Diagnostic Assessment: Pengertian, Tujuan, Contoh, Manfaat, dan Perannya dalam Kurikulum Merdeka

Bayangkan seorang guru masuk ke kelas berisi 32 siswa. Di atas kertas, mereka satu angkatan, satu kelas, satu buku paket. Tapi kenyataannya, sebagian sudah menguasai materi prasyarat, sebagian lain masih tertatih di dasar, dan sebagian lagi datang ke sekolah dengan beban pikiran yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran sama sekali. Jika guru langsung mengajar dengan asumsi semua siswa “start dari titik yang sama”, besar kemungkinan sebagian siswa akan tertinggal sejak menit pertama.
Di sinilah diagnostic assessment atau asesmen diagnostik berperan. Ia bukan sekadar tes awal semester yang formalitas, melainkan alat untuk memotret kondisi nyata siswa sebelum proses belajar dimulai — baik dari sisi kemampuan akademik maupun kondisi psikologis dan sosial mereka. Dalam Kurikulum Merdeka, asesmen ini bahkan menjadi fondasi dari konsep pembelajaran berdiferensiasi yang digaungkan pemerintah.



