Perbedaan Metode, Model, dan Strategi Pembelajaran: Pengertian, Contoh, dan Hubungannya

Dalam banyak pelatihan guru, tugas kuliah pendidikan, hingga dokumen kurikulum resmi, tiga istilah ini muncul begitu sering: metode, model, dan strategi pembelajaran. Anehnya, meski begitu akrab di telinga, ketiganya justru menjadi salah satu sumber kebingungan paling umum di kalangan pendidik. Tidak jarang mahasiswa FKIP menuliskan “model ceramah” dalam laporan praktik mengajarnya, padahal ceramah adalah metode. Tidak sedikit pula guru yang mengisi kolom “strategi pembelajaran” di modul ajar dengan nama sebuah model, seperti Problem Based Learning.
Kebingungan ini bukan cuma soal istilah teknis yang bisa diabaikan. Ketiga konsep tersebut sebenarnya berada pada level yang berbeda dalam merancang pembelajaran — dan memahami perbedaannya akan membantu guru menyusun rencana pembelajaran yang lebih terstruktur, bukan sekadar mengisi format administratif semata.
Apa Perbedaan Metode, Model, dan Strategi Pembelajaran?
Secara sederhana, strategi pembelajaran adalah rencana besar atau pendekatan menyeluruh yang dipilih guru untuk mencapai tujuan belajar. Model pembelajaran adalah kerangka atau pola yang lebih terstruktur untuk mewujudkan strategi tersebut, lengkap dengan tahapan yang jelas. Sementara metode pembelajaran adalah cara operasional atau teknis yang dipakai guru saat benar-benar mengajar di kelas, seperti ceramah, diskusi, atau demonstrasi. Urutannya bisa digambarkan begini: strategi menentukan arah, model mengatur alur, dan metode menjalankan aktivitasnya.
- Apa Perbedaan Metode, Model, dan Strategi Pembelajaran?
- Mengapa Istilah Ini Sering Tertukar?
- Apa Itu Strategi Pembelajaran?
- Apa Itu Model Pembelajaran?
- Apa Itu Metode Pembelajaran?
- Perbedaan Ketiganya dalam Satu Tabel
- Contoh dalam Satu Skenario Mengajar
- Jadi Guru Memilihnya dalam Urutan Apa?
- Kesalahan yang Paling Sering Terjadi
- Kesimpulan
- FAQ
- Referensi
Mengapa Istilah Ini Sering Tertukar?
Kalau ditelusuri akar masalahnya, kebingungan ini sebenarnya wajar terjadi, dan bukan tanda bahwa seorang guru “kurang paham pedagogi”. Setidaknya ada empat alasan yang membuat ketiga istilah ini terus-menerus tumpang tindih dalam praktik sehari-hari.
Pertama, setiap buku metodologi pengajaran punya cara pandangnya sendiri. Sebagian penulis menempatkan strategi sebagai payung paling luas yang di dalamnya berisi metode dan teknik, sementara penulis lain justru mendefinisikan model sebagai bingkai yang menaungi strategi, pendekatan, metode, sekaligus teknik sekaligus. Tidak ada satu definisi tunggal yang disepakati semua kalangan akademik, sehingga setiap kampus atau pelatihan bisa mengajarkan versi yang sedikit berbeda.
Kedua, dosen dan fasilitator pelatihan juga sering mewariskan definisi versi mereka masing-masing, tergantung buku rujukan yang mereka pakai saat kuliah dulu. Akibatnya, dua guru yang sama-sama lulus pendidikan keguruan bisa punya pemahaman yang berbeda tentang di mana batas antara model dan strategi.
Ketiga, regulasi kurikulum yang berganti turut memperumit keadaan. Kurikulum 2013 menggunakan istilah RPP dengan komponen KI dan KD, sedangkan Kurikulum Merdeka mengubahnya menjadi modul ajar dengan istilah capaian pembelajaran (CP) dan alur tujuan pembelajaran (ATP). Kolom “Model Pembelajaran” tetap ada di modul ajar Kurikulum Merdeka, tetapi konteks dan formatnya sudah berbeda dari RPP lama, sehingga guru yang terbiasa dengan sistem sebelumnya perlu menyesuaikan ulang pemahamannya.
