Cara Membuat Soal dengan AI untuk Guru (Lengkap + Contoh Prompt)

hero ilustrasi cara membuat soal dengan ai untuk guru

Membuat soal terlihat sederhana, tetapi setiap guru tahu bahwa kenyataannya tidak semudah itu. Soal yang baik bukan sekadar pertanyaan dan jawaban. Ada tujuan pembelajaran yang harus tercapai, tingkat kesulitan yang harus terukur, indikator kemampuan yang harus jelas, dan kesesuaian dengan materi yang sudah diajarkan di kelas.

Saat ini, jumlah guru di Indonesia tercatat mencapai sekitar 3,47 juta orang pada tahun ajaran 2025/2026, dan setiap harinya sebagian besar dari mereka harus menyiapkan soal untuk latihan, kuis, ulangan harian, hingga asesmen sumatif. Jika seorang guru harus menyiapkan puluhan hingga ratusan butir soal dalam satu semester untuk berbagai jenis penilaian, maka kebutuhan penyusunan soal dalam satu tahun ajaran tentu tidak sedikit. Waktu yang tersedia untuk itu semakin terbatas karena guru juga dibebani berbagai tugas administratif di luar mengajar.

Di sinilah kecerdasan buatan (AI) mulai berperan. Bukan untuk menggantikan guru dalam menentukan apa yang harus diujikan, tetapi untuk mempercepat proses penyusunan draf soal yang kemudian tetap divalidasi oleh guru sebelum digunakan. Artikel ini akan membahas secara lengkap bagaimana pemanfaatan AI untuk guru bisa diterapkan secara khusus dalam pembuatan soal, mulai dari alasan, jenis soal, langkah praktis, contoh prompt, hingga kesalahan yang harus dihindari.


Mengapa Guru Membutuhkan AI untuk Membuat Soal?

1. Kebutuhan Variasi Soal yang Sangat Banyak

Bayangkan seorang guru IPA kelas 8 yang dalam satu semester harus menyiapkan soal latihan harian, kuis singkat, soal untuk asesmen formatif, soal remedial bagi siswa yang belum tuntas, dan soal pengayaan bagi siswa yang sudah menguasai materi lebih cepat. Semua soal itu idealnya tidak sama persis, karena setiap kelompok siswa punya kebutuhan berbeda.

Menyusun lima jenis soal berbeda untuk satu topik yang sama, secara manual, jelas memakan waktu yang tidak sedikit. Belum lagi jika guru mengampu beberapa kelas dengan materi yang berbeda-beda dalam satu minggu.

2. Soal Harus Sesuai dengan Kemampuan Siswa

Tidak semua siswa berada pada level kemampuan berpikir yang sama. Sebagian membutuhkan soal dasar untuk memastikan pemahaman konsep, sementara sebagian lain sudah siap menghadapi soal yang menuntut analisis dan penalaran lebih tinggi. Menyusun soal berbasis kemampuan berpikir tingkat tinggi yang tepat sasaran membutuhkan waktu berpikir ekstra, karena guru harus merancang stimulus, konteks, dan pertanyaan yang benar-benar mengukur kemampuan analisis, bukan sekadar hafalan.

3. Tuntutan Asesmen yang Lebih Fleksibel di Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka mendorong guru untuk menyusun asesmen yang lebih beragam, mulai dari asesmen diagnostik, formatif, hingga sumatif, dengan pendekatan yang lebih fleksibel dibanding sebelumnya. Pendekatan ini memberi ruang lebih besar bagi guru untuk berkreasi, tetapi di sisi lain juga menambah jumlah dan variasi soal yang perlu dirancang dalam menyusun asesmen pembelajaran yang sesuai dengan capaian pembelajaran.

