauh lebih menuntut dibanding sekadar menjelaskan di depan kelas — apalagi ketika jumlah siswa dalam satu rombongan belajar melebihi kapasitas ideal. Sejumlah penelitian tentang rasio siswa dan efektivitas pembelajaran menemukan bahwa kelas yang terlalu padat membuat guru kesulitan memberi perhatian individual, sehingga aktivitas yang menuntut interaksi personal dengan tiap siswa menjadi jauh lebih sulit dijalankan dibanding sekadar menyampaikan materi secara searah. Dalam kondisi seperti itu, ceramah bukan dipilih karena dianggap terbaik, melainkan karena dianggap satu-satunya cara yang realistis dijalankan sendirian oleh satu guru menghadapi puluhan siswa sekaligus.

Target Materi yang Padat dan Tenggat yang Ketat

Guru di banyak sekolah dikejar tuntutan menyelesaikan seluruh capaian pembelajaran dalam jangka waktu yang sudah ditentukan. Menjelaskan materi lewat ceramah memungkinkan guru menyampaikan cakupan konten yang luas dalam waktu singkat, sementara metode yang lebih partisipatif biasanya membutuhkan waktu jauh lebih panjang untuk topik yang sama. Ketika target kurikulum menjadi ukuran utama keberhasilan, kecepatan menjadi pertimbangan yang sulit diabaikan.

Sistem Penilaian yang Belum Ikut Bergeser

Ini salah satu faktor yang sering luput dari sorotan. Selama alat ukur keberhasilan belajar masih banyak berupa ujian tertulis yang menuntut jawaban baku dan hafalan, guru punya alasan kuat untuk memastikan siswa “menguasai” isi materi secepat mungkin — dan ceramah dianggap cara paling langsung untuk itu. Ironisnya, pola ini mengingatkan pada apa yang pernah terjadi di masa lalu, seperti yang pernah dibahas dalam Mengapa CBSA Gagal Dipahami Banyak Guru semangat melibatkan siswa secara aktif sulit bertahan ketika sistem evaluasinya tidak ikut berubah mengikuti semangat itu.

Kebiasaan yang Terbawa dari Pengalaman Belajar Sendiri

Banyak guru mengajar dengan cara yang mirip dengan bagaimana mereka dulu diajar. Salah satu kajian tentang praktik mengajar guru agama bahkan secara eksplisit mencatat bahwa dominannya penggunaan metode ceramah di kalangan mereka salah satunya karena kebiasaan itu terbentuk sejak masa kuliah, ketika dosen-dosen mereka pun mengajar dengan cara serupa. Pola mengajar, dengan kata lain, sering diwariskan turun-temurun tanpa disadari, jauh sebelum seseorang benar-benar memilih menjadi guru.

Keterbatasan Waktu dan Fasilitas Penunjang

Merancang aktivitas pembelajaran yang benar-benar mendorong siswa berpikir aktif — bukan sekadar ramai secara fisik — butuh persiapan matang, ruang yang memadai, dan kadang alat bantu tambahan. Tidak semua sekolah, apalagi di daerah dengan keterbatasan sumber daya, punya kondisi yang mendukung untuk itu. Ketika waktu persiapan terbatas dan fasilitas seadanya, ceramah kembali muncul sebagai opsi yang paling bisa diandalkan.

Ceramah Bukan Musuh, Masalahnya Ada di Tempat Lain

Di sinilah bagian yang sering luput dari perdebatan seputar metode mengajar: ceramah sebenarnya bukan sesuatu yang perlu dihapuskan sepenuhnya. Untuk memperkenalkan konsep baru, memberi kerangka besar sebelum masuk ke detail, atau menyampaikan informasi yang memang perlu disampaikan secara efisien kepada banyak orang sekaligus, ceramah tetap jadi pilihan yang masuk akal — bahkan sulit digantikan.