Keempat, dalam percakapan sehari-hari di ruang guru, istilah-istilah ini memang sering dipakai secara longgar dan saling menggantikan tanpa maksud yang keliru. Seorang guru bisa berkata “saya pakai model diskusi kelompok” padahal yang dimaksud sebenarnya adalah metode. Ini tidak salah secara komunikasi sehari-hari, tetapi bisa jadi masalah ketika harus dituliskan secara formal dalam dokumen perencanaan pembelajaran.
Dampak dari kebingungan ini pun bukan sekadar masalah tata bahasa. Sejumlah penelitian tentang kendala guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di berbagai daerah — mulai dari Ampenan, Tapos, hingga gugus sekolah di Kediri — secara konsisten menemukan bahwa menentukan model dan metode pembelajaran termasuk salah satu komponen yang paling sering menyulitkan guru, sejajar dengan kesulitan merumuskan indikator pencapaian kompetensi dan merancang penilaian autentik. Artinya, ketidakjelasan konsep ini punya dampak nyata pada kualitas dokumen perencanaan pembelajaran yang dihasilkan guru di lapangan.
Apa Itu Strategi Pembelajaran?
Strategi pembelajaran adalah level paling atas dan paling luas di antara ketiga istilah ini. Ia berupa pola umum atau rencana besar tentang bagaimana guru dan siswa akan berinteraksi dalam mewujudkan proses belajar-mengajar, sebelum masuk ke detail teknis apa pun. Sanjaya menyebut strategi pembelajaran sebagai pola umum perbuatan guru dan siswa dalam mewujudkan kegiatan belajar-mengajar, yang sifatnya masih konseptual dan berupa keputusan-keputusan besar sebelum pembelajaran benar-benar dijalankan. Kemp, sebagaimana dikutip Sanjaya, memandang strategi pembelajaran sebagai keseluruhan rangkaian kegiatan yang perlu dikerjakan guru maupun siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Karena posisinya yang paling luas, strategi pembelajaran sebenarnya membawahi metode dan teknik sekaligus. Satu strategi bisa diwujudkan lewat beberapa metode berbeda, tergantung kompleksitas tujuan belajar yang ingin dicapai. Sebagai gambaran, strategi bisa dikelompokkan menjadi dua kutub besar: strategi yang berpusat pada penjelasan guru (exposition) di satu sisi, dan strategi yang mendorong siswa menemukan sendiri pengetahuannya (discovery) di sisi lain.
Salah satu contoh strategi yang paling banyak dipakai di dunia pendidikan modern adalah pendekatan student-centered learning, yaitu rencana besar yang menempatkan siswa sebagai pusat proses belajar, alih-alih guru sebagai satu-satunya sumber informasi lewat pendekatan teacher-centered learning yang lebih konvensional. Pergeseran menuju pembelajaran berpusat pada siswa ini sebenarnya adalah keputusan pada level strategi, bukan pada level metode atau model — karena baru menyatakan arah besar, belum menentukan bentuk kegiatan konkret di kelas.
Yang membedakan strategi dari model dan metode adalah sifatnya yang masih abstrak. Strategi belum menentukan langkah demi langkah yang harus dilakukan guru di depan kelas; ia baru berupa keputusan arah, semacam peta jalan besar sebelum guru memilih kendaraan dan rute detail untuk sampai ke tujuan belajar yang diinginkan.
Apa Itu Model Pembelajaran?
Kalau strategi adalah peta jalan besar, model pembelajaran adalah kendaraan dengan rute yang sudah dirancang lengkap — mulai dari titik berangkat hingga titik tiba, beserta pemberhentian di setiap tahapnya. Joyce dan Weil mendefinisikan model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, sekaligus berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan guru dalam merencanakan serta melaksanakan aktivitas belajar.
Ciri khas model pembelajaran adalah tahapannya yang runtut dan bisa diulang (replicable). Sebuah model biasanya punya sintaks atau urutan langkah yang jelas dari awal sampai akhir, sehingga guru yang berbeda pun bisa menerapkan model yang sama dengan struktur langkah yang relatif serupa. Beberapa model yang paling sering dipakai di sekolah Indonesia antara lain Problem Based Learning (pembelajaran berbasis masalah), Project Based Learning (pembelajaran berbasis proyek), Cooperative Learning (pembelajaran kooperatif), dan Discovery Learning (pembelajaran penemuan).