Beban Administratif Guru: Waktu untuk Menyusun Soal Semakin Terbatas

Persoalan ini menjadi lebih berat ketika dikaitkan dengan realitas beban kerja guru di Indonesia. Program RISE Indonesia mencatat bahwa di banyak sekolah, terutama di daerah non-perkotaan yang belum memiliki staf tata usaha, guru kelas sering merangkap sebagai operator data pokok pendidikan maupun operator berbagai program bantuan sekolah. Akibatnya, waktu guru banyak tersita untuk pekerjaan administratif, bahkan sampai harus dilanjutkan di rumah pada malam hari.

Kondisi ini membuat waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk merancang soal berkualitas justru terpakai untuk mengurus dokumen dan laporan. Di sisi lain, distribusi guru di Indonesia juga belum merata β€” data Dapodik per akhir 2024 mencatat masih ada kekurangan sekitar 374 ribu guru di berbagai satuan pendidikan negeri, sementara di sisi lain ada kelebihan guru pada bidang tertentu di wilayah lain. Artinya, di banyak sekolah, satu guru harus menangani beban mengajar dan penyusunan soal yang lebih besar dari idealnya.

Menariknya, tekanan waktu semacam ini justru membuat guru β€” bukan siswa β€” yang lebih dulu mengadopsi AI secara luas. Sebuah survei oleh Walton Family Foundation di Amerika Serikat terhadap 1.000 guru jenjang K-12 menemukan bahwa 51% di antaranya sudah menggunakan ChatGPT hanya dalam dua bulan sejak chatbot itu diperkenalkan ke publik, jauh lebih tinggi dibanding tingkat penggunaan di kalangan siswa pada periode yang sama. Pola ini menegaskan bahwa kebutuhan riil di balik adopsi AI oleh guru bukan sekadar tren teknologi, melainkan respons langsung terhadap beban kerja yang selama ini mereka hadapi, termasuk dalam urusan penyusunan soal dan evaluasi.

Dalam konteks seperti ini, AI hadir bukan sebagai solusi ajaib, tetapi sebagai alat bantu yang realistis: mempercepat tahap penyusunan draf soal, agar waktu guru bisa lebih banyak dialokasikan untuk hal yang tidak bisa digantikan mesin, yaitu memahami karakter dan kebutuhan belajar siswanya sendiri.


Apakah AI Bisa Membuat Soal Secara Otomatis?

Jawaban singkatnya: AI bisa membantu membuat draf soal, tetapi tidak bisa menggantikan peran guru sepenuhnya.

AI generatif yang biasa dipakai untuk membuat soal bekerja dengan cara mengenali pola bahasa dan informasi dari data yang telah dipelajarinya, lalu menyusun teks baru berdasarkan instruksi yang diberikan. Karena cara kerjanya seperti itu, kualitas soal yang dihasilkan sangat bergantung pada seberapa jelas dan spesifik instruksi atau prompt yang diberikan guru β€” bukan pada seberapa “pintar” AI itu sendiri. Prompt yang samar akan menghasilkan soal yang generik, sementara prompt yang detail akan menghasilkan soal yang jauh lebih relevan dengan kebutuhan kelas.

Survei internasional OECD TALIS 2024 terhadap ratusan ribu guru di puluhan negara menemukan pola yang menarik: dari para guru yang sudah menggunakan AI dalam pekerjaannya, penggunaan paling umum adalah untuk merangkum topik dan menyusun rencana pembelajaran, sementara penggunaan untuk menilai atau memeriksa pekerjaan siswa justru menjadi salah satu penggunaan yang paling jarang dilakukan. Ini menunjukkan bahwa di tingkat global sekalipun, guru masih cenderung berhati-hati menyerahkan urusan penilaian sepenuhnya kepada AI β€” dan itu adalah sikap yang tepat.

Penelitian di Indonesia juga menunjukkan gambaran serupa pada tahap yang lebih awal. Studi terhadap guru sekolah dasar mengenai pemanfaatan AI dalam penyusunan asesmen pembelajaran mencatat tingkat pemanfaatan AI pada berbagai indikator penyusunan soal berkisar antara 45% hingga sekitar 60%. Artinya, banyak guru sebenarnya sudah mulai mencoba memanfaatkan AI untuk membuat soal, tetapi penggunaannya belum merata di semua tahap dan masih membutuhkan panduan yang lebih sistematis agar efektif dan tetap terkontrol.