Yang justru bermasalah adalah ketika ceramah menjadi satu-satunya cara belajar yang dipakai, untuk semua topik dan semua situasi, tanpa variasi. Sejumlah kajian yang menelaah efektivitas ceramah pada pembelajaran berdiferensiasi menemukan pola yang cukup konsisten: ceramah tetap relevan selama dikombinasikan dengan metode lain, tetapi menjadi kurang efektif ketika berdiri sendiri sebagai satu-satunya pendekatan, mengingat siswa punya gaya belajar yang beragam — sebagian lebih mudah menyerap lewat mendengarkan, sebagian lain justru butuh bergerak, mencoba, atau berdiskusi langsung.

Dengan kata lain, akar masalahnya bukan pada metode ceramah itu sendiri, melainkan pada ketiadaan variasi. Sama seperti semangat pembelajaran aktif yang sebenarnya menekankan keterlibatan berpikir siswa — bukan sekadar keramaian di kelas — persoalan sesungguhnya baru muncul saat satu metode dipakai secara kaku tanpa mempertimbangkan tujuan belajar yang ingin dicapai.

Dua Sisi yang Perlu Dilihat Bersamaan

Supaya lebih adil melihat persoalan ini, ada baiknya menimbang dua sisi ceramah sekaligus.

Ketika ceramah menjadi satu-satunya cara belajar yang dipakai terus-menerus, dampaknya cukup terasa: siswa cenderung pasif karena jarang diminta mengolah informasi sendiri, kemampuan berpikir kritis kurang terlatih karena minim ruang untuk bertanya atau berdebat, dan tingkat keterlibatan di kelas pun rendah karena siswa lebih banyak berperan sebagai pendengar. Data observasi kelas di Indonesia sendiri menunjukkan gejala ini secara konkret: hanya sekitar sepertiga siswa yang tercatat aktif mengajukan pertanyaan terbuka atau mengerjakan tugas yang benar-benar menuntut mereka berpikir, sementara sebagian besar kelas didominasi pola tanya-jawab searah yang minim tindak lanjut.

Gambaran serupa juga muncul dari riset di luar negeri. Sebuah meta-analisis besar terhadap 225 studi pembelajaran sains, teknologi, teknik, dan matematika di tingkat perguruan tinggi menemukan bahwa tingkat kegagalan siswa pada kelas yang sepenuhnya mengandalkan ceramah tradisional secara konsisten lebih tinggi — sekitar 1,5 kali lipat — dibanding kelas yang melibatkan pembelajaran aktif, dengan skor ujian rata-rata yang juga membaik signifikan ketika siswa dilibatkan lebih aktif dalam proses belajar.

Namun di sisi lain, ketika dipakai secara tepat dan proporsional, ceramah punya kelebihan yang sulit ditandingi metode lain: efisien untuk cakupan materi yang luas, efektif memberi fondasi konsep sebelum siswa masuk ke eksplorasi lebih mendalam, dan memudahkan pengantar topik baru yang memang butuh penjelasan sistematis di awal. Ceramah yang disampaikan komunikatif dan diselingi sesi tanya jawab bahkan tetap terbukti membantu pemahaman siswa, khususnya di jenjang sekolah dasar.

Jadi bukan soal ceramah itu baik atau buruk secara mutlak, melainkan soal proporsi dan konteks penggunaannya. Karena itu, tantangan utama guru bukan sekadar mengganti ceramah dengan metode lain, melainkan mampu menentukan metode yang paling sesuai berdasarkan tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, materi, dan kondisi kelas. Panduan praktis mengenai proses pemilihan tersebut dapat dibaca pada artikel Bagaimana Guru Memilih Metode Pembelajaran yang Tepat?

Pertanyaan yang Lebih Layak Diajukan

Setelah melihat semua faktor di atas, mungkin sudah saatnya pertanyaannya digeser. Alih-alih memperdebatkan “ceramah atau pembelajaran aktif”, pertanyaan yang lebih relevan justru: kapan ceramah memang cara paling tepat digunakan, dan kapan siswa perlu diberi lebih banyak ruang untuk berpikir dan menemukan sendiri?

