Mengapa CBSA Gagal Dipahami Banyak Guru? Pelajaran dari Cara Belajar Siswa Aktif

hero ilustrasi cbsa

Coba tanyakan pada guru-guru senior tentang CBSA, dan yang muncul biasanya bukan cerita bangga, melainkan senyum getir. Istilah yang dulu digadang-gadang sebagai terobosan besar dalam dunia pendidikan Indonesia ini, seiring waktu justru berubah jadi bahan sindiran di ruang guru: “ah, kayak CBSA dulu, ramai tapi nggak jelas arahnya.” Padahal kalau ditelusuri lebih jauh, gagasan di balik CBSA sebenarnya tidak seburuk reputasinya sekarang.

CBSA yang Diingat Banyak Orang, Tapi Jarang Dipahami Utuh

CBSA, singkatan dari Cara Belajar Siswa Aktif, lahir sebagai bagian dari Kurikulum 1984 — kurikulum yang bahkan kerap disebut “Kurikulum 1975 yang Disempurnakan” karena memang dirancang untuk menjawab kekurangan kurikulum sebelumnya. Perubahan ini bukan tanpa alasan kuat: menjelang 1983, kurikulum lama dinilai sudah tidak mampu lagi mengimbangi kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan, sampai akhirnya arah perubahan ini bahkan tertuang dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara tahun itu.

Di balik lahirnya CBSA, ada nama yang cukup sentral: Prof. Dr. Conny R. Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980–1986 yang juga menjabat Rektor IKIP Jakarta. Idealismenya cukup jelas — ia ingin siswa Indonesia tumbuh aktif, kreatif, dan terbiasa mencari jalan keluar sendiri saat menghadapi persoalan, dengan guru berperan sebagai fasilitator, bukan sumber tunggal kebenaran di kelas.

Gagasan tersebut tidak berhenti sebagai konsep di atas kertas. Pada tahap uji coba di sejumlah sekolah, pendekatan ini justru menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan. Masalah justru muncul ketika CBSA diterapkan secara nasional dan harus diterjemahkan sendiri oleh ribuan guru di berbagai daerah, tanpa pendampingan yang memadai. Hasilnya bisa ditebak: gagasan yang tadinya elegan secara teori, perlahan mengalami banyak penyimpangan dan penyederhanaan di lapangan. Sampai hari ini pun, istilah CBSA masih sering dipakai sebagai ejekan setiap kali ada kelas yang terlihat sibuk tapi tidak jelas hasil belajarnya.

Kisah CBSA ini sebenarnya cuma satu babak dari perjalanan panjang yang lebih lengkap bisa ditelusuri lewat evolusi metode pembelajaran di Indonesia. Dilihat dari sudut itu, CBSA bukan kegagalan yang berdiri sendiri, melainkan satu titik penting dalam proses coba-salah yang terus berlangsung sampai sekarang.

Kenapa Gagasan Sebaik Itu Bisa Berubah Jadi Bahan Sindiran?

Pertanyaannya bukan lagi “apakah CBSA gagal”, tapi “kenapa gagasan sebagus itu bisa dipahami setengah-setengah oleh begitu banyak guru”. Setidaknya ada lima hal yang saling menumpuk dan perlahan mengikis makna aslinya.

Pelatihan yang Berhenti di Permukaan

Sosialisasi CBSA ke guru-guru saat itu jauh dari kata mendalam. Materi pelatihan lebih banyak menyoal teknis di kelas — cara membagi kelompok, cara mengatur diskusi, cara menyusun aktivitas — dibanding menjelaskan alasan di baliknya: mengapa siswa perlu terlibat secara kognitif dalam proses belajarnya sendiri. Guru pun pulang membawa daftar kegiatan, tanpa benar-benar memahami tujuan yang ingin dicapai lewat kegiatan itu.

Ketika “Aktif” Diterjemahkan Jadi “Ramai”

Ini barangkali biang keladi terbesarnya. Kata “aktif” pada CBSA lambat laun bergeser maknanya menjadi sekadar keramaian fisik: siswa berpindah kursi, presentasi bergiliran, kerja kelompok yang suaranya terdengar sampai kelas sebelah. Padahal, seperti yang dibahas lebih rinci dalam artikel pembelajaran aktif, inti dari keaktifan sebenarnya terletak pada proses berpikir siswa, bukan pada seberapa banyak mereka bergerak atau bersuara. Kesalahpahaman inilah yang membuat banyak kelas terlihat aktif di permukaan, tapi kosong secara substansi.