Supaya lebih jelas, berikut pembagian peran antara AI dan guru dalam proses pembuatan soal:

AI Bisa MembantuGuru Tetap Menentukan
Membuat draf pertanyaanKesesuaian dengan materi yang diajarkan
Membuat opsi jawaban dan pengecohValiditas dan kebenaran soal
Membuat variasi tingkat kesulitanKesesuaian dengan kemampuan siswa
Membuat draf pembahasan jawabanKeputusan akhir penggunaan soal

Dengan kata lain, AI berperan sebagai asisten yang mempercepat tahap awal penyusunan, sementara guru tetap memegang kendali penuh atas kualitas dan kesesuaian soal yang akan diberikan kepada siswa.


Jenis Soal yang Bisa Dibuat dengan Bantuan AI

1. Soal Pilihan Ganda

AI dapat membantu menyusun kalimat pertanyaan (stem), membuat beberapa opsi jawaban yang masuk akal termasuk pengecoh yang relevan, serta menentukan kunci jawaban berdasarkan materi yang diberikan.

2. Soal Esai atau Uraian

Untuk soal yang menuntut siswa menjelaskan pemahamannya sendiri, AI bisa membantu menyusun pertanyaan terbuka sekaligus draf rubrik penilaian yang memuat kriteria jawaban lengkap, cukup, dan kurang lengkap.

3. Soal HOTS (Higher Order Thinking Skills)

AI dapat membantu menyusun stimulus berupa studi kasus, data, grafik, atau ilustrasi kejadian sehari-hari, yang kemudian diikuti pertanyaan yang menuntut siswa menganalisis, mengevaluasi, atau memberi solusi β€” bukan sekadar mengingat fakta.

4. Soal Berdasarkan Taksonomi Bloom

AI juga bisa diarahkan untuk menyusun soal sesuai level kognitif tertentu dalam Taksonomi Bloom, yaitu:

  • Mengingat β€” mengenali fakta dan istilah dasar
  • Memahami β€” menjelaskan konsep dengan kata sendiri
  • Menerapkan β€” menggunakan konsep pada situasi baru
  • Menganalisis β€” memilah dan menghubungkan informasi
  • Mengevaluasi β€” menilai dan memberi argumen
  • Mencipta β€” menghasilkan ide atau solusi baru

Menentukan level kognitif ini sejak awal akan sangat membantu ketika guru ingin menyusun kombinasi soal yang mengarah pada soal berbasis HOTS secara lebih terstruktur, bukan hanya menambahkan soal analisis secara acak.


Cara Membuat Soal dengan AI Langkah demi Langkah

Langkah 1: Tentukan Tujuan dan Materi Soal

Sebelum membuka aplikasi AI, siapkan dulu beberapa hal berikut:

  • Jenjang dan kelas
  • Mata pelajaran dan materi spesifik
  • Indikator atau tujuan pembelajaran yang ingin diukur
  • Jumlah soal yang dibutuhkan
  • Jenis soal (pilihan ganda, esai, atau HOTS)

Langkah ini penting karena semakin jelas tujuan yang guru tentukan, semakin relevan pula hasil yang akan diberikan AI pada langkah berikutnya. Kejelasan tujuan pembelajaran ini juga menjadi tahap penting yang sama saat guru menyusun modul ajar dengan bantuan AI, karena baik modul ajar maupun soal sama-sama harus berangkat dari indikator capaian yang sama agar tidak saling tumpang tindih.