Di dalam modul ajar Kurikulum Merdeka, model pembelajaran memang dituliskan sebagai komponen tersendiri pada bagian informasi umum, terpisah dari kolom metode maupun aktivitas pembelajaran.
Soal efektivitasnya, sejumlah meta-analisis di Indonesia — misalnya pada penerapan Problem Based Learning dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam maupun mata pelajaran sains di sekolah dasar — cukup konsisten menemukan bahwa model ini efektif meningkatkan hasil belajar dan keterampilan berpikir kritis siswa dibanding pembelajaran konvensional. Meski begitu, efektivitas sebuah model tetap bergantung pada seberapa tepat guru memilihnya sesuai karakteristik materi dan kebutuhan siswa, bukan berlaku sama untuk semua situasi.
Apa Itu Metode Pembelajaran?
Metode pembelajaran berada di level paling operasional dan paling konkret dari ketiganya. Kalau strategi adalah arah besar dan model adalah kerangka tahapannya, metode pembelajaran adalah cara nyata yang benar-benar dijalankan guru saat berhadapan langsung dengan siswa di kelas. Metode pembelajaran, menurut Hamzah, adalah cara yang digunakan guru untuk mencapai tujuan pembelajaran — cara pendidik menyampaikan materi dan cara peserta didik menerimanya pada saat pelajaran berlangsung. Slameto memaknainya secara lebih ringkas sebagai cara yang harus ditempuh dalam mengajar, yaitu langkah operasional dari strategi pembelajaran yang sudah dipilih sebelumnya.
Karena sifatnya operasional, metode inilah yang paling mudah dikenali dalam praktik sehari-hari: ceramah, diskusi, demonstrasi, tanya jawab, simulasi, hingga brainstorming. Satu model pembelajaran biasanya diwujudkan lewat kombinasi beberapa metode sekaligus. Model Problem Based Learning misalnya, dalam praktiknya bisa memakai metode diskusi kelompok untuk merumuskan masalah, metode tanya jawab untuk menggali pemahaman awal siswa, dan metode presentasi untuk memaparkan hasil pemecahan masalah.
Ceramah sendiri adalah contoh metode yang paling sering digunakan di sekolah Indonesia hingga saat ini, meski kerap dianggap kurang sesuai dengan semangat pembelajaran aktif. Sementara itu, diskusi, studi kasus, dan proyek kelompok merupakan metode-metode yang lebih identik dengan pendekatan pembelajaran aktif, karena menuntut siswa lebih banyak terlibat memproses informasi dibanding sekadar mendengarkan.
Satu hal penting: metode bukan berarti selalu “lebih baik” ketika terkesan lebih modern. Baik atau tidaknya sebuah metode sangat tergantung pada kesesuaiannya dengan tujuan belajar, karakter materi, serta kondisi siswa di kelas tersebut.
Berbagai contoh metode seperti ceramah, diskusi, demonstrasi, Project Based Learning, hingga Discovery Learning dibahas lebih lengkap pada artikel Metode Pembelajaran: Pengertian, Jenis, dan Perkembangannya.
Perbedaan Ketiganya dalam Satu Tabel
Sampai di sini mungkin terlihat bahwa ketiga istilah tersebut tidak saling bertentangan, melainkan berada pada tingkatan yang berbeda. Ringkasnya, perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.
| Aspek | Strategi | Model | Metode |
|---|---|---|---|
| Pengertian | Rencana besar / arah pembelajaran | Kerangka pembelajaran dengan tahapan sistematis | Cara operasional mengajar di kelas |
| Tingkat Keluasan | Paling umum dan abstrak | Menengah, lebih terstruktur | Paling operasional dan konkret |
| Fungsi | Menentukan arah dan tujuan besar | Mengatur alur dan tahapan kegiatan | Menjalankan aktivitas belajar secara nyata |
| Sifat | Konseptual, berupa keputusan awal | Sistematis, punya sintaks/tahapan tetap | Teknis, langsung terlihat di kelas |
| Contoh | Student-centered learning, exposition-discovery | Problem Based Learning, Cooperative Learning, Discovery Learning | Ceramah, diskusi, demonstrasi, tanya jawab |
Tabel ini juga menunjukkan bahwa ketiganya sebenarnya bertingkat dan saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Guru tidak perlu memilih salah satu di antara strategi, model, atau metode — ketiganya justru harus hadir bersamaan dalam satu rancangan pembelajaran yang utuh, hanya berbeda pada level keluasannya.