Perjalanan dunia pendidikan Indonesia sebenarnya sudah lama bergerak menuju pertanyaan itu, dari masa peralihan dari teacher-centered ke student-centered learning hingga berbagai upaya reformasi kurikulum setelahnya. Selama guru terus diberi ruang, dukungan, dan sistem yang selaras — bukan sekadar dorongan untuk berganti metode tanpa dukungan yang memadai — variasi cara mengajar yang lebih seimbang bukan sesuatu yang mustahil dicapai secara bertahap.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apakah metode ceramah masih relevan saat ini? Masih, terutama untuk menyampaikan konsep dasar, memberi pengantar topik baru, atau menjelaskan materi yang memang membutuhkan penyampaian sistematis. Relevansinya tetap terjaga selama tidak dijadikan satu-satunya metode yang dipakai sepanjang proses belajar.

Apakah Kurikulum Merdeka melarang ceramah? Tidak. Kurikulum Merdeka tidak melarang metode ceramah secara eksplisit, melainkan mendorong guru untuk lebih fleksibel memilih pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan tujuan pembelajaran, termasuk mengombinasikan ceramah dengan metode lain bila diperlukan.

Kapan metode ceramah justru lebih efektif? Ceramah cenderung lebih efektif saat memperkenalkan konsep baru yang belum dikenal siswa, menyampaikan informasi dasar dalam waktu terbatas, atau menjelaskan materi yang memang memerlukan urutan penjelasan yang runtut sebelum siswa bisa mengeksplorasinya lebih jauh.

Bagaimana menggabungkan ceramah dengan pembelajaran aktif? Salah satu caranya adalah menggunakan ceramah singkat sebagai pembuka untuk membangun kerangka pemahaman, lalu melanjutkannya dengan diskusi, tanya jawab interaktif, atau aktivitas yang meminta siswa mengolah materi tersebut secara langsung, alih-alih hanya mendengarkan dari awal sampai akhir.

Apakah semua mata pelajaran cocok menggunakan pembelajaran aktif? Sebagian besar mata pelajaran bisa mengadopsi elemen pembelajaran aktif, tetapi porsi dan bentuknya perlu disesuaikan dengan karakteristik materi. Materi yang bersifat konseptual dan berjenjang biasanya tetap membutuhkan porsi penjelasan langsung yang lebih besar dibanding materi yang lebih terbuka untuk eksplorasi atau diskusi.

Referensi

  1. Dini, I., Kim, S., & Nomura, S. (2024). Teacher Practices in Indonesia: Results of the Teach Primary Classroom Observation Study. World Bank, Jakarta.
  2. Freeman, S., Eddy, S. L., McDonough, M., Smith, M. K., Okoroafor, N., Jordt, H., & Wenderoth, M. P. (2014). Active learning increases student performance in science, engineering, and mathematics. Proceedings of the National Academy of Sciences, 111(23), 8410–8415.
  3. Syamsurijal. (2023). Relevansi Penggunaan Metode Ceramah pada Pembelajaran Di Sekolah Dasar Di Era Digital. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 5(4).
  4. Penerapan Metode Ceramah dan Tanya Jawab dalam Pembelajaran Daring. Jurnal Aletheia, Universitas Kristen Petra.
  5. Pengaruh Rasio Jumlah Siswa dalam Kelas Terhadap Efektivitas Pembelajaran PAI di SMK Farmasi Samarinda. Tarbiyah Wa Ta’lim: Jurnal Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran.
  6. Relevansi Penggunaan Metode Ceramah dalam Pembelajaran Berdiferensiasi di Sekolah Dasar Era Kurikulum Merdeka. Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar (JIPDAS).
  7. Syukri, Sukmawati, A., & Tamjidillah. (2013). Efektivitas Penggunaan Metode Ceramah dan Diskusi di Kalangan Guru Agama MTsN 1 Mataram. Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M IAIN Mataram.