Langkah 2: Susun Prompt yang Detail

Kualitas soal yang dihasilkan AI sangat bergantung pada kualitas instruksi atau prompt yang diberikan. Gunakan formula sederhana berikut:

Peran AI + Konteks Pembelajaran + Jenis Soal + Tingkat Kesulitan + Format Output

Contoh penerapannya:

“Anda adalah guru IPA SMP kelas 8. Buatkan 10 soal pilihan ganda tentang materi sistem pencernaan manusia berdasarkan Kurikulum Merdeka, dengan tingkat kesulitan sedang, lengkap dengan kunci jawaban dan pembahasan singkat.”

Semakin spesifik prompt yang diberikan, semakin kecil kemungkinan guru harus mengulang proses generate dari awal. Dalam praktiknya, guru biasanya tetap perlu melakukan satu atau dua kali penyesuaian prompt sebelum mendapatkan format dan tingkat kesulitan soal yang benar-benar sesuai kebutuhan kelasnya β€” ini hal yang wajar dan bukan tanda prompt yang gagal. Untuk variasi contoh prompt lain di luar pembuatan soal, guru juga bisa mempelajari kumpulan contoh prompt ChatGPT untuk guru yang mencakup kebutuhan pembelajaran sehari-hari.

Langkah 3: Minta AI Menyusun Draf Soal

Setelah prompt dikirim, AI akan menghasilkan draf soal lengkap dengan pertanyaan, pilihan jawaban, kunci, dan pembahasan. Pada tahap ini, anggap hasil AI sebagai draf awal, bukan produk final yang siap pakai.

Langkah 4: Review dan Validasi Soal

Ini adalah langkah yang paling menentukan kualitas akhir soal. Guru perlu memeriksa beberapa hal berikut sebelum soal digunakan:

  • Apakah isi soal sudah sesuai dengan materi yang diajarkan?
  • Apakah jawaban yang ditandai sebagai kunci sudah benar?
  • Apakah tingkat kesulitan sudah sesuai kebutuhan?
  • Apakah kalimat soal tidak ambigu atau membingungkan?

Tahap validasi inilah yang membedakan penggunaan AI secara bertanggung jawab dengan sekadar menyalin mentah-mentah hasil generate tanpa pemeriksaan.

Langkah 5: Analisis dan Perbaiki Soal

Jika dari hasil validasi ditemukan soal yang kurang tepat β€” misalnya pengecoh yang terlalu mudah ditebak, kalimat yang ambigu, atau tingkat kesulitan yang belum pas β€” jangan langsung dibuang. Guru bisa meminta AI merevisi bagian yang bermasalah secara spesifik, misalnya “perbaiki opsi jawaban nomor 3 agar pengecohnya lebih relevan dengan miskonsepsi siswa”, tanpa perlu mengulang seluruh proses generate dari awal. Tahap kecil ini yang sering terlewat, padahal justru di sinilah kualitas soal benar-benar terbentuk.

Langkah 6: Gunakan Soal dalam Pembelajaran

Setelah soal selesai divalidasi, guru dapat langsung menggunakannya dalam proses evaluasi. Agar pelaksanaannya lebih praktis dan hasilnya bisa dianalisis secara otomatis, soal-soal tersebut bisa diinput ke dalam sistem ujian online berbasis web sehingga guru tidak perlu lagi mengoreksi jawaban satu per satu secara manual.

Infografis cara membuat soal dengan AI untuk guru melalui 6 langkah mulai dari menentukan tujuan, membuat prompt, validasi soal hingga evaluasi digital

Bagaimana AI Membantu Meningkatkan Kualitas dan Validitas Soal?