Hubungan Ketiganya dalam Perencanaan Pembelajaran
Ketiga istilah ini bukan konsep yang berdiri sendiri. Dalam praktik mengajar, guru biasanya menentukan strategi terlebih dahulu sesuai tujuan pembelajaran. Setelah itu, guru memilih model yang paling sesuai untuk mewujudkan strategi tersebut, lalu menjalankannya melalui satu atau beberapa metode yang relevan.
Karena berada pada level yang berbeda, pertanyaan “mana yang lebih penting?” sebenarnya kurang tepat. Strategi, model, dan metode justru saling melengkapi sebagai bagian dari satu proses perencanaan pembelajaran yang utuh.
Contoh dalam Satu Skenario Mengajar
Penjelasan definisi saja kadang masih terasa abstrak. Supaya lebih jelas, mari lihat bagaimana keempat level ini (termasuk teknik sebagai turunan paling detail dari metode) bekerja bersama dalam satu skenario nyata: mengajarkan konsep pecahan di kelas.
Strategi: Membuat siswa memahami konsep pecahan melalui pengalaman konkret, bukan sekadar rumus abstrak di papan tulis. Ini adalah keputusan arah besar guru sebelum menentukan apa pun yang lebih teknis.
Model: Guru memilih Problem Based Learning sebagai kerangka pembelajarannya — siswa akan dihadapkan pada masalah nyata terkait pembagian benda secara adil, lalu diarahkan menemukan konsep pecahan dari masalah tersebut secara bertahap.
Metode: Untuk menjalankan model itu, guru memakai kombinasi beberapa metode: diskusi kelompok untuk merumuskan solusi bersama, demonstrasi untuk memperagakan cara membagi benda, serta tanya jawab dan presentasi untuk memastikan pemahaman siswa terbentuk dengan baik.
Teknik: Pada level paling detail dan personal, guru menerapkan teknik-teknik kecil seperti membagi siswa ke dalam kelompok berisi empat orang agar diskusi lebih terkendali, serta menggunakan kertas lipat sebagai alat peraga konkret untuk memvisualisasikan pecahan.
Dari satu skenario ini terlihat jelas bagaimana strategi menentukan arah, model memberi kerangka tahapan, metode menjalankan aktivitas konkret, dan teknik menyesuaikannya dengan kondisi kelas yang spesifik. Empat lapis ini bekerja seperti boneka Matryoshka: setiap lapis yang lebih kecil selalu berada di dalam lapis yang lebih besar, bukan berdiri sendiri-sendiri.
Jadi Guru Memilihnya dalam Urutan Apa?
Sampai di sini, mungkin muncul pertanyaan yang lebih praktis: kalau sedang menyusun RPP atau modul ajar, dari mana sebenarnya guru harus mulai?
Dalam praktiknya, guru biasanya tidak memilih metode terlebih dahulu, melainkan memulai dari tujuan pembelajaran. Setelah tujuan ditetapkan, guru menentukan strategi yang paling sesuai, memilih model yang mampu mewujudkan strategi tersebut, lalu menentukan metode dan teknik yang akan digunakan selama pembelajaran berlangsung. Urutan sederhananya dapat digambarkan seperti berikut:
Tujuan belajar → Strategi → Model → Metode → Teknik
Dengan memahami urutan ini, guru tidak lagi melihat metode, model, dan strategi sebagai pilihan yang saling bersaing, tetapi sebagai bagian dari satu rancangan pembelajaran yang saling melengkapi. Setelah memahami urutan tersebut, tantangan berikutnya adalah menentukan metode yang paling sesuai dengan tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, materi, serta kondisi kelas. Proses memilih metode inilah yang sering menjadi bagian paling penting dalam perencanaan pembelajaran, karena tidak ada satu metode yang selalu cocok untuk semua situasi. Pembahasan lebih lengkap mengenai cara menentukan pilihan tersebut dapat dibaca pada artikel Bagaimana Guru Memilih Metode Pembelajaran yang Tepat? Kolom-kolom yang tampak terpisah di RPP maupun modul ajar sebenarnya hanyalah representasi tertulis dari alur berpikir yang sama ini — bukan komponen yang harus diisi secara acak tanpa keterkaitan satu sama lain.