Ujian yang Tak Pernah Ikut Berubah

Ini bagian yang jarang diangkat tuntas dalam pembahasan tentang CBSA. Guru diminta membuat siswa aktif berpikir dan berdiskusi, tapi alat ukur keberhasilannya tetap sama: ujian tertulis yang mengandalkan hafalan dan satu jawaban benar. Ketika hasil dari proses belajar aktif tidak tercermin sama sekali dalam nilai ujian, guru pun kehilangan alasan kuat untuk terus mempertahankan pendekatan itu. Sistem penilaian yang jalan sendiri tanpa ikut bergeser inilah yang akhirnya menjegal niat baik di balik CBSA.

Guru yang Sudah Kehabisan Waktu dan Tenaga

Realita di lapangan juga tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Kelas dengan jumlah siswa yang besar, beban administrasi yang menumpuk, dan waktu mengajar yang terbatas membuat CBSA terasa merepotkan dibanding sekadar berceramah di depan kelas. Bagi guru yang sudah kewalahan dengan tugas harian, merancang aktivitas yang benar-benar memicu siswa berpikir jelas butuh energi ekstra yang tidak selalu tersedia.

Kelas yang Terbiasa Berjalan Satu Arah

Terakhir, ada faktor kebiasaan yang tidak mungkin berubah dalam semalam. Guru-guru saat itu tumbuh dan dilatih dalam budaya kelas satu arah: guru menjelaskan, siswa mendengarkan lalu mencatat. Meminta mereka tiba-tiba berubah menjadi fasilitator yang lebih banyak bertanya dibanding menjelaskan adalah pergeseran budaya yang butuh waktu jauh lebih panjang daripada sekadar satu program nasional yang dijalankan serentak.

Infografis: perjalanan dari tujuan awal CBSA hingga akhirnya dianggap gagal, dengan setiap tahap mewakili satu penyimpangan dari gagasan aslinya.

Yang Sebenarnya Gagal Bukan Idenya

Kalau kelima hal di atas ditumpuk jadi satu, jelas terlihat bahwa yang bermasalah bukan gagasan dasar CBSA. Yang gagal adalah cara implementasinya di lapangan — mulai dari pelatihan yang dangkal, salah kaprah soal makna “aktif”, sampai sistem evaluasi yang tidak ikut menyesuaikan diri.

Buktinya cukup sederhana: gagasan inti CBSA justru tetap hidup sampai sekarang, hanya berganti nama dan kemasan. Konsep student-centered learning, pembelajaran aktif, inquiry-based learning, hingga pembelajaran berbasis proyek, semuanya berangkat dari akar pemikiran yang sama dengan CBSA: siswa perlu dilibatkan langsung dalam proses berpikirnya sendiri, bukan sekadar jadi pendengar pasif di kelas. Dengan kata lain, CBSA bukan konsep yang salah arah. Ia hanya lahir terlalu cepat, sebelum sistem pendukungnya — mulai dari pelatihan guru sampai cara menilai siswa — benar-benar siap mengiringinya.

Bekas yang Ditinggalkan CBSA di Kelas Kita

Warisan CBSA sebenarnya bekerja dua arah sekaligus, dan keduanya masih terasa sampai sekarang.

Di sisi yang kurang menguntungkan, kegagalan implementasi CBSA membuat sebagian guru menjadi ragu terhadap istilah “pembelajaran aktif” secara umum. Muncul pula stigma yang cukup melekat: kelas yang siswanya aktif otomatis dianggap gaduh dan sulit dikendalikan. Tidak sedikit guru yang akhirnya memilih jalan yang dirasa lebih aman dengan kembali ke metode ceramah, karena dianggap lebih terukur dan mudah dikelola sendirian.

Pilihan tersebut sebenarnya tidak hanya dipengaruhi oleh pengalaman CBSA, tetapi juga oleh berbagai kondisi yang masih dihadapi sekolah hingga sekarang, seperti keterbatasan waktu, jumlah siswa yang besar, tuntutan penyelesaian materi, dan sistem evaluasi yang masih berorientasi pada hasil akhir. Faktor-faktor tersebut dibahas lebih lengkap dalam artikel Mengapa Ceramah Masih Dominan di Sekolah?.