Selain mempercepat penyusunan draf, AI juga bisa dimanfaatkan secara lebih spesifik untuk menjaga kualitas soal, bukan sekadar jumlahnya. Beberapa cara pemanfaatannya:

  • Mengecek kesesuaian level kognitif β€” guru bisa meminta AI menilai apakah sebuah soal benar-benar mengukur level “menganalisis”, atau ternyata masih di level “mengingat” meski kalimatnya terlihat rumit.
  • Membuat variasi pengecoh yang lebih masuk akal β€” untuk soal pilihan ganda, AI bisa diminta menyusun opsi jawaban salah yang tetap relevan dengan miskonsepsi umum siswa, bukan sekadar opsi asal berbeda.
  • Memperbaiki kejelasan bahasa soal β€” AI dapat membantu menyederhanakan kalimat soal yang terlalu panjang atau berpotensi ambigu agar lebih mudah dipahami siswa.
  • Menyusun kisi-kisi sebelum soal dibuat β€” sebelum meminta AI membuat soal jadi, guru bisa lebih dulu meminta AI menyusun kisi-kisi soal berisi indikator, level kognitif, dan bentuk soal untuk setiap butir, sehingga soal yang dihasilkan lebih terarah dan tidak tumpang tindih.

Dengan cara ini, AI tidak hanya dipakai untuk mempercepat pembuatan soal, tetapi juga untuk menjaga agar soal yang dihasilkan tetap valid dan sesuai indikator yang ingin diukur.


Contoh Prompt AI untuk Membuat Soal

Berikut beberapa contoh prompt yang bisa langsung disesuaikan dengan kebutuhan kelas Anda.

Prompt untuk SD

“Anda adalah guru kelas 4 SD. Buatkan 5 soal pilihan ganda tentang materi perkalian dan pembagian bilangan bulat, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak usia 9-10 tahun, lengkap dengan kunci jawaban.”

Prompt untuk SMP

“Anda adalah guru Bahasa Indonesia SMP kelas 7. Buatkan 8 soal uraian tentang unsur intrinsik cerpen, disertai rubrik penilaian sederhana untuk setiap soal.”

Prompt untuk SMA

“Anda adalah guru Ekonomi SMA kelas 11. Buatkan 10 soal pilihan ganda tentang inflasi dan kebijakan moneter, tingkat kesulitan sedang hingga sulit, sesuai Kurikulum Merdeka.”

Prompt untuk Soal HOTS

“Buatkan 5 soal HOTS untuk siswa SMA kelas 12 tentang perubahan iklim, berupa studi kasus singkat yang diikuti pertanyaan analisis dan evaluasi, bukan pertanyaan hafalan.”

Prompt untuk Soal Esai

“Buatkan 5 soal esai untuk siswa SMP kelas 9 tentang sistem pemerintahan Indonesia, disertai rubrik penilaian dengan tiga kategori: jawaban lengkap, cukup, dan kurang lengkap.”

Prompt untuk Membuat Kisi-Kisi Sebelum Soal

“Buatkan kisi-kisi soal IPA kelas 8 materi sistem pencernaan manusia, terdiri dari 10 butir, mencakup indikator soal, level kognitif (C1-C6), dan bentuk soal untuk masing-masing butir.”

Kisi-kisi ini bisa dijadikan acuan sebelum guru meminta AI men-generate soal jadi, sehingga setiap butir soal sudah punya arah yang jelas sejak awal.


Contoh Hasil Soal dari AI

Agar lebih mudah dibayangkan, berikut contoh sederhana bagaimana prompt diterjemahkan menjadi soal jadi.

Prompt:

“Buatkan 1 soal pilihan ganda materi sistem pencernaan manusia untuk siswa SMP kelas 8, tingkat kesulitan sedang.”

Hasil dari AI:

Soal: Urutan organ yang tepat dalam proses pencernaan makanan pada manusia adalah…

A. Mulut – lambung – kerongkongan – usus halus – usus besar B. Mulut – kerongkongan – lambung – usus halus – usus besar C. Mulut – usus halus – lambung – kerongkongan – usus besar D. Kerongkongan – mulut – lambung – usus besar – usus halus

Kunci jawaban: B

Pembahasan: Makanan masuk melalui mulut, kemudian melewati kerongkongan menuju lambung untuk dicerna secara kimiawi, dilanjutkan ke usus halus untuk penyerapan sari makanan, dan berakhir di usus besar untuk proses pembusukan sisa makanan.