Memahami urutan ini adalah langkah pertama. Tantangan berikutnya adalah menentukan pilihan yang paling sesuai dengan tujuan belajar, karakteristik siswa, dan kondisi kelas. Pembahasannya kami ulas pada artikel Bagaimana Guru Memilih Metode Pembelajaran yang Tepat?
Kesalahan yang Paling Sering Terjadi
Setelah memahami definisi dan contohnya, ada baiknya mengenali pola-pola kesalahan yang paling sering muncul, baik dalam laporan mahasiswa keguruan, dokumen RPP, maupun modul ajar guru di lapangan.
Kesalahan pertama adalah menyebut metode sebagai model, seperti menuliskan “model ceramah” atau “model diskusi”. Ceramah dan diskusi adalah metode, bukan model, karena keduanya tidak memiliki sintaks tahapan yang sistematis dan bisa langsung berdiri sendiri sebagai satu aktivitas, bukan sebagai kerangka besar yang menaungi banyak aktivitas sekaligus.
Contoh konkretnya begini: seorang guru mengatakan ia menggunakan “model ceramah” saat mengajar. Padahal:
- ✔ Ceramah adalah metode, bukan model.
- Model yang sebenarnya dipakai bisa saja salah satu dari:
- Direct Instruction
- Problem Based Learning
- Discovery Learning
Ceramah baru menjadi salah satu cara guru menyampaikan materi di dalam model tersebut — bukan model itu sendiri. Kesalahan kecil semacam ini memang terlihat sepele, tetapi justru paling sering ditanyakan dan dicari oleh guru maupun mahasiswa keguruan.
Kesalahan kedua adalah menyamakan model dengan strategi, misalnya menyebut Problem Based Learning sebagai “strategi” padahal ia lebih tepat disebut model karena sudah memiliki tahapan konkret dan berulang. Sebaliknya, strategi seperti student-centered learning kadang keliru disebut sebagai model, padahal ia masih berupa arah besar yang bisa diwujudkan lewat berbagai model berbeda.
Kesalahan ketiga adalah mencampur level metode dengan teknik, misalnya menyebut “membentuk kelompok empat orang” sebagai metode, padahal itu adalah teknik — bagian implementasi paling kecil dari metode diskusi yang dipilih guru.
Kesalahan-kesalahan semacam ini sebenarnya bukan hal yang mengherankan mengingat, seperti dibahas di bagian awal, sejumlah penelitian tentang kesulitan guru menyusun RPP maupun modul ajar secara konsisten menempatkan “menentukan model dan metode pembelajaran” sebagai salah satu komponen tersulit, sejajar dengan kesulitan merumuskan indikator dan merancang penilaian. Memahami hierarki strategi-model-metode-teknik secara jelas setidaknya bisa mengurangi satu sumber kebingungan tersebut.
Kesalahan penggunaan istilah sebenarnya tidak selalu mengganggu proses belajar di kelas. Namun, dalam penyusunan modul ajar, RPP, penelitian pendidikan, maupun pelatihan guru, penggunaan istilah yang tepat membantu komunikasi menjadi lebih jelas dan mengurangi kesalahpahaman.
Kesimpulan
Metode, model, dan strategi pembelajaran memang sering terdengar mirip, tetapi ketiganya berada pada level yang berbeda dalam merancang pembelajaran. Strategi adalah rencana besar yang menentukan arah, model adalah kerangka sistematis yang mengatur alur, dan metode adalah cara operasional yang benar-benar dijalankan di depan kelas. Ketiganya bukan pilihan yang saling meniadakan, melainkan lapisan yang saling melengkapi dalam satu rancangan pembelajaran yang utuh.
