9 Tahun Perjalanan Ujian Berbasis Komputer di Indonesia: dari UNBK hingga TKA

- JEJAK PERJALANAN: DARI RINTISAN KECIL KE STANDAR NASIONAL
- Siapa Penggagasnya, dan Sekolah Mana yang Menjadi Pionir?
- Fase 1: Rintisan yang Nyaris Tak Terlihat (2014-2015)
- Fase 2: Lonjakan Eksponensial (2016-2017)
- Fase 3: UN Dihapus, ANBK Menggantikan — Pergeseran Filosofi Evaluasi (2021)
- Fase 4: Kelahiran TKA — Kembali ke Evaluasi Individual, Tetap Berbasis Komputer (2025-2026)
- 2026: Apakah Semua Sekolah Sudah Menerapkan CBT?
- Membaca Pola dari Sembilan Tahun Perjalanan
- KENAPA KEBIJAKAN INI TERUS BERGESER?
- APA ARTINYA INI BAGI SEKOLAH ANDA
- Kesimpulan: Sembilan Tahun yang Mengubah Wajah Evaluasi Pendidikan Indonesia
Bayangkan sebuah ruang kelas SMP di tahun 2015. Hanya segelintir sekolah di Indonesia yang berani mencoba sesuatu yang baru: mengganti lembar jawaban komputer (LJK) dan pensil 2B dengan layar monitor. Tahun itu, hanya 556 sekolah di seluruh negeri yang ikut serta dalam rintisan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Sembilan tahun kemudian, ujian berbasis komputer bukan lagi eksperimen — ia menjadi standar nasional, dengan nama dan wajah baru: Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Faktanya sederhana namun signifikan: Ujian Nasional dalam bentuk lamanya sudah tidak ada lagi. Sejak 2021, ia digantikan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), dan kini pada 2025-2026, hadir TKA serta TPA (Tes Potensi Akademik) yang mewajibkan seluruh jenjang pendidikan — dari SD hingga SMA/SMK — menjalankan evaluasi akademik sepenuhnya lewat komputer, tanpa pengecualian.
Perjalanan dari UNBK ke TKA ini jarang diceritakan sebagai satu kesatuan. Kebanyakan artikel membahasnya terpisah-pisah: ada yang fokus ke sejarah UNBK, ada yang membahas ANBK, ada pula yang hanya menyoroti kebijakan TKA terbaru tanpa konteks. Padahal, ketika data-data ini dirangkai jadi satu garis waktu, terlihat jelas pola yang menarik — sebuah transformasi sistem pendidikan yang berjalan jauh lebih cepat daripada yang banyak orang sadari.