Contoh di atas menunjukkan bagaimana AI bisa langsung menyusun struktur soal yang rapi. Namun, guru tetap perlu memastikan urutan organ dan penjelasannya sudah tepat sebelum soal ini digunakan dalam ulangan sesungguhnya.

Agar terlihat perbedaannya dengan soal hafalan biasa, berikut contoh ketika AI diminta membuat soal HOTS dari materi yang sama:

Prompt:

“Buatkan 1 soal HOTS materi sistem pencernaan manusia untuk siswa SMP kelas 8, berupa studi kasus singkat yang menuntut analisis, bukan hafalan.”

Hasil dari AI:

Stimulus: Seorang siswa mencatat pola makannya selama satu minggu. Ia jarang mengonsumsi sayur dan buah, sering makan makanan cepat saji, dan jarang minum air putih dalam jumlah cukup.

Soal: Berdasarkan data pola makan tersebut, strategi apa yang paling tepat untuk menjaga kesehatan sistem pencernaannya, dan jelaskan alasannya berdasarkan fungsi organ pencernaan yang telah dipelajari.

Soal semacam ini menuntut siswa menghubungkan data nyata dengan konsep yang sudah diajarkan, sehingga levelnya berada pada tahap menganalisis dan mengevaluasi, bukan sekadar mengingat urutan organ pencernaan.


Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membuat Soal dengan AI

1. Prompt Terlalu Umum

Prompt seperti “buatkan soal IPA kelas 8” tanpa keterangan materi, jumlah, atau tingkat kesulitan akan menghasilkan soal yang terlalu generik dan sering kali tidak sesuai kebutuhan kelas.

2. Tidak Mengecek Kebenaran Soal

AI tetap bisa membuat kesalahan faktual atau kunci jawaban yang keliru. Menggunakan soal tanpa memeriksanya terlebih dahulu berisiko menyesatkan siswa.

3. Mengabaikan Kemampuan Siswa

Soal yang digenerate tanpa mempertimbangkan karakteristik kelas bisa jadi terlalu mudah untuk sebagian siswa, atau justru terlalu sulit untuk siswa lain.

4. Membiarkan AI Menentukan Semua Keputusan

Prompt, review, dan keputusan akhir tetap harus berada di tangan guru. AI adalah alat bantu penyusunan, bukan pengambil keputusan pedagogis.


Tips Membuat Soal dengan AI Secara Berkualitas

Gunakan daftar periksa berikut setiap kali menyusun soal dengan bantuan AI:

  • βœ“ Cantumkan tujuan pembelajaran secara spesifik dalam prompt
  • βœ“ Tentukan level kognitif yang diinginkan (mengacu pada Taksonomi Bloom)
  • βœ“ Jelaskan karakter atau kemampuan rata-rata siswa
  • βœ“ Minta variasi soal agar tidak monoton
  • βœ“ Selalu review dan validasi sebelum soal digunakan

Kelima poin ini sederhana, tetapi jika diterapkan secara konsisten akan sangat membantu guru mendapatkan hasil generate yang jauh lebih relevan dan siap pakai.


Masa Depan Pembuatan Soal dengan Bantuan AI

Ke depan, pemanfaatan AI dalam pembuatan soal kemungkinan besar akan terhubung dengan konsep asesmen yang lebih personal. Sejumlah kajian pendidikan global menunjukkan tren menuju soal yang disesuaikan secara otomatis dengan tingkat kemampuan masing-masing siswa (adaptive learning), serta pemanfaatan data hasil belajar siswa dari waktu ke waktu untuk terus menyempurnakan kualitas soal yang diberikan.

Untuk mendalami arah perkembangan ini, guru dapat mempelajari lebih lanjut mengenai learning analytics dalam pendidikan dan bagaimana konsep AI assessment di dunia pendidikan mulai diterapkan secara lebih luas, termasuk potensi penerapannya di Indonesia.