Namun di sisi lain, ada hal yang tidak kalah penting untuk diakui: tanpa CBSA, kemungkinan besar gagasan tentang pembelajaran berpusat pada siswa tidak akan berkembang secepat sekarang. CBSA menjadi pintu masuk pertama bagi dunia pendidikan Indonesia untuk mulai mempertanyakan model kelas satu arah yang selama itu dianggap wajar. Kegagalannya justru menjadi bahan pembelajaran penting bagi kebijakan-kebijakan pendidikan setelahnya, termasuk yang masih berlaku hari ini.

Pelajaran yang Tersisa dari CBSA

Pelajaran terbesar dari CBSA bukan bahwa pembelajaran aktif tidak berhasil, melainkan bahwa perubahan cara mengajar tidak cukup dilakukan hanya dengan mengganti bentuk aktivitas di kelas. Perubahan semacam itu juga membutuhkan pemahaman yang utuh tentang bagaimana siswa sebenarnya belajar, bagaimana guru bisa memfasilitasi proses tersebut dengan tepat, dan bagaimana sistem pendidikan — termasuk cara menilai keberhasilannya — ikut bergerak ke arah yang sama.

Salah satu bagian penting dari proses tersebut adalah kemampuan guru memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan belajar, karakteristik siswa, materi, dan kondisi kelas. Panduan praktis mengenai cara memilih metode pembelajaran yang tepat dapat dibaca pada artikel Bagaimana Guru Memilih Metode Pembelajaran yang Tepat?.

Selama tiga hal itu berjalan sendiri-sendiri, seindah apa pun istilah yang dipakai, hasilnya kemungkinan besar akan berujung sama seperti nasib CBSA: gagasan baik yang perlahan berubah jadi bahan sindiran.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apakah CBSA sama dengan pembelajaran aktif? Secara akar gagasan, keduanya berangkat dari semangat yang sama, yaitu melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajarnya. Bedanya, CBSA adalah nama program dan istilah yang populer di Indonesia sejak Kurikulum 1984, sementara pembelajaran aktif adalah konsep yang terus berkembang dan dipakai lebih luas hingga sekarang dengan pemahaman yang jauh lebih matang.

Mengapa CBSA dianggap gagal? Bukan karena idenya salah, melainkan karena penerapannya di lapangan tidak didukung pelatihan yang utuh, sering disalahartikan sebagai kelas yang ramai, dan tidak dibarengi perubahan sistem evaluasi yang sejalan dengan tujuan awalnya.

Apakah CBSA masih digunakan sekarang? Istilah “CBSA” sendiri sudah jarang dipakai secara resmi, tapi semangat dasarnya tetap hidup dalam berbagai pendekatan pembelajaran modern yang menekankan keterlibatan aktif siswa.

Apa perbedaan CBSA dengan pembelajaran berpusat pada siswa? CBSA lebih merupakan program dan metode teknis di kelas pada masanya, sedangkan pembelajaran berpusat pada siswa adalah kerangka berpikir yang lebih luas tentang siapa yang seharusnya menjadi pusat proses belajar, dengan CBSA sebagai salah satu wujud awalnya.

Apakah Kurikulum Merdeka menggunakan konsep CBSA? Kurikulum Merdeka tidak secara eksplisit merujuk pada CBSA, tetapi semangat pelibatan aktif siswa, pembelajaran berbasis proyek, dan penguatan proses berpikir yang menjadi ciri khasnya sejalan dengan gagasan dasar yang dulu diusung CBSA.

Referensi

Pembahasan dalam artikel ini merujuk pada beberapa sumber dan area kajian berikut:

  • Sejarah dan latar belakang lahirnya Kurikulum 1984 beserta pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) di Indonesia.
  • Catatan tentang tokoh dan gagasan awal di balik perumusan CBSA, termasuk kajian mengenai penerapannya di sekolah uji coba dibanding penerapan secara nasional.
  • Kajian tentang kesenjangan antara kebijakan pendidikan dan implementasinya di tingkat kelas (policy-practice gap).
  • Literatur tentang hubungan antara sistem evaluasi atau penilaian dengan efektivitas penerapan metode pembelajaran baru.
  • Diskusi mengenai perkembangan gagasan student-centered learning dan active learning di berbagai konteks pendidikan, termasuk Indonesia.