Perbedaan istilah ini juga berkembang mengikuti perubahan paradigma pendidikan di Indonesia, mulai dari evolusi metode pembelajaran selama puluhan tahun, pergantian kurikulum yang membawa istilah-istilah baru, hingga pergeseran paradigma dari pembelajaran yang berpusat pada guru menuju pembelajaran yang lebih melibatkan siswa secara aktif. Memahami perbedaan mendasar antara strategi, model, dan metode bukan sekadar soal ketepatan istilah di atas kertas, melainkan bekal penting bagi siapa pun yang ingin merancang pembelajaran secara lebih sistematis dan terarah.
FAQ
Apa itu strategi pembelajaran? Strategi pembelajaran adalah rencana besar atau pola umum tindakan guru dan siswa dalam mewujudkan proses belajar-mengajar untuk mencapai tujuan tertentu. Sifatnya masih konseptual dan menjadi keputusan arah sebelum guru menentukan model atau metode yang lebih spesifik.
Apa itu model pembelajaran? Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang berisi prosedur sistematis dan bertahap untuk mengorganisasikan pengalaman belajar, seperti Problem Based Learning atau Cooperative Learning. Model punya sintaks langkah yang jelas dan bisa diterapkan berulang dengan struktur yang relatif sama.
Apa itu metode pembelajaran? Metode pembelajaran adalah cara operasional yang digunakan guru untuk menyampaikan materi kepada siswa, seperti ceramah, diskusi, demonstrasi, atau tanya jawab. Metode merupakan langkah teknis dari strategi maupun model yang telah dipilih sebelumnya.
Apa perbedaan mendasar antara metode dan model pembelajaran? Perbedaan utamanya terletak pada tingkat keluasan dan struktur. Model memiliki tahapan sistematis yang menaungi beberapa aktivitas sekaligus, sedangkan metode adalah satu cara operasional tunggal yang bisa langsung dijalankan tanpa harus mengikuti sintaks tahapan tertentu.
Apakah satu model pembelajaran hanya boleh memakai satu metode saja? Tidak. Satu model biasanya diwujudkan lewat kombinasi beberapa metode sekaligus. Model Problem Based Learning misalnya, dalam praktiknya bisa memakai metode diskusi, tanya jawab, dan presentasi secara bersamaan pada tahapan yang berbeda-beda.
Mengapa buku yang berbeda memberikan definisi yang berbeda tentang strategi, model, dan metode pembelajaran? Karena setiap buku metodologi pengajaran memakai kerangka definisi yang sedikit berbeda, dosen dan pelatihan guru mewariskan versi definisi yang berbeda pula, regulasi kurikulum yang berganti membawa istilah baru, dan dalam percakapan sehari-hari ketiganya memang sering dipakai secara longgar tanpa membedakan levelnya secara ketat. Karena itu, ketika membaca buku atau mengikuti pelatihan, penting untuk memahami kerangka definisi yang digunakan penulis, bukan hanya menghafal istilahnya.
Referensi
- Sanjaya, Wina. (2007). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
- Sanjaya, Wina. (2013). Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
- Joyce, B., & Weil, M. (1986). Models of Teaching (3rd ed.). Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.
- Siregar, E., & Nara, H. (2010). Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia.
- Hamalik, Oemar. (2004). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
- Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
- Kadi, T., dkk. (2022). Efektivitas Model Problem Based Learning dalam Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa dalam Pembelajaran PAI di Indonesia: Sistematika Literatur Review dan Meta-Analisis. TADARUS.
- Utami, S., & Astawan. (2020). Meta-Analisis Pengaruh Model Problem Based Learning terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu.
- Analisis Faktor Kesulitan Guru dalam Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di SDN 05 Ampenan. (2021).
- Faktor dan Kendala Guru dalam Menyusun Komponen RPP Kurikulum 2013 di SD Negeri Tapos 1. (2023).
- Identifikasi Kesulitan Guru dalam Penyusunan RPP Kurikulum 2013 di Gugus 1 Kediri. Renjana Pendidikan Dasar, 1(3).
- Perbedaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) antara Kurikulum 2013 dengan Kurikulum Merdeka Belajar. (2024). Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI).
- Komponen-Komponen Modul Ajar Kurikulum Merdeka. Kemendikbud. (2022). Capaian Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran. Jakarta.