Dari Pembuatan Soal AI ke Evaluasi Digital

Setelah soal selesai dibuat dan divalidasi, tahap berikutnya adalah bagaimana melakukan evaluasi secara efisien. Menyusun soal berkualitas akan kurang optimal manfaatnya jika proses pelaksanaan ujiannya masih dilakukan secara manual dan koreksinya memakan waktu lama.

Di sinilah soal-soal yang telah disusun dengan bantuan AI dapat langsung dimanfaatkan melalui sistem ujian online CBT berbasis web, yang memungkinkan guru melaksanakan evaluasi, mengumpulkan hasil, dan menganalisis capaian siswa secara lebih cepat dan terukur.


Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Apakah AI bisa membuat soal? Bisa. AI dapat membantu menyusun draf pertanyaan, opsi jawaban, dan pembahasan berdasarkan materi yang diberikan guru. Namun, hasilnya tetap perlu divalidasi sebelum digunakan.

2. Apakah ChatGPT bisa membuat soal sesuai Kurikulum Merdeka? Bisa, selama prompt yang diberikan menyertakan konteks Kurikulum Merdeka, materi, kelas, dan indikator pembelajaran yang jelas.

3. Bagaimana cara membuat soal HOTS dengan AI? Guru bisa meminta AI menyusun stimulus berupa studi kasus atau data, lalu diikuti pertanyaan yang menuntut analisis, evaluasi, atau pemecahan masalah, bukan sekadar hafalan.

4. Apakah soal dari AI bisa langsung digunakan tanpa diperiksa? Sebaiknya tidak. Soal hasil AI perlu direview terlebih dahulu untuk memastikan kesesuaian materi, kebenaran kunci jawaban, dan kesesuaian tingkat kesulitan dengan kemampuan siswa.

5. AI apa saja yang bisa digunakan guru untuk membuat soal? Guru dapat menggunakan berbagai model AI percakapan umum yang tersedia saat ini, seperti ChatGPT, Gemini, Claude, atau Copilot, selama prompt yang diberikan disusun secara jelas dan spesifik sesuai kebutuhan pembelajaran. Yang menentukan kualitas hasil bukan nama platformnya, melainkan kejelasan instruksi yang diberikan guru.

6. Apakah AI bisa membuat soal HOTS? Bisa, dengan memberikan instruksi yang jelas mengenai level kognitif yang diinginkan (misalnya menganalisis atau mengevaluasi), stimulus berupa data atau studi kasus, serta kemampuan spesifik yang ingin diukur dari siswa.


Referensi

  1. GoodStats. Jumlah Guru Indonesia Naik dalam 5 Tahun Terakhir, data Kemendikdasmen tahun ajaran 2025/2026. https://goodstats.id/article/jumlah-guru-indonesia-naik-dalam-lima-tahun-terakhir-VEuNP
  2. Puslapdik Kemendikdasmen. Jumlah Guru di Indonesia Ideal, Tetapi Tidak Merata, data Dapodik per Desember 2024. https://puslapdik.kemendikdasmen.go.id/jumlah-guru-di-indonesia-ideal-tetapi-tidak-merata/
  3. Program RISE Indonesia (SMERU). Beban Administrasi Penghambat Inovasi. https://rise.smeru.or.id/id/blog/beban-administrasi-penghambat-inovasi
  4. OECD. Results from TALIS 2024 dan Using Artificial Intelligence: Takeaways from TALIS 2024. https://www.oecd.org/en/publications/results-from-talis-2024_90df6235-en.html
  5. Hanis & Wahyudin (2024). Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Penyusunan Asesmen Pembelajaran bagi Guru Sekolah Dasar, Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 9(2). https://www.researchgate.net/publication/380898934
  6. Walton Family Foundation, dikutip dalam Info Komputer. Survei: Ternyata Guru Lebih Banyak Menggunakan ChatGPT daripada Siswa. https://infokomputer.grid.id/read/123722518/survei-ternyata-guru-lebih-banyak-menggunakan-chatgpt-daripada-siswa